Zara — gadis sederhana, polos, dan hidup dalam keterbatasan, namun tetap memancarkan keanggunan yang tak dimiliki siapa pun. Dipermainkan takdir, ia dipersatukan dengan Adrian Romanov, pria dingin, berkuasa, dan menjadi sumber segala penderitaannya. Dituduh, disakiti, dan dikucilkan, Zara harus menelan semua kepahitan sendirian. Namun ketika sebutir nyawa tumbuh di dalam rahimnya, semangatnya bangkit kembali. Demi bayi yang dikandungnya, ia berjanji akan bertahan, melewati badai, dan membuktikan bahwa ketabahan akan mengalahkan segala kepalsuan. Akankah takdir berubah, atau justru luka yang semakin dalam menantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecelakaan Doa Penuh Harap , Dan Larangan Dingin Yang Mendadak
Setelah itu kehidupan kami kembali berjalan seperti biasa, sampai tiba suatu hari. Aku pulang dari sekolah seperti biasanya, langsung mencari keberadaan Fara, tapi rumah terasa agak sepi — dia rupanya sudah keluar dan belum pulang. Setelah berganti pakaian dan beristirahat sebentar, aku duduk santai di sofa sambil memainkan ponsel.
Belum lama, layarnya berkedip menampilkan nama Fara. Wajahku langsung berseri, segera mengangkatnya dengan senyum yang sudah terukir. Tapi baru aku ingin menyapa, ekspresiku perlahan membeku lalu berubah kaget — dari seberang sana terdengar suara pria asing, bukan suara Fara. Sebelum sempat aku bertanya apa-apa, sambungan itu tiba-tiba terputus begitu saja.
Tanpa sadar, ponsel itu terlepas dari genggamanku dan jatuh ke sofa, bahkan nyaris menyentuh lantai. Tanganku terasa lemas sekali, seolah seluruh tenaga dalam tubuhku terkuras habis dalam sekejap. Pandanganku mulai kabur, sudut matanya perlahan basah menahan air mata yang ingin tumpah. Baru kemudian terngiang jelas kata-kata terakhir yang sempat terdengar — ternyata itu dari pihak rumah sakit, memberitahu bahwa pemilik nomor ini mengalami kecelakaan dan sedang dibawa ke sana.
Segera aku berlari keluar, suaranya bergetar memanggil supir agar segera berangkat menuju alamat yang disebutkan. Rumah sakit itu memang berada di kota yang sama, meski bukan tempat Ayah dirawat.
Begitu tiba dan bertanya ke bagian informasi, jantungku serasa berhenti berdetak sejenak saat mendengar keterangannya: Fara mengalami benturan cukup keras di bagian kepala, lukanya tergolong parah. Dokter menjelaskan dengan tenang tapi tegas, menyarankan agar operasi segera dilakukan demi mencegah hal yang lebih buruk. Tanpa ragu sedikit pun aku mengangguk setuju — ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawanya.
Sekarang aku hanya bisa duduk menunggu di luar ruang operasi, memeluk lutut sedikit sambil menatap pintu yang tertutup rapat. Air mata mulai menetes perlahan membasahi pipi, setiap detik terasa berjalan lambat sekali. Di dalam hatiku hanya ada satu doa, tatapanku tetap terfokus pada lampu indikator di atas pintu itu, penuh harap agar semuanya berjalan lancar dan Fara bisa kembali selamat.
Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya kabar itu datang: operasi berjalan sukses, Fara sudah dalam kondisi stabil dan tidak lagi terancam bahaya. Rasa sesak di dadaku perlahan melepas, napas yang tertahan selama ini akhirnya bisa keluar panjang dan terasa lega.
Beberapa saat kemudian, aku diizinkan masuk ke ruang perawatannya. Aku duduk pelan di kursi samping tempat tidur, menatap wajah Fara yang masih pucat, perban putih melilit lembut di sisi kepalanya, napasnya teratur tapi masih terasa lemah. Mataku berkaca-kaca lagi, hatiku terasa perih melihat dia terbaring tak berdaya begini.
Belum lama aku duduk di situ, kelopak matanya mulai bergerak perlahan, lalu terbuka sedikit demi sedikit — samar, berat, seolah membutuhkan tenaga besar hanya untuk membuka mata. Begitu melihatnya akhirnya sadar, air mata yang sejak tadi kutahan langsung tumpah deras, tanganku gemetar saat menjangkau dan memegang ujung jari tangannya yang terasa hangat tapi masih dingin. Suaraku terisak pelan, penuh rasa lega dan haru: “Syukurlah… Kak Fara… akhirnya kau sadar juga.”
Fara berusaha mengukir senyum tipis di wajahnya yang masih pucat, lalu berbicara dengan suara yang sangat lemah, nyaris berbisik: “Kenapa kau ada di sini… Pulanglah, jangan diam di sini, sudah terlalu larut malam.”
Aku menatapnya dengan mata yang masih basah, suaraku terdengar lirih penuh kekhawatiran: “Kak Fara, aku ingin tetap di sini… menemanimu.”
Dia menggeleng pelan, mencoba mengangkat satu tangannya sedikit seolah ingin menenangkan, tapi gerakannya masih sangat terbatas: “Jangan. Rumah tidak boleh dibiarkan kosong, kau tahu itu ‘kan? Pergilah saja… aku sungguh sudah merasa lebih baik, tidak apa-apa.”
“Tapi Kak Fara…” suaraku terhenti, hatiku terasa berat sekali ingin meninggalkannya.
Namun Fara menatapku dengan pandangan lembut namun tegas, mengulangi lagi: “Pergilah, percayalah… aku baik-baik saja.”
Aku hanya bisa mengangguk pelan sambil menahan isak, lalu berjanji dengan suara bergetar: “Baiklah… aku janji, besok pagi-pagi sekali aku akan datang kembali.”
Perlahan aku berdiri dari kursi itu dengan langkah yang terasa berat dan enggan, terus menoleh ke arahnya beberapa kali sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruangan itu.
Keesokan harinya, segera setelah semua pekerjaan rumah beres, aku mandi dan mengenakan seragam sekolah dengan rapi, menyisir rambutku sampai licin dan nyaman. Di tanganku kubawa tas punggung serta kotak bekal yang sudah kususun sejak semalam — ada tiga kotak terpisah: satu untuk Ibu, satu lagi untuk Adik, dan satu lagi yang kusimpan paling rapi dan hangat khusus untuk Kak Fara.
Aku berangkat lebih pagi dari biasanya, langsung mampir ke rumah sakit lebih dulu. Berdiri di samping tempat tidurnya, aku menatap wajahnya yang terlihat sedikit lebih segar dibanding semalam, memeriksa pelan perban di kepalanya dan meraba pelan punggung tangannya untuk memastikan suhunya sudah kembali normal. Setelah hatiku merasa tenang melihat dia benar-benar dalam keadaan baik, aku pun berpamitan lembut.
Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit tempat Ayah dirawat, menyempatkan diri sebentar untuk melihat keadaan mereka, menyampaikan kabar singkat agar mereka tak khawatir, sebelum akhirnya melangkah menuju gerbang sekolah dengan langkah yang terasa lebih ringan dan tenang.
Setelah selesai dengan urusan sekolah dan pekerjaan rumah, aku berganti pakaian dengan tenang — mengenakan gaun panjang berwarna hijau lumut bermotif bunga kecil yang lembut, dipadukan dengan kain luar berwarna cokelat pudar yang melayang ringan tertiup angin. Di kepala kuikatkan kerudung renda tipis, dan kalung bintang laut tergantung halus di leherku, membuat rasanya segar dan nyaman untuk berjalan jauh.
Pertama aku melangkah menuju perpustakaan kota, duduk sebentar di sudut jendela yang terkena cahaya lembut, membalik halaman buku sambil sesekali menghirup udara sejuk yang masuk lewat celah jendela. Setelah merasa cukup, aku berjalan santai menuju rumah sakit tempat Ayah dirawat, duduk di samping tempat tidurnya, bercerita pelan tentang hal-hal ringan agar dia merasa tenang dan terhibur.
Baru setelah itu aku berangkat menuju rumah sakit tempat Kak Fara dirawat.
Baru tanganku terangkat hendak memutar gagang pintu ruangan Fara, tiba-tiba pintu itu terbuka sendiri dari dalam. Sosok yang melangkah keluar membuatku membeku di tempat, mataku membelalak tak percaya — ternyata itu Adrian. Dia berdiri tegak, wajahnya dingin tanpa ekspresi, lalu menutup pintu itu pelan tapi mantap tepat di belakangnya.
Di benakku timbul pertanyaan “ sejak kapan dia pulang “
Aku langsung terdiam, tanpa sadar mundur selangkah seolah tertekan oleh aura yang memancar dari dirinya.
Dia baru berjalan dua langkah melewatiku, tanpa menoleh sedikit pun, tanpa melirik ke arahku, suaranya terdengar datar tapi berat menusuk: “Mulai hari ini dan seterusnya… kau tak perlu datang lagi ke sini.”
Jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Aku masih berdiri terpaku menghadap pintu itu, lalu dengan cepat membalikkan badan, suaraku sedikit bergetar menahan kaget: “Apa maksudnya itu?”
Adrian tak mengubah sedikit pun sikapnya, bahunya tetap tegak kaku saat menjawab dingin: “Sudah dengar kan? Kau tak diizinkan lagi ke sini. Sekarang ikut aku pulang.”
Mendengar perintah itu, detak jantungku berpacu kencang, telapak tanganku terasa dingin. Aku menunduk perlahan, rasa tak percaya menyelimuti hatiku, jari-jariku tanpa sadar meremas ujung gaunku hingga terasa sedikit kusut. Meskipun bingung dan gelisah, aku hanya bisa menuruti langkahnya, berjalan mengikuti dari belakang di sepanjang lorong yang terasa makin sunyi.
Di dalam kepalaku berputar ribuan pertanyaan kacau — kenapa dia melarang? Apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu itu? Apa yang sudah dia lakukan pada Kak Fara? Rasa curiga dan marah perlahan mulai membara pelan di dadaku. Sampai tepat saat kami tiba di depan rumah sakit, saat Adrian hendak membuka pintu mobilnya, langkah kakiku tiba-tiba berhenti mendadak, seolah ada yang menahan aku untuk tidak melangkah lebih jauh lagi.