NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:200
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23: Apakah Kamu...?

Liana terbangun karena bantalnya bernapas.

Naik. Turun. Naik lagi.

Ia mengerutkan kening, lalu menyadari ada detak jantung tepat di bawah telinganya. Bukan bantal. Dada manusia.

Dada Renard.

Ingatan semalam kembali sekaligus. Mimpi buruk. Tangan hangat di dahi. Pertanyaan pelan sebelum pelukan. Jaminan bahwa ia tidak akan ditinggal.

Dan sekarang wajahnya berada di leher atasannya, satu kaki menyentuh betis pria itu, sementara kedua lengannya melingkar di pinggang Renard seolah ia takut seseorang akan mencurinya.

Liana menahan napas.

"Kalau kamu pura-pura masih tidur, kakiku akan tetap mati rasa."

Suara Renard terdengar serak di atas kepalanya.

Liana memejamkan mata lebih erat. "Saya baru bangun."

"Tentu."

"Saya serius."

"Tentu."

"Pak Renard bisa bilang selain tentu?"

"Bisa. Kakiku kesemutan."

Liana langsung melepaskan pelukannya dan berguling mundur. Gerakannya terlalu cepat. Punggungnya menabrak sisa tembok bantal, lalu satu bantal jatuh ke lantai.

Renard mengangkat alis. "Pelan."

"Maaf. Saya nggak sengaja... maksudnya, saya semalam..."

"Mimpi buruk."

Nada Renard tidak mengandung rasa ingin tahu yang rakus. Ia menyebutnya sebagai fakta, bukan undangan untuk membuka luka.

Liana duduk dan menarik selimut sampai ke dada. Rambutnya pasti kacau. Wajahnya panas. Lebih buruk lagi, Renard terlihat terlalu tenang meski kausnya kusut dan lengannya memiliki bekas kuku merah.

"Saya melukai tangan Pak Renard?"

"Ini?" Renard melihat pergelangannya. "Nggak seberapa."

"Harus dikasih antiseptik."

"Nggak sampai berdarah."

"Tetap harus dibersihkan."

Liana turun dari ranjang untuk mengambil kotak P3K di koper. Kesibukan adalah penyelamat terbaik. Selama ia fokus pada kapas dan cairan antiseptik, ia tidak perlu memikirkan bagaimana rasanya tidur aman di pelukan seseorang.

Renard membiarkannya membersihkan bekas kuku itu.

Jari Liana memegang pergelangannya dengan cara yang sangat hati-hati. Ibu jarinya berada di sisi dalam, tepat di atas denyut nadi. Sentuhan ringan, tekanan stabil, suhu yang sudah ia hafal.

Sama.

Renard memperhatikan puncak kepalanya. Aroma dari rambut Liana masih berputar di ingatannya, terlalu tepat untuk disebut kebetulan.

Ia bisa bertanya sekarang.

Ia bisa mengucapkan satu kalimat dan melihat apakah wajah perempuan ini berubah.

Namun Liana baru saja bangun dari mimpi buruk. Mengurungnya dengan pertanyaan di kamar yang hanya memiliki satu pintu akan membuat semua rasa aman semalam menjadi transaksi.

Renard menarik pergelangannya setelah Liana selesai.

"Terima kasih."

"Saya yang seharusnya bilang begitu."

"Kamu sudah bilang semalam."

Liana menatapnya. "Pak Renard ingat semua?"

"Termasuk bagian kamu melarangku pindah ke sofa."

"Bagian itu boleh dilupakan."

"Sayangnya, ingatanku sangat baik."

"Pilih-pilih juga boleh."

Renard tersenyum tipis. "Tidak untuk hal penting."

Tatapan mereka bertahan terlalu lama.

Liana berdiri lebih dulu. "Saya mandi. Kita ada pertemuan jam sembilan."

"Masih dua jam."

"Saya butuh dua jam untuk memulihkan harga diri."

"Kalau begitu, silakan."

Pintu kamar mandi tertutup. Sesaat kemudian, suara air mengalir keras, seperti Liana sengaja ingin menenggelamkan dunia.

Renard menatap pintu itu, lalu mencium pergelangan tangannya sendiri.

Jejak aroma Liana tertinggal setelah antiseptik menguap.

Melati. Teh putih. Cendana.

Persis.

***

Hari kedua di Bali seharusnya diisi peninjauan spa dan presentasi awal konsep aroma untuk calon mitra resort.

Liana menjalankan semuanya tanpa cela.

Sebelum peserta lain datang, ia bahkan sudah memeriksa arah angin di ruang terbuka. Dua diffuser yang diletakkan pihak resort dipindahkan keluar agar aromanya tidak mencemari penilaian sampel. Ia meminta gelas air diganti, sebab irisan lemon di dalamnya bisa mengganggu hidung para penilai.

"Kamu memikirkan semuanya," ujar Renard ketika mereka masih berdua.

"Kalau penciuman panel terganggu, data kita nggak bisa dipakai."

"Tim parfumku seharusnya belajar darimu."

Liana mengangkat bahu, lalu meringis kecil karena luka lamanya tertarik.

Renard segera melihatnya. "Masih sakit?"

"Cuma sedikit."

"Setelah rapat kita minta kompres dingin."

"Pak Renard, saya bukan barang pecah belah."

"Aku tahu. Barang pecah belah biasanya lebih patuh."

Liana memelototinya. Renard berbalik ke layar sebelum senyum di bibirnya terlihat terlalu jelas.

Ia mengenakan blus putih dengan celana linen cokelat muda. Rambutnya diikat rendah. Tidak ada satu tanda pun bahwa beberapa jam sebelumnya ia mencengkeram kaus Renard sambil meminta pria itu tidak pergi.

Di ruang rapat terbuka yang menghadap taman, Liana membagikan sampel pada waktu yang tepat, mencatat koreksi, dan menjelaskan alasan campuran serai tidak boleh menutupi karakter cendana lokal.

Renard seharusnya mendengarkan direktur resort.

Sebaliknya, ia memperhatikan tangan Liana.

Ia membenci dirinya sendiri karena perhatian itu menyerupai pengawasan, meski ia tidak pernah meminta rekaman atau mengikuti Liana diam-diam. Setiap kesamaan kini muncul tanpa dicari. Otaknya menyusunnya seperti potongan kontrak di meja rapat, padahal perempuan yang menjadi pusat semua bukti baru saja mempercayakan ketakutannya kepadanya.

Renard memaksa dirinya mencatat presentasi. Tingkat hunian. Target pasar. Anggaran peluncuran.

Tiga baris kemudian, Liana membungkuk untuk menggeser blotter dari sinar matahari langsung. Nona Terapis pernah melakukan gerakan serupa ketika memindahkan alat pengukur suhu dari lampu terapi.

Pena Renard berhenti lagi.

Saat Liana membuka tutup vial, jari telunjuknya mengetuk kaca dua kali.

Saat ia menunggu klien selesai mencium blotter, ibu jarinya mengusap sisi kuku telunjuk.

Gerakan yang sama dengan Nona Terapis ketika menunggu jawaban setelah pemeriksaan tiap jam.

"Pak Renard?"

Semua orang di meja melihatnya.

Renard mengalihkan pandangan ke layar presentasi. "Lanjutkan opsi kedua. Kurangi serai lima persen."

Liana berkedip. Itu persis rekomendasi yang hendak ia berikan.

"Baik."

Setelah rapat selesai, perwakilan resort mengajak mereka makan siang. Renard menolak dengan alasan perlu memeriksa revisi proposal. Begitu pintu ruang rapat tertutup, Liana meletakkan tablet di meja.

"Bapak sejak pagi memperhatikan saya."

"Aku memperhatikan pekerjaanmu."

"Pekerjaan saya ada di layar."

"Kamu juga bagian dari pekerjaan."

"Kalimat itu terdengar seperti bagian awal masalah HR."

Renard hampir tertawa. "Aku akan memperbaikinya. Kamu melakukan pekerjaan dengan baik."

"Terima kasih. Tapi itu bukan jawaban."

Liana berani menuntut kejujuran darinya, lalu menyimpan rahasia sebesar ini di balik wajah polos. Renard tidak tahu apakah ia harus kagum atau kesal.

"Semalam kamu bilang tidak malu," katanya.

Wajah profesional Liana retak. "Saya bilang mungkin sedikit."

"Apa itu alasan kamu menghindari mataku?"

"Saya nggak menghindari."

"Kamu baru melihat tanaman di belakangku selama satu menit."

"Tanamannya bagus."

Renard menoleh. Di belakangnya hanya ada pot palem yang ujung daunnya mengering.

"Sangat bagus," katanya datar.

Liana mengambil tablet. "Kalau nggak ada revisi lain, saya akan mengecek ruang spa."

"Ada satu hal."

Langkahnya berhenti.

Renard tidak langsung bicara. Ia membuka botol air, menuangkannya ke dua gelas, lalu menyerahkan satu kepada Liana. Ia ingin memberi perempuan itu kesempatan menurunkan ketegangan sebelum pertanyaan berikutnya.

"Mimpi burukmu sering terjadi?"

Jari Liana mengencang di sekeliling gelas. "Nggak sering."

"Kamu punya orang yang bisa dihubungi kalau itu terjadi saat kamu sendirian?"

"Saya biasa mengatasinya sendiri."

"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku."

Liana terdiam, lalu menggeleng.

Renard menahan desakan untuk menawarkan dirinya saat itu juga. Ia tahu penawaran yang terlalu cepat bisa terdengar seperti kewajiban.

"Kalau kamu mau," katanya, "simpan nomor layanan medis hotel selama kita di sini. Dan kalau kamu butuh bantuan, telepon aku. Nggak perlu menjelaskan mimpinya."

Tatapan Liana melunak. "Baik, Pak Renard."

"Satu lagi."

"Masih soal semalam?"

"Soal seseorang."

Renard menjaga wajahnya tetap biasa. "Terapisku juga pernah membantuku saat mimpi buruk."

Itu tidak sepenuhnya bohong. Dalam salah satu sesi, Nona Terapis pernah membangunkannya ketika tubuhnya mengira suara troli medis adalah langkah penculik.

Gelas di tangan Liana berhenti di dekat bibir.

Hanya sepersekian detik.

"Dia pasti profesional," jawabnya.

"Dia lebih dari itu."

Kalimat tersebut keluar sebelum sempat disaring.

Renard melihat perubahan kecil di wajah Liana. Bukan keterkejutan penuh, melainkan kewaspadaan orang yang tidak yakin apakah ia sedang dipuji atau diselidiki.

Ia menyesal telah memakai seseorang yang ia hargai sebagai umpan untuk menguji seseorang lain. Lebih buruk lagi jika keduanya memang orang yang sama.

"Maksudku, dia membantu lebih banyak daripada yang tertulis di kontrak," jelasnya. "Dia membuatku ingat bahwa tubuhku bukan musuh."

Mata Liana berkedip pelan. "Mungkin dia cuma menunjukkan jalan. Bapak sendiri yang memilih berjalan."

Jawaban itu terasa terlalu akrab.

Nona Terapis pernah mengatakan hal hampir serupa setelah serangan pertama mereda.

Liana meletakkan gelas terlalu hati-hati. "Bapak sering bicara tentang dia sekarang."

"Kamu keberatan?"

"Kenapa saya harus keberatan?"

"Aku juga ingin tahu."

Keheningan menjadi padat.

Liana mengalihkan pandangan pertama kali. "Kita harus ke spa."

"Setelah makan siang. Kamu belum makan sejak pagi."

"Saya sudah makan roti."

"Setengah."

"Pak Renard menghitung?"

"Aku memperhatikan pekerjaanmu," katanya, sengaja memakai alasan yang sama.

Kali ini Liana benar-benar tersenyum, meski jelas tidak rela.

***

Menjelang sore, mereka kembali ke suite untuk mengganti pakaian sebelum jamuan dengan pemilik resort.

Liana berdiri di balkon, membiarkan angin laut mengeringkan rambutnya yang sedikit lembap setelah mandi cepat. Dari lantai tinggi, kolam hotel terlihat seperti potongan kaca biru. Aroma bunga kamboja dari taman naik bersama udara asin.

Pintu balkon terbuka di belakangnya.

Renard datang tanpa jas, lengan kemejanya digulung sampai siku. Ia berhenti di samping Liana, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat perempuan itu menyadari kehadirannya di seluruh sisi tubuh.

"Pak Renard belum ganti pakaian?"

"Belum."

"Kita berangkat empat puluh menit lagi."

"Aku tahu."

Liana memandangnya dari samping. "Ada apa?"

Renard mengangkat tangan kirinya.

Pergelangan yang tadi pagi dibersihkan Liana berhenti di antara mereka. Angin membawa jejak aroma yang menempel pada kulitnya, campuran lembut yang seharusnya sudah menguap tetapi masih bisa ditangkap hidung terlatih.

Jantung Liana berdetak keras.

Renard mendekatkan pergelangan itu ke wajahnya. Tidak menyentuh. Tidak menghalangi jalan. Hanya menawarkan bukti di udara terbuka.

Tatapannya menahan mata Liana.

"Kamu pernah cium wangi ini?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!