**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bab 23: Kaki yang Sakit
Lutut Naila mulai sakit karena terlalu lama bertumpu di tepi meja.
Ia bergerak hendak melepaskan pelukan, tetapi lengan Radhika justru mengencang sebentar.
"Peluk sebentar lagi, ya."
Ada getaran tipis dalam suaranya. Naila mengangkat wajah dan melihat mata Radhika memerah. Lelaki itu tampak lebih terluka daripada dirinya, padahal Naila yang baru saja menceritakan tahun-tahun sebagai tamu.
"Mas." Ia menyentuh sudut matanya. "Lihat ke depan. Yang dulu sudah lewat."
Radhika tidak menjawab.
Naila menarik kedua sudut bibirnya dengan telunjuk. "Senyum. Begini."
Wajah Radhika berubah aneh. Naila membuat mata juling dan menjulurkan lidah. Akhirnya lelaki itu tertawa pendek dan menangkap kedua pergelangan tangannya.
"Jangan buat wajah begitu."
"Yang penting Mas ketawa."
Radhika menurunkan tangannya lalu berjongkok. "Lututmu merah."
"Cuma pegal."
Telapak tangannya mengusap bagian di sekitar tempurung lutut dengan tekanan lembut. Setelah belasan kali, rasa nyeri mulai hilang.
"Apa pun yang terjadi, cerita ke Mas," katanya tanpa mengangkat kepala. "Ada Mas. Kamu nggak akan dibully atau disakiti lagi."
"Kalau yang menyakitiku Mas sendiri?"
Tangan Radhika berhenti. Ia menatap Naila dari posisi berjongkok. "Mas dengarkan marahmu sampai selesai, lalu Mas perbaiki."
"Nggak kabur?"
"Nggak."
"Nggak hapus WhatsApp?"
"Itu kesalahan sekali seumur hidup."
Jawabannya begitu serius sampai Naila tidak tega menggoda lagi.
Naila mengangguk. "Iya."
Mereka meninggalkan rumah setelah memastikan semua jendela tertutup. Pintu depan terkunci elektronik, sedangkan pagar besi lama masih memakai gembok tembaga yang permukaannya menghijau.
"Naila yang kunci," kata Radhika.
Naila mencium bau logam dari jarak dekat dan mundur. "Nggak mau. Bau karat."
"Manja."
Radhika memasang gembok itu. Setelah selesai, ia menggunakan dua jari yang baru memegang tembaga untuk menjepit hidung Naila.
"Mas! Bau!"
Naila mengejarnya sampai mobil. Ia kesal, tetapi melihat Radhika kembali bisa bercanda membuat kemarahannya menguap.
Dalam perjalanan, Radhika bercerita bahwa dulu keluarga Prasetya dan Adiwangsa membeli rumah bersebelahan di kawasan yang sama. Keluarga Adiwangsa kemudian menjual rumah mereka dan pindah ke Menteng.
"Waktu kecil jadwal Mas penuh," katanya. "Piano, bahasa Inggris, renang, matematika."
"Kasihan banget."
"Bunda nggak mengizinkan pelihara hewan karena bulunya. Jadi sebelum kamu lahir, rumah itu membosankan."
"Terus aku pengganti hewan peliharaan?"
"Bukan." Radhika tersenyum tipis. "Kamu kejutan terbaik. Setelah Mas mulai menemani kamu, Bunda mengurangi kelas tambahan. Waktu kamu pergi, jadwalnya penuh lagi."
Naila memandang jalan, tidak tahu harus menjawab apa.
Tumitnya mulai perih. Sepatu bot yang dipakai sejak pagi terasa makin sempit. Ia mengangkat kaki ke tepi konsol dan melepas ikat rambut, membiarkan rambutnya jatuh.
"Turunkan kaki," kata Radhika.
"Pegang setir, Mas."
"Sepatunya lepas."
Naila menurut setelah mobil berhenti di area aman dekat pintu masuk sebuah pusat belanja. Radhika mematikan mesin dan memegang pergelangan kakinya. Kedua tumit Naila lecet, kulitnya terkelupas dan memerah.
"Dari kapan sakit?"
"Tadi. Sedikit."
"Kenapa diam?"
"Mas sedang menyetir."
Radhika mengambil kotak P3K dari laci. Ia membersihkan area lecet dengan tisu antiseptik, menunggu kering, lalu menempelkan plester luka pada kedua tumit.
Sentuhan tangannya sangat hati-hati. Hati Naila terasa seperti permen kapas yang terkena air hangat, perlahan meleleh tanpa bisa dicegah.
Radhika menekan tepi plester untuk memastikan tidak ada lipatan. Ia juga melonggarkan tali sepatu bot sebelum membantu memasangnya kembali agar Naila bisa berjalan masuk ke pusat belanja.
"Coba berdiri."
Naila menapak perlahan. "Masih perih sedikit."
"Jangan dipaksa. Pegang Mas."
Ia menyodorkan lengan. Naila menggenggamnya sepanjang jalan dari parkir ke toko, dan Radhika menyesuaikan langkah tanpa pernah menyuruhnya cepat.
Ia tiba-tiba tidak ingin Radhika memperlakukan perempuan lain sebaik ini.
Pikiran itu membuatnya takut. Radhika hampir dua puluh lima. Suatu hari lelaki itu harus menikah dan memiliki keluarga. Naila tidak mungkin menahannya hanya karena baru mendapatkan kembali seorang Mas.
"Kita beli sepatu," kata Radhika.
Di toko sepatu dalam pusat belanja, Naila memilih sepasang bot panjang berhak rendah. Harganya beberapa juta rupiah. Ia hendak mengeluarkan kartu, tetapi Radhika sudah menyerahkan kartunya lebih dulu.
"Mas, aku bisa bayar."
"Anggap hadiah pulang ke rumah lama."
Ia mengetik PIN dan menandatangani struk. Dengan persetujuan Naila, staf toko membuang sepatu lama yang bagian dalamnya sudah rusak.
"Mas boros," gumam Naila saat memakai sepatu baru.
"Kamu yang pilih."
"Mas yang bayar."
"Berarti seimbang."
Perjalanan menuju Jakarta berlangsung sekitar tiga jam. Ketika mereka tiba di Menteng, malam sudah larut dan ruang keluarga masih terang.
Dua orang duduk bersama Wirya dan Larasati. Yang pertama adalah lelaki berjas hitam dengan wajah tegas, lebih tua dari Radhika dan memiliki aura dingin seorang pemimpin. Di sebelahnya duduk pria lanjut usia berkemeja batik, berambut putih, dengan mata yang ramah tetapi tajam.
"Eyang. Mas Damar," sapa Radhika.
Naila ikut menangkupkan tangan sopan. "Selamat malam, Eyang. Mas Damar."
Eyang Notohadi menatapnya beberapa detik sebelum tersenyum. "Ini putrinya Bagas? Naila?"
"Iya, Eyang."
"Sudah delapan belas sekarang. Terakhir Eyang lihat masih kecil sekali."
"Bagas sehat?" tanya Eyang.
"Sehat, Eyang. Papa dan Mama sedang di New York."
"Sampaikan salam. Dulu ayahmu paling ribut kalau bermain tenis dengan Wirya."
Nada ramah itu membuat Naila sedikit rileks. Ia beralih kepada Damar. "Mas Damar baru pulang kerja?"
"Iya." Suara Damar rendah dan singkat. "Aku dengar kamu membela Sekar di Padma."
Naila waspada. "Aku cuma nggak mau dia difitnah."
"Kamu melakukan hal yang benar. CCTV sudah diperiksa. Lina dan Yuli mendapat sanksi sesuai aturan, Sekar tidak bersalah."
Ketegangan di bahu Naila turun. Setidaknya konflik malam itu tidak berakhir sebagai janji kosong.
Damar mengangguk singkat sebagai salam. Tatapannya tidak kasar, hanya terbiasa mengukur segala sesuatu dengan cepat.
Tidak lama kemudian, Eyang meminta Radhika menemuinya di ruang kerja. Naila naik untuk menaruh tas. Saat kembali turun mengambil air, ia melewati pintu ruang kerja yang tidak tertutup rapat.
Suara Eyang terdengar dari dalam.
"Sudah kamu jenguk Anindya belum? Dia bagaimana?"
"Belum sempat, Yang," jawab Radhika.
Hening singkat mengikuti. Kekecewaan Eyang terasa bahkan dari balik pintu.
Naila mundur sebelum kehadirannya diketahui.
Anindya Wirakusuma.
Ia ingat nama itu. Saat berusia empat tahun, Radhika pernah membawa pulang pulpen berwarna biru tua dalam kotak dengan catatan kecil. Anindya, teman sekelasnya, yang memberikan. Bagas juga pernah berkata keluarga Adiwangsa dan Wirakusuma sangat dekat.
Dalam ingatannya, Radhika kecil menyimpan pulpen itu di laci paling atas dan melarang Naila mencoretnya. Saat itu Naila merajuk sampai diberi pensil warna baru. Kini, kenangan remeh tersebut mendadak terasa seperti pintu menuju empat belas tahun kehidupan Radhika yang sama sekali tidak ia ketahui.
Sambil naik ke kamar, Naila menggenggam gantungan kunci lemon di sakunya. Untuk pertama kali, nama Anindya membuat hatinya terasa tidak nyaman.