Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Suasana di lorong rumah sakit terasa lengang saat Bima menempelkan ponsel ke telinganya.
"Nona Kiara, ini tentang Dokter Surya," jawab Bima dengan suara pelan namun sarat akan ketegasan.
"Dia baru saja mencoba menyabotase operasi saya dengan menukar antibiotik darurat menggunakan air steril."
Hening sejenak di ujung telepon sebelum Bima mendengar hembusan napas yang terdengar dingin.
"Membahayakan nyawa pasien demi dendam pribadi?" tanya Kiara dengan nada tidak percaya.
"Ini bukan sekadar pelanggaran medis, ini adalah percobaan pembunuhan berencana."
Bima mengangguk pelan meskipun Kiara tidak bisa melihatnya.
"Saya sudah mengamankan barang buktinya dan mendapat pengakuan dari apoteker yang disuap."
"Tapi jika saya membawanya ke komite medis, Dokter Surya pasti akan menggunakan uangnya untuk membungkam para saksi."
"Saya mengerti maksud Anda, Dokter Bima," potong Kiara dengan cepat.
"Anda ingin jalur yang lebih cepat dan menghancurkan pria itu hingga tidak bisa bangkit lagi kan?"
"Benar sekali, saya butuh bukti aliran dana suap dari Dokter Surya ke apoteker itu."
"Atau mungkin bukti uang kotor lain dari perusahaan farmasi yang selama ini menyuapnya."
Suara ketikan keyboard terdengar samar dari ujung telepon Kiara.
"Beri saya waktu lima belas menit, Dokter."
"Tim audit keluarga Pratama bisa meretas dan melacak rekening bank siapa pun di kota ini dalam hitungan menit."
"Terima kasih banyak, Nona Kiara."
Bima menutup panggilan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas.
Dia menatap ujung lorong yang mengarah langsung ke ruang direktur rumah sakit.
Langkah kakinya mulai bergerak mantap menyusuri lantai porselen yang mengkilap.
Tap tap tap.
Setiap langkah Bima seolah menghitung mundur sisa karir Dokter Surya di tempat ini.
Sesampainya di depan pintu kayu tebal ruang direktur, Bima bisa mendengar suara orang berbicara dengan nada tinggi dari dalam.
"Direktur Wira, Anda tidak bisa membiarkan anak magang itu bertindak seenaknya terus!"
Itu adalah suara Dokter Surya yang terdengar sangat berapi-api.
"Dia merebut pasien dari antrean BPJS saya tanpa izin."
"Dan sekarang dia melakukan operasi amputasi tanpa pengawasan dari dokter senior satupun!"
Bima mendengus pelan mendengar kebohongan konyol itu.
Tok tok tok.
Bima mengetuk pintu tiga kali sebelum langsung menekan gagangnya.
Cklek.
Pintu terbuka dan menampilkan Direktur Wira yang sedang duduk memijat pelipisnya karena pusing.
Dokter Surya yang sedang berdiri di depan meja direktur langsung menoleh ke arah pintu.
Matanya melotot tajam melihat kedatangan Bima.
"Panjang umur, sang pembuat masalah kita akhirnya muncul juga."
"Direktur, lihat sendiri betapa tidak sopannya dia masuk tanpa dipanggil," sindir Dokter Surya.
Bima mengabaikan sindiran itu dan berjalan mendekati meja direktur.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Direktur Wira."
"Tapi ada hal yang sangat genting yang harus saya laporkan detik ini juga."
Direktur Wira menghela napas panjang dan menunjuk kursi kosong di depannya.
"Ada masalah apa lagi ini, Bima?"
"Surya baru saja melaporkan bahwa kamu mengambil alih operasi amputasi gas gangren sendirian."
"Apakah operasinya gagal dan pasiennya meninggal?" tanya Direktur Wira dengan nada cemas.
Dokter Surya tersenyum licik sambil melipat tangan di dadanya.
"Pasti gagal, Direktur."
"Gas gangren tidak mungkin bisa ditangani oleh anak ingusan sepertinya."
"Saya sarankan kita segera menghubungi polisi sebelum keluarga pasien menuntut rumah sakit kita."
Bima menatap Dokter Surya dengan tatapan sedingin es.
"Operasinya berjalan lancar dan pasien sekarang sudah melewati masa kritis di ruang pemulihan."
Senyum di wajah Dokter Surya seketika luntur.
Dia menatap Bima dengan pandangan bingung dan tidak percaya.
"Kamu bohong."
"Bagaimana mungkin kamu bisa menghentikan infeksi seganas itu tanpa..."
Dokter Surya langsung menutup mulutnya sendiri sebelum dia salah bicara.
Bima memiringkan kepalanya sedikit dengan senyum meremehkan.
"Tanpa apa, Dokter Surya?"
"Tanpa Meropenem yang Anda suruh Roni sembunyikan di laci apotek?"
Wajah Dokter Surya langsung berubah pucat pasi seperti mayat.
Keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.
"Aku... aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan, Bima!"
"Jangan mencoba mengalihkan kesalahanmu dengan menuduhku yang tidak-tidak!" bantah Dokter Surya dengan suara bergetar.
Trak.
Bima mengeluarkan botol kaca kecil dari sakunya dan meletakkannya di atas meja Direktur Wira.
Direktur Wira menatap botol kecil berlabel Ceftriaxone itu dengan dahi berkerut.
"Apa ini, Bima?"
"Ini adalah senjata pembunuh yang disiapkan Dokter Surya untuk pasien saya, Direktur."
"Labelnya memang antibiotik, tapi isinya seratus persen hanya air steril biasa."
Mendengar penjelasan itu, Direktur Wira langsung berdiri dari kursinya.
Dia menatap Bima dan Dokter Surya secara bergantian dengan ekspresi syok.
"Menukar obat di tengah operasi darurat?"
"Surya, apakah tuduhan ini benar?!" bentak Direktur Wira dengan suara menggelegar.
Dokter Surya mundur selangkah dengan tubuh gemetar ketakutan.
"Itu fitnah, Direktur!"
"Anak magang ini sengaja membawa obat palsu dari luar untuk menjebak saya!"
"Mana buktinya kalau saya yang menyuruh?!"