"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Tatapan di Balik Teratai
Arena Utama Marmer Putih bergemuruh oleh sorak-sorai ribuan penonton dari atas tribun. Di tengah lapangan batu selebar empat ratus meter itu, sekitar lima ratus pendekar muda dari berbagai sekte berbaris rapi menunggu pengundian nomor urut bertanding putaran pertama.
Petugas turnamen membagi peserta ke dalam empat zona tunggu berdasarkan awalan nama sekte.
Secara kebetulan, atau mungkin permainan ironis dari roda takdir, rombongan kecil Sekte Lembah Bambu Biru dialokasikan untuk berdiri di Zona Tunggu Barat, tepat berdampingan dengan barisan delegasi Sekte Teratai Salju.
Hanya jarak tiga langkah batu marmer yang memisahkan barisan Wei Changqing dari barisan para pendekar wanita berjubah sutra putih murni tersebut.
Dan tepat di barisan depan Sekte Teratai Salju, berdiri Shen Yue.
Gadis berusia delapan belas tahun itu memegang sebilah pedang bersarung giok putih di tangan kirinya. Kulitnya seputih salju pegunungan, bibirnya merah alami, dan sepasang matanya jernih seperti mata air di pagi hari. Ada sedikit keanggunan polos dan semangat muda yang belum terkoyak oleh kejamnya peperangan dunia persilatan.
Melihat Shen Yue berdiri hidup, sehat, dan bernapas hanya beberapa jengkal di depannya, pertahanan mental Wei Changqing, yang telah diuji menghadapi ribuan pedang dan bahaya maut—runtuh seketika.
Waktu seolah berhenti berputar di telinga Changqing. Suara sorak penonton di stadion memudar menjadi keheningan sunyi.
Yang ia lihat hanyalah ingatan terakhir di puncak Gunung Langit Menangis enam puluh tahun di masa depan: tubuh Shen Yue yang berlumuran darah tertusuk tombak beracun, senyuman pucatnya saat ia mengembuskan napas terakhir di pelukan Changqing, dan bisikan lirihnya, "Jangan menangis untukku, Changqing..."
Tanpa sadar, langkah Changqing bergeser satu inci ke arah barisan Sekte Teratai Salju.
Sepasang mata hitam pemuda 19 tahun itu menatap lurus ke wajah Shen Yue. Matanya memerah, lapisan air mata bening muncul di pelipis matanya yang berkaca-kaca, memancarkan rasa rindu, kepedihan abadi, dan cinta yang begitu dalam hingga terasa menyayat hati siapa pun yang melihatnya.
Tatapan yang begitu intens dan sarat emosi itu tentu saja tidak luput dari perhatian Shen Yue.
Gadis muda itu menoleh ke samping. Ketika matanya melihat dengan tatapan berair Changqing, tubuh Shen Yue mendadak terkesiap mundur setengah langkah. Jantungnya berdesir aneh, sebuah desiran getaran asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Namun, di dalam benak Shen Yue muda yang berusia 18 tahun, situasi ini sangat membingungkan dan membuatnya merasa canggung.
‘Siapa pemuda dari sekte kecil ini?’ batin Shen Yue heran, alis indahnya sedikit berkerut merasa risih. ‘Kenapa dia menatapku begitu dalam dan menyedihkan? Tatapannya... seolah-olah dia telah mengenalku selama ratusan tahun dan baru saja melihatku mati...’
Melihat adik juniornya ditatap dengan cara yang dianggap tidak sopan oleh seorang pemuda asing dari sekte kecil, Kakak Senior Pertama Sekte Teratai Salju, seorang wanita berwajah dingin bernama Liu Fang—langsung melangkah maju menutupi pandangan Changqing.
"Hei, pemuda dari Lembah Bambu Biru!" tegur Liu Fang tajam dengan mata menyipit. "Jaga sopan santun matamu! Sekte Teratai Salju bukanlah tempat bagi pendekar jalanan untuk menatap adik juniorku dengan tatapan tidak senonoh seperti itu!"
Mendengar teguran keras Liu Fang, Chen Wu dan Zhou Hao di sebelah Changqing langsung menoleh terkejut.
"Changqing! Apa yang kau lakukan?" bisik Chen Wu panik sambil menarik lengan jubah Changqing. "Jangan cari masalah dengan Sekte Teratai Salju di hari pertama turnamen!"
Sentakan tangan Chen Wu mengembalikan kesadaran Wei Changqing.
Changqing berkedip cepat, menghapus sebutir air mata yang sempat menggenang di sudut matanya sebelum jatuh. Ia mengambil napas dalam-dalam, menekan seluruh rasa rindu dan pedih di dalam jiwanya kembali ke dasar niat pedang Nirwana nya.
‘Maafkan aku, Shen Yue,’ batin Changqing menyadari kelancangannya. ‘Aku hampir lupa bahwa bagi dirimu saat ini, aku hanyalah orang asing. Jika aku menarik perhatianmu terlalu cepat, pengintai dari komplotan sesat atau tuan muda sekte sombong yang mengincarmu akan menjadikanmu target bahaya lebih awal.’
Dengan tubuh yang kembali tenang, Changqing menundukkan kepalanya dalam-dalam, membungkuk sembilan belas derajat dengan sikap hormat yang sangat sopan kepada Liu Fang dan Shen Yue.
"Mohon maaf atas kelancangan tatapan saya, Nona-nona dari Sekte Teratai Salju," ucap Changqing dengan suara jernih dan tenang yang bergema lembut.
"Saya sama sekali tidak bermaksud tidak sopan. Wajah Nona tadi... mengingatkan saya pada mendiang adik perempuan saya yang telah meninggal bertahun-tahun lalu akibat bencana perampokan. Saya terkejut dan kehilangan kendali diri saya karena wajahnya sangat mirip."
Mendengar penjelasan yang begitu santun, masuk akal, dan diucapkan dengan nada kesedihan yang tulus, kemarahan di wajah Liu Fang perlahan surut.
"Oh... begitu," Liu Fang mengangguk, sedikit merasa bersalah karena telah membentaknya tadi. "Kami turut berdukacita atas adikmu. Tapi di arena turnamen, tetaplah jaga fokusmu pada pertandingan."
"Terima kasih atas pengertian nya Nona," Changqing membungkuk sekali lagi, lalu sengaja mundur dua langkah ke belakang tubuh Chen Wu, memutus kontak mata sepenuhnya dari barisan Sekte Teratai Salju.
Namun, dari balik bahu Kakak Senior Liu Fang, Shen Yue masih diam-diam mencuri pandang menatap sosok Changqing yang kini menunduk tenang di barisan belakang.
Meskipun pemuda itu sudah memberikan alasan tentang mendiang adiknya, entah mengapa di dalam lubuk hati Shen Yue muncul sebuah tanda tanya besar yang tidak mau hilang. Tatapan pemuda berjubah abu-abu tadi begitu membekas di ingatannya—tatapan yang terlalu berat untuk dimiliki oleh seorang pemuda biasa berusia sembilan belas tahun.
Tenggg!
Lonceng pengundian babak pertama berdentang keras di tengah arena.
"Pengundian Putaran Pertama arena Barat!" seru petugas turnamen membacakan gulungan. "Pertarungan Pertama: Chen Wu dari Sekte Lembah Bambu Biru melawan Gao Tie dari Sekte Besi Berat!"
Chen Wu mencabut pedang putihnya dengan napas teratur, menoleh pada Changqing sekilas untuk meminta dukungan moral. Changqing mengangguk mantap, menepuk pundak Chen Wu memberi isyarat supaya tenang.
Langkah pembuka di arena Lembah Anggrek telah dimulai. Takdir antara dua hati yang terpisah oleh lorong waktu kini telah bersinggungan kembali dalam riak yang halus namun mantap.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏