Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah Pertama di Hutan Buas
Begitu melangkah melewati batas pepohonan raksasa, dunia seakan berubah. Sinar matahari terhalang oleh kanopi daun yang sangat rapat, membuat suasana di dalam Hutan Binatang Buas remang-remang meski hari masih siang. Udara terasa lembap, bercampur dengan bau lumut dan anyir darah yang samar.
Ye Chen berjalan dengan sangat hati-hati, memfokuskan seluruh indranya. Berkat Meridian Naga yang memperkuat fisiknya, pendengaran dan penciumannya jauh melampaui manusia biasa. Setiap gemerisik daun dan patahan ranting terdengar jelas di telinganya.
"Senior Ao Tian, bagaimana cara mencari Babi Hutan Bertaring Besi di tempat seluas ini?" tanya Ye Chen dalam hati.
"Jangan manja, Bocah!" dengus Ao Tian. "Seorang kultivator sejati harus bisa melacak mangsanya sendiri. Gunakan matamu, cium baunya, perhatikan jejak di tanah. Jika untuk mencari seekor babi bodoh saja kau butuh bantuanku, lebih baik kau pulang dan kembali menjadi sampah klan!"
Ye Chen tersenyum kecut, tapi ia tahu Ao Tian benar. Ia berjongkok, mulai memperhatikan sekelilingnya. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan jejak tapak kaki besar yang menancap dalam di tanah lumpur, serta goresan dalam di batang pohon akibat gesekan benda tajam—pasti dari taring babi hutan.
Mengikuti jejak itu selama hampir satu jam, langkah Ye Chen akhirnya terhenti. Di balik semak berduri berjarak belasan meter di depannya, terdengar suara dengusan kasar.
Ye Chen menyibak dedaunan perlahan. Di sana, seekor monster berukuran sebesar sapi dewasa sedang mengais akar pohon. Bulunya hitam kaku seperti jarum baja, matanya merah menyala memancarkan kebrutalan, dan dua taring melengkung sepanjang lengan orang dewasa mencuat dari rahangnya, berkilauan seperti logam.
Itu adalah Babi Hutan Bertaring Besi. Aura yang dipancarkannya memang setara dengan kultivator Tahap Pengumpul Qi tingkat ketiga.
Tanpa membuang waktu, Ye Chen mengalirkan Qi ke kedua kakinya. Otot-otot betisnya menegang. Dalam satu tarikan napas, ia melesat dari tempat persembunyiannya bagaikan anak panah, belati berkarat di tangan kanannya terarah lurus ke leher monster itu.
SRAAK!
Babi hutan itu menyadari bahaya dan menoleh dengan cepat. Belati Ye Chen gagal mengenai leher yang mematikan, melainkan hanya menggores kulit keras di bahu monster tersebut.
TRANG!
Suara benturan logam terdengar. Belati berkarat Ye Chen tergelincir, hanya meninggalkan goresan putih tipis di kulit babi itu, sama sekali tidak menembus dagingnya!
"Kulit yang luar biasa keras!" Ye Chen terkesiap.
ROOOAARR!
Merasa diprovokasi, Babi Hutan Bertaring Besi itu meraung marah. Ia menundukkan kepalanya dan menerjang maju dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu karang, menargetkan perut Ye Chen dengan taring besinya.
Kecepatan monster itu jauh di luar dugaan Ye Chen. Mengandalkan insting bertahan hidup, ia membuang tubuhnya ke samping, berguling di atas tanah berlumpur tepat saat taring raksasa itu menyambar angin di tempatnya berdiri satu detik yang lalu.
Brak! Babi hutan itu menghantam sebuah pohon besar berdiameter setengah meter di belakang Ye Chen hingga pohon itu bergetar hebat dan nyaris tumbang.
"Hahaha! Apa yang kau harapkan dari pisau rongsokanmu itu, Bocah?" suara tawa Ao Tian bergema di kepalanya. "Kulit babi itu dilapisi oleh elemen tanah. Senjata fanamu tidak akan bisa menembusnya. Cari titik lemahnya!"
Ye Chen mengusap keringat dingin di dahinya. Jantungnya berpacu kencang, memompa darah panas ke seluruh tubuhnya. Ini adalah pertarungan hidup dan mati pertamanya. Jika ia lengah sedikit saja, tubuhnya akan berlubang.
"Titik lemah..." gumam Ye Chen, matanya menatap tajam ke arah monster yang sedang berputar untuk kembali menyerangnya. Kulitnya keras, tapi tidak mungkin seluruh tubuhnya sekeras baja.
Saat babi itu menerjang untuk kedua kalinya, Ye Chen tidak menghindar ke samping. Ia justru berlari lurus menyongsong monster tersebut.
Sepuluh meter... lima meter... dua meter!
Tepat sebelum taring itu menembusnya, Ye Chen menyalurkan seluruh Qi ke kaki kanannya dan melompat tinggi, melayang tepat di atas kepala babi hutan itu. Saat berada di udara, ia memutar tubuhnya menghadap ke bawah, memegang belatinya dengan kedua tangan.
Dengan tatapan sedingin es, ia menghujamkan belatinya sekuat tenaga tepat ke mata kanan monster itu yang berwarna merah menyala.
CRASH!
"KUIKKKKK!"
Darah hitam muncrat ke udara. Raungan melengking dan menyayat hati keluar dari mulut Babi Hutan Bertaring Besi saat belati Ye Chen menembus matanya hingga ke otak. Monster raksasa itu terguling-guling di tanah, menghancurkan semak belukar di sekitarnya dalam pergolakan mautnya, sebelum akhirnya ambruk dan tak bernyawa lagi.
Ye Chen jatuh terduduk, terengah-engah hebat. Tangannya gemetar, bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang meledak-ledak. Ia menatap mayat babi raksasa di depannya, lalu menatap tangannya yang kini berlumuran darah monster.
Ia berhasil. Ia membunuh monster pertamanya.
"Kerja bagus untuk seorang pemula," puji Ao Tian pelan, meski nada angkuhnya masih ada. "Jangan melamun. Bau darah ini akan mengundang binatang buas lain. Segera potong taringnya, ambil Inti Binatang di kepalanya, dan tampung darah dari jantungnya ke dalam lubang batu. Kita akan memulai Mandi Darah pertamamu di sini."
Ye Chen mengangguk cepat. Ia berdiri, menahan rasa lelahnya, dan berjalan mendekati bangkai monster itu.