Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 : Pria di Kamar Nomor 9
Beberapa jam kemudian, waktu menunjukkan hampir pukul empat sore. Adrian akhirnya menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus ditanganinya. Ia menutup laptop, kemudian mengambil jasnya.
Clara masih berada di meja kerjanya. "Saya pulang dulu, Clara."
"Baik, Pak."
"Dan ingat, jangan membicarakan audit tadi kepada siapa pun."
Clara mengangguk. "Saya mengerti."
Adrian berjalan meninggalkan ruangannya. Namun sebelum pulang ke vila, ia langsung menuju rumah sakit tempat Nadira bekerja.
Beberapa menit kemudian, mobil Adrian berhenti di area parkir rumah sakit. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Nadira.
Adrian: Aku sudah di parkiran. Kamu masih lama?
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
Nadira: Tunggu sebentar.
Adrian bersandar di kursi sambil menunggu.
Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali bergetar.
Nadira: Kamu bisa masuk ke dalam sebentar? Ada yang ingin aku tunjukkan.
Adrian mengerutkan kening, ia segera turun dari mobil. "Ada apa sebenarnya?" gumamnya.
Adrian berjalan memasuki gedung rumah sakit.
Begitu menginjakkan kaki di lobi, langkahnya mendadak melambat. Suasana rumah sakit itu membuat pikirannya kembali pada beberapa waktu lalu.
Kini ia menatap lorong panjang di depannya, lorong itu yang dulu membuatnya merasa seperti tidak memiliki jalan keluar.
Adrian mengepalkan tangannya, ia menarik napas panjang. "Sekarang aku bukan Adrian yang dulu," gumamnya. Namun kenangan itu masih terasa begitu nyata.
"Adrian," panggil Nadira pelan. Wanita itu berdiri tidak jauh darinya. "Ayo."
Adrian menghampirinya. "Apa yang ingin kamu tunjukkan?"
"Nanti kamu akan tahu." Nadira kemudian berjalan lebih dulu.
Adrian mengikutinya, mereka melewati beberapa lorong hingga akhirnya sampai di sebuah bagian rumah sakit yang lebih sepi.
Adrian mulai merasa tidak nyaman. "Kenapa kita ke sini?"
Nadira masih tidak menjawab.
Adrian mengerutkan kening. "Bangsal melati?"
Nadira hanya mengangguk dan terus berjalan. Sampai akhirnya Nadira berhenti di depan sebuah pintu. Kamar Nomor 9.
Nadira menatap Adrian. "Adrian, sebelum masuk..." Ia menarik napas. "Aku ingin kamu tetap tenang."
Adrian semakin bingung. "Ada apa sih sebenarnya?"
Nadira membuka pintu perlahan. Di dalam kamar terlihat seorang pria muda duduk di atas ranjang. Pria itu tampak ketakutan, kedua tangannya saling menggenggam erat. Wajahnya pucat, sementara matanya sesekali mengarah ke pintu seolah takut seseorang datang mencarinya.
Adrian menatap pria tersebut. "Siapa dia?"
Nadira tidak langsung menjawab.
Adrian kembali menatapnya. "Untuk apa kamu mengajakku ke sini?"
Nadira menutup pintu perlahan, kemudian ia berkata pelan. "Adrian, aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Apakah kamu mengenal seorang karyawan bernama Deren di perusahaan tempatmu bekerja?"
Adrian langsung terdiam, nama itu terasa familiar. "Deren?"
Nadira mengangguk cepat sambil menatap Adrian.
Adrian mengingat kembali laporan yang diberikan Clara. "Kalau tidak salah..." Ia menatap pria di dalam kamar. "Deren Aditya?"
"Iya," jawab Nadira dengan cepat.
Adrian mengerutkan kening. "Dia dulu manajer operasional. Tapi dia sudah mengundurkan diri beberapa hari sebelum perusahaan kacau seperti sekarang," lanjut Adrian. "Makanya Om Gunawan meminta aku yang menyelidikinya."
Adrian kembali menatap Deren. "Terus kenapa dia bisa berada di sini?"
Nadira menarik napas. "Karena dia ditemukan sendirian di pinggir jalan dan kondisinya sangat buruk."
Deren tiba-tiba mengangkat wajah, tatapannya bertemu dengan Adrian. Untuk beberapa detik, pria itu hanya diam. Namun kemudian ekspresinya berubah. Deren terlihat seperti baru saja melihat seseorang yang sudah lama ia cari.
"Anda..."
Adrian mengerutkan kening. "Kenapa?"
Deren perlahan berdiri dari ranjang. "Anda direktur baru di perusahaan itu."
Adrian hanya terdiam.
Deren mundur selangkah.
Nadira memperhatikan perubahan sikapnya. "Deren?"
Pria itu memegang kepalanya. "Jangan..."
Adrian mendekat satu langkah. "Tenang. Aku tidak akan menyakitimu."
Deren menggeleng. "Bukan Anda."
"Lalu siapa?"
Deren menatap Adrian dengan ketakutan. "Mereka akan mengira saya sudah bicara."
Adrian dan Nadira saling berpandangan.
Adrian kemudian bertanya, "Deren, apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan?"
Deren terdiam cukup lama, kemudian ia menjawab dengan suara bergetar. "Saya tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan."
Adrian mengernyit. "Apa yang mereka tuduhkan?"
Deren menatap lantai. "Mereka mengatakan saya mencuri uang perusahaan."
Adrian membeku. "Apa? Jadi kamu yang di tuduh?"
Deren tidak menjawab.
Nadira ikut bertanya, "Deren, siapa yang menuduhmu?"
Deren perlahan mengangkat wajah. "Orang yang sebenarnya mengambil uang itu."
Adrian semakin serius. "Siapa?"
Deren membuka mulut, namun sebelum sempat menjawab... suara langkah kaki terdengar dari luar kamar.
Deren langsung pucat. "Dia datang."
Nadira menoleh ke pintu. "Siapa?"
Deren berbisik. "Orang yang membuat saya menjadi kambing hitam."
Adrian langsung berdiri di depan Nadira, langkah kaki itu semakin dekat. Kemudian terdengar suara seseorang berhenti tepat di depan kamar nomor 9.
Tok... tok... tok...
Ketiganya terdiam.
Gagang pintu perlahan bergerak.
Adrian menatap Nadira, Nadira menahan napas. Dan Deren hanya bisa berbisik dengan tubuh gemetar.
"Jangan biarkan dia masuk..."
Gagang pintu akhirnya bergerak.
Klik.
Pintu kamar nomor 9 terbuka.
Adrian langsung menegakkan tubuh, sementara Nadira menahan napas. Deren bahkan mundur hingga tubuhnya hampir menempel pada dinding.
Namun seorang dokter masuk bersama seorang suster. "Selamat sore," ujar dokter tersebut.
Adrian dan Nadira sama-sama mengembuskan napas lega.
"Dokter..." gumam Nadira.
Dokter itu memperhatikan mereka bergantian. "Kalian sedang apa?"
Belum sempat Nadira menjawab, Deren tiba-tiba berteriak. "Jangan!"
Semua orang terkejut.
Deren mundur dengan wajah pucat, kedua tangannya gemetar hebat. "Jangan tangkap saya!"
Dokter langsung mendekatinya. "Tenang, Deren."
"Saya tidak salah!" Deren menundukkan kepala. "Saya tidak mau masuk penjara!"
Nadira segera menghampirinya. "Deren, tenang. Tidak ada polisi di sini."
"Dia yang jahat!" Deren menunjuk ke arah pintu dengan tangan gemetar. "Bukan saya..."
Dokter memberi isyarat kepada suster untuk membantu menenangkan Deren. "Tarik napas perlahan," ujar dokter. "Tidak ada yang akan menangkapmu."
Deren masih gemetar.
Dokter kemudian melakukan pemeriksaan singkat untuk memastikan kondisinya tidak memburuk. Sementara itu, suster yang datang bersama dokter menoleh kearah Nadira.
"Suster Nadira, sedang apa di sini?"
Nadira sedikit gugup. "Iya, Sus. Sebenarnya shift saya sudah selesai. Saat saya hendak pulang, pasien tiba-tiba berteriak. Jadi saya kembali ke sini untuk memastikan kondisinya."
Dokter dan suster mengangguk bersamaan. Kemudian pandangan Dokter itu beralih kepada Adrian.
"Dan pria ini siapa, Suster?"
Nadira membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab, Adrian justru berkata dengan cepat.
"Saya calon suaminya, Dok."
Nadira langsung membelalakkan mata. "Apa?"
Dokter terdiam sesaat, Suster di sampingnya justru tersenyum lebar. "Wah, ternyata Suster Nadira sudah punya calon."
Nadira semakin panik. "Bukan begitu, Sus..."
"Selamat, ya, Suster!" goda suster itu. "Kalau nanti menikah, jangan lupa undang kami."
Wajah Nadira langsung memerah, Adrian yang berdiri di sampingnya justru terlihat tenang.
"Ia pasti, nanti semuanya akan kami undang," jawabnya santai.
Nadira menoleh tajam kepadanya. "Adrian!"
Pria itu hanya tersenyum tipis.
Suster itu tertawa kecil. "Wah, calon suami Suster kelihatannya sudah siap."
"Ya sudah, Sus... Dok," ujar Nadira cepat. "Kalau begitu saya permisi dulu." Nadira langsung mendorong lengan Adrian agar segera keluar dari kamar. "Ayo."
Adrian menurutinya sambil menahan senyum. "Kalau begitu saya permisi, Dok."
Dokter mengangguk. "Silahkan."
Nadira kemudian menoleh kepada Deren yang masih duduk di atas ranjang. "Semoga lekas sembuh ya Deren."
Deren tidak menjawab. Tatapannya masih kosong, sementara kedua tangannya menggenggam erat ujung selimut.
Dokter memperhatikan Deren dengan serius. "Untuk sementara, jangan membuatnya terlalu banyak berpikir."
Suster mengangguk. "Baik, Dok."
Sementara itu, Nadira dan Adrian sudah keluar bersamaan. Di lorong, Nadira langsung berhenti dan menatap Adrian dengan wajah kesal.
"Kenapa kamu bilang calon suamiku?"
Adrian mengangkat bahu. "Aku panik."
"Panik sampai mengaku sebagai calon suami?"
Adrian tersenyum tipis. "Daripada aku bilang aku orang asing yang sedang berada di kamar pasien bersama kamu."
Nadira hanya terdiam, ia tidak bisa membantah. Adrian kemudian menatap pintu kamar nomor 9.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Tapi ada sesuatu yang lebih penting."
Nadira ikut menatap pintu. "Apa?"
"Perkataan Deren."
Nadira mengangguk pelan. "Dia takut ditangkap polisi. Dia juga mengatakan seseorang menjadikannya kambing hitam."
Adrian mengerutkan kening. "Dan orang yang dituduh mencuri uang perusahaan..." Ia berhenti sejenak. "Sepertinya aku harus cari tahu, kenapa Deren bisa seperti ini."
Nadira menatap Adrian. "Bagaimana keadaan perushaan sekarang?" tanya Nadira.
Adrian menjawab dengan jelas. "Aku sekarang sedang melakukan audit, tapi setelah mengecek semua berkasnya. Ternyata banyak transaksi yang mencurigakan. Dan sebagian besar transaksi itu disetujui oleh manager operasional yang baru."
Keduanya saling berpandangan, kini sebuah kemungkinan mulai terbentuk di benak mereka. Deren mungkin bukan pelaku, dia mungkin justru saksi yang mengetahui siapa sebenarnya yang mengambil uang perusahaan. Dan seseorang tampaknya melakukan segala cara untuk memastikan Deren tidak pernah berbicara.