NovelToon NovelToon
ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

ISTRIKU YANG MEMILIH PERGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi Wahyu

"Aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini."

Kalimat itu yang selalu dipegang Dirga sejak menikahi Kanaya karena wasiat kedua kakek mereka.

Bagi Dirga, Kanaya hanyalah perempuan yang terpaksa menjadi istrinya. Sedangkan bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah cara terakhir untuk menghormati orang yang paling ia sayangi.

Ia tidak pernah meminta cinta, tidak pernah meminta apa pun dari Dirga. Hingga pada akhirnya, perempuan yang selalu memilih bertahan itu memilih untuk pergi.

Dan saat itulah Dirga menyadari, ada satu hal yang tidak pernah ia duga, ia kehilangan....istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Simpan Saja Untuk Kekasih Anda

Tanpa memberi kesempatan untuk menolak, Dinda sudah lebih dulu menyeretnya masuk ke dalam toko tersebut.

Pintu kaca terbuka otomatis ketika mereka memasuki toko. Aroma khas parfum ruangan langsung menyambut kedatangan mereka, di susul sapaan ramah dari para pegawai yang berjaga.

Kanaya hanya bisa pasrah sambil membiarkan dirinya di tarik ke sana kemari oleh Dinda.

...****************...

Kanaya benar-benar mulai percaya bahwa Tuhan menciptakan setiap orang dengan kadar kesabaran yang berbeda-beda.

Contohnya Dinda.

Sudah hampir lima belas menit sejak mereka memasuki butik yang berada dilantai lima Mall itu, dan selama lima belas menit itu pula Kanaya hanya melakukan tiga hal... berjalan dibelakang Dinda, mengangguk saat di mintai pendapat, dan menahan diri untuk tidak menyeret sahabatnya langsung ke meja kasir.

Sementara Dinda?

Perempuan itu seolah sedang mengikuti kompetisi siapa yang paling banyak mencoba pakaian dalam satu hari. Tangannya tidak pernah benar-benar kosong.

Baru saja meletakkan satu dress, beberapa detik kemudian ia sudah berpindah ke rak lain dan menemukan pakaian baru yang menurutnya lebih lucu dari sebelumnya.

Di sisi lain, Kanaya justru terlihat jauh lebih sederhana. Kedua tangannya sesekali menyentuh gantungan pakaian, memperhatikan modelnya sebentar, lalu tanpa ragu mengembalikannya ke tempat semula ketika tidak sesuai harapannya.

"Nah, coba liat yang ini!"

Suara Dinda kembali terdengar dari arah kanan. Kanaya yang tengah memperhatikan sebuah blouse berwarna putih pun mengangkat kepalanya dan mendapati sahabatnya sedang berdiri didepan cermin sambil memegang sebuah dress floral.

"Atau yang itu? Eh, lucu juga!"

"Dinda..."

"Astaga, Nay! Kayaknya aku cocok pakai semua warna, sih!"

Kanaya hanya bisa menghela napas pelan sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Ada kalanya ia benar-benar heran bagaimana mereka bisa bersahabat selama bertahun-tahun padahal sifat mereka bertolak belakang.

"Emang mau beli semua warna?"

Pertanyaan itu membuat Dinda menoleh. Matanya bergantian memandang tiga dress yang ada di tangannya, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting.

"Emmm..."

"Nggak usah aneh-aneh, ya, Din. Beli yang bener-bener di pakai. Kebiasaan, deh."

Sudut bibir Kanaya terangkat tipis. Melihat ekspresi Dinda yang sedang berpikir keras antara kebutuhan dan keinginan selalu berhasil menghiburnya.

"Aku mau lihat-lihat sebelah sana."

"Iya..." jawab Dinda asal sebelum tiba-tiba mengingat sesuatu. "Eh, bentar! Ini budget berapa? Sepuluh juta aman, kan?"

Langkah Kanaya terhenti.

Ia menoleh perlahan kearah sahabatnya, lalu menjawab setenang mungkin, seolah apa yang akan di ucapkannya adalah hal yang paling normal di dunia.

"Lima ratus ribu."

Butuh waktu sekitar dua detik bagi otak Dinda untuk mencerna jawaban tersebut.

"Hah?!"

Beberapa orang yang berada tidak jauh dari mereka refleks menoleh.

"Lima ratus ribu itu buat beli gantungan bajunya kali, Nay!"

Kanaya tak lagi mampu menahan tawanya. Gelak tawa kecil lolos begitu saja dari bibirnya sebelum ia menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Dinda yang masih sibuk mengomel sendiri.

Suasana butik siang itu cukup ramai. Alunan musik instrumental terdengar pelan dari pengeras suara, bercampur dengan suara para pegawai yang sesekali menawarkan bantuan kepada pelanggan.

Cahaya lampu-lampu gantung yang hangat memantul di atas lantai marmer, memberikan kesan nyaman dan mewah di saat bersamaan.

Berbeda dengan Dinda yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memilih pakaian, Kanaya justru lebih sering memilih pakaian yang benar-benar akan ia pakai.

Tak terasa, hampir dua puluh menit berlalu.

Kanaya tengah memperhatikan sebuah celana berwarna krem ketika suara yang sangat dikenalnya tiba-tiba terdengar dari sisi kiri butik.

"Ini saya duluan yang ambil, ya, Mbak!"

Gerakannya langsung terhenti. Ia mengenal suara itu.

Tanpa perlu menoleh pun, Kanaya sudah tau siapa pemilik suara itu.

"Aku yang ambil duluan! Kamu yang tiba-tiba ngerebut!"

"Situ yang tiba-tiba ngerebut! Enak aja!"

"Pokoknya aku nggak mau tau! Ini baju punya aku!"

Kanaya memejamkan matanya selama beberapa detik sebelum menghembuskan napas panjang.

Tentu saja.

Kalau ada satu orang yang mampu membuat keributan ditempat umum hanya karena sepotong pakaian, maka orang itu adalah Dinda.

Dengan langkah tenang, Kanaya meletakkan celana yang sedari tadi berada ditangannya ke dalam kantong belanja dan berjalan menuju sumber suara.

Benar saja, sesampainya di sana...ia mendapati Dinda tengah berhadapan dengan seorang perempuan yang usianya cukup jauh dari mereka. Keduanya sama-sama memegang ujung sebuah dress berwarna biru dongker dan tak ada satupun yang terlihat berniat mengalah.

"Dinda..." panggil Kanaya pelan sambil mendekat. "Kenapa, sih? Malu tuh, di lihatin orang."

"Nih, dia tiba-tiba ngerebut baju yang aku ambil duluan!"

"Kamu bukan aku?" balas perempuan itu cepat.

Kanaya melirik dress yang masih menjadi pusat peperangan kecil itu sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Dinda.

"Udahlah, Din. Pilih yang lain aja."

"Tapi, Nay-..."

"Lagian warnanya juga nggak cocok di kamu." Kanaya menatap dress itu beberapa saat, lalu menambahkan dengan nada santainya yang khas. "Kayak tante-tante."

Hening.

Dinda buru-buru menutup mulutnya untuk menahan tawa yang nyaris pecah di tempat, sedangkan perempuan dihadapan mereka tampak membelalakkan matanya tidak percaya.

"Apa kamu bilang? Aku kayak tante-tante?"

"Saya nggak bilang begitu." Kanaya tersenyum tipis. "Saya bilang warna bajunya."

"Ya sudah ambil aja mbak, saya gak mau kayak tante-tante." Seru Dinda dengan tatapan gelinya.

Belum sempat perempuan itu kembali membuka mulutnya, sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

"Sayang, kamu sudah selesai?"

Entah mengapa, jantung Kanaya seolah berhenti berdetak selama satu detik. Perlahan, ia mengangkat kepalanya.

Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengan bajunya di gulung hingga siku berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah itu terlalu familiar untuk di lupakan, terlebih setelah semalam menghabiskan cukup banyak waktu memenuhi pikirannya.

Dirga Atmajaya.

Untuk sesaat, Kanaya hanya terdiam. Di tengah ramainya suasana butik, suara percakapan para pengunjung, dan langkah kaki yang saling bersahutan, pandangannya justru terpaku pada pria itu.

Sementara Dirga yang baru saja menyelesaikan panggilan teleponnya juga tampak tidak segera mengalihkan pandangan. Tatapan mereka bertemu tanpa sengaja, menghadirkan jeda singkat yang terasa jauh lebih lama dari seharusnya.

"Sayang..."

Suara perempuan disampingnya akhirnya memecah keheningan yang sempat tercipta. Dengan manja, perempuan itu menghampiri Dirga dan menggandeng lengannya.

"Kamu udah selesai telponnya? Aku belum selesai, bentar lagi, ya. Tadi ada masalah kecil."

"Hmm."

"Aku mau coba beberapa baju ini dulu."

Dirga hanya mengangguk kecil. Namun, entah di sengaja atau tidak, sebelum mengalihkan perhatiannya kepada perempuan disampingnya, pria itu sempat menatap Kanaya beberapa detik lebih lama.

"Nay..." bisik Dinda pelan disampingnya, masih terlihat setengah tidak percaya. "Dia Dirga Atmajaya, kan?"

Kanaya tidak langsung menjawab. Ia baru mengangguk pelan setelah beberapa saat, lalu menghembuskan napas kecil sebelum mengalihkan pandangannya ke arah kantong belanja yang berada ditangan sahabatnya.

"Kamu sudah pilih semuanya?"

"E-Eh...u-udah, Nay."

"Kalau begitu kita bayar dulu, terus pulang."

Tanpa menunggu jawaban lain, Kanaya melangkah lebih dulu meninggalkan tempat itu. Dinda yang masih beberapa kali melirik ke arah Dirga pun buru-buru menyusul dibelakangnya.

Mereka berjalan melewati pria itu begitu saja.

Dan untuk alasan yang bahkan tidak bisa di jelaskan oleh dirinya sendiri, Dirga mendapati pandangannya mengikuti punggung Kanaya hingga perempuan itu berhenti didepan meja kasir.

"Jadi satu ya bayarnya. Bedain kantongnya aja."

"Baik, Kak."

Kasir itu dengan cekatan mulai menghitung seluruh barang belanjaan mereka. Tidak membutuhkan waktu lama hingga akhirnya ia kembali mengangkat kepalanya.

"Baik, Kak. Total semuanya dua belas juta rupiah."

"Oke."

Kanaya segera merogoh dompetnya dan mengeluarkan kartu debit miliknya. Namun, tepat sebelum ia sempat menyerahkannya kepada kasir, sebuah kartu hitam lebih dulu di letakkan di atas meja.

"Pakai ini saja."

Gerakan Kanaya pun terhenti. Ia menoleh perlahan dan mendapati Dirga berdiri tepat disampingnya dengan ekspresi yang masih sama datarnya.

"Kenapa tiba-tiba Anda ingin membayar belanjaan saya?"

"Kamu bertemu saya disini," jawab Dirga tenang. "Pasti kamu berharap saya membayar belanjaan kamu, kan? Jadi lakukan saja sebelum kekasihku datang ke sini."

Kalimat itu membuat Dinda sontak membelalakkan matanya.

Sebaliknya, Kanaya justru terlihat jauh lebih tenang. Ia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis, lalu mengangkat kartu miliknya sendiri.

"Tidak perlu. Terimakasih." Suaranya terdengar lembut, tetapi cukup jelas untuk didengar. "Saya bisa membayar dengan uang saya sendiri."

Tatapan mereka kembali bertemu.

"Anda tidak perlu repot-repot. Simpan saja kartunya untuk kekasih anda itu."

Untuk pertama kalinya hari itu, Dirga tidak segera memberikan jawaban. Entah karena tidak menyangka akan di tolak atau karena perempuan dihadapannya kembali mengatakan sesuatu diluar perkiraannya.

Tanpa menunggu persetujuannya, Kanaya menyerahkan kartunya kepada kasir.

Beberapa saat kemudian, transaksi selesai dilakukan. Kasir itu mengembalikan kartu milik Kanaya, lalu menyerahkan dua paper bag besar yang berisi barang belanjaan mereka.

"Terima kasih, Kak. Silahkan datang kembali."

"Sama-sama."

Kanaya menerima paper bag tersebut, kemudian berbalik untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia menghentikan dirinya sendiri.

Perlahan, ia menoleh ke belakang.

"Saya permisi."

Dirga tidak menjawab.

Pria itu hanya berdiri ditempatnya sambil memperhatikan Kanaya yang kembali berbalik dan berjalan menjauh bersama sahabatnya. Hingga sosok perempuan itu menghilang dibalik keramaian pengunjung mall, pandangannya masih belum juga beralih.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka semalam, Dirga merasa bahwa Kanaya Pradipta jauh lebih sulit di tebak daripada yang ia kira.

1
Andi andi Melati
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!