Felicia Winarko bukan gadis biasa.
Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.
Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.
Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.
Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.
Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.
"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."
Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33 - Yang Terakhir Menunggu
Untuk seorang laki-laki yang seumur hidup takut pada sentuhan, itu sudah cukup berani.
Pagi datang tanpa bau sanitizer.
Felicia menyadarinya lebih dulu.
Biasanya, setiap kali Sebastian berada di ruangan terlalu lama, akan ada aroma bersih yang dingin, tajam, hampir seperti rumah sakit kecil yang berjalan di belakangnya. Pagi ini, yang tercium hanya udara taman, seprai baru, dan sisa teh tawar di meja.
Sebastian masih tidur di sisi kanan ranjang, tangan Felicia berada di atas dadanya. Ia tidak bergerak banyak sepanjang malam. Bahkan dalam tidur, tubuhnya seperti sedang belajar bahwa tidak semua sentuhan adalah ancaman.
Felicia menarik tangannya pelan.
Sebastian langsung membuka mata.
"Aku menghitung tiga jam empat puluh dua menit tanpa sanitizer," katanya.
"Pagi-pagi sudah gagal tidak menghitung."
Ia menatap langit-langit. "Aku menghitung setelah bangun."
"Pembelaan ditolak."
Sudut bibirnya bergerak. "Tapi aku tidak menyesal."
Itu kemajuan.
Ketika pintu diketuk, Sebastian duduk sebelum Felicia menjawab. Ia merapikan kemejanya dengan gerakan cepat, lalu berhenti ketika melihat tangan sendiri.
Tidak ada sarung tangan.
Tidak ada panik.
"Masuk," kata Felicia.
Nathan masuk dengan wajah rapi yang jelas kurang tidur. Jayden masuk dengan ekspresi ingin mengejek tetapi masih tersangkut cemburu. Calvin datang terakhir, membawa nampan kecil berisi air putih, bubur, dan obat pagi.
Calvin melihat Sebastian.
Melihat tangan kosongnya.
Melihat botol sanitizer yang masih di ujung meja, tidak tersentuh sejak semalam.
Senyumnya muncul, lembut dan tajam. "Selamat pagi, Seb. Kamu terlihat... tidak steril."
Sebastian menatapnya. "Komentar yang tidak perlu."
"Tapi akurat."
Jayden tertawa. "Gue suka pagi ini."
Nathan memeriksa Felicia lebih dulu. "Pusing?"
"Lebih ringan."
"Nyeri?"
"Empat."
Sebastian langsung mengetik angka itu di tablet. Felicia menatapnya.
"Apa?"
"Kamu tetap menulis."
"Perkembangan medis harus dicatat."
"Baiklah. Satu kebiasaan dulu."
Sis muncul dengan suara cerah. "Data Sebastian stabil di 7%. Tidak menyala. Tapi grafik takut-sentuh turun banyak. Sis bangga, walau Sis tidak punya tangan untuk tepuk tangan."
"Tepuk pakai data saja," jawab Felicia dalam hati.
Calvin meletakkan nampan di meja. Tangannya melewati terlalu dekat dengan tangan Felicia, tetapi tidak menyentuh. Sengaja.
Felicia memperhatikan.
Ia sudah menunggu sejak kemarin dengan wajah manis yang makin hari makin gelap. Nathan dipilih. Jayden dipilih. Sebastian dipilih. Calvin, yang selalu memanggilnya "Ci" seperti rahasia kecil di lidah, menjadi yang terakhir.
Anak itu tidak marah keras.
Itu yang membuatnya lebih menarik.
Ia merapikan sendok, membuka obat, lalu bertanya dengan nada ringan, "Ci tidur nyenyak?"
"Cukup."
"Sebastian tidak menghitung terlalu keras?"
"Dia menghitung dalam diam."
"Klasik."
Calvin tersenyum, tetapi matanya turun ke gelas air. Di sana ada sesuatu yang tertahan. Bukan hanya cemburu. Sesuatu yang lebih lama.
Setelah sarapan, Mama Wenny datang membawa kabar dari pengacara keluarga: pernyataan Bu Gina sudah diterima, laporan terhadap Pak Tono diproses, dan akses Om Charles ke rumah utama masih dibatasi sampai rapat keluarga berikutnya. Hendrick meminta waktu bicara dengan Felicia sore nanti.
"Tolak," kata Felicia.
Mama Wenny tidak terlihat terkejut. "Aku akan sampaikan."
Calvin menunduk sedikit saat ibunya keluar. Senyumnya tetap ada, tetapi jarinya mengetuk tepi sketchbook.
Sejak pagi, sketchbook itu ada di pangkuannya, tetapi ia belum membuka halaman baru. Biasanya Calvin menggambar seperti bernapas. Garis datang duluan, alasan menyusul nanti. Hari ini, pensilnya hanya berputar di antara jari.
Felicia melirik. "Tidak menggambar?"
"Takut hasilnya jelek."
"Sejak kapan itu menghentikanmu?"
Calvin tertawa kecil. Akhirnya ia membuka sketchbook.
Di halaman terakhir, ada gambar cepat yang belum selesai: ranjang kamar lantai satu, Felicia di tengah dengan bahu kiri ditahan penyangga, tiga bayangan laki-laki berdiri di sisi kanan, sementara satu bayangan lain duduk lebih jauh di lantai. Bayangan yang jauh itu tidak diberi wajah, tetapi rambut ikalnya cukup jelas.
Calvin menutup halaman terlalu cepat.
Terlambat.
Felicia sudah melihat.
"Kamu menggambar dirimu sendiri di luar frame?"
Calvin tersenyum, tapi jarinya berhenti mengetuk. "Kadang orang yang menggambar memang paling tahu harus berdiri di mana."
"Atau paling pandai bersembunyi."
Senyumnya menipis.
Nathan dan Jayden menoleh. Sebastian diam, tetapi matanya turun ke sketchbook, lalu kembali ke wajah Calvin.
Calvin mengusap tepi kertas dengan ibu jari. "Kalau aku berdiri terlalu dekat, orang akan bilang aku tidak tahu diri. Kalau berdiri terlalu jauh, aku sendiri yang sakit. Posisi tengahnya agak sulit, Ci."
Felicia mengulurkan tangan dan mengetuk halaman sketchbook yang baru ia tutup.
"Kamu yang menggambar, tapi bukan kamu yang menentukan siapa boleh masuk frame-ku."
Calvin mengangkat mata.
"Kalau aku ingin kamu di dekatku, orang lain boleh berisik seumur hidup di luar pagar."
Ia hampir tertawa, tetapi napasnya pecah lebih dulu.
"Ci benar-benar jahat," katanya pelan.
"Aku efektif."
Calvin menutup sketchbook sangat pelan.
Felicia bertanya, "Kamu ingin aku bicara dengannya?"
Calvin berhenti mengetuk.
Nathan dan Jayden menoleh. Sebastian diam, tetapi jelas mendengarkan.
"Itu bukan urusanku," kata Calvin.
"Aku tidak bertanya itu."
Senyum Calvin akhirnya retak sedikit.
"Aku tidak tahu apa yang kuinginkan, Ci."
Kalimat itu keluar pelan.
Jayden, yang biasanya cepat menyela, kali ini menahan mulut. Nathan menutup map perlahan. Sebastian menurunkan tablet.
Calvin tertawa tanpa suara. "Lucu, kan? Dulu aku pikir masalah terbesarku adalah kamu berubah, kamu bukan Felicia yang lama, kamu masuk ke studioku dan melihat semua gambarku. Lalu sekarang ternyata kamu putri kandung Papa. Secara sosial, kamu kakakku. Secara darah, bukan. Secara rumah, kamu di sini. Secara hati..."
Ia berhenti.
Felicia menunggu.
Calvin menatapnya, senyumnya kembali, tetapi lebih rapuh. "Secara hati, aku tetap ingin kamu menatapku seperti kemarin kamu menatap mereka."
Ruangan hening.
Felicia tidak memberi penghiburan palsu. Ia tidak bilang situasi itu sederhana. Tidak bilang Calvin tidak perlu berpikir. Identitas anak ini memang kusut, dan kekusutan itu suatu hari akan menjadi pintu yang lebih besar.
Untuk sekarang, cukup dengan satu hal.
"Malam ini," kata Felicia.
Calvin tidak bergerak.
"Kamu."
Jayden langsung bersandar ke kursi. "Akhirnya."
Nathan menghela napas pelan, antara rela dan tetap tidak rela.
Sebastian mengetuk tablet sekali, mungkin menandai urutan selesai.
Calvin menatap Felicia seolah ia tidak yakin mendengar dengan benar.
"Ci," katanya sangat pelan, "kamu yakin?"
Felicia mengangkat alis. "Kamu mau aku ganti pilihan?"
"Tidak."
Jawaban itu cepat. Hampir tajam.
Lalu ia tersenyum.
Senyum Calvin kali ini tidak manis.
Lebih seperti seseorang yang akhirnya dibukakan pintu ke ruangan yang selama ini ia gambar dari luar.
"Kalau begitu," katanya, "aku akan menunggu malam dengan baik."