Celine selalu menyukai Ares. Dia mengabadikan seluruh momen laki-laki itu di sebuah buku kecil. Ratusan foto. Lalu kini buku itu hilang, menyisakan perasaan khawatir yang menghantui Celine setiap malam.
Celine hanya tidak tahu, buku itu berada di tangan Ares. Di simpan baik-baik, menunggu waktu yang tepat untuk membuka kedok Celine.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suziehloranda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan yang Labil
Sudah lima belas menit lamanya Gabriel menunggu di parkiran sekolah, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan Celine. Pesan di ponselnya juga tak dibaca, seolah sengaja dibiarkan.
Laki-laki itu mengepalkan tangan, mencoba sedikit bersabar. Namun kenyataan menghantam dirinya bak palu godam. Celine melihat ke arahnya, ia sengaja putar balik menuju gerbang belakang.
Ia menaiki motornya menuju tempat itu, mengamati dari jauh interaksi Celine dan Ares. Senyuman yang diberikan Celine tak pernah benar-benar ditujukan untuknya.
"Aku yang selalu ada di sisimu, tapi kenapa orang lain yang lebih kau pedulikan?" tanyanya.
Mobil yang menjadi tumpangan Celine bergerak membelah jalanan yang mulai basah oleh rintik hujan. Gabriel tidak peduli itu, ia mengikuti dari belakang, membiarkan rasa dingin menyelusup ke kemejanya yang tipis.
"Dia lebih memilih menumpang dengan pria batu itu," katanya begitu mobil berhenti. "ketimbang aku?"
Gabriel mengerutkan alisnya begitu Celine keluar dengan wajah sumringah, ia tampak mencolok dengan hoodie kebesaran di badannya. Laki-laki itu membuang muka begitu dadanya kembali berdesir aneh, sekali lagi dia merasa kalah.
"Second Choice," kata Gabriel dengan nada mencibir. Meratapi perasaannya yang tak pernah menemukan jalan pulang.
"Apa ada satu kesempatan di mana tatapanmu hanya tertuju padaku?"
Walaupun perasaannya bercampur aduk, Gabriel tetap mengamati, mengikuti Celine sampai ke minimarket. Mengawasi perempuan itu dari jarak yang tidak ditangkap oleh mata, ia masih teringat kemarin Celine baru jatuh sakit.
Celine berkacak pinggang, kepalanya pusing karena Herry terus merengek. "Kurang banyak apa yang kamu ambil, beneran mau nguras tabunganku?" Matanya berkedip tidak percaya, ketika Herry mengangguk santai.
"Kurang asem banget," gumamnya. "pokoknya nggak!"
"Kak, yang terakhir deh. Mau itu, dari dulu udah pengen banget. Es krimnya katanya creamy banget, mau!" serunya antusias, sekarang mereka jadi pusat perhatian.
Celine memijit pelipisnya, pusing luar biasa karena kenyataannya uangnya memang tidak cukup. Sebelum ia mengeluarkan protes terhadap Herry, anak laki-laki itu telah tergeletak di lantai, menangis tersedu-sedu.
"Malu-maluin, nyesel deh." tukas Celine, ia menutup wajahnya dengan lengan.
Suara langkah kaki berhenti di depan Herry, anak laki-laki itu mendongak dengan mata yang sembab. Gabriel berjongkok di depannya dengan senyum tipis, ia mengusap kepalanya. "Kamu mau beli apa, katakan saja. Jangan merepotkan kakakmu, nanti dia berubah kembali menjadi kuntilanak." ujarnya.
Celine yang mendengarnya melotot ke arah Gabriel. "Pahlawan kesiangan, kalau bisa bayarin Herry tuh, sekalian minimarketnya kasih biar enggak merengek lagi."
"Oke," katanya lalu tersenyum tipis. Gabriel menuntun Herry untuk membeli es krim. "Bagaimana, udah senang?"
"Udah, mulai sekarang, kak Herry yang paling aku suka. Ayo pulang tinggalin aja kakak pelit itu!" Herry menarik tangan Gabriel tanpa rasa bersalah di wajahnya.
Celine merasa telah dikhianati. "Aku?" Ia menunjuk dirinya. "setelah semua yang kulakukan untuk membuatnya senang, harga diriku dijual dengan sebuah es krim!"
Perempuan itu berjalan dengan langkah yang disentak, dia menghampiri Gabriel yang sedang mengantri di kasir. "Kamu yang bayar. Karena katanya, kamu kakak yang paling dia suka," Celine melipat kedua tangan di dada.
Gabriel menanggapi dengan senyum sinis, membayar semua belanjaan yang membuat Herry tertawa terbahak-bahak. "Haha, beneran dibayar dong Nenek sihir!" pungkasnya.
Celine menarik napas dalam-dalam, siap meluapkan emosinya, tetapi Gabriel sudah melangkah terlebih dahulu meninggalkan minimarket.
Begitu sampai di rumah, Celine menarik tangan Gabriel menjauh. "Maksud kamu apa sih!" katanya.
"Aku gak bermaksud apa-apa, kulihat kau tidak mampu untuk membayar. Sedekah," ujar Gabriel. "Daripada kamu malu di minimarket tadi, pilih mana?"
"Dih bukan urusan kamu sama sekali! Harusnya cukup bayar es krimnya aja."
"Kamu yang bilang tadi untuk bayar sekalian, jangan playing victim."
Celine menonjok lengan kiri Gabriel tanpa aba-aba, dia mendengus dan duduk di sofa dengan ekspresi jengkel.
"Kasar banget jadi cewek,"
"Biarin."
"Ngomong-ngomong, kamu pulang naik apa? Bukannya udah kubilang buat nunggu di parkiran tadi, ya?" Gabriel ikut duduk di sofa sebelah.
"Males aku ketemu kamu, yang ada nanti malah darah tinggi," tukas Celine, ia memainkan ujung rambutnya, menatap permusuhan ke arah Gabriel. "Pulang gih, gak nerima tamu!"
Gabriel tidak mengindahkan perkataan Celine. "Terus pulang naik apa, sama siapa?" tanyanya.
Celine memicingkan matanya, ia condongkan badannya lebih dekat ke arah Gabriel. "Sama Ares kenapa, gak terima?"
"Oh," Gabriel memalingkan wajahnya yang mulai memanas. "kalian akhir-akhir ini jadi dekat, ya."
"Jelas, yang namanya jodoh pasti bakal dekat cepat atau lambat," Kalau mendengarnya langsung dari mulut Celine, lukanya jadi lebih menganga.
"Saranku jangan terlalu cepat menyimpulkan, ya, namanya juga laki-laki."
Celine berdiri, menuding Gabriel dengan pertanyaan, "Kali ini apa lagi? Maksudmu dia gak sebaik yang kelihatannya?"
"Ya gak gitu juga, orang kalau rasa penasarannya udah selesai bakal berhenti. Takutnya nanti kamu malah jadi makin sakit," tuturnya. "Kamu gak ngerasa Ares labil banget sama kamu?"
Deg
Celine mundur dua langkah, perkataan Gabriel menusuk tepat di titik yang paling ia takutkan. Bagaimana jika sebenarnya Ares hanya merasa penasaran?
"Udah ah, ngawur! Pulang sana, aku mau beres-beres rumah."
"Oke, dasar tuan rumah tidak ramah."
Gabriel sudah pergi, tapi Celine belum juga merasa aman. Dia mengulum bibirnya, menatap ponselnya dengan layar menyala.
Satu kali ini saja, biarkan dia berani.
Celine membuka media sosial, jemarinya berhenti sejenak di ruang obrolan dengan pesan terakhir yang dikirim oleh Ares waktu itu. Ia mengetik pesan, berulang kali menghapusnya. Sampai satu pesan singkat akhirnya berhasil dikirim.
Ares boleh nanya enggak?
Lama sekali rasanya Celine menunggu balasan dari pesannya. Dia bolak-balik di antara sofa dan meja ruang tamu. Berulangkali memeriksa apakah pesannya sudah dibalas atau tidak.
Ting
Celine dengan cepat membuka ponselnya.
Apa?
Em ... Kamu udah ada orang yang disuka belum, biar aku bisa tahu harus maju apa mundur:( —Celine
Celine mengumpat dalam benak, hendak menghapus pesan yang baru saja dia kirim. Namun sayangnya, Ares sudah terlebih dahulu membacanya.
"Duh, cuman diread!" Ia menggigit ibu jarinya. "Apa dia ngerasa pertanyaanku terlampau kurang ajar?"
Celine memusatkan perhatiannya pada ponsel yang berbunyi.
Udah ada, puas?
Kalau boleh tahu, sukanya sama siapa ya?
Tidak ada lagi kelanjutan dari obrolan itu, bahkan Ares tidak membaca pesan terakhir yang Celine kirim. Perempuan itu duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam.
"Orang yang dia suka, pasti ... bukan aku," gumamnya dengan senyuman yang berubah sendu. "Kalau itu aku gak mungkin dijawab seketus itu, kan?"
"Apa mungkin Jasmine? Akhir-akhir ini mereka sering bersama."
Salut banget sih author lucu gemes