"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Tidak Memiliki Nilai Tukar
Surat keputusan penghentian penyidikan kasus korupsi yayasan Dharma terpampang di layar komputer Savira.
Tinta stempel digital berwarna merah menyala itu seolah menertawakan sisa kewarasannya malam ini. Hanya butuh waktu kurang dari dua puluh empat jam bagi sistem peradilan kota ini untuk bertekuk lutut. Alasan yang tertulis di alinea terakhir dokumen itu sangat memalukan bagi institusi penegak keadilan. Polisi menutup kasus besar ini dengan status kurang bukti material.
Padahal Savira telah menyajikan jejak aliran dana itu seterang lampu sorot jalanan. Rekening cangkang ilegal, tanda tangan asli basah milik Nadia, hingga log IP peladen yayasan telah ia bungkus utuh dalam satu fail anonim.
Namun, kebenaran rupanya tidak memiliki nilai tukar apa pun di hadapan Wijaya Dharma.
Aaron melempar sebuah tablet tipis ke atas meja kaca di depan Savira. Bunyi benturan logam dan kaca itu menarik paksa fokus gadis tersebut dari layar monitor.
"Portal berita nasional menghapus artikel utama mereka empat menit yang lalu," bariton Aaron mengalun berat mengisi ruang apartemen yang dingin. "Tidak ada lagi nama Nadia di kolom pencarian. Algoritma media sosial mendadak dibersihkan dari semua kata kunci yang berhubungan dengan skandal yayasan ayahmu."
Savira meraih tablet itu tanpa banyak bicara. Jari-jarinya terasa dingin menyerupai es saat menggeser layar bercahaya tersebut.
Halaman depan situs berita berganti wujud serentak menampilkan artikel donasi besar-besaran Dharma Group untuk panti asuhan pinggiran kota. Sebuah manipulasi opini publik berskala raksasa yang dieksekusi dengan presisi monster. Publik yang tadi malam menghujat Nadia kini berbalik haluan memberikan simpati buta.
"Tiga auditor independen yang semalam menyita peladen yayasan mendadak mengajukan cuti sakit permanen." Aaron menyandarkan punggung lebarnya pada dinding beton. "Kepala kepolisian baru saja merilis pernyataan resmi kepada stasiun televisi. Mereka mengumumkan bahwa dokumen bocor itu murni hasil peretasan acak dari kompetitor bisnis."
Dada Savira bergemuruh menabrak tulang rusuknya dengan ritme beringas. Udara dari pendingin ruangan di apartemen Aaron gagal menjinakkan panas yang membakar pangkal lehernya.
Rasa tidak berdaya ini mengalir masuk menyumbat saluran pernapasannya. Sensasi ini persis seperti belenggu yang mengikat lehernya belasan tahun lalu. Ia merasa kembali menjadi gadis kecil yang berdiri menyedihkan di sudut ruang makan rumah Dharma. Sekeras apa pun ia berteriak membuktikan kemampuannya, suaranya akan selalu menabrak dinding kedap suara milik sang kaisar.
Kekuasaan Wijaya Dharma terlalu raksasa untuk ukuran manusia normal. Uang pria itu menyumbat urat nadi hukum hingga instrumen negara itu mati lemas kehabisan napas.
Savira merogoh saku celana kainnya perlahan. Ia menekan ujung tajam patahan jepit rambut kayu beraroma melati di dalam sana. Tekanan kuat pada kayu rapuh itu menusuk bantalan ibu jarinya hingga memutih pucat.
Rasa perih sekecil jarum tersebut bertugas menahan kewarasannya agar tidak terlepas. Ia menolak kembali menjadi korban pasif yang menangisi kebusukan takdir.
"Kita meremehkan kecepatan reaksinya," bisik Savira dengan tenggorokan yang terasa kering kerontang. "Dia melenyapkan skandal belasan miliar hanya sambil menyesap teh chamomile di pagi hari."
"Kamu tidak meremehkannya." Aaron melangkah maju memangkas jarak di antara mereka. Matanya yang segelap obsidian menatap lurus ke dalam pupil Savira. "Kamu hanya lupa bahwa monster sosiopat itu tidak bermain dengan aturan moral manusia."
Savira menelan ludah dengan susah payah. Rasa asam lambung naik menyengat pangkal lidahnya, memicu rasa mual yang menuntut untuk dikeluarkan. Ia merogoh bungkus permen stroberi dari saku jasnya, merobek plastiknya kasar, dan memaksa masuk gula artifisial itu ke dalam mulutnya.
Rasa manis buatan itu meleleh di atas lidah, bertarung sengit melawan rasa getir keputusasaan yang meracuni darahnya.
Ia telah menukar darah dan lukanya di gubuk Bidan Kartika demi memastikan skenario ini berjalan sempurna. Ia membayangkan Nadia masuk ke dalam sel tahanan malam ini dengan borgol menembus kulit pergelangan tangannya. Tapi Wijaya membatalkan kiamat putrinya itu seolah sedang membuang lalat kotor dari atas meja makan.
"Ini membuat permainannya menjadi tidak imbang." Kuku Savira menancap semakin dalam di telapak tangannya sendiri.
"Keadilan terstruktur adalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang lemah, Savira." Aaron mengambil gelas kaca kosong di dekat monitor. "Kamu meretas sistem teknologinya dengan brilian. Tapi dia meretas pemilik sistem itu menggunakan uang tunai. Kamu butuh senjata pemusnah massal untuk meruntuhkan kerajaan bisnis yang menopang hidup banyak pejabat kota ini."
Kata-kata dingin Aaron bekerja layaknya guyuran air es di tengah kobaran api. Fakta absolut itu menampar kesadaran Savira telak.
Selama ini ia bergerak membalas dendam murni dengan mengandalkan ingatan peta masa lalunya. Ia merasa berada satu langkah lebih maju karena mengetahui alur kehancurannya sendiri. Tapi kini variabel arena pertarungannya telah berubah wujud menjadi arena berdarah yang asing.
Tindakan agresif Savira memicu reaksi berantai yang tidak pernah terjadi di kehidupan pertamanya. Ia memaksa Wijaya bergerak lebih cepat, lebih brutal, dan sepuluh kali lipat lebih waspada.
Gadis itu menarik napas panjang, menyingkirkan sisa keraguan di otaknya. Ia membuka laci terbawah meja kerja di depannya dengan satu tarikan tegas. Ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit hitam pekat dari kegelapan laci tersebut.
Buku itu berisi pemetaan peristiwa masa depan yang ia rancang sejak hari pertama ia membuka mata kembali ke dunia ini.
Jemarinya meraih pena bertinta hitam pekat. Matanya menatap tajam deretan paragraf rencananya untuk menghancurkan yayasan amal tersebut secara bertahap. Skandal ini seharusnya membusuk selama berbulan-bulan di meja kejaksaan dan meruntuhkan mental Nadia secara permanen.
Kini seluruh draf strategi presisi itu hangus terbakar menjadi abu tidak berguna.
Catatan harian masa depan milik Savira kini dipenuhi coretan silang hitam yang berantakan.
Garis-garis kasar itu menggores permukaan kertas hingga nyaris robek. Coretan itu adalah deklarasi bisu bahwa ia sedang berjalan masuk ke dalam wilayah buta tanpa peta penunjuk arah yang valid. Ia tidak lagi bisa mengandalkan memori masa lalunya untuk membunuh Wijaya.
"Aku akan membalikkan skala permainannya." Savira menutup buku kulit itu dengan bantingan pelan bernada final. Aroma bunga melati menguar kuat dari pakaiannya, menandakan otak jeniusnya sedang bekerja menembus batas maksimal. "Jika sistem hukum kota ini melindunginya, aku akan membiarkan kartel musuh bisnisnya yang mencabik-cabik perut pria itu hidup-hidup."
Aaron hanya mengangguk samar tanpa memberikan senyum persetujuan. Pria itu menyadari batas teritorial fungsionalnya. Ia akan terus menjamin nyawa Savira tidak melayang, menyediakan jalur logistik, dan mengamankan persembunyian ini. Namun eksekusi teka-teki berdarah ini murni bertumpu pada pundak rapuh Savira sendiri.
Di puncak menara utama Dharma Group, hujan badai memukul kaca jendela tebal tanpa memberikan ampun. Ruangan kerja bernuansa kayu mahoni eksotis itu terasa sunyi senyap dan mematikan. Suhu udara diatur pada titik beku terendah, menciptakan hawa steril yang menyerupai kamar penyimpanan mayat.
Wijaya Dharma duduk bersandar rileks di kursi kulit besarnya. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja putih berlengan panjang tanpa satu pun noda noda kotor. Cangkir porselen antik berisi seduhan teh chamomile hangat berada tepat di jangkauan ujung jarinya.
Tidak ada kantung mata atau jejak kelelahan di wajah pria itu meski ia menolak tidur semalaman suntuk. Matanya yang sedingin marmer menatap tumpukan map laporan berwarna hitam pekat di atas meja kerjanya.
Satu krisis besar telah ia selesaikan sebelum matahari terbit. Nama yayasan kembali suci tanpa dosa di mata publik. Nadia, sang putri tiruan yang ceroboh, sedang tertidur di bawah pengaruh obat penenang dosis tinggi di kamarnya yang mewah. Harga saham perusahaan bahkan merangkak naik secara tidak masuk akal berkat rilis berita sumbangan palsu pagi ini.
Uang belasan miliar yang menguap dari brankas rahasianya semalam murni ia anggap sebagai biaya perawatan rutin untuk memperbaiki alat yang rusak.
Pintu ganda ruangannya terbuka mulus tanpa suara ketukan. Seorang pria berjas kelabu gelap melangkah masuk membawa sebuah perangkat penyimpan data seukuran kotak korek api. Pria itu meletakkan benda perak tersebut di samping cangkir teh Wijaya. Ia menunduk memberikan penghormatan mutlak sebelum melangkah mundur dan menghilang dari ruangan.
Wijaya menyambungkan perangkat kecil itu ke tablet portabel di tangannya. Layar seketika menyala, menampilkan rekaman kamera pengawas dari koridor sayap barat rumah megahnya tadi malam.
Lensa kamera itu merekam interaksi singkat antara Nadia dan Savira dengan kejernihan maksimal. Percakapan dua arah yang dipenuhi gestur ketegangan dan subteks tajam. Titik waktu kejadian itu terpaut sangat dekat dengan jam pengiriman dokumen palsu ke meja rias kamar putrinya.
Jari telunjuk Wijaya menggeser layar tanpa getaran. Ia memunculkan laporan pelacakan data dari tim keamanan siber bayangannya.
Serangan mematikan ke peladen yayasan tidak datang dari peretas asing secara acak. Pola peretasan algoritma yang menghancurkan dinding api perusahaannya memiliki struktur DNA komputasi yang sangat identik dengan riset forensik digital milik departemen sains sebuah universitas.
Universitas yang menjadi panggung kebesaran akademik Savira tepat dua puluh empat jam yang lalu.
Pria paruh baya itu menyesap tehnya secara perlahan dan berbudaya. Cairan herbal hangat itu mengalir turun menembus kerongkongannya dengan tenang. Bau floral chamomile berjuang menutupi aroma pembusukan moral yang menempel kuat pada dinding menara korporasi ini.
Tidak ada ledakan kemarahan primitif yang merusak garis wajahnya. Tidak ada makian kasar atau gelas kaca yang dibanting ke lantai untuk menyalurkan emosi.
Anak buangan yang selama belasan tahun hidup menyerupai debu kotor di sudut rumahnya tiba-tiba berani memamerkan taring yang meneteskan racun. Savira tidak sedang menuntut usapan kasih sayang seorang ayah. Gadis muda itu sedang berlatih menyembelih lehernya di ruang terbuka.
Bagi otak sosiopat Wijaya, temuan mengerikan ini bukanlah sebuah ancaman yang memicu kepanikan. Fakta ini justru menjadi sebuah perhitungan nilai investasi baru yang jauh melampaui ekspektasinya. Seekor anjing penjaga yang ganas dan cerdas selalu memiliki harga jual seratus kali lipat lebih tinggi daripada anjing hias yang hanya pandai menggonggong bodoh.