Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
penerbangan pertama
Suara bising khas bandara langsung menyambut kami begitu mobil sedan hitam Pak Arkan memasuki area lobi keberangkatan. Aku segera turun, berniat mengambil koperku sendiri di bagasi belakang. Namun, baru saja tanganku hendak meraih pegangan koper, tangan kokoh Pak Arkan sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan cepat.
"Biar saya yang bawa. Kamu bawa tas ransel kamu saja," ujarnya datar, lalu menutup pintu bagasi dengan satu hentikan pelan.
Aku mengerjapkan mata, agak terpaku melihat pemandangan di depanku. Seorang dosen killer yang biasanya hanya tahu cara memegang pulpen merah untuk mencoret-coret draf mahasiswanya, kini sedang berjalan santai di sebelahku sambil menyeret koper biru pudar milikku yang jahitannya sudah agak lepas di bagian sudut.
"Pak, beneran gak apa-apa? Saya bisa bawa sendiri kok, sungkan dilihat orang," bisikku setengah berlari menyamai langkah kakinya yang lebar.
Pak Arkan tidak menghentikan langkahnya. Ia hanya melirikku sekilas dari balik kacamata hitamnya. "Di luar kampus, panggil saya Arkan. Jangan pakai embel-embel 'Pak' lagi. Kita mau ke rumah Kakek untuk menikah, bukan mau menghadiri sidang yudisium."
"Tapi... rasanya aneh banget kalau langsung panggil nama," gumamku pelan, meremas tali ranselku dengan gugup. "Gimana kalau Mas aja? Biar gak terlalu kurang ajar kedengarannya."
Langkah kaki Pak Arkan mendadak berhenti tepat di depan pintu masuk pemeriksaan keamanan pertama. Ia berbalik, menatapku lurus-lurus dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Terserah kamu. Asalkan jangan ada kata 'Pak' yang keluar dari mulut kamu selama kita di Jakarta nanti."
Aku hanya bisa mengangguk cepat seperti burung pelatuk. "Iya, Mas Arkan."
Mendengar panggilan barunya dari mulutku, tenggorokan Pak Arkan tampak bergerak seperti sedang menelan ludah. Ia berdeham pendek, lalu segera berbalik dan berjalan mendahuluiku masuk ke dalam area pemeriksaan.
Masuk ke dalam ruang tunggu bandara, aku hanya bisa mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang kehilangan induk. Ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat terbang, dan jujur saja, aku sama sekali tidak tahu alur pemeriksaan tiket ataupun cara mencari gerbang keberangkatan yang benar.
Pak Arkan tampaknya menyadari kebingunganku. Setiap kali aku tertinggal beberapa langkah di belakang karena sibuk menatap papan petunjuk arah yang membingungkan, dia akan memperlambat jalannya, menunggu sampai aku kembali berada di jarak aman di sebelahnya.
"Belum pernah naik pesawat sebelumnya?" tanya Mas Arkan santai saat kami sedang duduk berdampingan di kursi ruang tunggu menunggu panggilan masuk ke pesawat.
Aku menggigit bibir bawahku, merasa agak malu untuk mengakuinya. "Belum, Mas. Biasanya kalau pulang kampung ke rumah Ibu juga cuma naik bus antar kota."
Mas Arkan terdiam sejenak. Ia melirik tas ransel bututku, lalu mengalihkan pandangannya ke arah landasan pacu di luar jendela kaca besar yang menampilkan beberapa pesawat berbadan lebar sedang bersiap lepas landas.
"Tidak usah malu. Semua orang pasti punya momen pertama kali untuk banyak hal," ujarnya dengan nada suara yang kali ini terdengar sangat tenang, tidak ada sedikit pun nada meremehkan di dalamnya. "Nanti saat di dalam pesawat, kalau telinga kamu terasa sakit atau mendengung karena tekanan udara, pakai ini."
Ia menyodorkan sebuah permen lolipop rasa mint dari dalam saku jaketnya ke hadapanku.
Aku menatap permen itu dengan bingung, lalu mendongak menatap wajahnya. "Mas Arkan selalu bawa permen ginian?"
"Kakek yang sering mendadak pusing kalau naik pesawat, jadi saya selalu sedia di saku," jawabnya cepat, agak membuang muka seolah tidak mau ketahuan kalau permen itu sebenarnya sengaja ia beli di minimarket bandara tadi khusus untukku. "Ambil saja."
"Terima kasih, Mas," ujarku tulus, menerima permen itu dengan perasaan yang sedikit menghangat.
Pukul empat sore, panggilan untuk penerbangan kami akhirnya menggema di seluruh penjuru ruang tunggu.
Saat melangkah menyusuri lorong belalai gajah menuju pintu masuk pesawat, jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Begitu masuk ke dalam kabin, hawa dingin AC langsung menyergapku. Kursi kami berada di baris depan, tepat di sebelah jendela.
"Kamu duduk di dekat jendela," ujar Mas Arkan, menunjuk kursi bagian dalam.
Aku segera menggeser tubuhku masuk dan duduk di kursi empuk tersebut, sementara Mas Arkan duduk di kursi sebelah kanan yang berbatasan langsung dengan lorong kabin.
Saat pesawat mulai berjalan perlahan meninggalkan gerbangnya menuju landasan pacu utama, tanganku refleks mencengkeram erat pinggiran kursi. Suara mesin jet yang mulai menderu kencang membuat seluruh badanku mendadak kaku karena ketakutan.
Wushhhh!
Pesawat mendadak melesat dengan kecepatan luar biasa tinggi, membuat tubuhku terdorong kuat ke belakang sandaran kursi. Aku memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani melihat ke luar jendela sama sekali. Di dalam kepalaku, berbagai skenario buruk tentang kecelakaan pesawat yang sering kubaca di berita mendadak berputar-putar tanpa permisi.
"Karin, buka matamu. Tarik napas dalam-dalam," sebuah suara berat yang sangat tenang terdengar di sebelah telingaku.
Aku membuka mata sedikit, masih dengan napas yang memburu. Tanpa sadar, tangan kiriku yang tadi mencari pegangan cadangan kini sudah mencengkeram sangat erat lengan jaket tebal milik Mas Arkan.
Mas Arkan tidak menarik lengannya. Ia membiarkan jemariku yang dingin mencengkeram kuat kain jaketnya, memberikan tumpuan yang sangat kokoh di tengah guncangan lepas landas yang menegangkan bagi pemula sepertiku.
"Pesawatnya sudah stabil. Lihat ke luar," bisik Mas Arkan pelan.
Aku memberanikan diri melirik ke arah jendela di sebelah kiriku. Rasa takutku seketika menguap begitu saja digantikan oleh rasa takjub yang luar biasa. Di bawah sana, kota tempatku kuliah perlahan-lahan mengecil, digantikan oleh hamparan awan putih tebal yang terlihat seperti tumpukan kapas raksasa yang disinari oleh cahaya matahari sore yang keemasan.
"Bagus, kan?" tanya Mas Arkan pelan.
Aku menoleh menatapnya dengan binar mata yang tidak bisa berbohong. "Bagus banget, Mas! Ternyata di atas awan bentuknya kayak gini ya..."
Mas Arkan menatapku yang sedang tersenyum lebar menatap jendela. Untuk pertama kalinya, aku melihat sorot matanya yang biasanya tajam dan menakutkan itu melunak sepenuhnya, menampilkan sisi kehangatan yang belum pernah ia tunjukkan kepada siapa pun di area kampus.
"Iya, bagus," sahutnya lirih, namun pandangannya sore itu tidak tertuju pada hamparan awan di luar jendela, melainkan tepat pada wajahku yang masih terkagum-kagum menatap langit sore.