Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.
Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.
Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."
Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.
Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Tapi dari lima orang ini, sebuah kerajaan akan lahir.
Pagi berikutnya, Arka tidak langsung membawa semua makanan keluar.
Itu adalah kesalahan yang akan dilakukan orang kaya baru di dunia mati: berpikir bahwa banyak barang bisa menyelesaikan semua masalah sekaligus. Di Planet Biru, makanan berubah menjadi kabar. Kabar menarik orang lapar. Mereka datang membawa harapan, ketakutan, dan kadang niat buruk.
Jadi Arka memulai dengan aturan.
Di tengah ruko markas, Arka mengumpulkan Shadow, Merah, dan Elang. Ia tidak perlu rapat panjang. Mereka hanya butuh aturan pertama yang bisa dipahami semua orang.
Anggota kelima, yang lengannya kemarin terkena es, duduk lebih jauh dengan kain hangat melilit tangan. Ia belum banyak bicara, tapi matanya kini tidak kosong seperti semalam.
"Kita punya tiga masalah," kata Arka. "Makanan, orang, dan tempat. Kalau hanya punya makanan tanpa orang, kita dirampok. Kalau punya orang tanpa makanan, kita pecah. Kalau punya keduanya tanpa tempat, kita cuma rombongan yang menunggu habis."
Merah menepuk lutut. "Jadi?"
"Kita pakai makanan untuk menarik orang. Tapi bukan dibagikan gratis di jalan."
Shadow akhirnya bertanya, "Syarat?"
"Mereka ikut aturan. Tidak boleh mengambil jatah orang lain. Tidak boleh menyentuh Kristal tanpa izin. Tidak boleh membawa konflik lama ke markas. Siapa yang ingin makan, ikut membangun."
Elang mengangguk pelan. "Kita buat titik suplai kecil. Yang datang baik-baik, kita terima. Yang datang cari masalah, kita tutup pintu."
"Benar."
Merah menyeringai. "Dengan beras, kita taklukkan hati mereka?"
Arka menatapnya. "Dengan beras, kita lihat isi hati mereka. Yang hanya mau makan akan terlihat. Yang mau bertahan akan tinggal."
Sore itu, mereka mulai bergerak.
Arka membawa beberapa karung beras, air mineral, mi instan, dan makanan kaleng dari ruang Dimensi ketika tidak ada yang melihat. Kepada yang lain, ia hanya berkata bahwa ia memiliki saluran rahasia yang belum bisa dibuka. Penjelasan itu tidak memuaskan semua orang, tetapi setelah Jagal mati dan makanan benar-benar muncul, tidak ada yang cukup bodoh untuk memaksa jawaban.
Mereka membuat tiga titik suplai kecil.
Jumlahnya sengaja dibuat kecil, cukup untuk membuat orang berhenti dan membaca papan kardus yang ditulis Merah dengan spidol.
Mau makan? Datang ke ruko selatan. Bekerja, ikut aturan, hidup bersama.
Merah menatap tulisannya sendiri. "Kurang galak."
"Bagus," kata Arka. "Kita butuh orang yang mencari aturan, bukan orang yang tertarik ancaman."
Hasilnya datang lebih cepat dari dugaan.
Menjelang malam, tiga penyintas pertama muncul. Dua pria tua dan seorang remaja perempuan, semuanya kurus dan curiga. Mereka berhenti di ujung jalan, tidak berani mendekat sampai Shadow meletakkan senjatanya di lantai dan mundur dua langkah.
Arka keluar sendiri membawa satu botol air.
"Minum dulu," katanya.
Pria tua itu menatap botol seperti takut itu jebakan. "Bayarnya apa?"
"Dengar aturan dulu. Kalau tidak cocok, kalian boleh pergi."
Kalimat itu lebih kuat daripada bujukan.
Mereka masuk.
Hari berikutnya, jumlahnya bertambah menjadi sebelas.
Pada hari ketiga, Kirana datang.
Arka melihatnya dari lantai dua ruko. Perempuan itu berjalan bersama sekitar sepuluh orang, termasuk dua penyintas yang dulu bersamanya di butik. Wajahnya masih lelah, tetapi langkahnya lebih tegak. Di tangannya tidak ada Biru Semesta lagi. Yang tersisa hanya ketegasan seseorang yang sudah membayar terlalu mahal untuk tetap hidup.
Ketika ia melihat Arka di depan markas, matanya melebar.
"Kamu," katanya.
"Masih hidup," jawab Arka.
"Aku juga. Berkat makananmu."
Merah melirik Arka. "Oh? Ada cerita?"
"Transaksi lama," kata Arka singkat.
Kirana tidak membongkar lebih jauh. Itu membuat Arka sedikit menghargainya lagi. Ia cukup pintar untuk tahu bahwa rahasia seseorang bisa menjadi perlindungan bersama.
"Kami ingin bergabung," kata Kirana. "Kami bisa bekerja. Dua orang bisa memasak. Satu pernah jadi teknisi listrik. Aku bisa membaca situasi orang... kadang terlalu akurat."
Elang menatapnya. "Kekuatan mental?"
Kirana mengangguk. "Belum kuat. Tapi aku bisa merasakan niat buruk dari jarak dekat."
Koneksi Mental.
Arka langsung memahami nilainya.
Di kelompok kecil, kekuatan seperti itu berguna. Di kelompok besar, itu bisa menyelamatkan nyawa.
"Aturan kami sederhana," kata Arka. "Makan bersama, bekerja sesuai kemampuan, Kristal dibagi untuk memperkuat kelompok. Kalau kau bergabung, kau bukan tamu. Kau ikut memikul beban."
Kirana menatap tumpukan beras di belakangnya. Lalu menatap orang-orang yang duduk makan tanpa saling merebut.
"Itu lebih baik daripada semua tempat yang kami lihat."
Ia mengulurkan tangan.
Arka menjabatnya.
Pada hari kelima, Zahra tiba.
Ia datang bersama rombongan kecil yang membawa seorang anak demam dan pria muda dengan luka di bahu. Zahra sendiri berusia sekitar sembilan belas tahun, wajahnya lembut namun matanya keras karena terlalu sering melihat orang kesakitan. Begitu masuk markas, ia tidak meminta makanan untuk dirinya.
"Aku dengar kalian punya obat," katanya. "Tolong yang sakit dulu. Setelah itu, aku akan bekerja."
Merah langsung menatapnya lebih lama dari seharusnya.
Arka menangkap itu, tapi tidak berkomentar.
"Kemampuanmu?" tanya Arka.
Zahra meletakkan tangan di atas bahu pria yang terluka. Cahaya hangat muncul tipis, tidak terang, tetapi cukup membuat napas pria itu lebih stabil. Luka yang semula membengkak mulai mereda.
Kekuatan Penyembuhan.
Seluruh ruangan terdiam.
Bagi kelompok kecil, makanan adalah fondasi.
Tetapi penyembuh adalah masa depan.
"Mulai sekarang," kata Arka, "Zahra menangani perawatan. Obat dan air bersih prioritas untuk area medis."
Zahra menatapnya, seolah tidak menyangka keputusan itu datang secepat itu. "Kamu percaya padaku?"
"Aku percaya pada kemampuan yang menyelamatkan orang. Kepercayaan pribadi kita bangun setelahnya."
Zahra tersenyum tipis. "Adil."
Dalam lima hari, ruko kecil itu berubah.
Api dibuat di tempat aman. Air dibagi dengan catatan sederhana. Beras dimasak bergiliran. Elang menyusun jadwal jaga. Shadow melatih orang bergerak tanpa suara. Merah mengajari pemula cara memegang pipa dan kapan harus mundur. Kirana membantu menyaring pendatang baru, memberi tanda jika seseorang menyimpan niat buruk.
Arka membuat sepuluh kelompok kecil.
Setiap kelompok berisi tiga sampai empat orang. Belum sempurna, belum layak disebut pasukan, tetapi cukup untuk membuat semua orang tahu siapa bergerak dengan siapa, siapa bertanggung jawab atas apa, dan siapa yang harus dicari jika terjadi masalah.
"Sepuluh kelompok?" Merah menggaruk kepala. "Kita baru tiga puluh tujuh orang."
"Justru karena masih sedikit, biasakan dari sekarang. Kalau nanti jadi seratus, kita tidak mulai dari nol."
Elang menatap tabel di papan. "Struktur kecil, mudah diperluas. Ini bukan cara preman."
"Aku memang tidak sedang membangun geng."
Shadow bertanya singkat, "Lalu apa?"
Arka melihat ruko yang kini penuh suara manusia. Ada orang memasak. Ada yang membersihkan senjata. Ada yang tertawa pelan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari takut bernapas terlalu keras.
"Markas," jawabnya.
Kata itu membuat beberapa orang menoleh.
"Namanya?" tanya Kirana.
Arka terdiam sejenak.
Di dunia nyata, ia baru membeli masa depan dengan emas, berlian, dan properti.
Di dunia ini, masa depan harus dibangun dengan beras, aturan, dan orang-orang yang cukup berani untuk percaya lagi.
"Markas Masa Depan," katanya.
Tiga puluh tujuh orang saling pandang, lalu kembali bekerja dengan punggung sedikit lebih tegak.
Malam itu, Arka berdiri di lantai dua dan melihat markas kecilnya hidup.
Ada tiga puluh tujuh orang yang harus diberi makan, dilindungi, dan diarahkan.
Di sanalah kekuatan sebenarnya mulai terbentuk.
Manusia.