Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A Silent Alliance Under the Starlight
Malam makin larut di kompleks Istana Dalam Kekaisaran Great Yan. Angin malam yang dingin bertiup perlahan, mengoyak tirai-tirai porselen di selasar Paviliun Teratai. Suasana jamuan makan malam yang meriah di Aula Teratai Emas telah usai beberapa jam yang lalu, namun ketegangan yang tertanam di balik dinding-dinding batu istana masih tersisa pekat di udara.
Ye Xinyue duduk di depan meja rias kayunya. Ia telah menanggalkan perhiasan peraknya dan melepas jubah luar gaun ungunya, meninggalkan gaun dalam sutra putih tipis yang melapisi tubuhnya. Di depannya, sebuah catatan kecil bertuliskan beberapa nama pejabat Faksi Selatan serta jenis-jenis tanaman beracun terbentang di bawah pendar lilin.
Persaingan di Istana Dalam ini jauh lebih berbahaya daripada yang digambarkan dalam bab awal novel, batin Xinyue seraya mengetukkan pena bulunya pelan di atas kertas. Selir Senior Li hanyalah satu dari sekian banyak pion yang digunakan oleh Faksi Selatan untuk menguji kekuatanku. Jika aku ingin bertahan hidup di dunia ini, aku tidak bisa hanya bersikap pasif.
Sebagai seorang wanita modern yang bertransmigrasi ke dunia cerita ini, Xinyue sangat memahami bahwa kelangsungan hidupnya bergantung pada kemampuan analisis logis dan ketajaman strateginya. Ia tidak ingkar bahwa kehadiran Kaisar Zhao Fengting saat jamuan tadi malam telah memberinya perlindungan besar, namun naluri kemandiriannya menolak untuk sepenuhnya bergantung pada belas kasihan seorang penguasa.
Tiba-tiba, daun jendela kayu di sudut ruangan bergetar halus. Tanpa ada suara langkah kaki sedikit pun, sesosok pria berbalut jubah hitam bersulam benang emas melangkah masuk menembus kegelapan malam.
Xinyue secara refleks menyambar pisau kecil pemotong kertas dari atas meja, berbalik dengan sigap dan mengarahkannya lurus ke depan.
"Ketangkasan yang sangat mengagumkan untuk seorang selir muda," suara rendah, berat, dan sarat akan kehangatan terdengar membelah keheningan.
Zhao Fengting melangkah keluar dari bayang-bayang. Tanpa mahkota kebesarannya dan hanya mengenakan pakaian jelata kelas tinggi, sang Kaisar tampak jauh lebih manusiawi, namun aura kepemimpinan dan ketampanannya yang memikat tetap memancar sempurna.
Xinyue menurunkan pisaunya perlahan, mendesah halus seraya membetulkan posisi gaun sutranya. "Yang Mulia... menerobos kediaman seorang selir di tengah malam tanpa pengawalan adalah tindakan yang melanggar hukum istana."
Zhao Fengting menyunggingkan senyuman tipis yang sangat menawan. Pria itu melangkah mendekati meja kerja Xinyue, mengabaikan teguran tersebut dengan keanggunan seorang penguasa yang tak terjangkau.
"Hukum di istana ini dibuat untuk mengatur mereka yang berniat jahat, Xinyue," ujar Zhao Fengting pelan. Matanya melirik ke arah catatan rahasia tentang Faksi Selatan dan racun biji jarak yang terbentang di atas meja. "Dan aku datang ke sini bukan sebagai seorang Kaisar yang menuntut pengabdian, melainkan sebagai seorang pria yang ingin melindungi wanita yang telah mencuri seluruh perhatiannya."
Xinyue tertegun sejenak. Sorot mata pekat milik Zhao Fengting yang menatapnya begitu dalam membuat dadanya berdesir hangat. Meskipun ia tahu bahwa ini adalah dunia novel dan Zhao Fengting adalah karakter utama yang dingin, ketulusan dan kehangatan yang dipancarkan pria itu terasa sangat nyata dan meluluhkan pertahanan logis di dalam hatinya.
"Yang Mulia melihat catatan hamba?" tanya Xinyue, mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menutupi detak jantungnya yang kian cepat.
Zhao Fengting menarik sebuah kursi kayu di samping Xinyue lalu duduk bersandar dengan santai. Pria itu menunjuk salah satu nama pejabat Faksi Selatan di kertas tersebut dengan ujung jarinya yang tegap.
"Analisis racunmu saat jamuan tadi malam sangat luar biasa," puji Zhao Fengting tulus. "Sebagian besar orang di aula itu mengira kau hanya beruntung atau bersikap sopan. Namun aku tahu... kau menyadari keberadaan racun biji jarak itu hanya dalam hitungan detik."
"Hamba hanya mempercayai fakta fisik dan logika, Yang Mulia," sahut Xinyue, memberanikan diri menatap lurus ke dalam mata sang Kaisar. "Di dalam dunia yang penuh dengan manipulasi politik ini, racun adalah senjata paling pengecut. Faksi Selatan mencoba menjatuhkan hamba untuk menguji sejauh mana Yang Mulia akan memberi perlindungan."
Zhao Fengting mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka. Wewangian kayu cendana yang khas melingkupi tubuh Xinyue, membuat suasana di kamar sunyi itu mendadak hangat dan intim.
"Faksi Selatan telah lama menancapkan akarnya di istana ini melalui perdagangan obat-obatan dan racun dari wilayah barat," bisik Zhao Fengting, suaranya terdengar begitu dekat di telinga Xinyue. "Selama ini, aku mencari bukti fisik yang tak terbantahkan untuk memotong rantai kejahatan mereka tanpa harus memicu perang saudara. Dan malam ini... aku menyadari bahwa aku telah menemukan sekutu terbaikku."
Xinyue menatap jemari Zhao Fengting yang perlahan terangkat, merapikan sehelai rambut halus yang jatuh di pipi Xinyue dengan sangat lembut. Sentuhan kulit pria itu yang hangat mengirimkan desiran halus yang membakar napas Xinyue.
"Sekutu, Yang Mulia?" bisik Xinyue dengan nada bertanya, matanya berkilat antara ketajaman analisis dan rasa tertarik yang kian pekat.
"Bukan sekadar sekutu," sahut Zhao Fengting seraya menggenggam erat jemari halus Xinyue di atas meja. "Aku menginginkan pikiranmu, kecerdasanmu... dan perlahan, aku ingin memenangkan hatimu. Kita akan membongkar konspirasi Faksi Selatan bersama-sama di balik layar."
Xinyue merasakan kehangatan yang menjalar dari genggaman tangan sang Kaisar. Di dalam dunia novel yang penuh dengan ancaman kematian ini, rasa aman dan perlindungan yang ditawarkan oleh Zhao Fengting terasa bagaikan oase di tengah padang pasir. Logikanya menyuruhnya untuk tetap waspada, namun perasaannya membisikkan bahwa pria di hadapannya ini bersungguh-sungguh.
"Jika Yang Mulia menginginkan aliansi rahasia ini," tutur Xinyue dengan senyuman manis yang penuh keyakinan, "maka hamba akan menjadi mata dan pisau analisis ilmiah Anda di Istana Dalam. Hamba akan membongkar setiap jejak racun dan dokumen rahasia Faksi Selatan."
Zhao Fengting mendekatkan wajahnya sedikit lagi, menyentuhkan bibirnya dengan sangat lembut di punggung tangan Xinyue. Tatapan matanya memancarkan rasa cinta dan obsesi yang amat dalam namun penuh penghormatan.
"Janji terikat malam ini di bawah pendar bintang, Selir Ye," bisik Zhao Fengting hangat. "Mulai esok hari, siapa pun yang mencoba menyentuh atau membahayakanmu di istana ini... akan berhadapan langsung dengan murka Kaisar."
Malam itu, di dalam kamar yang sunyi di Paviliun Teratai, sebuah aliansi rahasia dan benih-benih romansa yang mendalam resmi terjalin di antara sang Penguasa Kekaisaran dan Selir ke-20 yang cerdas.