Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Hari Minggu, Bu Marini memutuskan ingin memasak.
Keputusan itu disampaikan saat sarapan, tepat setelah Pak Aditya mengatakan tekanan darahnya bagus.
"Kalau tekanan darah Bapak bagus, berarti hari ini kita bisa makan agak enak," kata Bu Marini.
Pak Aditya mengangkat mata dari piring. "Agak enak artinya apa?"
"Opor ayam."
"Marini."
"Sedikit santan tidak membunuh orang."
"Dokter bilang..."
"Dokter tidak tinggal di lidah saya."
Naura yang sedang menuang air hangat berhenti sebentar. Pak Jaya di samping pintu pura-pura melihat jam dinding.
Pak Aditya menatap Naura. "Kamu dengar sendiri. Dia mau melawan dokter."
Bu Marini menatap Naura juga. "Kamu dengar sendiri. Dia mau membuat saya hidup tanpa kebahagiaan."
Dua pasang mata lansia menunggu keputusan.
Naura merasa seperti hakim di pengadilan santan.
"Kita bisa buat opor versi ringan," katanya akhirnya. "Santan encer, ayam tanpa kulit, porsinya kecil, lauk lain tetap sayur. Bapak juga boleh mencicipi sedikit."
Bu Marini tersenyum menang.
Pak Aditya bergumam, "Kamu terlalu pintar menengahi."
"Itu pujian, Pak?"
"Anggap saja."
Maka siang itu dapur rumah Pradipta benar-benar hidup.
Bu Marini duduk di kursi tinggi dekat meja dapur, mengenakan celemek bunga-bunga yang ditemukan Naura di lemari lama. Pak Aditya awalnya hanya menonton, tetapi akhirnya ikut mengupas telur rebus sambil mengeluh bahwa kulit telur hari ini terlalu keras.
Naura membagi tugas kecil agar mereka merasa terlibat tanpa kelelahan.
Bu Marini mengaduk bumbu halus yang sudah ditumis.
"Dulu saya masak opor untuk Arkan waktu dia masih kecil," katanya tiba-tiba. "Dia makan sampai pipinya penuh."
Pak Aditya menyahut, "Sekarang pipinya hilang karena terlalu banyak rapat."
"Nanti saya suruh dia pulang makan."
"Dia belum tentu bisa."
"Kalau tidak bisa, kita kirim foto."
Bu Marini mengambil ponsel, memotret panci opor dari sudut terlalu dekat sampai hanya terlihat kuah.
Naura membantu mengambil foto yang lebih jelas.
"Nah, ini lebih bagus, Bu."
Bu Marini mengirim foto itu ke Arkan.
Pesan balasan datang sepuluh menit kemudian.
`Nenek masak?`
Bu Marini langsung membalas dengan pesan suara.
"Iya. Kalau kamu mau makan, pulang. Kalau tidak, Nenek habiskan."
Pak Aditya berkata pelan, "Kamu mengancam cucu dengan opor."
"Cinta butuh strategi."
Naura tertawa.
Satu jam kemudian, Arkan benar-benar datang.
Bu Marini tampak seolah baru memenangkan tender besar.
"Lihat, strategi berhasil."
Arkan masuk dengan pakaian lebih santai: polo gelap dan celana chino. Tetap rapi. Tetap mahal. Tapi tidak setegang hari kerja.
"Saya hanya kebetulan lewat," katanya.
Pak Aditya menatapnya. "Lewat dari mana? Kantormu di Sudirman."
Arkan diam.
Bu Marini tertawa puas.
Naura menata makan siang di meja. Opor ringan, sambal goreng kentang versi tidak terlalu pedas, sayur bening, tempe bacem, nasi merah untuk Pak Aditya, nasi putih untuk yang lain.
Arkan duduk di samping neneknya.
"Nenek benar-benar masak?"
"Saya mengaduk."
Pak Aditya menambahkan, "Naura yang menyelamatkan dapur."
Bu Marini tidak tersinggung. "Betul. Kalau tidak ada Naura, mungkin kita makan arang."
Naura menuang kuah opor ke mangkuk kecil.
"Bu Marini yang menentukan rasa akhirnya, Pak."
Bu Marini langsung menepuk meja. "Dengar? Ini anak baik."
Arkan menatap Naura sejenak.
"Kamu selalu begitu?"
Naura mengangkat alis. "Begitu bagaimana, Pak?"
"Membuat orang merasa punya peran."
Pertanyaan itu membuat Bu Marini dan Pak Aditya ikut menoleh.
Naura meletakkan sendok sayur.
"Karena memang punya peran."
"Tidak semua orang berpikir begitu."
"Mungkin karena tidak semua orang cukup sabar melihat peran kecil."
Arkan tidak menjawab.
Bu Marini memandang cucunya, lalu Naura. Matanya menyipit senang.
Makan siang berlangsung lebih tenang daripada biasanya. Arkan menghabiskan satu mangkuk opor, lalu menambah sedikit. Bu Marini pura-pura tidak melihat, tetapi senyumnya tidak turun.
Setelah makan, Pak Aditya tidur siang. Bu Marini juga diminta istirahat karena terlalu bersemangat di dapur.
Naura membersihkan dapur.
Arkan tidak langsung pulang. Ia duduk di meja makan, membuka tablet, membaca dokumen. Kehadirannya membuat ruangan terasa lebih penuh, tapi tidak mengganggu.
Naura selesai mencuci panci ketika ponselnya berbunyi.
Dimas dari Mahardika.
Ia mengeringkan tangan dan mengangkat.
"Halo, Dimas."
Suara Dimas terdengar panik. "Mbak, maaf ganggu hari Minggu. Aku cuma mau tanya soal catatan risiko Sagara Medika. Pak Bima minta aku hapus bagian beneficial owner yang belum jelas. Katanya terlalu sensitif."
Naura melirik sekilas ke ruang makan.
Arkan masih membaca tablet, tetapi ia tahu laki-laki itu mendengar. Rumah ini terlalu sunyi.
"Kamu minta instruksi tertulis?"
"Sudah. Dia marah."
"Tidak apa-apa. Kirim email ringkas. Tulis bahwa sesuai permintaan lisan Pak Bima, kamu ingin konfirmasi apakah bagian itu dihapus. CC compliance."
"CC compliance, Mbak?"
"Iya."
"Nanti Pak Bima makin marah."
"Lebih baik dia marah daripada kamu kena masalah hukum."
Dimas diam.
Naura melanjutkan, "Kalau dia tetap memaksa lewat telepon, rekam sesuai aturan? Minimal catat waktu dan isi pembicaraan. Jangan tanda tangan memo yang tidak kamu yakini."
"Mbak, kenapa proyek ini terasa bau?"
"Karena memang ada yang belum bersih."
Dimas menghela napas. "Aku kangen Mbak di kantor."
Naura tersenyum tipis. "Jangan. Kalau kamu kangen, artinya dulu aku terlalu banyak menanggung."
"Mbak sekarang kerja di mana?"
Naura melihat lantai dapur yang mengilap, panci bersih, dan aroma opor yang masih tertinggal.
"Di tempat yang lebih manusiawi."
Dimas tertawa kecil, meski masih tegang.
Setelah panggilan selesai, Naura berbalik.
Arkan sudah tidak membaca tablet.
Ia menatapnya.
"Mahardika Capital?"
Naura tidak terkejut. Orang seperti Arkan pasti tahu nama-nama perusahaan di dunianya.
"Saya pernah bekerja di sana."
"Sebagai?"
"Vice President corporate finance."
Arkan meletakkan tablet.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah cukup jelas.
"Kamu Naura Ayu dari Mahardika?"
Naura mengambil lap dan mengeringkan meja dapur.
"Sepertinya begitu."
"Yang memimpin due diligence NewTech Robotics?"
Tangan Naura berhenti.
Nama itu.
Proyek yang dulu membuatnya tidak tidur hampir seminggu. Perusahaan robotik lokal yang kemudian berkembang besar. Mahardika memenangkan mandat itu dari beberapa investor, termasuk Aruna Capital.
"Saya bagian dari tim."
"Kamu yang presentasi di final pitch."
Naura menoleh.
"Pak Arkan tahu?"
Arkan menatapnya seolah pertanyaan itu aneh.
"Aruna kalah di proyek itu."
Naura akhirnya mengingat. Saat final pitch, ada beberapa investor dan calon partner di ruangan. Ia terlalu fokus pada presentasi untuk memperhatikan wajah semua orang.
"Saya tidak tahu Bapak ada di sana."
"Aku ingat analisismu."
Tidak lagi `saya`.
Kata itu keluar singkat, tapi Naura menangkap perubahan kecilnya.
Arkan berdiri dan mendekat, berhenti di sisi meja dapur.
"Kenapa kamu ada di sini?"
Pertanyaan itu tidak menghina.
Tapi tetap menusuk.
Naura menatapnya tenang.
"Karena saya memilih ada di sini."
"Dengan kemampuanmu, banyak perusahaan akan menerimamu."
"Mungkin."
"Lalu kenapa?"
Naura meletakkan lap.
"Pak Arkan, di kantor saya membuat orang kaya menjadi lebih kaya, lalu pulang dengan tubuh hampir rusak. Di sini saya membuat dua orang tua makan dengan baik, tidur lebih tenang, dan tersenyum lebih sering. Untuk saat ini, saya lebih memilih yang kedua."
Arkan diam.
Tatapannya tidak lagi sekadar ingin tahu.
Ada sesuatu yang lebih dalam di sana.
Mungkin hormat.
Mungkin bingung.
Mungkin keduanya.
Dari lorong, suara Bu Marini terdengar.
"Arkan! Jangan interogasi Naura!"
Arkan memejamkan mata sebentar.
Naura menunduk menyembunyikan senyum.
"Saya tidak menginterogasi, Nek."
Bu Marini muncul dengan rambut agak berantakan setelah tidur siang.
"Mukamu seperti polisi pajak."
"Nenek bahkan tidak lihat dari tadi."
"Nenek tahu cucu sendiri."
Pak Aditya menyusul dari belakang. "Apa yang terjadi?"
Bu Marini menunjuk Arkan. "Dia mengganggu Naura."
Arkan menatap Naura, seolah meminta pembelaan.
Naura berkata dengan wajah serius, "Pak Arkan hanya bertanya soal pekerjaan lama saya, Bu."
"Nah, itu mengganggu."
Arkan tidak menang kali ini.
Sore itu, sebelum pulang, Arkan berdiri di foyer lebih lama dari biasanya.
Naura mengantar Bu Marini sampai pintu, lalu mundur.
Arkan menatapnya.
"Mbak Naura."
"Iya, Pak?"
"Kalau suatu hari kamu ingin kembali ke finance, hubungi saya."
Bu Marini langsung bersuara, "Arkan!"
Naura tersenyum kecil.
"Terima kasih, Pak. Tapi untuk sekarang, saya sedang bekerja di sini."
Arkan menatapnya beberapa detik.
Lalu ia mengangguk.
"Baik."
Mobilnya pergi.
Bu Marini melipat tangan di dada.
"Cucuku mau mencuri kamu dari Nenek."
Naura tertawa pelan. "Tidak, Bu. Pak Arkan hanya menghargai pengalaman saya."
"Naura, Nenek sudah tua, bukan buta."
Naura tidak tahu harus menjawab apa.
Bu Marini tersenyum seperti orang yang baru menemukan tontonan menarik.
"Mulai sekarang, kalau Arkan pulang lebih sering, Nenek tahu alasannya bukan cuma opor."
jgn setengah 2 ya