Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Orang Asing yang Lewat
Suara sirine ambulan meraung-raung merambah ramainya TKP saat itu. Orang-orang yang saling bertanya tentang kronologi penuh sesak hingga membuat Emma jengah. Beberapa ada yang menunjuk-nunjuk tubuh korban seolah dia adalah objek viral, benar-benar menjengkelkan.
"Tolong semua menyingkir! Biarkan petugas bekerja!" Bentak Emma kehilangan kesabaran.
"Anda siapa? Seenaknya nyuruh bubar!" Kata orang tua sangar bertato.
"Apa aku perlu mengatakan siapa aku hanya untuk membuat kalian bubar? Kalian tidak sadar ini TKP? TKP harus bersih!" Kali ini Emma berusaha untuk meladeni orang tersebut walaupun sebenarnya dia malas.
"Menyingkir! Biarkan mereka bertugas!" Emma kembali membentak dan disusul dengan para petugas yang bergegas membawa tandu untuk mengangkat korban.
"Saya ikut. Saya wali kelasnya," kata Levi menghentikan langkah Emma yang sudah siap naik ambulan. Emma hanya mengangguk melihat wajah Levi yang tampak khawatir.
Di dalam mobil ambulan yang melaju kencang, Emma yang duduk berhadapan dengan Levi tanpa sengaja mencuri pandang seperti melakukan kebiasaannya waktu SMA dulu.
Emma menyusuri wajah Levi untuk membandingkannya dengan Levi idolanya dulu. Matanya, hidungnya, dan bibir, semua hampir sama hanya lebih tegas dan dewasa saja.
Emma ingin sekali bertanya tentang update aktivitas Levi akhir-akhir ini. Tapi setelah Levi menoleh ke arahnya, semua buyar. Dia bahkan hanya bisa melengos dan pura-pura menatap korban. Lagi pula ini bukan saat yang tepat untuk reuni SMA.
Saat Emma menatap tubuh korban, ada yang tidak beres. Bukankah seharusnya lukanya terlihat baru? Seperti luka terbuka atau memar yang baru? Tapi mengapa di pergelangan tangannya ada luka memar bekas tali? Dan itu tampak lama.
Dengan cepat, Emma membuka seragam korban. Saking cepatnya, hingga membuat Levi dan petugas ambulan terkejut.
"Apa yang anda lakukan?" Tanya petugas ambulan.
"Maaf saya hanya ingin memeriksa sesuatu," tegasnya.
"Tapi...." Petugas itu masih ingin memprotes.
Namun tatapan tajam Emma mampu membuat petugas tersebut terdiam.
Kemudian Emma memanfaatkan kediaman mereka untuk memfoto luka-luka yang ada di dada, perut, tangan dan pergelangan kaki korban.
"Aneh!" Emma berpikir keras.
"Pak, anda kan wali kelasnya. Apakah bapak tidak pernah mendapat laporan tentang anak ini? Misalnya dia pernah dibully atau semacamnya?" Tanyanya formal karena tahu, pasti Levi tak mengenalnya.
"Ti...tidak," ucap Levi ragu.
"Benarkah?" Emma menekankan agar Levi mengatakan yang sebenarnya.
Levi hanya menggeleng namun Emma sepertinya tahu kalau idolanya itu sedang berbohong. Kenapa berbohong?
Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung disambut oleh dokter. Emma dengan tegas menjelaskan bagaimana keadaan korban saat itu. Petugas langsung membawa korban ke IGD dan dokter segera melakukan pemeriksaan. Setelah dokter memastikan kematian korban, mereka langsung menelpon polisi di daerah tersebut dan keluarga.
Keadaan saat itu sangat chaos. Keluarga korban meraung-raung. Tangisan menggema ke seluruh penjuru rumah sakit. Serta ada beberapa penonton dadakan yang akhirnya dibubarkan oleh petugas rumah sakit.
Levi yang merasa bertanggung jawab dengan korban, berusaha menenangkan Ibu korban. Ia mengatakan beberapa kata penghibur yang mungkin tidak benar-benar menghibur. Sampai akhirnya Polisi yang bertugas datang.
Emma yang saat itu duduk di depan IGD langsung menyambut dan membawa Polisi itu ke sisi lain. Ia mengatakan bahwa ia saksi yang ada saat itu. Ia juga menjelaskan kronologi yang ia lihat.
"Berarti ini kasus bunuh diri," salah satu dari dua orang polisi itu menyimpulkan.
"Kurasa tidak sesederhana itu, kelihatannya ada pihak ketiga dalam kasus ini," kata Emma mantap. " Kita perlu menyelidikinya lebih dalam. Kalian harus periksa gedungnya. Oh ya gedungnya."
Emma seketika ingin berlari tapi tangannya ditarik oleh salah satu polisi.
" Anda siapa? Anda tidak boleh mencampuri kasus ini!"
"Saya juga penyidik, lepaskan tangan anda."
"Walaupun anda penyidik, ini bukan kasus anda. Ini kasus kami!"
Emma sangat jengkel karena apa yang mereka katakan itu benar. Dia tidak bisa seenaknya mencampuri kasus daerah lain tanpa adanya perintah. Dia hanya bisa diam dan melotot tak terima.
Sedangkan dari kejauhan di ruang IGD, Levi menyimak pembicaraan mereka dengan kaki gemetar gelisah. "Apa yang sedang diskusikan?" Levi bergumam sendiri.
"Pak?" sapaan ibu Dion membuyarkan fokusnya dari pemandangan tiga orang yang sedang bersitegang.
"iya," jawab Levi.
"Hiks ... Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Sa...saya juga tidak mengerti Bu. Lebih baik kita dengar dari pihak polisi," Levi benar-benar bingung menghadapi Ibu Dion.
"Hiks ... Pak Polisi tolong anak saya. Hiks .... Hiks...." Ibu Dion meraung ketika kedua polisi tersebut memutuskan untuk kembali ruang IGD, sedangkan Emma masih berdiri mematung.
"Kita tunggu hasil visum ya Bu, sabar ya Bu...," salah satu polisi berusaha menenangkan sekedarnya.
"Kemungkinan ini adalah kasus Bun*h diri," polisi lainnya memberikan pernyataan gegabahnya. Ibu Dion kembali meraung lebih keras dan berlutut di depan ketiga orang itu.
Emma yang awalnya hanya berdiri di koridor Rumah Sakit langsung berjalan cepat dan mendorong keras polisi tersebut.
"Hei, kalau ngomong jangan sembarangan! Bagaimana bisa seorang Polisi dengan seenaknya memberikan pernyataan tanpa bukti dan penyelidikan!" Emma mengeraskan suaranya dan melotot ke arah Polisi yang ia dorong, meskipun dorongan Emma tidak bisa membuat polisi tersebut jatuh.
Ingin sekali Emma mengumpati polisi tersebut. Tapi di sebelahnya Ibu Dion bersimpuh dengan semua tangisannya, membuat Emma tak kuasa meneruskan amarahnya.
"Bu, ibu tenang saja. Kita tunggu saja hasil visumnya. Ibu pasti tahu Dion anak seperti apa. Dia bukanlah anak yang lemah, yang bisa mengakhiri hidupnya dengan mudah," Emma membantu Ibu Dion untuk berdiri dan menuntunnya ke kursi tunggu.
"Kalau bukan bunuh diri? Lalu kenapa? Hiks... Jangan-jangan..." Ibu Dion berhenti berkata.
Emma mengerutkan dahinya dan memejamkan matanya. Dia tidak habis pikir dengan dirinya yang juga memberikan pernyataan sepihak. Bukannya membuat beliau tenang tapi malah memperkeruh keadaan.
"Maksud saya, kita tunggu saja hasil visumnya ya Bu," Emma menegaskan dan memeluk Ibu Dion dengan hangat.
Kedua polisi yang awalnya berwajah sangar, melunakkan ekspresi mereka. Mereka pun memilih untuk menyingkir entah kemana. Hal itu tak lagi menjadi masalah bagi Emma. Dia masih memegang erat tangan Ibu Dion dengan harapan bisa meringankan kesedihannya, meskipun itu tidak mungkin.
"Anu.... Maaf," Levi menyela.
"iya," Emma menatapnya dengan mengumpulkan keberaniannya.
"Maaf anda siapa?" keheningan kembali mengudara, bahkan kepala Emma mendadak menjadi kosong. Sepertinya waktu di sekitar kembali berhenti, persis seperti waktu dulu.
"Maksud saya, sepertinya anda sangat mengerti dengan kejadian ini. Seperti bukan hanya orang yang kebetulan lewat," lanjut Levi karena bingung dengan diamnya Emma.
Suasana kembali hening, Emma meletakkan genggaman tangannya dari Ibu Dion. Dia menarik nafasnya lalu membuangnya.
.
.
"Saya hanya orang yang lewat."