NovelToon NovelToon
Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Menikahi Duda Tua, Malah Dimanja Setiap Hari

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:278
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Semua orang bilang Laras sial.

Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.

Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.

Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.

Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.

Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…

*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Prajurit Datang

Seminggu kemudian, sebuah kendaraan dinas berhenti di depan rumah kami.

Lelaki yang turun mengenakan seragam berpangkat kolonel. Aku pernah melihatnya dari jauh saat pesta pernikahan. Arya menyambutnya dengan hormat, lalu memperkenalkan dia sebagai Kolonel Wibowo, salah satu rekan lama yang pernah bertugas bersamanya.

Seorang perwira muda mendampingi dan membawa map bersegel.

Wibowo tidak datang dengan iring-iringan besar. Hanya satu pengemudi menunggu di mobil. Meski begitu, beberapa warga berhenti di seberang pagar saat melihat seragam. Sejak akad, kehadiran orang militer di rumah kami selalu menjadi bahan omongan.

“Ini kunjungan pribadi,” kata Wibowo kepada Pak RT yang kebetulan lewat. “Tidak ada keadaan darurat.”

Penjelasan itu cukup membuat warga bergerak lagi, meski kepala mereka masih menoleh. Aku menghargai caranya menjaga rumah kami agar tidak berubah menjadi panggung kekuasaan.

Arya memintaku menyiapkan teh, lalu menanyakan apakah aku keberatan pembicaraan dilakukan di ruang kerja. Aku menjawab tidak. Dia tidak lagi menutup pintu atas nama perlindungan tanpa memberitahuku, tetapi isi tugas tertentu tetap bukan sesuatu yang boleh dibicarakan di depan anak-anak.

Raka serta Bayu sedang belajar di ruang tengah. Sasa bermain dekat kakiku. Setelah menyajikan air, aku membawa anak-anak ke halaman belakang agar pembicaraan tamu tidak terganggu.

Arya mengajak Wibowo ke ruang kerja.

“Kami belum membawa perintah pemanggilan,” kata Wibowo setelah pintu ditutup. “Ini masih permintaan konsultasi dan penilaian kesiapan.”

Dia membuka map. Sebuah satuan sedang menyusun tim pendukung untuk operasi di wilayah timur. Mereka membutuhkan orang yang memahami jalur, negosiasi lapangan, dan pola kerja lama Arya. Statusnya sebagai purnawirawan tidak otomatis membuatnya kembali aktif; setiap keterlibatan harus melalui surat resmi, pemeriksaan kesehatan, dan persetujuan struktur yang berwenang.

“Kami ingin namamu masuk kelompok inti cadangan,” kata Wibowo.

Arya menutup map tanpa membaca semua halaman. “Tidak.”

“Perannya bukan komandan lapangan,” lanjut Wibowo. “Analisis rute, pelatihan tim, dan konsultasi risiko. Tahap awal bisa dilakukan dari markas wilayah.”

“Konsultasi bisa diberikan tanpa namaku masuk kelompok inti.”

“Mereka membutuhkan orang yang keputusan lapangannya dipercaya.”

“Cari orang aktif.”

“Orang aktif belum pernah menghadapi pola lawan yang sama.”

Arya menyandarkan punggung. “Kalau situasinya sungguh mendesak, kirim surat resmi. Jangan datang membawa rasa bersalah dan menyebutnya permintaan.”

Perwira muda di samping Wibowo menunduk. Wibowo tidak tersinggung. Dia mengenal Arya cukup lama untuk memahami bahwa penolakan itu bukan kemalasan, melainkan luka kepercayaan yang belum pulih.

“Kamu belum melihat tugasnya.”

“Aku sudah bilang sejak pensiun.”

“Keadaan berubah.”

“Rumahku juga berubah.”

Wibowo bersandar. “Karena istri?”

“Karena istri dan tiga anak.”

“Negara tidak memintamu meninggalkan mereka selamanya.”

“Dulu juga tidak ada yang bilang Yudha akan pulang dalam peti.”

Nama itu membuat ruangan sunyi.

Wibowo menurunkan suara. “Kebocoran operasi terakhir bukan perintah seluruh institusi. Orang yang menjual informasi sudah dihukum.”

“Hukuman tidak membuat timku hidup kembali.”

Arya masih mengingat jalur sempit yang seharusnya aman, lampu tembakan dari tempat yang sudah mengetahui waktu kedatangan mereka, dan Yudha yang mendorongnya ke balik dinding beberapa detik sebelum ledakan.

Yudha menerima pecahan yang seharusnya mengenai dada Arya.

Dia masih sempat meminta satu hal sebelum kehilangan kesadaran: jangan biarkan adikku sendirian.

Sesudah operasi, Arya menjalani dua tindakan medis dan berbulan-bulan rehabilitasi. Pada masa itulah kabar tentang Almira dan Danendra datang. Tiga anak menunggu wali, sementara komando masih meminta dia kembali segera setelah dinyatakan pulih.

Arya memilih anak-anak.

Sebagian orang menyebutnya mengkhianati karier. Wibowo adalah salah satu dari sedikit orang yang menandatangani rekomendasi pensiun dan memastikan prosesnya tidak dipersulit. Karena itu Arya masih bersedia menerima kunjungannya meski hampir selalu menolak ajakan kembali.

Janji itulah yang membuat nama Yolanda selalu terasa seperti luka, bukan cinta.

“Kamu sudah menjaga adiknya,” kata Wibowo. “Membantu pendidikan, memastikan dia diterima di kesatuan, berdiri sebagai keluarga saat dibutuhkan. Yudha tidak meminta kamu mengorbankan seluruh hidup.”

“Yolanda tidak melihatnya begitu.”

“Dia kehilangan kakak. Kamu kehilangan sahabat. Kalian sama-sama terjebak dalam kalimat terakhir orang yang sudah tidak bisa menjelaskan maksudnya.”

Arya memandang jendela. “Aku sudah menikah.”

“Kami tahu. Yolanda juga tahu.”

“Lalu kenapa surat itu ditulis seperti itu?”

Wibowo menghela napas. “Karena dia menulis atas nama dirinya dan teman-teman lama sekaligus. Yang ditunggu adalah kamu kembali ke tim, bukan menjadi suaminya. Tapi Yolanda selalu buruk memilih kata saat menyangkut Yudha.”

“Laras membacanya.”

“Kamu menjelaskan?”

Arya diam.

Wibowo tertawa tanpa humor. “Kamu bisa mengatur penyergapan, tetapi tidak bisa menjelaskan satu surat kepada istri.”

“Tidak mudah.”

“Bukan mudah atau sulit. Kamu hanya takut mengucapkan bahwa Yudha mati menggantikanmu.”

Arya menggenggam ujung meja.

Wibowo menutup map. “Aku tidak akan memaksa hari ini. Pikirkan konsultasi terbatas. Tidak ada keberangkatan tanpa surat resmi dan persetujuanmu.”

“Jawabanku tetap sama.”

“Apa perangmu sekarang?”

Arya menoleh ke arah halaman belakang. Dari sana terdengar Bayu mengajari Sasa menghitung batu, sementara Raka membetulkan setiap angka.

“Menjaga tiga anak dan rumah ini,” katanya. “Itu cukup.”

Wibowo mengangguk perlahan. “Aku iri kamu akhirnya punya alasan pulang.”

Arya baru hendak menjawab ketika perwira muda di samping Wibowo menyebut bahwa Yolanda masih bertugas dan kadang bertanya apakah Arya akan kembali.

“Dia masih menunggu keputusanmu,” kata Wibowo. “Yolanda selalu menunggu kamu kembali ke kesatuan.”

Di saat yang sama, pintu terbuka.

Aku masuk membawa nampan teh.

Kalimat yang kudengar hanya bagian terakhir.

Sebelumnya aku berada di dapur bersama Sasa. Bayu datang meminta air, lalu mengatakan tamu Ayah sepertinya akan pulang. Aku menata cangkir dengan tenang. Selama satu minggu terakhir, aku hampir berhasil meyakinkan diri bahwa Yolanda hanyalah nama dari luka lama yang suatu hari akan dijelaskan.

Aku tidak tahu di balik pintu, Wibowo baru saja mengatakan bahwa yang ditunggu adalah kepulangan seorang rekan ke kesatuan. Aku juga tidak mendengar penjelasan tentang Yudha, janji terakhir, atau surat yang ditulis atas nama tim.

Aku hanya membuka pintu pada waktu yang paling buruk.

Yolanda selalu menunggu kamu.

Tanganku membeku. Dua cangkir di atas nampan saling beradu kecil.

Wibowo dan Arya menoleh bersamaan.

Wajah Arya berubah saat melihatku. Dia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Laras.”

Kali ini dia tahu persis kalimat mana yang jatuh ke telingaku.

Aku menaruh nampan di meja agar cangkir tidak jatuh. Tidak ada amarah yang meledak, hanya rasa lelah karena nama yang sama kembali berdiri di antara kami sebelum penjelasan lama selesai.

Dan dia tahu tidak ada lagi tempat aman untuk menyembunyikan penjelasan yang seharusnya sudah lama diberikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!