NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Hangat yang Terbakar Sindiran

Bab 14: Hangat yang Terbakar Sindiran

​Roda-roda mobil MPV mewah milik Adrian akhirnya berputar pelat, melintasi jalanan berbatu yang membelah hamparan sawah hijau di pelosok desa kawasan Jawa Tengah. Debu-debu kering beterbangan di belakang buritan mobil, sesekali menerpa kaca jendela yang tertutup rapat. Di baris depan, AC mobil berembus dingin, namun tidak mampu meredakan ketegangan terselubung yang merayap di antara para penumpangnya.

​Mobil perlahan memasuki sebuah pekarangan luas yang dinaungi pohon-pohon jati tua. Di ujung halaman, berdiri sebuah rumah joglo kayu yang bersahaja namun terawat dengan sangat rapi. Itu adalah rumah Paman Harjo, satu-satunya saudara kandung almarhum ayah Hana yang masih tersisa.

​Begitu mesin mobil dimatikan, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja batik usang dan sarung langsung bergegas turun dari teras rumah. Wajahnya yang dipenuhi kerutan usia tampak berbinar-binar penuh kerinduan.

​"Hana... Nduk..." panggil Paman Harjo dengan suara serak, matanya berkaca-kaca saat melihat Hana keluar dari pintu tengah mobil sembari memegangi perutnya yang mulai membuncit.

​"Paman..." Hana memeluk erat tubuh kurus pamannya. Di pelukan pria tua inilah Hana merasakan kembali kehangatan tulus yang selama berbulan-bulan ini lenyap dari rumah mewahnya di kota. Rasa perih di hatinya sedikit terobati oleh aroma minyak kayu putih dan tembakau khas sang paman.

​Adrian turun dari kursi kemudi, merapikan kaus polo bermerek miliknya lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman, meski gerakannya tampak kaku dan menjaga jarak. "Apa kabar, Paman?" tanya Adrian sekadar basa-basi formalitas.

​"Baik, Le, baik sekali. Astaga, kalian naik mobil bagus sekali sampai ke sini," puji Paman Harjo polos dengan logat desa yang kental. Ia lalu menoleh ke arah pintu penumpang depan, di mana Ibu Broto baru saja turun sembari mengipasi lehernya dengan selembar tisu mewah.

​"Aduh... jalannya kok banyak lubang ya, Adrian? Badan Ibu sampai pegal semua bergoyang-goyang di dalam mobil," keluh Ibu Broto dengan suara melengking yang sengaja dikeraskan, mengabaikan kehadiran Paman Harjo yang berdiri menyambutnya di halaman.

​Santi, yang turun paling akhir, langsung bergegas mengambil tas jinjing milik Ibu Broto dari bagasi. Di kampung halamannya sendiri, sikap Santi mendadak berubah drastis. Ia kembali menekuk kepalanya dalam-dalam, berjalan dengan langkah-langkah kecil yang sangat sopan, persis seperti citra gadis desa yang lugu dan pemalu sebelum ia menginjakkan kaki di kota.

​"Mari, Ibu... mari silakan masuk ke dalam. Di luar sangat berdebu," ucap Santi lembut dengan suara yang sengaja dibuat bergetar patuh, mengundang senyuman puas dari Ibu Broto.

​Malam harinya, suasana di dalam rumah joglo terasa temaram. Cahaya lampu bohlam kuning menerangi ruang tengah, tempat Paman Harjo telah menggelar tikar pandan dan menyajikan hidangan makan malam yang ia masak sendiri sejak sore hari. Di atas nampan seng besar, tersaji nasi anget, sayur lodeh nangka muda, tempe garit goreng, dan sambal terasi ulek yang aromanya sangat menggugah selera.

​Hana duduk bersila di atas tikar dengan nyaman, namun kontras dengan Ibu Broto yang duduk dengan posisi gelisah, berkali-kali merapikan kain blusnya karena merasa risih dengan lantai kayu yang menurutnya kurang bersih.

​"Ayo, Le Adrian, Mbak Broto, Hana... silakan dinikmati hidangan ndeso seadanya ini. Ini tempenya baru saja digoreng," ujar Paman Harjo ramah, menyodorkan piring-piring anyaman lidi beralas daun pisang.

​Hana baru saja hendak menyendok sayur lodeh ketika Ibu Broto tiba-tiba berdeham sangat keras, menghentikan gerakan tangan semua orang di tempat itu.

​"Duh, Pak Harjo... maaf ya sebelumnya," ucap Ibu Broto dengan nada suara yang dibuat-buat halus namun sarat akan penghinaan. "Hana ini kan sedang hamil, kandungannya juga agak lemah kata dokter di kota. Sayur lodeh bersantan kental dan nangka muda seperti ini apa tidak bahaya? Kurang higienis juga rasanya untuk janin premium anak kota. Takutnya nanti Hana malah diare atau keguguran lagi seperti dulu."

​Tangan Paman Harjo yang sedang memegang teko jinjing berisi teh hangat seketika membeku di udara. Wajah tuanya tampak kaku, guratan rasa bersalah dan malu mendadak tercetak jelas di keningnya yang legam. "O-oh... begitu ya, Mbak? Maaf, saya tidak tahu... saya pikir sayur segar dari kebun sendiri malah bagus..."

​Hana merasakan darahnya mendidih. Sindiran mertuanya bukan lagi sekadar menyerang dirinya, melainkan sudah menginjak-injak kehormatan dan ketulusan pamannya sendiri. Hana menoleh ke arah Adrian, berharap suaminya akan menegur sikap keterlaluan ibunya. Namun, Adrian justru sibuk menatap layar ponselnya, membaca pesan beruntun dari para manajer cabang restoran di kota dengan dahi berkerut, sama sekali tidak memedulikan situasi di meja makan.

​"Paman, jangan mendengarkan kata Ibu," sahut Hana dengan suara yang teramat jernih, menatap Paman Harjo dengan senyuman hangat. Ia dengan sengaja mengambil dua sendok besar sayur lodeh dan meletakkannya di atas nasi hangatnya. "Masakan Paman adalah makanan terbaik yang paling aku rindukan. Nutrisinya jauh lebih jujur daripada makanan restoran mewah yang penuh kepalsuan."

​Ibu Broto mendelik tajam mendengar balasan Hana yang menohok, namun ia memilih menahan diri karena tidak ingin memicu keributan besar yang bisa merusak akting keharmonisan keluarga mereka di depan orang kampung. Ia berpaling ke arah Santi yang duduk bersimpuh di sudut tikar paling belakang.

​"Santi, tolong ambilkan Ibu air mineral botolan yang ada di mobil ya. Ibu tidak biasa minum air rebusan tungku, rasanya aneh di lidah," perintah Ibu Broto sengaja memamerkan gaya hidup kotanya.

​"Baik, Ibu. Segera Santi ambilkan," jawab Santi patuh. Ia berdiri perlahan, namun sebelum melangkah keluar menuju halaman, matanya sempat mencuri pandang ke arah Adrian yang kebetulan juga sedang mendongak dari ponselnya. Tatapan mata mereka bertemu selama dua detik di bawah keremangan lampu joglo—sebuah tatapan rahasia yang sarat akan kerinduan liar yang harus mereka tahan selama berada di bawah atap keluarga Hana.

​Hana menangkap basah kilatan mata itu dari sudut pandangannya. Ia menyuap nasi lodehnya dengan perlahan, membiarkan rasa gurih alami meresap di lidahnya. “Teruslah mencuri pandang di rumah pamanku, Adrian... Santi...” batin Hana dengan kegetiran yang telah menjelma menjadi belati dingin di dalam pikirannya. “Sebab di tanah kelahiran inilah, aku akan membiarkan kalian menumpuk dosa sebanyak-banyaknya, sebelum tanah ini pula yang akan menyaksikan awal mula kejatuhan kalian.”

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!