Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.
Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.
Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.
Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?
Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6.
Mami Mia berusaha bersikap tenang di hadapan putra keempatnya itu. "Tentu saja nggak benar, Sayang." ucapnya mantap sambil tersenyum. "Semua yang tertulis di postingan itu hanyalah fitnah untuk menjatuhkan image Kak Niel dan Zeya."
Danish menelan ludahnya susah payah. "Tapi... kenapa banyak sekali yang percaya, Mi?"
"Karena lebih mudah menghakimi daripada mencari tahu kebenarannya," jawab Mami Mia lirih. Tatapannya kembali tertuju pada layar ponsel. "Orang-orang hanya membaca apa yang terlihat, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Kemudian si kembar Darrel dan Darren datang dengan pertanyaan yang sama.
Mami Mia menarik napas panjang, berusaha meredam gemuruh dalam dadanya. Ia lantas menjelaskan dengan cara sederhana agar bisa dipahami oleh anak-anaknya.
"Yang perlu kita lakukan adalah mendukung Kakak dan Zeya, agar mereka nggak merasa sendiri dan terpuruk," lanjutnya dengan suara tercekat.
"Terus, kenapa Niel nggak boleh pulang, Mi? Kenapa mereka ditahan di sana?" tanya Darren.
"Benar, Mi. Papi kan, bisa menggunakan kekuasaannya untuk menekan warga di sana." sambung Darrel.
"Nggak semudah itu, Sayang." Mami Mia mengembuskan napasnya pelan. "Kakak nggak mau kita bersikap arogan. Lagipula dengan adanya kejadian ini, kami merasa diuntungkan," tambahnya, senyum seketika terbit dari bibirnya.
"Hahhh...diuntungkan? Maksud Mami, apa?" tanya Darren dan Danish hampir bersamaan. Ekspresi wajahnya tampak bingung.
"Karena...dengan adanya kejadian itu, impian mami dan papi untuk menjadikan Zeya menantu di rumah ini, akhirnya terwujud," jawab Mami Mia, sejenak melupakan amarahnya.
"Astaga...Mi! Jadi Mami sama Papi bahagia di atas penderitaan mereka, dong?" Ketiga remaja itu menggelengkan kepala, lalu menepuk dahi masing-masing.
Mami Mia tersenyum tipis. "Ya sudah, sekarang kalian tidur dan jangan pikirkan apapun. Biar semua ini menjadi urusan Papi dan Mami. Ayo...sana masuk kamar!" perintahnya dan langsung mendapat anggukan dari ketiga remaja tersebut.
Setelah ketiga putranya masuk ke kamar masing-masing, Mami Mia bergegas masuk ke kamarnya. Namun, satu hal yang terus mengusik pikirannya -- siapa dalang di balik penyebaran berita itu.
...
Unggahan tentang insiden yang menimpa Daniel dan Zeya dengan cepat menyebar luas, laksana daun-daun kering dilalap api. Foto-foto mereka beredar tanpa kendali, hingga dalam hitungan menit, berita itu menjadi tranding topik dan menarik perhatian warganet.
Berbagai tuduhan dan fitnah keji, serta kata-kata pedas yang menyakitkan terus membanjiri kolom komentar. Seolah semua orang berlomba menghakimi tanpa peduli dan mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
Di SMA Pelita Bangsa, pagi itu pun nama Daniel dan Zeya seketika menjadi perbincangan hangat murid-murid, hampir di setiap sudut sekolah.
"Nggak nyangka ya, Daniel dan Zeya ternyata berani berbuat tak senonoh di tempat asing."
"Mungkin merasa ada kesempatan, apalagi mereka satu kelompok."
"Benar, pasti mereka pura-pura tersesat, biar bisa berduaan. Dasar otak mesum!"
"Aku sebenarnya sangat muak melihat keakraban mereka. Yang cowoknya sok asyik, trus ceweknya sok-sokan malu-malu, nggak tahunya malah malu-maluin!"
"Kasihan banget orangtuanya. Pasti nama baiknya tercoreng, gegara ulah mereka."
"Diam...!" teriak Jena seraya menggebrak meja kantin dengan keras.
Brakkk!!!
Suasana di kantin sunyi dalam sekejap. Murid-murid langsung terdiam.
Gadis itu tak terima mendengar semua tuduhan dari teman-temannya terhadap Zeya. "Kalian tahu apa tentang mereka, hahhh! Seenaknya saja menuduh dan menjelekkannya tanpa bukti!"
"Bukankah buktinya sudah jelas? Mereka ditemukan warga sedang berpelukan di tempat sepi pagi harinya. Pasti malamnya mereka sudah...."
Jenna segera menghampiri siswi itu lalu mencengkeram dagunya kuat-kuat. Membuat wajah siswi itu kesakitan, ucapannya pun terhenti.
"Apa kamu bilang...?" Jenna menatapnya tajam. "Katakan sekali lagi, kamu bilang apa tadi!"
Siswi itupun terdiam dengan wajah ketakutan. Tak menyangka dengan reaksi Jenna yang menurutnya berlebihan.
"Sudahlah, Jen. Mereka kan, hanya tahu dari apa yang mereka lihat," kata Maura sahabat mereka. "Yang penting Daniel dan Zeya nggak ngelakuin apa yang mereka tuduhkan. Nanti juga berita itu akan hilang dengan sendirinya. Percaya, deh," imbuhnya sambil tersenyum menenangkan.
Jenna langsung melepaskan cengkeramannya, dan berlalu pergi dari kantin tersebut tanpa berniat melanjutkan makannya. Kemudian ia menghentikan langkahnya di bawah pohon mangga. Sesaat membuka ponselnya berniat menghubungi Zeya, tetapi hanya ada suara operator yang didengarnya.
"Kenapa nomornya nggak aktif, sih?" gumamnya dengan kecewa.
Sementara dari kejauhan seseorang tampak memperhatikan Jenna sambil tersenyum miring.
...
Di desa Sekar, tempat tinggal Daniel dan Zeya sekarang, keduanya dibangunkan oleh warga sejak pagi buta. Setelah menunaikan shalat Subuh berjamaah di masjid, mereka kemudian dipandu para tetua dan warga untuk mengenal kebiasaan serta tata cara kehidupan masyarakat setempat.
Daniel diajak ke sawah. Di sana, ia belajar cara mencangkul dan menanam sayuran. Beberapa kali ayunan paculnya nyaris mengenai kakinya sendiri, membuat warga yang menyaksikan tak kuasa menahan tawa.
"Belajarnya pelan-pelan saja. Nanti kalau sudah terbiasa memegang pacul, semuanya akan terasa lebih mudah."
Daniel mengusap keringat di dahinya. Napasnya memburu, setelah hampir satu jam mencoba mengayunkan pacul yang ternyata jauh lebih berat daripada yang dia bayangkan.
"Iya, Pak. Ternyata bertani itu tidak semudah kelihatannya," katanya sembari tersenyum kecut.
Pak RT tertawa kecil. "Makanya, jangan pernah meremehkan pekerjaan petani. Sayur dan nasi yang setiap hari kita makan itu, tidak tumbuh begitu saja. Ada banyak tenaga, waktu, dan kesabaran yang dicurahkan."
Daniel mengangguk, baru sekarang dia benar-benar menyadari betapa besar usaha yang diperlukan untuk menghasilkan bahan makanan sehari-hari.
Perlahan dia kembali mencoba mencangkul. Kali ini gerakannya jauh lebih hati-hati. Meski hasilnya masih belum rapi, setidaknya pacul itu tak lagi mengarah ke kakinya sendiri.
"Nah, begitu. Kalau terus berlatih, sebentar lagi pasti sudah terbiasa," ucap seorang warga sambil mengacungkan jempol.
Daniel tersenyum malu. "Semoga saja, Pak."
Gelak tawa warga kembali terdengar. Suasana sawah yang semula hanya dipenuhi suara burung dan desir angin kini terasa lebih hangat dengan canda dan semangat kebersamaan.
...
Sementara itu, Zeya sibuk di dapur rumah Bu Kades bersama para ibu-ibu yang lain. Sejak pagi ia belajar memasak dan mengolah berbagai sayuran segar yang baru dipetik dari kebun.
Awalnya Zeya hanya membantu mencuci sayuran dan mengupas bumbu. Namun, lama-kelamaan ia mulai diajari mengulek sambal, menumis sayur, hingga memasak nasi menggunakan tungku kayu bakar.
"Asapnya memang membuat mata perih, tapi masakan yang dimasak menggunakan kayu bakar rasanya beda," ujar salah seorang ibu sambil tersenyum.
Zeya mengangguk. Meski wajahnya sedikit belepotan jelaga, ia menikmati pengalaman barunya itu.
Menjelang siang, seluruh masakan akhirnya selesai. Aroma tumis sayuran, ikan goreng, dan sambal terasi memenuhi dapur sederhana itu.
"Nah, Zeya," panggil Bu Kades. "Tolong antarkan makan siang ini ke sawah. Pak RT dan yang lainnya pasti sudah lapar."
"Baik, Bu."
Zeya menerima rantang bertingkat dan sebuah keranjang berisi gelas serta termos air minum. Setelah berpamitan, ia berjalan menyusuri jalan setapak menuju area persawahan.
Baru beberapa menit berjalan, langkahnya tiba-tiba terhenti. Seorang gadis seusianya berdiri di tengah jalan sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Wah...Kalian hebat, ya! Sekarang jadi viral di media sosial," ucapnya bernada sindiran.
Zeya mengernyit bingung. "Maaf... maksudnya apa, ya?"
.emaknya datang😁