Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecupan Pertama
Tidak terasa hari sudah malam.
Mobil mewah keluarga Ardhana mulai memasuki halaman mansion. Elora sudah tertidur pulas dipangkuan Nara, sepertinya anak itu kelelahan setelah seharian bermain di taman.
Nara tersenyum kecil melihat pipi mungil balita itu yang memerah karena kelelahan. "Kasihan, pasti dia lelah." ucapnya lirih, berusaha untuk tidak bersuara karena takut membangunkan anak itu.
Elvano menghentikan mobilnya, dia langsung mematikan mesin mobil dan keluar. Nara ikut membuka pintu mobil itu, baru saja dia menurunkan kaki kirinya sambil menggendong Elora, tiba-tiba sebuah tangan lebih dulu menahan lengannya.
"Biar aku yang menggendongnya." ucap Elvano yang terdengar pelan.
Tanpa menunggu jawaban, pria itu membungkuk lalu mengangkat tubuh putrinya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Pemandangan itu membuat Nara tanpa sadar tersenyum. "Dia memang ayah yang baik."
Sesampainya di kamar Elora, Elvano membaringkan putrinya perlahan di atas tempat tidur. Nara membantu menyelimuti tubuh kecil itu.
Saat mereka hendak keluar, tangan mungil Elora tiba-tiba meraih pergelangan tangan Nara.
"Mama." panggil anak itu membuat langkah Nara berhenti.
"Iya, Sayang?" Nara kembali menghampiri Elora yang sudah membuka matanya.
"Jangan pergi." tatapan anak itu terlihat sayu. Kentara sekali jika sedang kelelahan.
Nara memutuskan duduk di tepi ranjang. Dia mengusap rambut Elora dengan lembut hingga balita itu kembali tertidur.
Elvano yang berdiri di dekat pintu memperhatikan semuanya dalam diam. Hatinya menghangat. Sudah lama sekali dia tidak melihat Bianca begitu sabar menjaga putri mereka.
....
"Terima kasih." Ucapan itu membuat Nara menoleh. dan dia mendapati Elvano berdiri di sampingnya.
"Untuk apa?" tanyanya bingung.
"Karena sudah meluangkan waktu untuk Elora." Nara tersenyum tipis. Ah ternyata tentang hari ini.
"Itu sudah menjadi tugasku, kan aku mama nya." ucap Nara yang langsung diam karena menyadari bahwa dia terlalu percaya diri menyebutnya mama Elora, karena pada kenyataannya dia bukan siapa-siapa anak itu.
Elvano menatap wajah istrinya beberapa saat. "Kamu benar-benar berubah."
Nara langsung salah tingkah. "Mungkin karena kecelakaan, aku tidak ingat beberapa hal di masa lalu."
Elvano terdiam. Namun untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, dia tidak merasa canggung berdiri berdua dengan Bianca.
....
Keesokan harinya...
Nara turun ke ruang makan lebih awal. Dia berniat membuatkan sarapan sederhana untuk Elora. Melihat nyonya rumah memakai celemek, para pelayan kembali dibuat bingung.
"Bu, biar kami saja." ucap seorang pelayan yang merasa tidak enak karena sudah tugasnya membuat sarapan bagi bos mereka.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin membuat pancake." ucap Nara sambil tersenyum. Sama seperti kemarin, dia tanpa ragu mengambil bahan-bahan untuk membuat pancake.
Salah satu pelayan berbisik kepada temannya. "Sejak kecelakaan, Bu Bianca jadi hobi masuk dapur."
"Syukurlah."
"Rumah ini jadi lebih hidup."
Tidak lama kemudian, aroma mentega memenuhi dapur. Nara sedang membalik pancake dengan serius.
Namun karena terlalu fokus. Adonan pancake itu sedikit mengenai pipinya.
"Ck!" decaknya kesal. saat dia berniat mengambil tissue.
Tiba-tiba seseorang yang berdiri di belakangnya menyeka noda di pipinya dengan tissue.
"Diam." Suara berat Elvano membuat tubuh Nara menegang. Tadinya wanita itu ingin berbalik. tapi Elvano belum selesai membereskan noda di pipi istrinya.
"Selesai."
Nara masih mematung di tempatnya. Jarak mereka begitu dekat.
Apalagi pria itu sudah berdiri di depannya.
"Ter... terima kasih." ucap Nara sedikit gugup.
Elvano mengangguk lalu pergi menuju meja makan seolah tidak terjadi apa-apa. Sementara Nara masih berdiri dengan wajah memerah.
"Kenapa jantungku berdebar begini?"
.....
"Wahhhhhh!" Elora bertepuk tangan melihat pancake berbentuk kelinci di piringnya.
"Mama hebat." anak itu mengacungkan dua jempol nya pada Nara.
"Kalau begitu harus dimakan sampai habis." ujar Nara tegas. Elora mengangguk semangat.
Namun baru beberapa suapan, balita itu menatap ayahnya. "Papa."
"Hm?"
"Suapin." pinta anak itu sambil mendorong piring nya ke arah Elvano.
Elvano menghela napas kecil. "Oke."
Dia langsung mengambil potongan pancake dan menyuapkannya ke mulut Elora. Balita itu malah tertawa.
"Papa salah." Elvano mengernyit.
"Salah?" tanya Pria itu bingung.
"Iya. Harus begini."
Elora meraih tangan Nara dan Elvano sekaligus. "Lalu, Papa sama Mama suapin Elora bareng."
Nara langsung menahan tawa. Anak ini benar-benar punya banyak ide.
Elvano tampak pasrah. Mereka akhirnya menyuapi Elora bersama. Pemandangan itu membuat para pelayan diam-diam tersenyum. Sudah lama mereka merindukan suasana seperti ini.
.....
Selesai sarapan, Elvano bersiap berangkat ke kantor. Seperti biasa, Raka sudah menunggu di depan mobil. Sebelum masuk ke dalam kendaraan, Elvano mendengar suara langkah kecil di belakangnya.
"Papa." Elora berlari lalu memeluk kakinya.
"Cium." pinta anak itu.
Elvano membungkuk lalu mencium kening putrinya. "Jaga Mama ya, jangan nakal."
"Iya."
Tiba-tiba Elora menoleh kepada Nara.
"Mama cium papa."
Nara langsung canggung. Begitupun dengan Elvano.
"Ayo papa cium mama." pinta anak itu sedikit memaksa. Jika tidak di turuti, anak itu bisa tantrum.
Elvano dengan langkah berat menghampiri Nara. "Maaf." ucapnya lalu mengecup kening wanita itu.
"Hati-hati di jalan papa." ucap Elora semangat saat mobil milik papa nya keluar dari gerbang rumah.
Meninggalkan Nara yang wajahnya sudah merah seperti kepiting matang.
"Astaga. Aku butuh kipas." ucapnya sambil mengibaskan tangannya pada wajahnya.
Kalimat sederhana itu membuat Elvano kembali berhenti.
Elora menatap mamanya beberapa detik. "Kenapa wajah mama merah?"
Haish anak itu benar-benar.
Sementara Elvano.
Di sepanjang perjalanan menuju kantor, entah mengapa suasana hatinya terasa jauh lebih ringan.
.....
Di mansion
Elora sibuk menggambar menggunakan krayon. "Mama."
"Iya?" Nara langsung mendekati anak itu.
"Ini Papa." Elora menunjuk gambar seorang pria.
"Ini Mama." Lalu seorang wanita.
"Terus ini?" Nara menunjuk gambar kecil di tengah.
"Itu Elora."
"Kalau keluarga harus begini." Elora kemudian menggambar tiga orang yang saling bergandengan tangan.
Melihat gambar sederhana itu, mata Nara perlahan berkaca-kaca.
Lambat laun dia mulai menganggap keluarga ini sebagai keluarganya sendiri. Padahal semua ini bukan hidupnya. Entah bagaimana akhirnya, untuk sekarang, dia akan menikmati hidup sebagai Bianca.
Dia ingin menjaga senyum kecil Elora. Tanpa sadar, tangannya terangkat untuk mengelus rambut anak itu.
Elora menikmati elusan mama nya sambil mewarnai gambar itu.
....
Seseorang di kantor Ardhana Group sedang menatap foto keluarga Elvano yang baru saja di ambil di taman.
Pria itu tersenyum sinis. "Bianca. Sepertinya kau mulai melupakan tugasmu."
Dia segera mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat.
"Datang menemui ku malam ini. Ini peringatan terakhir."
Ponsel Nara yang berada di atas meja ruang keluarga bergetar pelan. Tanpa ia sadari, ancaman yang sempat menghilang kini mulai kembali menghampiri.