NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sinar matahari pagi yang pucat akhirnya berhasil menembus celah-celah awan kelabu di langit Papua, membawa sedikit kehangatan ke atas tanah Muting yang masih basah dan berlumpur.

Di dalam tenda hijau zaitun itu, Cia mengerjap pelan. Kepalanya terasa jauh lebih ringan dibandingkan semalam, dan rasa dingin yang sempat membekukan tulang-tulangnya telah menguap entah ke mana.

Gadis itu bergerak sedikit, bermaksud meregangkan ototnya, namun sebuah tekanan berat yang melingkari pinggangnya menahan gerakannya.

Cia menunduk. Lengan kekar berkulit kecokelatan dengan urat-urat yang menonjol tampak melingkar protektif di perutnya. Punggung Cia menempel erat pada sebuah dada bidang yang bidang, naik turun dengan ritme napas yang tenang. Aroma kayu pinus dan mint yang sangat khas langsung menyapa indra penciumannya.

Ingatan semalam kembali berkelebat. Ren. Suaminya benar-benar menyusulnya kemari dan memeluknya semalaman di atas velbed militer yang sempit ini.

Cia memutar tubuhnya dengan sangat hati-hati, berusaha tidak membangunkan pria itu dan tidak membuat punggung kirinya yang memar bergesekan.

Begitu ia berbalik, wajah Mayor Ren Adhyaksa terpampang jelas dalam jarak hitungan sentimeter. Pria itu tertidur pulas. Gurat kelelahan tercetak jelas di bawah matanya. Jambang tipis yang mulai tumbuh di rahangnya membuat pria itu terlihat sedikit berantakan, jauh dari standar kerapian militer yang biasa ia junjung tinggi.

Cia tersenyum tipis. Tangannya terulur dari balik selimut kemeja loreng, mengusap pelan rahang suaminya.

"Pasti perjalanannya berat banget ya, Mas," bisik Cia pelan, matanya menelusuri setiap inci wajah pria yang sangat ia rindukan itu. "Makasih udah datang."

Tiba-tiba, kelopak mata Ren terbuka. Sepasang mata elang yang langsung memancarkan kewaspadaan penuh itu menatap Cia, sebelum akhirnya melembut seketika. Tangan kanannya bergerak menangkup tangan Cia yang berada di rahangnya.

"Saya sudah terbiasa tidur dengan mode waspada, Cia. Sentuhan selembut apa pun akan membangunkan saya," suara bariton Ren terdengar serak khas orang bangun tidur, sangat rendah dan bergetar di telinga Cia.

Cia tersipu, buru-buru menarik tangannya. "M-maaf, aku bikin kamu bangun. Kamu pasti capek banget. Tidur lagi aja, Mas. Pasien-pasien di luar pasti udah diurus sama relawan sipil dan tim medismu."

Ren tidak melepaskan tangan istrinya. Pria itu justru menarik tubuh Cia lebih dekat, mengecup kening gadis itu cukup lama.

"Suhu tubuhmu sudah kembali normal," ucap Ren lega, mengabaikan ucapan Cia. Ia menatap mata istrinya lamat-lamat. "Bagian mana lagi yang sakit? Punggung kirimu masih nyeri?"

"Sedikit, kalau buat gerak. Kayaknya cuma memar otot, nggak ada tulang yang retak kok. Aku kan minum susunya rajin," canda Cia, berusaha menenangkan raut tegang di wajah suaminya.

Ren mendengus pelan, sebuah tawa sarkas yang tertahan. "Kamu selalu bisa bercanda di saat nyawamu nyaris melayang. Coba jelaskan pada saya, doktrin medis mana yang mengajarkan seorang dokter untuk menjadikan punggungnya tameng bambu tenda yang rubuh?"

"Itu refleks, Mas," bela Cia, bibirnya sedikit mengerucut. "Kalau bambu itu kena kepala anak itu, dia bisa pendarahan intrakranial. Di sini nggak ada fasilitas CT Scan atau ruang operasi bedah saraf. Luka memarku jauh lebih mudah ditangani daripada itu."

Ren menatap Cia dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak setuju dengan tindakan nekat istrinya, namun di sisi lain, integritas gadis ini adalah salah satu alasan mengapa Ren jatuh cinta padanya.

"Kamu memang dokter yang hebat, Almeera," Ren akhirnya mengalah, merapikan anak rambut Cia. "Tapi mulai detik ini, tugasmu di posko ini selesai. Kamu berubah status menjadi pasien."

"Eh? Tapi Mas, aku masih bisa—"

Ucapan Cia terpotong oleh suara dehaman canggung dari arah pintu tenda.

Di sana, dr. Rian berdiri kaku dengan sebuah papan jalan di tangannya. Mata dokter muda itu terbelalak melihat adegan di depannya: seorang dokter internsip yang biasanya bar-bar sedang dipeluk posesif oleh seorang Mayor TNI di atas ranjang lipat.

"M-mohon izin, Komandan... eh, Mayor. Maaf mengganggu," Rian menelan ludah, suaranya sedikit bergetar. "S-saya hanya mau memeriksa kondisi dr. Cia. Dan... melaporkan bahwa logistik dari pesawat Hercules sudah mulai disalurkan."

Ren segera melepaskan pelukannya, duduk di tepi velbed, dan mengambil rompi taktisnya. Dalam hitungan detik, aura suaminya yang lembut menguap, digantikan oleh mode Komandan Pasukan yang dingin dan mengintimidasi.

"Masuk, Dokter," perintah Ren datar. Ia berdiri menjulang di samping ranjang, menatap Rian. "Bagaimana hasil observasi awal terhadap istri saya semalam?"

Rian melangkah maju dengan ragu, memeriksa suhu tubuh Cia menggunakan termometer tembak, lalu memeriksa tekanan darahnya. Cia hanya bisa pasrah, tersenyum canggung pada rekan kerjanya itu.

"Tekanan darahnya sudah stabil, 110/70. Suhu tubuh normal. Gejala hipotermianya sudah teratasi, Ndan," lapor Rian profesional, meski matanya tak berani menatap Ren secara langsung. "Untuk memar di punggung kiri, kami sudah berikan salep analgesik semalam. Sebaiknya dr. Cia dipindahkan ke RSUD untuk dirontgen demi memastikan tidak ada cedera tulang belakang tersembunyi."

Ren mengangguk tegas. "Saya sudah memerintahkan satu unit kendaraan rantis medis untuk standby. Istri saya akan dievakuasi ke RSUD Merauke pagi ini juga."

Cia membelalak. "Mas, tunggu dulu. Rantis medis itu kan buat pasien yang kritis. Warga di sini lebih butuh kendaraan itu buat ke rumah sakit! Aku bisa naik mobil ambulans biasa, atau nunggu truk logistik balikan."

"Tidak ada bantahan, Almeera," potong Ren mutlak. Suaranya tidak meninggi, namun tidak ada celah untuk bernegosiasi. "Kendaraan rantis memiliki suspensi khusus yang akan meredam guncangan di jalan berlumpur. Punggungmu tidak akan sanggup menahan guncangan ambulans biasa. Dan sebagai komandan operasi ini, keselamatan setiap anggota di lapangan, termasuk tenaga medis relawan, adalah tanggung jawab saya."

Skakmat. Jika Ren sudah membawa-bawa otoritas komandonya, Cia tahu perlawanannya sia-sia. Gadis itu hanya bisa mendesah panjang.

"Baiklah, dr. Rian. Tolong bantu istri saya bersiap. Saya akan mengurus koordinasi lapangan sebentar," Ren menatap Rian dengan tatapan peringatan, seolah menitipkan berlian berharga pada pria itu. "Jangan biarkan dia mengangkat barang apa pun."

"S-siap, Mayor!" jawab Rian refleks mengambil sikap sempurna.

Setelah Ren keluar dari tenda, Rian menghembuskan napas lega yang sangat panjang, kakinya nyaris lemas.

"Gila, Ci," bisik Rian sambil menggelengkan kepala. "Suami lo auranya kayak malaikat pencabut nyawa. Pantesan selama ini lo kalau ngamuk di IGD mirip komandan peleton. Tertular virus militer ternyata."

Cia tertawa renyah, menahan ringisan saat ia mencoba duduk. "Dia aslinya baik kok, Dok. Cuma emang setelan pabriknya kaku begitu."

Evakuasi Cia berlangsung dengan sangat cepat dan efisien. Ransel kecil miliknya sudah dibawakan oleh salah satu prajurit. Saat Cia melangkah keluar tenda dengan hati-hati—masih mengenakan kemeja loreng milik Ren yang kebesaran sebagai jaket—suasana posko sudah jauh lebih teratur. Tenda-tenda baru yang lebih kokoh telah didirikan oleh pasukan TNI.

Saat berjalan menuju kendaraan rantis medis yang terparkir, langkah Cia terhenti.

Dari arah tenda perawatan utama, seorang ibu berlari kecil menghampirinya, menggandeng anak laki-laki berusia delapan tahun. Anak itu adalah pasien yang Cia lindungi semalam. Ia tampak jauh lebih sehat, sudah mengenakan pakaian kering.

"Bu Dokter!" panggil ibu itu dengan mata berkaca-kaca. Ia meraih tangan kanan Cia dan menciumnya. "Terima kasih... terima kasih banyak, Dokter. Kalau tidak ada Ibu Dokter, anak saya mungkin sudah celaka tertimpa tiang itu."

Cia tersenyum lembut, mensejajarkan tingginya dengan anak laki-laki itu, mengabaikan rasa perih di punggungnya. Ia mengusap rambut anak itu. "Kamu jagoan hebat. Cepat sembuh, ya. Jangan main air banjir lagi."

Anak laki-laki itu mengangguk semangat. "Terima kasih, Bu Dokter!"

Dari kejauhan, Ren yang sedang memberikan instruksi pada perwira bawahannya, menatap pemandangan itu dalam diam. Rasa bangga yang membuncah kembali memenuhi dadanya. Ia tidak pernah salah memilih rumah. Gadis ini bukan hanya rumah baginya, tapi juga perpanjangan tangan Tuhan bagi banyak orang.

Ren berjalan menghampiri Cia, menepuk pelan bahu istrinya dari belakang. "Waktunya berangkat, Dokter."

Perjalanan kembali ke pusat kota Merauke menggunakan kendaraan taktis medis terasa jauh lebih nyaman dibandingkan saat Cia datang. Suspensi mobil itu benar-benar bekerja dengan baik. Ren duduk di sebelahnya di kabin belakang, terus memegang tangan kanan Cia sepanjang perjalanan.

"Mas," panggil Cia saat mobil membelah jalanan hutan yang sepi.

"Ya?"

"Setelah aku dirontgen dan hasilnya aman... kamu bakal langsung balik ke Jawa?" tanya Cia, menatap suaminya dengan raut enggan. Baru semalam mereka bertemu, rasanya terlalu cepat jika harus berpisah lagi hari ini.

Ren menatap istrinya, lalu beralih menatap jalanan di luar jendela.

"Operasi penanggulangan bencana ini diperkirakan memakan waktu dua minggu," jawab Ren tenang. "Dan saya adalah komandan satgasnya. Saya tidak akan kembali ke pangkalan sebelum operasi ini dinyatakan selesai dan wilayah ini aman."

Mata Cia seketika berbinar cerah. Rasa nyeri di punggungnya serasa menguap. "Dua minggu? Berarti kamu bakal di Merauke selama dua minggu?!"

Ren menoleh, melihat senyum lebar istrinya yang begitu bercahaya. Pria itu ikut tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Ya. Dan setelah itu, saya sudah mengajukan cuti tahunan saya yang tidak pernah saya ambil selama lima tahun terakhir. Jenderal Arman langsung menyetujuinya."

"Cuti? Berapa lama?" Cia semakin antusias, merapatkan duduknya ke arah Ren.

"Tiga minggu."

Ren mengangkat tangan kirinya, merapikan anak rambut Cia yang tertiup angin dari AC mobil. "Selama satu bulan lebih ke depan, saya akan mendirikan posko komando di wilayah ini. Dan saya akan memastikan, dokter internsip keras kepala ini meminum obatnya tepat waktu, makan tiga kali sehari, dan tidak menjadikan punggungnya sebagai perisai baja lagi."

Cia terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di bahu Ren dengan nyaman.

"Siap, Mayor. Perintah diterima," bisik Cia bahagia.

Jarak ribuan kilometer yang memisahkan mereka kini lenyap tak bersisa. Di tengah kerasnya perbatasan timur dan sisa-sisa badai yang melanda, Almeera Cia menyadari satu hal yang pasti: tak peduli seberapa jauh negara melemparkannya untuk mengabdi, sang Panglima kecil selalu memiliki barisan pertahanan berlapis baja yang siap menerjang badai untuk menjemputnya pulang.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!