Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16 - Alina Menghilang
Alina tidak benar-benar pintar menghilang.
Dia hanya terbiasa semua orang memercayai tangisannya, jadi tidak pernah perlu belajar bersembunyi dengan benar.
Mobil Arga melaju melewati jalan malam Jakarta. Bima duduk di depan, sibuk menerima laporan dari tim pemantau. Ayla duduk di belakang bersama Arga, melihat titik terakhir ponsel Alina di layar tablet.
Mall besar di Jakarta Selatan.
Tempat sempurna untuk menghilang bagi orang biasa. Terlalu banyak pintu, terlalu banyak kamera, terlalu banyak wajah.
Tempat buruk untuk menghilang dari orang yang tahu cara membaca pola.
“Dia masuk lewat lobi utama pukul 21.08,” kata Bima. “Keluar dari kamera lantai dua pukul 21.16. Setelah itu ponselnya mati.”
Ayla menunjuk layar. “Dia tidak keluar.”
Bima menoleh. “Kenapa?”
“Alina tidak akan mematikan ponsel sebelum memastikan ada orang yang bisa melihat dia menghilang. Kalau dia benar-benar kabur, dia akan tinggalkan ponsel di toilet atau mobil orang lain. Ini terlalu rapi untuk dia.”
Arga menatapnya. “Berarti?”
“Ada yang menjemput.”
Bima mengetik cepat. “Kami cek kamera parkir.”
Ayla mengambil tablet dari tangan Arga tanpa meminta. Arga membiarkan. Dia memperbesar denah mall.
“Lantai dua ada akses ke hotel sebelah?”
Bima menjawab, “Ada koridor staf, tapi tidak untuk umum.”
“Untuk orang yang punya kartu akses, semua pintu umum.”
Arga menghubungi Lestari. “Tarik data akses hotel dan koridor staf mall pukul 21.10 sampai 21.25.”
Mobil berhenti di lampu merah. Ayla melihat keluar. Di trotoar, sekelompok remaja tertawa sambil membawa minuman boba. Hidup mereka tidak tahu di sisi lain kota, beberapa orang mati karena obat palsu, dan seorang gadis berwajah malaikat mungkin sedang menuju orang yang akan mengorbankannya tanpa ragu.
Ayla tidak menyukai Alina.
Itu jelas.
Namun membiarkan Alina mati sebelum menjawab pertanyaan juga pemborosan.
Ponsel Arga berbunyi. Lestari bicara cepat. Arga menyalakan speaker.
“Pak, ada akses kartu staf hotel atas nama Yudha Santoso. Dipakai pukul 21.18 di koridor penghubung. Yudha itu teknisi kontrak, tapi dia tidak dijadwalkan hari ini.”
“Lokasi sekarang?”
“Kartu dipakai lagi di basement hotel pukul 21.23. CCTV sedang saya tarik.”
Ayla berkata, “Dia dibawa keluar lewat hotel.”
Bima mengumpat pelan. “Kita terlambat.”
“Belum tentu,” kata Ayla. “Alina ingin bertemu seseorang, bukan diculik dari awal. Kalau dia merasa terancam, dia akan meninggalkan tanda.”
Arga menatapnya. “Kamu yakin?”
“Dia suka drama. Orang dramatis selalu meninggalkan panggung untuk penonton.”
Lestari berseru dari telepon, “Dapat CCTV basement. Ada mobil van abu-abu. Nomor polisi palsu, tapi ada stiker parkir gedung... tunggu... gedung kantor Prameswari Foundation.”
Ayla tersenyum tipis. “Tentu.”
Arga memberi instruksi pada tim untuk menyebar. Mobil mereka berbelok menuju jalan tol dalam kota.
Bima bertanya, “Kita ke mana?”
Ayla menjawab, “Bukan kantor yayasan. Terlalu jelas.”
Arga melihatnya. “Menurutmu?”
“Alina tidak akan dibawa jauh. Orang yang menjemput butuh bicara cepat sebelum kalian menutup semua jalur. Cari tempat yang masih terhubung dengan yayasan tapi tidak ramai.”
Bima membuka data aset. “Yayasan punya rumah singgah anak di Cipete, gudang donasi di Cakung, kantor lama di Tebet.”
Ayla langsung berkata, “Rumah singgah.”
“Kenapa?”
“Nama baik. Kalau terjadi apa-apa, mereka bisa bilang Alina sedang menenangkan diri di fasilitas yayasan.”
Arga menatap Bima. “Ke Cipete.”
Mobil berbelok lagi.
Di tengah perjalanan, ponsel Ayla bergetar. Reno.
Dia mengangkat.
Suara Reno terdengar tegang. “Ayla, Alina tidak ada di rumah.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu? Di mana dia?”
“Sedang kami cari.”
“Kami?”
Ayla melirik Arga. “Aku dan pria yang tidak disukai keluargamu.”
Arga pura-pura tidak mendengar.
Reno berkata, “Mama hampir histeris. Papa marah ke semua orang. Apa ini berhubungan dengan yayasan?”
“Ya.”
Hening.
Reno menurunkan suara. “Ayla, aku tahu kamu tidak suka Alina. Tapi kalau dia dalam bahaya—”
“Aku sedang mencarinya, bukan menulis puisi untuknya.”
Reno terdiam.
“Kamu di rumah?” tanya Ayla.
“Iya.”
“Jaga orang tuamu. Jangan biarkan mereka menghubungi Raka atau siapa pun dari yayasan.”
“Raka sudah ditahan?”
“Belum sepenuhnya.”
“Apa maksudnya belum sepenuhnya?”
“Artinya jangan bodoh.”
Reno menghela napas. “Kamu tidak bisa bicara normal?”
“Bisa. Tapi ini lebih cepat.”
Dia memutus panggilan.
Arga akhirnya berkata, “Kakakmu mulai percaya padamu.”
“Dia mulai tidak percaya Alina. Itu berbeda.”
“Tetap kemajuan.”
Ayla tidak menjawab.
Rumah singgah yayasan berada di jalan kecil yang sepi. Bangunannya dua lantai, pagar putih, lampu depan menyala. Tidak ada tanda keributan. Justru terlalu tenang.
Arga memberi isyarat. Tim yang menyusul bergerak memutar. Bima memeriksa pintu samping. Ayla turun dari mobil sebelum Arga sempat melarang.
Arga menatapnya.
“Aku turun saja,” kata Ayla.
“Tetap di belakang saya.”
“Pak Arga, kalau ada orang menembak dari depan, secara statistik di belakangmu lebih aman?”
“Ayla.”
“Baik.”
Mereka mendekat ke pintu. Tidak terkunci.
Di ruang depan, lampu menyala. Ada mainan anak-anak di sudut, rak buku kecil, dan sofa kain. Tidak ada anak. Tidak ada pengurus.
Dari lantai atas terdengar suara perempuan.
Alina.
“Aku benar-benar tidak tahu dia akan sejauh ini.”
Suara pria menjawab, rendah dan tidak sabar. “Kamu tahu cukup banyak untuk menjadi masalah.”
Ayla dan Arga saling pandang.
Mereka naik tangga perlahan.
Di kamar paling ujung, pintu terbuka sedikit. Dari celah, Ayla melihat Alina duduk di kursi, wajahnya pucat. Di hadapannya berdiri pria berjas abu-abu. Usianya sekitar lima puluh, rambut mulai memutih, mata tajam.
Dr. Surya Atmadja.
Di tangan pria itu ada ponsel Alina.
“Aku cuma mengikuti arahan Pak Raka,” kata Alina. “Aku tidak tahu ada orang mati.”
Surya tertawa dingin. “Anak manis, di dunia ini orang mati karena orang lain memilih tidak tahu.”
Ayla tidak menunggu lebih lama.
Dia mendorong pintu.
“Kalimat bagus. Sayang pembicaranya busuk.”
Surya menoleh cepat.
Alina berdiri. “Kak Ayla?”
Arga masuk di belakang Ayla dengan senjata terangkat. “Surya Atmadja. Jangan bergerak.”
Surya menatap Arga, lalu Ayla. Bukannya panik, dia malah tersenyum.
“Akhirnya,” katanya. “Mamba kecil pulang juga.”
Ruangan membeku.
Arga menoleh sedikit ke arah Ayla.
Alina tampak tidak mengerti.
Ayla menatap Surya tanpa ekspresi.
“Kamu salah orang.”
Surya tertawa pelan.
“Tidak. Aku mengenal mata itu. Mata anak-anak Besi Kelabu selalu sama.”
Di luar, langkah tim terdengar naik.
Surya mengangkat kedua tangan, tetapi senyumnya tidak hilang.
“Jangan khawatir. Aku tidak akan melawan malam ini.”
Ayla menyipitkan mata.
Orang yang terlalu tenang saat tertangkap biasanya sudah menyiapkan kerusakan di tempat lain.
Dan benar saja, ponsel Arga berbunyi hampir bersamaan dengan ledakan kecil dari arah belakang rumah.
Lampu padam.
Alina menjerit.
Dalam gelap, Surya tertawa.
“Kalian terlambat.”
Asap mulai merambat dari bawah pintu. Bukan gas mematikan, tetapi cukup tajam untuk membuat mata pedih dan napas pendek. Arga menarik Alina lebih jauh ke sudut, sementara Ayla menendang meja kecil hingga menutup sebagian celah pintu.
“Jendela,” kata Arga.
Ayla sudah bergerak. Dia membuka kait jendela, melihat halaman samping di bawah. Tingginya tidak seberapa. Untuknya, mudah. Untuk Alina, dengan kondisi setengah pingsan, mustahil tanpa bantuan.
“Tim di bawah!” teriak Arga lewat radio.
Jawaban Bima putus-putus. Ledakan kecil tadi mengacaukan sinyal internal.
Alina batuk, air matanya mengalir. “Aku tidak bisa bernapas.”
Ayla menatapnya sekilas, lalu menarik tirai, membasahinya dengan air dari dispenser kecil. Dia melempar kain itu ke wajah Alina.
“Bernapas lewat ini.”
Alina memegang kain dengan tangan gemetar. “Kamu... menolongku?”
“Aku butuh kamu hidup untuk bicara.”
Jawaban itu kasar, tetapi tangan Ayla bergerak cepat memasang simpul tirai ke bingkai jendela, membuat jalur turun darurat.
Arga melihatnya bekerja. “Kamu pernah melakukan ini.”
“Aku pernah keluar dari tempat yang lebih buruk.”
“Bersama sandera?”
“Bersama orang yang lebih menyebalkan.”
Alina tidak tahu harus tersinggung atau bersyukur.
Dari balik asap, suara Surya sudah menghilang. Ayla tahu pria itu tidak hanya kabur. Dia sedang mengulur waktu agar sesuatu di tempat lain selesai.
Dan itu jauh lebih buruk daripada kehilangan satu target.