Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33 Pertengkaran
Kepala Fela menoleh cepat ke arah sumber suara. Itu mirip sekali dengan suara Kenzo, batinnya, jantungnya mendadak berdegup sedikit lebih kencang.
Mata Fela mulai beredar dengan saksama ke sekeliling ruangan. Karena ini sudah kedua kalinya ia merasa mendeteksi keberadaan Kenzo malam ini. Pertama siluet di dekat Pak Wisnu. Sekarang suaranya. Fela tidak bisa lagi mengabaikannya sebagai sekadar ilusi atau salah dengar.
Ia mulai berjalan pelan, memecah kerumunan tamu undangan yang berpakaian glamor. Matanya dengan teliti menyisir setiap sudut dan wajah di dalam ballroom mewah tersebut. Ia benar-benar mencoba mencari keberadaan anak magangnya itu di antara lautan manusia berkelas VIP ini.
Namun, hasilnya nihil. Tidak ada sosok Kenzo di mana pun.
Tidak ada. Apakah otakku benar-benar sudah dipenuhi oleh bocah itu? tanyanya dalam hati, mendadak bingung dengan dirinya sendiri. Ah, ini tidak benar. Kenapa juga aku harus terus-menerus memikirkan bocah itu di tempat seperti ini? Fela mendengus pelan, merasa kesal pada dirinya sendiri yang mulai tidak fokus.
Namun, beberapa detik kemudian, sebuah pemikiran melintas di kepalanya dan ia mencoba mencari pembenaran.
Ya, masuk akal. Karena aku dan dia sempat melewatkan malam bersama secara tidak sengaja waktu itu, tentu saja otakku terus mengaitkan segala hal buruk dan mengkhawatirkannya, batin Fela. Merujuk pada ketakutan-ketakutan bawah sadarnya jika gosip aneh menyebar di kantor. Ya, pasti karena itu. Tidak mungkin ada alasan lain.
Fela mengangguk-angguk kecil, mengambil kesimpulan sepihak itu hanya demi menenangkan hatinya yang mulai gelisah. Ia menarik napas dalam-dalam dan kembali melangkah, mencoba fokus sepenuhnya pada acara malam ini. Meski bayangan bocah tampan itu masih enggan pergi sepenuhnya dari benaknya.
***
Karena terlalu banyak meminum cairan untuk meredakan ketegangan di tenggorokannya, Fela akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet di area aula luar ballroom.
Setelah menyelesaikan urusannya di sana, ia segera merapikan gaunnya dan keluar. Tekadnya sudah bulat. Ia akan langsung pulang malam ini juga tanpa harus memaksakan diri mendekati pelaminan lagi. Tugas profesionalnya dirasa sudah cukup dengan kehadirannya di gedung ini.
Namun, alam tampaknya sedang tidak berbaik hati pada Fela.
Baru beberapa langkah meninggalkan area toilet, langkah kakinya mendadak terkunci. Di koridor sepi yang menghubungkan aula dengan ruang VIP, ia berpapasan langsung dengan Dion. Pria itu tampak sedang berjalan sendirian, berniat menuju ruang ganti untuk mengganti baju pengantinnya.
"Halo, Fela," sapa Dion dengan nada suara yang terdengar sangat sinis. Langkahnya terhenti tepat beberapa meter di depan Fela, menatap mantan kekasihnya itu dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
Fela terpaku selama beberapa detik. Jantungnya berdegup kencang, namun ia berusaha keras menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar.
"Ya. Selamat, Dion," ujar Fela langsung. Ia sengaja langsung mengucapkan kalimat selamat itu agar bisa segera mengakhiri pertemuan tidak sengaja ini. Toh, kewajibannya memang hanya itu, dan setelah ini ia bisa pergi dengan tenang. Fela bersiap melangkah melewati Dion.
"Hanya selamat?" potong Dion cepat, sengaja bergeser sedikit untuk menghalangi jalan Fela.
Fela menghentikan langkah, menatap tajam pria di hadapannya. "Maksudmu?"
Dion terkekeh meremehkan, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. "Kau tidak mau mengatakan kalau kamu menyesal telah membuangku?"
Fela mengerjapkan mata, benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria ini. "Untuk apa?"
"Jangan berpura-pura lagi, Fela. Aku tahu betul ibumu pasti masih sangat menungguku untuk menjadi menantunya," ucap Dion dengan nada penuh percaya diri.
Ibu? batin Fela terkejut. Dahinya berkerut dalam. Kenapa pria ini bisa terlalu optimis dan percaya diri seperti itu?
Melihat kebingungan di wajah Fela, senyum sinis di bibir Dion semakin melebar. "Kenapa? Bingung dari mana aku tahu? Karena ibumu sendiri yang mengatakannya padaku. Beberapa hari lalu aku tidak sengaja bertemu ibumu di jalan. Beliau bilang, beliau sangat rindu kedatanganku ke rumah kalian."
Deg!
Dada Fela mendadak terasa dihantam godam tak kasat mata. Kenyataan bahwa ibunya masih berhubungan baik bahkan mengharapkan pria yang telah menyakitinya ini, membuat pertahanan emosional Fela retak seketika.
"Aku tidak tahu kalau ternyata kamu dan keluargamu masih begitu mengharapkan aku," lanjut Dion dengan nada sombong, melangkah satu kali lebih dekat ke arah Fela. "Kalau tahu kamu bakal begitu ingin menikah denganku, seharusnya dari awal kamu memohon padaku agar tidak pergi. Bukan malah sok kuat dan membuangku seperti kemarin."
Fela terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kaku. Bukan karena ia membenarkan ucapan Dion, melainkan karena rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam dari tindakan ibunya sendiri meremukkan hatinya di tempat itu juga.
"Kamu masih belum bilang apa-apa ke ibumu kalau kita sudah putus, ya?" Dion terkekeh. Suara tawanya terdengar begitu merendahkan di koridor yang sepi itu. "Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu mau terus-menerus berpura-pura masih punya hubungan denganku di depan ibumu?"
Dion melangkah satu kali lagi, mempersempit jarak di antara mereka hingga Fela bisa mencium aroma parfum mahal pria itu. Ini makin membuat Fela muak.
"Bukankah sekarang aku sudah resmi jadi suami orang? Tapi ..." Dion menurunkan intonasi suaranya. Berbisik dengan senyum menjijikkan yang menghiasi wajahnya. "Kalau kau memang begitu itu merindukanku ... kau bisa saja jadi selingkuhanku."
Plak!
Bukan tamparan tangan, melainkan suara hantaman keras. Fela melemparkan tas pesta kecil beraksen manik-manik tajam di tangannya tepat ke arah wajah Dion tanpa aba-aba.
Sudut tas itu menghantam pelipis Dion dengan cukup keras hingga membuat pria itu terhuyung mundur satu langkah, memegangi wajahnya yang langsung memerah.
"Fela! Kau gila?!" bentak Dion. Matanya menyala penuh amarah karena syok mendapat serangan mendadak.
Napas Fela memburu. Seluruh rasa sedih dan sesak yang sempat menggelayuti dadanya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa jijik yang luar biasa. Kedua tangannya mengepal erat. Tubuhnya gemetar bukan karena takut. Melainkan karena menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Jaga mulutmu, Dion!" desis Fela. Suaranya rendah namun penuh dengan penekanan yang mematikan. "Jangan pernah membicarakan ibuku dengan mulut kotormu itu. Dan selingkuhan? Seleraku tidak pernah serendah itu untuk memungut kembali sampah yang sudah kubuang ke tempatnya!"
"Kurang ajar! Kau semakin gila!" bentak Dion, suaranya naik sambil terus menyentuh pelipisnya yang berdenyut perih. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat kejam. Mencoba membalas luka fisik yang diterimanya dengan kata-kata yang paling menusuk.
"Makanya aku harus meninggalkanmu! Watakmu yang kasar dan keras kepala ini tidak akan pernah berubah," cibir Dion dengan tawa hambar yang dipaksakan untuk menutupi rasa malunya.
semangat Fel....