NovelToon NovelToon
Headline 29

Headline 29

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lindra Ifana

"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."

Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.

Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.

Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Ajakan Makan Sate

Suasana kafe Senopati masih senyap. Hanya terdengar napas Bella yang terisak sambil memegangi pipinya, dan suara Wisnu yang meringis karena pergelangan tangannya masih dicekal Adrian.

Beberapa kamera pengunjung kafe sudah on merekam, mungkin mereka ingin sesuatu yang heboh untuk diposting di media sosial mereka.

"Gue laporin polisi lo!" ancam Wisnu, tapi suaranya melemah karena genggaman Adrian makin kuat.

Ujung bibir Adrian terangkat sinis. "Silakan,tapi cctv kafe ini on dan semua orang disini menjadi saksinya. Anda yang memulai semua, anda yang terlebih dulu ingin memukul wanita saya. Kami hanya membela diri."

Wisnu terdiam. Barista dan beberapa pengunjung masih mengangkat ponsel dan merekam. Bella menarik lengan Wisnu, berbisik panik. "Udah sayang. Malu. Kita pergi aja."

Mana mau dia jadi bahan berita recehan seperti ini, bisa bisa turun pamornya sebagai wanita tercantik di stand parfum branded tempatnya bekerja.

Dengan satu hentakan, Adrian melepaskan pergelangan tangan Wisnu. "Pergi. Sebelum gue berubah pikiran dan ngajarin b*ngsat kayak elo etika di depan umum."

Tak ada lagi bahasa formal, Adrian berpikir pria seperti Wisnu tak akan paham bahasa sopan.

Wisnu menatap Aurel tajam, lalu meludah ke lantai lagi. "Lo beruntung ada yang belain, Rel. Tapi cewek kaku kayak elo nggak akan ada yang mau lama-lama." Ia merangkul Bella yang masih menangis, lalu bergegas keluar kafe. Seruan huuuuu...dari pengunjung dan pegawai kafe mengiringi langkah mereka.

Aurel masih berdiri mematung. Wajahnya terasa panas, dia baru sadar semua orang sedang menatapnya. Rasa malu, marah, dan lega bercampur jadi satu.

"Kamu enggak apa apa?" suara Adrian pelan, tepat di belakangnya.

Aurel menoleh. Sorot mata yang tadi berapi api itu kembali datar, tapi ada sedikit kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan.

"Aku... aku nggak apa-apa," jawab Aurel. Suaranya serak. "Makasih."

"Jangan makasih dulu," potong Adrian. Ia melirik papan "Pesan untuk Orang Tersayang" di mana tisu laminasi itu masih ditempel. Lalu menatap Aurel lagi. "Keluar. Ngobrol."

"Aku nggak—"

"Keluar sekarang," kata Adrian, memotong. Nadanya bukan perintah kasa tapi lebih seperti... desakan. "Atau kamu mau jelasin ke satu kafe ini kenapa nggak datang seminggu lalu?"

Aurel menghela napas panjang. Ia mengambil tasnya, melirik tisu laminasi itu sekali lagi, lalu berjalan keluar tanpa sepatah kata.

Di luar udara Jakarta malam itu terasa lebih dingin. Mobil Mini Cooper putih Adrian terparkir tepat di depan, sama seperti seminggu lalu. Bedanya, kali ini tidak ada rebutan parkir. Tidak ada adu argumen.

Adrian membuka pintu penumpang. "Masuk."

"Aku bisa naik Gojek," tolak Aurel.

"Bisa banget, tapi nanti. Kita bicara sebentar. Sepuluh menit aja." Adrian menahan pintu tetap terbuka, menatapnya tanpa berkedip.

Aurel akhirnya masuk, tak ia sangka jika malam ini akan bertemu dengan pria tengil itu lagi. Duduk berdua di dalam mobil. Adrian duduk di kursi pengemudi, untuk sesaat mereka saling diam.

"Jadi, sekarang jelasin kenapa kamu nggak datang waktu itu?"

Aurel menatap lurus ke depan. "Aku sibuk kerja. Ada error di data presentasi klien. Direktur nyuruh lembur sampai malam. Lagipula bukan salahku jika kamu nunggu sampai dua jam. Aku nggak pernah bilang janji untuk datang."

"Nggak janji? lya memang kamu nggak janji. Oke aku yang salah," ujar Adrian meraup wajahnya dengan satu tangan. Dia gagal menjadikan dua jam sebagai senjata dramatis untuk menarik simpati wanita disampingnya.

Ia bersandar ke kursi, mengetuk-ngetuk setir dengan jari. "Tapi kamu tahu kan, dua jam itu lama banget. Aku seperti kena serangan jantung. Nunggu kamu rasanya dag dig dug."

"Nggak nanya," sahut Aurel yang sebenarnya ingin tertawa, kata kata Adrian barusan terdengar lucu untuknya.

Tak ada lagi panggilan 'Mbak', sebutan aku kamu terdengar seolah mereka sudah begitu akrab.

"Duduk sendirian dua jam sambil liatin kopi, kayak drama telenovela." Adrian menghela napas. Ekspresi angkuhnya sedikit luntur, berganti dengan lelah. "Aku bukan tipe cowok yang suka nungguin cewek. Tapi entah kenapa...aku rela nunggu kamu."

Kata-kata itu menghantam Aurel lebih keras dari tamparan ke Bella tadi. Ia mengepalkan tangan di pangkuan. "Aku nggak minta kamu nunggu."

"Aku tahu," jawab Adrian cepat. "Bagaimana kalau sekarang aku minta waktu kamu Minggu depan buat hang out bareng? Apa kamu akan langsung setuju, seperti kami setuju diajak hang out sama mas PNS itu?"

Aurel terkejut. "Kamu tahu dari mana soal Bayu?"

"Dita," Adrian tersenyum miring. "Jangan salahin dia, aku yang tanya ke dia seminggu lalu. Dia cerita semua, dia bilang kamu anak tunggal. Sekarang lagi dijodohin sama PNS Bekasi. Kamu nggak suka tapi kami nggak nolak. Betul?"

"Sok tau..."

"Kalau kamu mau pasti dia udah nemenin kamu di kafe tadi, tapi kamu memang nggak pernah punya niat buka hati. Kamu pikir semua pria sama seperti bangsat bernama Wisnu itu,"sahut Adrian sinis. Setengah putus asa.

Aurel terdiam. Rasanya seperti semua pertahanannya dibongkar satu-satu oleh pria ini.

"Aku nggak butuh dikasihani," kata Aurel akhirnya, suaranya kecil.

"Aku nggak ngasihani," balas Adrian. Ia memiringkan kepala, menatap Aurel lekat-lekat. "Aku ngasih tau fakta. Kamu itu cantik, pinter, berani....georgeus.Tadi aja berani nampar cewek jadi jadian yang udah hina kamu. Itu keren. Tapi kamu nggak berani bilang 'tidak' untuk hal yang nggak kamu suka!"

Aurel membuang pandangannya keluar kaca mobil. Hening beberapa detik. Hanya suara AC yang berdengung pelan.

"Jadi sekarang apa maumu?" tanya Aurel. "Mau aku minta maaf karena nggak datang? Baik. Maaf. Puas?"

Adrian menggeleng. Seorang waiter berjalan tergesa ke arah mobil dan mengetuk kacanya. Pria itu membawa satu cup minuman dingin. Bukannya diminum sendiri tapi Adrian memberikan minuman itu kepadanya.

"Kopi dingin" katanya, menyodorkannya ke Aurel. "Sekarang saatnya bayar hutang seminggu yang lalu."

Aurel menatap kopi ditangannya, lalu menatap Adrian. Sorot mata pria ingusan itu kembali tengil. Aura menyebalkan itu membuat Aurel ingin mencubitnya keras.

"Aku nggak janji akan datang lagi," bisik Aurel.

"Bagus," Adrian menyalakan mesin. Suara mesin Mini Cooper halus mengisi kabin. "Janji itu berat. Mungkin lebih baik aku langsung datang kerumah seperti mas PNS itu."

"Apa!? Jangan gila!" seru Aurel, tangannya reflek menepuk keras pundak Adrian. Dan pria itu malah terkekeh.

"Aku memang udah gila sejak pertama ketemu kamu. Gimana kalau kita makan sate di blok M? Kalau kamu takut kamu boleh ajak Dita , kalau perlu ajak lbu. Tapi tidak dengan mas PNS itu."

"Cihh aku nggak takut sama kamu," sahut Aurel sambil menyeruput kopinya pelan. Rasanya manis seperti yang ia suka.

"Aku tahu, aku terlalu tampan untuk disebut menakutkan. Gimana kamu mau makan sate kan? Janji datang kan?"

"Boleh," jawab Aurel, akhirnya. "Tapi nggak usah jemput ke kos. Ketemuan aja di Blok M sekitar jam tujuh."

Adrian tersenyum. Kali ini senyumnya tulus. "Deal. Saya jago menunggu, ingat?"

Setelah bertukar nomor akhirnya mobil Mini Cooper itu melaju pelan meninggalkan Senopati. Di kursi penumpang, Aurel meneguk kopinya sekali lagi, hatinya menghangat. Entah tapi hal ini yang sudah lama ya nantikan, dihargai tanpa harus diminta.

Adrian 'amat sangat' tengil, tapi pria itu tahu bagaimana menghargai wanita.

1
Nur Ahmad
ceritanya ringan, CEO tapi merakyat
Mida
lanjut kak 💪
Nur Ahmad
uhuy jadian
Nur Ahmad
cemburu sama dengan cinta
lia juliati
🤭😄
Mida
lanjut kak jadi penasaran 🤭
Lindra: dukung terus yaaa🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiiirrr😍
Lindra: tengkiuuhhh sayangkuhh🙏🙏
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Lindra: terimakasih dukungannya 🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
🤣🤣🤣
Nur Ahmad
Adrian 😍😍😍
Nur Ahmad
co cuiittt
Nur Ahmad
uhuy kencan nih double A
Nur Ahmad
menunggu memang tak enak
Nur Ahmad
ceritanya lebih ringan dari novel emak kmrn yg aku baca
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
/Applaud/
T.N
sempurna .... semangat kaka suka sekali sama karya-karyanya
Lindra: Terimakasih sudah ikut meramaikan karya emak🙏🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
start disinii
Zul Denayu
Lanjut kak 💪💪🌹🌹🌹
lia juliati
itulah bila hati berkehendak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!