Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. Pengadilan Semesta (Bagian III)
...Putusan yang Membuka Jalan Takdir...
..."Tidak semua hukuman dijatuhkan karena kebencian. Ada hukuman yang lahir justru karena kasih tidak boleh mengkhianati keadilan."...
Lonceng angin kembali berdenting. Tujuh kali. Pertanda persidangan telah memasuki tahap terakhir. Cahaya di bawah Hariara Bolon terlihat menjadi semakin melembut.
Tidak ada seekor burung pun yang berkicau. Tidak ada desir angin. Seakan seluruh Banua Ginjang sedang mendengarkan detak jantungnya sendiri.
...****************...
Pamutuson Hukkuman (Pembacaan Tuntutan)
Ompu Ragidup berdiri. Untuk beberapa saat beliau hanya memandang Deak. Putri yang dahulu digendongnya ketika pertama kali belajar mengenal nama-nama bunga langit. Putri yang pernah bertanya mengapa embun selalu turun sebelum fajar.
Kini... putri itu berdiri sebagai seorang yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Siap menerima konsekuensi dari pelanggaran yang telah dilakukan dan diakuinya.
Beliau meletakkan kembali telapak tangannya di atas Batu Sipasu-pasu. Cahayanya tetap terang. Namun kali ini bergetar pelan.
"Aku... berdiri di sini bukan sebagai seseorang yang lebih mengasihi hukum daripada Deak." Ompu Ragidup membuka kalimat dengan perlahan.
Beliau menarik napas panjang, "Aku berdiri... karena pernah bersumpah menjaga Patik Semesta."
Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya, "Apabila hukum berubah mengikuti siapa yang sedang diadili... maka hukum tidak lagi menjadi tempat berlindung bagi siapa pun."
Beliau menundukkan kepala, "Dengan sangat berat hati... aku menuntut agar Deak Parujar dijatuhi hukuman... pengasingan dari Banua Ginjang."
Kalimat terakhir itu bergema ke seluruh Balairung. Beberapa Sitabeak Bintang mulai menangis. Siboru Rintik menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menutupi tangisan pilu-nya.
Bahkan lentera para Parjaga Holong tampak lebih meredup.
...****************...
Pangondian (Pembelaan)
Ompu Sada Uluan perlahan bangkit. Beliau tidak membawa gulungan hukum. Tidak pula membawa kitab. Yang beliau bawa hanyalah sehelai daun Hariara yang telah menguning.
Beliau meletakkannya di atas Batu Sipasu-pasu. Daun itu memancarkan cahaya seperti sang Batu di bawahnya.
Beliau mulai berbicara, "Saudaraku Ompu Ragidup... engkau tidak salah."
Beliau menoleh kepada para tetua, "Kalian pun tidak salah."
Lalu beliau memandang Deak, "Dan anak ini... juga tidak sedang melawan demi dirinya sendiri."
Beliau mengangkat daun Hariara itu, "Daun ini akan gugur. Bukan karena pohonnya membencinya. Tetapi karena musim telah memanggilnya pulang."
Suasana menjadi begitu hening, "Hukum menjaga agar akar tetap kuat. Kasih yang besar telah mengizinkan daun gugur dari dahannya... agar suatu hari hutan baru dapat bertumbuh."
Beliau menundukkan kepala, "Saat ini aku tidak memohon agar Deak diampuni dari pelanggarannya dan dibebaskan dari hukuman. Aku hanya memohon... jangan biarkan putusan hari ini lahir tanpa cinta."
...****************...
Pamaloshon (Replik)
Ompu Ragidup kembali berdiri. Beliau mengangguk hormat kepada Ompu Sada Uluan sebelum berkata: "Saudaraku... aku menerima setiap perkataanmu. Dan justru karena aku mengasihi Deak... aku tidak ingin hukum kehilangan maknanya."
Beliau memandang seluruh sidang, "Hukuman ini bukan penolakan. Hukuman ini adalah harga yang harus dibayar agar keseimbangan tetap hidup di Banua Ginjang ini."
...****************...
Pamaloshon (Duplik)
Kini Deak melangkah ke tengah lingkaran. Ia tidak menunggu dipersilakan. Namun langkahnya tetap penuh hormat. Ia membungkukkan badan kepada seluruh Penjaga Keseimbangan. Kemudian berkata, "Aku tidak akan meminta agar hukum diubah demi diriku."
Suaranya tenang ketika melanjutkan perkataannya: "Karena apabila hukum berubah hanya karena aku... Maka aku telah merusak sesuatu yang sejak kecil diajarkan kepadaku untuk kuhormati."
Ia memandang Ompu Ragidup, "Terima kasih Opung... karena engkau tetap menjaga sumpahmu."
Lalu kepada Ompu Sada Uluan, "Terima kasih Opung... karena engkau mengingatkanku bahwa kasih tidak pernah memusuhi keadilan."
Air mata perlahan mengalir di pipinya, "Aku menerima apa pun putusan semesta."
Ia berhenti sejenak. Namun kali ini matanya memandang jauh ke arah Banua Tonga ketika berkata: "Aku hanya memiliki satu permohonan. Jika suatu hari nanti... kehidupan benar-benar telah lahir di Banua Tonga... jangan ceritakan kepada mereka bahwa aku telah diasingkan. Ceritakanlah... bahwa aku pernah sangat dikasihi oleh segenap Banua Ginjang."
Tangis tiba-tiba pecah di seluruh balairung. Tidak ada lagi yang mampu menahannya ketika mendengar perkataan Deak itu.
...****************...
Putuson Sian Panguhum (Putusan Akhir)
Mulajadi Nabolon akhirnya berdiri. Tidak ada suara yang terdengar setelahnya. Bahkan isak tangis dapat ditahan suaranya.
Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya keheningan yang tiba² tercipta. Keheningan yang membuat setiap makhluk merasakan kecilnya diri mereka di hadapan kebenaran.
Beliau memandang Deak. Lalu memandang seluruh Penjaga Keseimbangan. Akhirnya suara-Nya terdengar.
"Deak Parujar. Engkau terbukti melanggar Patik Ketujuh. Dan engkau sendiri telah mengakuinya."
Beliau berhenti, "Tidak ada alasan bagi hukum untuk menutup mata."
Seluruh Banua Ginjang menundukkan kepala.
"Karena itu... atas nama keseimbangan tiga banua... Aku menjatuhkan putusan. Mulai musim ini... engkau tidak lagi menjadi penghuni Banua Ginjang. Engkau akan menjalani... Pengasingan Semesta."
Isak tangis kembali terdengar dari segala penjuru. Namun Mulajadi Nabolon belum selesai. Beliau melangkah mendekati Deak.
Untuk pertama kalinya, cahaya yang menyelimuti-Nya meredup. Sehingga Deak dapat melihat dengan jelas raut wajah-Nya. Wajah seorang Bapa yang penuh kasih. Yang sedang menahan air mata-nya sendiri.
Beliau mengangkat tangan. Mengusap kepala Deak dengan lembut. Lalu berkata, "Dengarlah baik-baik, Putriku. Hukuman ini... bukan karena Aku berhenti mengasihimu. Justru karena Aku mengasihimu... Aku tidak akan mengambil jalan yang telah Kusiapkan bagimu sejak awal. Ada benih yang hanya akan tumbuh... ketika ia rela meninggalkan taman tempat ia dilahirkan. Pergilah Putriku. Bawalah kasih yang telah kaupelajari dengan segenap hatimu... kepada dunia yang sedang menunggumu."
Deak berlutut. Mencium tangan ayahnya terkasih dan juga akar Hariara Bolon. Lalu ia memberi hormat kepada para tetua, satu persatu.
Tidak ada dendam. Tidak ada kemarahan. Hanya rasa syukur yang terpancar dari wajahnya yang polos.
Ketika Deak berbalik meninggalkan Balairung Hariara, seluruh penghuni Banua Ginjang berdiri. Bukan untuk mengantar seorang terhukum. Melainkan untuk menghormati seseorang yang sedang memulai pengorbanannya.
Burung Erung terbang rendah di atas kepalanya. Jonggi menangis tanpa suara. Nai Tonun memeluk ulos tenunnya erat-erat. Ompu Tiktik terlihat membalik Jam Pasir Bintang. Butiran cahaya jatuh perlahan. Seolah waktu sendiri enggan berpisah dengan sang putri.
Di antara kerumunan, Raja Mangalabulan berdiri membeku. Ia sangat ingin melangkah. Teramat sangat ingin mendekati sosok Deak. Namun kakinya terasa tertahan.
Deak menoleh sesaat. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada janji karena tidak ada kata-kata yang terucap. Namun di dalam keheningan sesaat itu, lahirlah sebuah tekad yang hanya didengar oleh langit.
"Jika kasih menuntunmu turun ke Banua Tonga... Maka suatu hari... aku akan menemukan jalan untuk menyusulmu."
Hari itu, langkah Deak meninggalkan Banua Ginjang bukanlah sebuah akhir, tetapi awal dari sebuah penciptaan.
Karena terkadang, sebuah dunia baru hanya dapat lahir dari keberanian satu hati untuk menerima konsekuensi dari panggilan yang didengarnya.
Dan Hariara Bolon menggugurkan satu helai daun emas. Daun itu melayang perlahan. Turun. Menembus pelangi. Menuju Banua Tonga.
Sebuah pertanda, seolah semesta sendiri sedang menunjukkan arah jalan bagi Putri Langit yang akan mengubah sejarah dunia.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke BAB 16. Langkah Pertama di Tanah yang Sunyi.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/