Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Gaun Merah
Pagi itu Ratna tidak memasak.
Ia bangun sebelum subuh seperti biasa, tapi tidak pergi ke dapur. Ia salat, duduk lama di sajadah, lalu melipat mukena dengan tenang.
Di luar kamar, panci sengaja dibanting keras.
"Tidak ada nasi?" suara Mama Sulastri melengking dari dapur.
Ratna membuka lemari. Ia memilih baju terbaik yang ia punya. Blus krem lama pemberian Maya, rok hitam, dan kerudung cokelat muda. Baju itu tidak baru, tapi bersih.
Ketukan keras terdengar di pintu.
"Ma!" Raka berteriak. "Aku ada meeting pagi. Sarapan mana?"
Ratna membuka pintu.
Raka berdiri dengan rambut basah dan wajah kesal. Di belakangnya, Maya menggendong Bima yang masih mengantuk. Mama Sulastri duduk di kursi makan sambil memegang dada, seolah tragedi besar baru saja terjadi.
"Sarapan bisa beli di warung," kata Ratna.
Raka terdiam.
"Mama sakit?"
"Tidak."
"Lalu kenapa begini?"
Ratna merapikan tasnya.
"Karena Mama ada urusan."
Mama Sulastri langsung menyambar.
"Urusan apa yang lebih penting daripada keluarga? Dari dulu rumah ini berdiri karena kamu mengurusnya. Sekali kamu tidak masak, semua berantakan."
Ratna menatap ibu mertuanya.
"Berarti selama ini saya cukup penting, ya, Ma?"
Mama Sulastri tersedak kata-katanya sendiri.
Maya mencoba tertawa.
"Ma, jangan sensitif. Mama cuma capek, kan? Nanti pulang belanja, ya. Aku titip sekalian ambil paket. Kurir kemarin bilang barangku banyak."
"Tidak bisa."
Wajah Maya berubah.
"Ma?"
"Hari ini urus sendiri."
Bima yang ada di gendongan Maya mengucek mata.
"Nenek marah?"
Hati Ratna langsung melunak. Ia mendekati cucunya, mengusap rambut kecil itu.
"Nenek tidak marah sama Bima. Nenek cuma ada urusan sebentar."
"Nanti jemput les?"
Ratna berhenti.
Tatapan polos Bima hampir menghancurkan keputusannya.
Selama ini anak itu adalah alasan paling kuat untuk bertahan. Ia tidak tega jika Bima terlambat makan, terlambat dijemput, atau merasa dibuang.
Namun Bu Laras benar.
Jika ia terus menjadi tiang rumah, mereka akan terus menambah beban tanpa bertanya apakah tiang itu retak.
"Hari ini Mama kamu yang jemput," kata Ratna lembut.
Maya langsung panik.
"Ma, aku ada janji."
Ratna menoleh.
"Anakmu juga punya janji dengan gurunya."
Raka membanting gelas ke meja.
"Mama berubah banget."
"Iya," jawab Ratna. "Memang sudah waktunya."
Sebelum mereka sempat membalas, Hendra keluar dari kamar. Wajahnya tidak segar. Mungkin kurang tidur. Mungkin semalam ia takut Ratna sudah tahu sesuatu.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Bertemu orang."
"Siapa?"
"Urusan saya."
Mata Hendra menyipit.
"Ratna, jangan bikin aku malu. Kalau kamu marah karena aku pulang terlambat, bilang. Jangan drama di depan anak dan Mama."
Ratna menatapnya lama.
Pulang terlambat?
Laki-laki itu masih memilih kebohongan kecil untuk menutupi kebusukan besar.
"Saya tidak sedang drama, Mas. Saya cuma pergi."
Ratna berjalan keluar sebelum dadanya meledak.
Di dalam mobil yang dikirim Bu Laras, Hanif sudah menunggu di kursi depan. Siska duduk di belakang dengan map cokelat.
"Bu Ratna sudah siap?" tanya Siska.
Ratna mengangguk.
Mereka tidak pergi ke kantor pengacara dulu. Siska meminta Ratna menemaninya ke sebuah kafe sepi. Di sana, map cokelat dibuka.
Ada daftar rekening.
Ada foto apartemen.
Ada salinan pembelian mobil atas nama Clara.
Ada bukti transfer rutin ke sekolah internasional tempat Alif belajar.
Ratna menatap semuanya tanpa berkedip.
"Anak itu kelas empat," kata Hanif. "Biaya sekolahnya puluhan juta per semester."
Ratna teringat pesan Bu Nisa tentang uang les Bima yang telat.
Tangannya mengepal di pangkuan.
"Selama ini Mas Hendra bilang toko sepi."
"Sebagian memang sepi," ujar Hanif. "Tapi bukan berarti tidak ada uang. Ada aliran dana yang dipindahkan lewat rekening vendor fiktif. Kami belum bisa menyimpulkan semua, tapi pola awalnya jelas."
Siska menambahkan, "Kalau Ibu mau bercerai, kita bisa masukkan bukti ini untuk memperjuangkan harta bersama. Tapi Ibu harus siap. Begitu proses dimulai, Pak Hendra mungkin menyerang balik."
"Dia sudah menyerang saya sejak lama," kata Ratna pelan.
Siska dan Hanif terdiam.
Ratna menatap foto apartemen Clara. Ruang tamunya luas, sofa putih, kaca besar menghadap kota. Tempat itu tampak bersih dan terang.
Rumah Ratna juga terang, tapi bukan untuknya.
Ia hanya orang yang mematikan lampu terakhir setelah semua tidur.
"Saya mau lanjut," ucap Ratna.
Siska mengangguk.
"Baik. Sebelum pulang, Ibu mungkin perlu menyiapkan diri. Kalau nanti Ibu menyampaikan ke keluarga, jangan sendirian terlalu lama. Kabari kami."
Ratna mengangguk.
Setelah urusan selesai, mobil melewati sebuah pusat perbelanjaan. Di kaca luar sebuah butik, Ratna melihat gaun merah marun dipajang. Potongannya sederhana, tidak terlalu terbuka, tapi elegan. Dulu ia suka warna merah.
Dulu, sebelum Hendra berkata warna mencolok tidak pantas untuk ibu rumah tangga.
"Pak, berhenti sebentar," kata Ratna tiba-tiba.
Hanif menoleh.
"Ada apa, Bu?"
"Saya mau membeli sesuatu."
Di dalam butik, pegawai muda menyambutnya dengan ramah. Ratna sempat canggung saat meminta ukuran. Ia merasa semua orang akan menertawakan tubuhnya yang tidak muda lagi.
Namun saat ia keluar dari kamar pas, pegawai itu tersenyum tulus.
"Bagus sekali, Bu. Warnanya bikin wajah Ibu kelihatan segar."
Ratna menatap cermin.
Perempuan di sana tidak seperti dirinya yang biasa. Bahunya masih sedikit kaku, matanya masih menyimpan lelah, tapi tubuhnya tampak tegak. Warna merah itu tidak membuatnya terlihat memalukan.
Justru membuatnya terlihat hidup.
Ia membeli gaun itu memakai kartu tambahan yang selama ini diberikan Hendra untuk kebutuhan rumah. Kartu yang sama yang biasa ia pakai membeli obat Mama Sulastri dan susu Bima.
Hari ini ia memakainya untuk dirinya sendiri.
Malam itu Ratna pulang dengan tas butik di tangan.
Begitu masuk rumah, semua orang sudah menunggu di ruang tengah.
Hendra berdiri lebih dulu.
"Kamu tahu sekarang jam berapa?"
Ratna meletakkan tas di sofa.
"Tahu."
Maya melihat logo butik di tas itu dan langsung mendekat.
"Ma, ini buat aku? Ya ampun, Mama baik banget. Aku memang lihat koleksi baru mereka kemarin."
Tangannya hampir mengambil tas itu, tapi Ratna menariknya pelan.
"Ini untuk saya."
Maya membeku.
Raka tertawa mengejek.
"Mama beli baju di butik itu? Serius? Buat apa? Umur Mama sudah lima puluh."
Mama Sulastri mendecak.
"Perempuan tua kalau mulai berdandan biasanya pikirannya mulai tidak benar."
Ratna menatap mereka satu per satu.
Dulu kata-kata itu akan membuatnya malu.
Hari ini tidak.
Ia duduk di sofa, membuka tas, lalu mengeluarkan map cokelat dari tas kerjanya.
Hendra melihat map itu. Wajahnya berubah.
"Apa itu?"
Ratna tidak menjawab pertanyaan itu.
Ia memandang laki-laki yang sudah dua puluh delapan tahun menjadi suaminya.
"Mas Hendra, kita bercerai."
Ruang tengah mendadak sunyi.
Lalu Raka tertawa.
"Ma, jangan bercanda. Mama mau cerai dari Papa? Mama mau hidup pakai apa?"
Maya ikut bicara dengan wajah panik.
"Ma, kalau Mama pergi, Bima bagaimana?"
Mama Sulastri menunjuk Ratna.
"Jangan kurang ajar. Di usia begini kamu mau mempermalukan keluarga?"
Hendra tidak tertawa. Ia menatap map cokelat itu.
"Ratna, kamu dapat apa?"
Ratna membuka map.
Di halaman pertama ada foto Hendra memeluk Clara di rumah sakit.
Di halaman kedua ada foto Alif.
Di halaman ketiga ada salinan apartemen Clara.
Ratna mendorong map itu ke meja.
"Cukup untuk membuat saya tidak perlu minta izin lagi."
Wajah Hendra pucat.
Dan untuk pertama kalinya, bukan Ratna yang gemetar di rumah itu.
Maya memungut salah satu lembar yang hampir jatuh. Matanya bergerak membaca nama Clara, alamat apartemen, dan angka yang tercetak di sana. Wajahnya berubah pelan, dari penasaran menjadi terkejut, lalu malu.
"Pa, ini benar?" tanyanya pelan.
Hendra menoleh tajam.
"Letakkan."
Maya langsung meletakkan kertas itu, tapi pertanyaan sudah terlanjur hidup di ruangan.
Raka menatap ayahnya, menunggu bantahan.
Tidak ada.
Ratna melihat momen itu dengan dada ngilu. Bukan karena ia ingin Raka membenci Hendra. Ia hanya ingin anaknya, sekali saja, melihat bahwa ibunya tidak sedang mengada-ada.
"Malam ini kalian boleh marah," kata Ratna. "Tapi besok, kalian harus mulai bertanya pada orang yang benar."
Ia mengambil tas butik dan berjalan menuju kamar.
Di belakangnya, untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun yang berani menyuruhnya ke dapur.
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃