Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.
Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.
"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.
Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus. Berarti kita sepakat."
Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."
Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.
Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?
Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Batas kasur dan harga diri
Malam mulai larut. Setelah makan malam bersama, ayah Tya akhirnya berpamitan untuk pulang. Meski berat, pria itu berusaha tersenyum dan meyakinkan putrinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tya hanya mengangguk pelan dan mengantar ayahnya sampai ke teras. Setelah mobil yang ditumpangi ayahnya menghilang di ujung jalan, ia berdiri di sana beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, perasaan asing itu benar-benar datang. Sekarang, ia tinggal di rumah orang lain, di rumah Faris.
Tya menghela nafas pelan sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian, suara gemericik air terdengar dari dapur.
Tya berdiri di depan wastafel, mencuci piring-piring bekas makan malam. Lengan bajunya sedikit digulung, sementara tangannya bergerak pelan membilas piring satu per satu.
"Tya?" Suara seseorang terdengar dari belakang.
Tya menoleh. Ibu Faris berdiri di ambang pintu dapur sambil menatapnya dengan ekspresi terkejut. "Lho, kok malah cuci piring?" Tanya ibu Faris.
Tya tersenyum kecil, "Biar gak numpuk, Tante."
Ibu Faris langsung mendekat. "Ya ampun, mantu Mama rajin banget." Ujarnya dengan senyum hangat. "Udah sini, biar Mama aja yang kerjain. Kamu pasti capek."
Tya menggeleng pelan, "Enggak apa-apa Tante. Biar Tya aja."
"Serius?"
Tya mengangguk kecil. "Iya, Tante. Lagian Tya juga gak enak kalau cuma numpang tinggal terus gak bantu apa-apa."
Kalimat itu membuat ibu Faris terdiam sesaat, tatapannya mendadak melembut. Perlahan, ia mengusap pelan lengan Tya.
"Kamu gak numpang, sayang," ujar ibu Faris lembut. "Mulai sekarang, ini juga rumah kamu."
Tya sedikit terpaku. Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak di waktu yang bersamaan. Ia hanya mampu tersenyum kecil.
"Terima kasih, Tante."
Ibu Faris membalas senyumnya, lalu menggeleng pelan. Dalam hati, ia semakin merasa kasihan pada gadis di hadapannya. Baru kehilangan ibu, lalu harus menjalani kehidupan baru yang tidak pernah ia minta.
Setelah selesai mencuci dan meletakkan piring-piring itu ke rak, Tya mengeringkan tangannya dengan lap kecil yang diberikan ibu Faris.
"Udah selesai," ujar ibu Faris sambil tersenyum. "Sekarang istirahat, ya. Hari ini pasti melelahkan buat kamu."
Tya mengangguk kecil, "Iya Tante."
Ibu Faris kemudian meraih tangan Tya pelan. "Ayo, Mama antar ke kamar."
Tya sedikit terdiam, lalu mengangguk lagi. Keduanya pun berjalan keluar dari dapur dan menaiki tangga menuju lantai dua.
"Faris itu anaknya sulit diatur," ujar ibu Faris di sela-sela keheningan.
Tya menoleh sekilas, sementara ibu Faris terkekeh pelan. "Dia memang keras kepala sejak kecil."
"Kalau sudah punya pendapat, susah sekali diubah. Kadang Mama sama Papanya saja sampai pusing." Lanjut ibu Faris. "Tapi sebenarnya hatinya baik. Cuma cara penyampaiannya sering, ya begitu."
Tya hanya mengangguk kecil. Ia memandang anak tangga di depannya sejenak, sebelum akhirnya membuka suara. "Iya, Tante."
Jawaban Tya singkat dan terdengar sopan seperti biasa. Ibu Faris melirik Tya sejenak. Sejak datang, Tya memang lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya. Mungkin hari ini benar-benar berat baginya.
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu di ujung koridor lantai dua. Langkah ibu Faris berhenti. Sementara Tya ikut berhenti di sampingnya, menatap pintu di hadapan mereka.
Ibu Faris menoleh ke arah Tya. Wajah gadis itu terlihat tenang, tetapi matanya menyimpan kelelahan yang sulit dijelaskan. Perlahan, tangannya terulur dan mengusap lembut rambut Tya.
Tya sedikit tertegun. Sentuhan itu begitu lembut dan hangat, sama seperti belaian yang selalu ia rasakan dari ibunya. Untuk sesaat, Tya hanya diam. Dadanya kembali terasa sesak.
Sementara ibu Faris tersenyum lembut padanya. "Kalau Faris bikin kamu kesal, bilang saja sama Mama." Ujarnya lembut. "Anak itu memang kadang menyebalkan. Jadi, kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri, ya."
Tya mengangkat pandangannya. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum kecil. "Iya Tante, terima kasih."
Namun sesaat kemudian, Tya terdiam. Tatapannya jatuh sejenak, lalu kembali terangkat. Ada rasa hangat yang perlahan menyelinap di hatinya.
Ibu Faris masih memperhatikan Tya beberapa saat, senyum lembut masih terukir di wajahnya. "Kalau begitu, mau Mama antar sampai masuk ke dalam?"
Tya sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh ke arah pintu di hadapannya, lalu kembali menatap ibu Faris. Lalu ia menggeleng kecil. "Enggak usah, Tante."
Ibu Faris mengangkat sebelah alisnya, "Yakin?"
Tya mengangguk pelan, "Iya, Tya bisa sendiri."
Tatapan Tya melirik pintu itu lagi. Jujur saja, ia tidak yakin sama sekali. Namun rasanya juga tidak enak jika terus merepotkan ibu Faris.
"Baiklah," ujar ibu Faris lembut. "Kalau ada apa-apa, kamar Mama sama Papa di bawah. Jangan sungkan, ya."
"Iya Tante."
Ibu Faris mengusap pelan pucuk kepala Tya sekali lagi sebelum menarik tangannya. "Selamat istirahat, sayang."
Setelah mengatakan itu, ibu Faris pun berbalik dan berjalan menuruni tangga. Tya tetap berdiri di tempatnya. Perlahan, pandangan Tya tertuju pada gagang pintu. Dengan perasaan yang sulit dijelaskan, ia mengangkat tangannya dan menyentuh gagang pintu kamar itu.
Jemari Tya masih bertahan di atas gagang pintu. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikiran justru melayang ke mana-mana. Lalu, ia menghela nafas panjang.
"Serius deh," gumam Tya lirih, nyaris tak terdengar. "Gue beneran bakal sekamar sama tuh anak?"
Tya memejamkan mata sesaat. Bayangan Faris yang selalu membuatnya kesal, satu per satu terlintas di benaknya. Rahang Tya sedikit mengeras.
"Badboy nyebelin itu lagi," gumamnya pelan.
Jujur saja, sampai detik ini semuanya masih terasa tidak nyata. Menikah dengan Faris saja sudah sulit diterima. Sekarang, ditambah harus tidur dalam kamar yang sama dengannya.
"Semoga gue masih waras sampai besok pagi."
Perlahan, Tya menekan gagang pintu. Pintu kamar terbuka pelan. Tatapannya langsung menyapu ruangan di hadapannya. Namun perhatian Tya tidak bertahan lama pada isi kamar. Karena di atas kasur, Faris sedang bersandar santai.
Pemuda itu mengenakan kaos hitam dan celana pendek selutut. Sebelah kakinya ditekuk di atas kasur, sementara tangan kirinya memegang ponsel. Sebuah headphone terpasang di kepalanya. Entah sedang mendengarkan musik atau menonton sesuatu, yang jelas Faris tampak begitu santai.
Tya berdiri beberapa langkah dari pintu, tatapannya tertuju pada Faris. "Ris," panggil Tya dengan nada ketus.
Tidak ada jawaban. Faris bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel. Tya mengernyit, lalu memanggil Faris lagi sedikit lebih keras. "Faris!"
Tetap tidak ada respon. Tya mendengus kecil. Ia melirik headphone yang terpasang di kepala Faris, lalu kembali menatap pemuda itu.
Dengan langkah pelan, Tya mendekat ke sisi kasur. Faris masih belum menyadari kehadirannya. Rasa kesal perlahan muncul. Suasana hatinya sedang tidak karuan, sekarang justru diabaikan.
Tanpa pikir panjang, Tya mengangkat tangan dan menarik salah satu sisi headphone dari telinga Faris.
"Woi Faris!" Nada suara Tya sedikit meninggi.
Faris langsung tersentak. Kepalanya langsung menoleh cepat ke samping, matanya membulat karena kaget. Namun ekspresi terkejut itu hanya bertahan sepersekian detik. Alisnya langsung bertaut, tatapannya berubah tajam.
"Apaan sih?!" Cetus Faris spontan.
Tya langsung menyilangkan kedua tangannya di dada. Dadanya yang sejak tadi penuhi berbagai emosi mendadak terasa semakin sesak. "Kenapa harus lo sih?!" Ujarnya dengan nada kesal.
Tanpa sadar, kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Tya. Faris yang masih memegang headphone di tangannya langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"
"Gue juga gak mau."
"Bagus," Faris mengangkat sebelah alisnya. "Berarti kita sepakat."
Tya mendengus pelan. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada." Ujarnya, lalu memutar bola mata. "Dan satu lagi, gue ogah satu kasur sama lo."
Rahang Faris terlihat mengeras. "Ya gue juga gak mau, kali!"
Keduanya kembali saling menatap, sama-sama kesal. Dan yang paling anehnya, sama-sama tidak punya solusi.
Tya mengusap wajahnya sekilas, "Astaga... Kenapa hidup gue jadi begini?"
Faris langsung menunjuk dirinya sendiri. "Hidup gue juga, kali!" Ujarnya dengan helaan nafas kasar. "Gue kehilangan privasi, kamar, ketenangan, kunci motor. Dan ini semua gara-gara lo!"
Tya langsung mengernyit. "Apa hubungannya?!"
"Ya ada hubungannya!" Ujar Faris tak mau kalah.
"Pokoknya gue gak mau satu kasur sama lo!"
"Bagus. Karena gue juga ogah."
Lalu, keduanya sama-sama diam. Mereka masih saling berhadapan di dalam kamar. Suasana yang tadinya canggung, kini berubah menjadi medan perang kecil.
Faris menghela nafas panjang, "Pokoknya gue tidur di kasur."
Tya menunjuk dirinya sendiri, "Lah gue?"
Faris mengangkat bahu dengan santai. "Ya terserah," ujarnya. "Di karpet kek, kursi kek," tatapannya beralih ke arah pintu kamar mandi. "Di kamar mandi juga boleh."
Mata Tya langsung membulat. "Gila! Lo suruh gue tidur di kamar mandi?!"
Faris mengangkat sebelah alis, "Gue kan cuma ngasih opsi."
"Itu bukan opsi, itu pengusiran!"
Faris lagi-lagi mengeraskan rahangnya, "Emang gue yang nyuruh lo pindah sini?"
Tya langsung kehilangan kata-katanya beberapa saat. Pria di depannya ini benar-benar menyebalkan. "Ya ampun," Tya mengusap wajahnya frustasi. "Gue baru beberapa jam di rumah ini, udah pengen pulang lagi."
"Nice, gue juga dukung," ujar Faris santai sambil mengalihkan kembali pandangannya pada layar ponsel.
"Lo sengaja bikin gue emosi, ya?!" Tangan Tya yang semula bersedekap dada, kini turun ke pinggang.
Faris kembali menoleh, ekspresinya tetap datar. "Lo duluan yang masuk kamar terus ngajak ribut."
Tya menghela nafas kasar, kesabarannya benar-benar mulai menipis. Ia menatap Faris dengan tajam. "Lo cowok, ngalah kek sama cewek!" Ujarnya. "Masa cewek disuruh tidur di karpet, kursi, bahkan di kamar mandi. Lo gak punya perasaan, ya?!"
Mata Faris langsung membulat tidak percaya. Beberapa saat kemudian, ia menunjuk lantai kamarnya dengan telunjuk.
Faris langsung bangkit dari duduknya, "Ini kamar gue," ujar Faris dingin sembari menunjuk sekeliling kamar. "Kamar gue. Dan gue tinggal di sini dari lahir."
"Jadi, suka-suka gue dong!" Tambah Faris.
Tya terdiam, untuk sesaat ia tidak mengatakan apa-apa. Namun wajahnya perlahan berubah masam. Bibirnya mengerucut tipis, sementara alisnya bertaut. Jelas, ia tidak terima.
"Pokoknya gue gak mau!" Ujar Tya kesal.
"Ck!" Faris mengacak rambutnya sekali dengan frustasi. "Oke, fine!" Ujarnya tiba-tiba. "Gue yang di sofa, puas lo?!"
Tya belum sempat mengatakan apa-apa ketika Faris sudah lebih dulu bergerak. Dengan gerakan yang sedikit kasar, ia meraih sebuah bantal di atas kasur. Bantal itu langsung dijepit di bawah lengannya.
Faris lalu berbalik dan berjalan menuju sofa kecil di sudut kamar. Langkahnya terdengar sedikit berat, seolah merasa dijajah di rumahnya sendiri. Sambil berjalan, bibirnya sempat mengomel kecil, "Sial, gini amat hidup!"
Tiba di depan sofa, Faris menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Lalu meletakkan bantal di belakang kepala dengan ekspresi tertekuk.
Tya masih berdiri beberapa saat, menatap tubuh Faris yang kini sudah meringkuk di sofa. Hening, lalu dengan gerakan sedikit kesal, ia berjalan menuju kasur.
Tya menjatuhkan dirinya untuk duduk dengan agak kasar di tepi kasur. Satu tangannya menopang dagu, sementara pandangannya lurus ke dinding. Pokoknya kemana saja asal bukan ke arah Faris.
Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama ketika Tya tiba-tiba berujar, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Faris. "Gila sih," gumamnya pelan. "Dari sekian banyak manusia di dunia ini, kenapa harus lo?"
Faris menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Tanpa menoleh ke arah Tya, ia menjawab datar. "Gue tiap hari juga nanyain hal yang sama."
Tya langsung menoleh. Faris masih mempertahankan posisinya, satu tangan diletakkan di bawah kepala. "Dari sekian banyak cewek di dunia, kenapa malah lo?"
Faris akhirnya menoleh, begitu juga dengan Tya yang menoleh karena tidak terima. Keduanya saling bertatapan untuk sejenak. Lalu hampir bersamaan, keduanya memalingkan wajah lagi ke arah berlawanan.
Setelahnya, kamar kembali hening. Tya menatap dinding di sebelahnya, memikirkan nasib yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Ia menghela nafas pelan. Jujur saja, rasanya ia ingin pulang kembali ke kamarnya.
Sementara Faris mengusap wajahnya kasar dengan satu tangan. Sejujurnya, ia tidak kalah frustasi. Kalau saja kunci motornya tidak disita, mungkin sekarang ia sudah pergi nongkrong ke mana pun. Pokoknya kemana saja asal tidak di kamar ini dan tidak bertemu dengan satu manusia galak yang kini sedang duduk di kasurnya.
Tya akhirnya merebahkan diri di atas kasur. Ia membelakangi arah sofa, menarik selimut hingga sebatas dada.
Di sudut kamar, Faris juga memilih diam. Kedua tangannya kini disilangkan di dada, tatapannya lurus ke arah langit-langit kamar.
Malam tinggal di satu atap pun dimulai dengan cara yang sangat khas Faris dan Tya. Bukan dengan percakapan hangat. Melainkan dengan perang dingin, batas kasur, dan harga diri yang sama-sama tidak mau mengalah.
^^^Bersambung...^^^
Tya : Karena lo gak mampu cari cewek kayak gue 🤣🤣🤣
jangan lupa mampir juga ya. ❤️