Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Shen Yuxiao mengawasi dari jauh, begitu Cao Cao masuk ke dapur dan bertemu dengan koki yang sudah diancam oleh Shen Yuxiao tadi. Koki itu pun segera memberikan piring yang sudah diberi bubuk oleh Shen Yuxiao.
Koki itu sendiri, sebenarnya tidak tahu bubuk apa yang diberikan oleh nona ketiga itu. Hanya saja, dia masih sangat terlihat gugup. Kalau Shen Yunan yang berada di tempat itu, tepat berada di depan koki itu. Sudah pasti Shen Yunan akan langsung tahu, kalau pasti ada yang tidak beres dengan masakan koki yang sangat gugup itu.
"Terima kasih kakak Ma. Kue ini pasti enak! aku akan segera berikan pada nona keempat!"
Cao Cao juga tampak sangat bersemangat, dia begitu antusias. Karena kue bunga osmanthus memang tidak sering dibuat di kediaman. Hanya ketika bunga osmanthus mekar saja.
"I... iya Cao Cao!" jawab koki yang biasa di panggil kakak Ma itu.
Cao Cao masih tidak menaruh curiga sama sekali. Gadis itu tersenyum dan segera membawa potong jatah nona keempatnya dari dapur.
Koki Ma, meremass celemek yang dia pakai.
'Aduh, bagaimana ini? semoga saja bubuk yang diberikan nona ketiga itu tidak berbahaya!' batinnya berharap.
Meski sebenarnya dia sendiri juga tidak yakin. Dia sudah cukup lama tinggal di kediaman Marquis. Tentu tahu sedikit banyak tentang tabiat nona ketiganya.
Melihat Cao Cao sudah pergi dengan piring kue. Shen Yuxiao tersenyum menyeringai dari jauh.
'Rasakan itu Shen Yunan, kamu akan diusir lagi dari kediaman ini!' batin Shen Yuxiao sangat yakin, lalu meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di paviliun nona keempat. Cao Cao segera masuk dan meletakkan piring kue itu di atas meja.
"Nona, nona..." panggil Cao Cao.
Shen Yunan yang sedang merapikan riasan rambutnya segera menoleh.
"Ada apa Cao Cao?"
"Nona, aku bawa kue osmanthus dari dapur kediaman. Cepat cicipi Nona, kue buatan kakak Ma sangat enak!"
Shen Yunan berdiri. Dia melihat ke arah piring yang berisi sekitar 6 potong kue berwarna putih kemerahan itu. Seingatnya, di kehidupan yang lalu, dia juga mendapatkan kue seperti ini setelah dia kembali. Dan setelah makan kue itu, dia mengalami bentol-bentol. Sampai dikurung di gudang kayu selama hampir satu bulan.
'Kue yang sama, sepertinya juga cara yang sama' batin Shen Yunan memprediksi, kalau mungkin saja, cara yang sama tetap dilakukan oleh Shen Yuxiao.
"Apa pelayan nona ketiga sudah mengambil kuenya?" tanya Shen Yunan.
"Aku rasa belum, aku yang pertama kali sampai di dapur begitu pelayan dari dapur mengatakan kuenya sudah matang..."
Tangan Shen Yunan terangkat, membuat Cao Cao tidak melanjutkan apa yang dia katakan.
"Ikut aku!" ajak Shen Yunan sambil mengangkat piring berisi kue di atas meja itu pergi dari kamarnya.
Keduanya melihat pelayan Shen Yuxiao pergi ke dapur.
"Cao Cao, lihat bagaimana aku membuat kue ini menjadi senjata makan tuan!"
Cao Cao terdiam di tempatnya. Dia masih bingung. Memangnya ada apa dengan kue yang dia baru ambil dari dapur itu.
Dengan gerakan cepat, Shen Yunan melemparkan sebuah keranjang kosong dari depan ke arah pintu dapur.
Brukkk
Pelayan Shen Yuxiao dan juga koki itu tentu saja langsung menoleh ke arah pintu.
"Siapa?" tanya koki Ma.
Tak ada suara yang menyahut, itu membuat keduanya sangat penasaran. Akhirnya seperti harapan Shen Yunan. Koki Ma dan pelayan Shen Yuxiao pergi ke luar, melihat apa yang terjadi di luar.
Dan kesempatan itu digunakan dengan cepat oleh Shen Yunan untuk masuk lewat jendela. Cao Cao yang melihat dari jauh sampai ternganga. Dia tidak tahu kalau nonanya bisa ilmu beladiri seperti itu.
Tak lama, hanya beberapa detik saja. Shen Yunan sudah keluar dari tempat itu dan menghampiri Cao Cao
"Nona, nona hebat sekali! lompat sana, lompat..."
"Sssst, ayo pergi. Kita makan kue osmanthus ini!" kata Shen Yunan segera mengajak Cao Cao pergi.
Sementara pelayan Shen Yuxiao dan koki Ma yang tidak melihat siapapun. Juga segera kembali masuk ke dalam dapur.
"Ini piring nona ketiga kan?" tanya pelayan Shen Yuxiao.
"Iya, memang tinggal ini. Yang lain sudah dibawa ke kediaman masing-masing!" jawab koki Ma.
Pelayan Shen Yuxiao itu juga sama seperti majikannya. Tak ada ucapan terima kasih dan tidak ada sopan santun untuk mengambil piring itu dengan meminta ijin terlebih dahulu. Pelayan itu segera membawa piring berisi 6 potongan kue osmanthus itu keluar dari dapur.
Di halaman paviliun nya. Shen Yunan sedang menikmati kue itu bersama Cao Cao. Mereka duduk bersantai di kursi yang ada sandarannya.
"Ternyata enak sekali, nona. Senang sekali kalau kue ini bisa di makan setiap hari!"
Shen Yunan hanya tersenyum. Dulu, karena dia dibenci oleh tuan dan nyonya Marquis akibat masalah pelecehann yang dilakukan oleh Sufeng si desa. Dia sama sekali tidak punya pelayan. Apapun dia lakukan sendiri. Sekarang, baguslah dia punya seorang pelayan yang setia.
Saat keduanya sedang makan. Shen Yunan mendengar keributan dari balik dinding taman paviliunnya.
"Ada apa itu?" tanya Shen Yunan.
Cao Cao menggelengkan kepalanya.
"Ayo kita lihat!" kata Shen Yunan yang langsung berdiri dan menuju ke pintu halamannya.
Cao Cao yang melihat kuenya masih ada satu lagi, segera mengambil kue itu bersamanya.
Ketika sampai di halaman belakang kediaman Marquis. Shen Yunan melihat seorang pemuda tampak di cambukk oleh pelayan di bagian pekerjaan kasar.
"Dasar tidak berguna! ibumu sudah mati! sudah seharusnya kamu menggantikan pekerjaannya!" kata pelayan itu marah lalu mencambuk punggung pemuda itu lagi.
Cetazzz
Shen Yunan melihat dengan seksama. Pemuda itu wajahnya familiar. Dan begitu Shen Yunan ingat siapa pemuda itu. Dia langsung melebarkan matanya.
'Dia Murong Yan, dia adalah putra jendral tingkat satu yang hilang. Wah, rejeki nomplok ini namanya. Dia akan sangat berguna!' batin Shen Yunan.
Dulu, Murong Yan baru ketahuan setelah bertemu dengan istri jenderal Murong. Saat itu kediaman jendral bahkan memberikan banyak hadiah pada Marquis Shen. Dikiranya hidup Murong Yan baik. Karena di ancam dengan nyawa adik angkatnya, Murong Yan diam saja.
'Kali ini, yang akan dapat banyak emas dan permata adalah aku!' batin Shen Yunan.
"Hei!" pekik Shen Yunan.
Pelayan pria itu dan satu pelayan wanita segera menoleh.
"Apa yang kalian lakukan? yang budak itu ibunya, kenapa setelah ibunya meninggal, anaknya harus menjadi budak juga?"
Suara lantang yang terdengar membelanya membuat Jinlang mendongak menatap Shen Yunan.
"Nona, dia juga sudah banyak makan dari kediaman..."
"Memangnya kamu yang memberi makan?" sela Shen Yunan.
"Nona, tidak ada kepala pelayan lain yang mau...!"
"Aku akan mengambilnya. Dia akan ikut denganku. Masalah makan, pakaian, aku yang tanggung!"
'Nona ini, baik sekali. Jika dia jadi majikanku, akan sangat setia padanya!' batin Jinlang.
***
Bersambung...