NovelToon NovelToon
Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Anak Kembar Jenius Untuk Sang Mantan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miarosa

"Tanda tangani surat cerai ini atau keluargamu membusuk di penjara!"

​Difitnah atas kejahatan yang tidak dilakukannya, Flossie diusir oleh suaminya, Alfie Kincaid, ke tengah badai malam. Pria itu tidak pernah tahu, Flossie pergi dengan membawa rahasia yang terkunci rapat di dalam rahimnya.

​Lima tahun kemudian, wanita yang disangka telah mati itu kembali sebagai sosok berkuasa yang siap membalikkan keadaan.

​Saat kebenaran masa lalu mulai terungkap satu per satu, Alfie berlutut memohon kesempatan kedua. Namun, sepasang mata dingin sang mantan istri menatapnya tanpa emosi.

​Apakah Alfie sanggup membayar harga dari sebuah pengkhianatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Alfie menatap layar tablet milik Troy yang masih berkedip merah. Penolakan publik dari Xavier Ellis belum selesai memukul egonya dan sekarang seseorang tak kasat mata di Paris secara terang-terangan melumpuhkan akses kenyamanannya.

​"Cari apartemen swasta atas nama anak perusahaan Kincaid!" bentak Alfie.

"Jangan sampai ada media yang tahu CEO Kincaid Group terlunta-lunta di Paris hanya karena masalah sistem hotel!"

​"Baik, Pak. Saya sedang mengontak agen properti internal kita di Paris," sahut Troy cepat.

Jemarinya gemetar mengetik pesanan baru di ponselnya.

"Jet kita akan mendarat di Bandara Le Bourget dalam dua puluh menit."

​Alfie menatap tajam ke luar jendela, menembus hamparan awan gelap yang menyelimuti langit Prancis.

"Siapa pun yang bermain-main di belakang layar ini, aku akan menemukan mereka dan desainer bernama Emma Ellis itu, dia akan membayar mahal untuk setiap detik penghinaan ini."

***

Di ruang tengah, Emma berdiri di depan cermin rias utama. Ia mengenakan gaun malam panjang berwarna hitam pekat buatan rumah mode haute couture Paris. Gaun itu memeluk siluet tubuhnya dengan sempurna dan dihiasi aksen garis platinum di sepanjang punggungnya yang terbuka anggun.

Di lehernya, melingkar salah satu mahakarya terbaiknya, kalung berlian The Dark Willow yang memancarkan kilau dingin nan misterius.

Sebuah topeng pesta berduri halus berlapis ukiran platinum mengilap menutup area mata hingga tulang pipinya dan menambahkan aura keanggunan yang penuh teka-teki.

Di sudut ruangan, Leon yang mengenakan tuksedo mungil hitam tampak sibuk mengoleskan kancing jasnya dan membetulkan letak topeng perak kecil berdada burung elang yang menutupi separuh wajahnya.

Sementara Leah terlihat menggemaskan dengan gaun sutra merah muda berlapis renda yang mengembang indah dipadu topeng renda putih tipis berhiaskan mutiara mungil di sudut matanya.

​Xavier melangkah masuk ke dalam ruangan yang mengenakan tuksedo hitam yang dijahit rapi serta topeng kulit hitam bergaya klasik Venetian. Pria itu menatap Emma dan kedua anak kembar itu dengan binar kepuasan.

​"Kalian bertiga tampak memukau," puji Xavier lembut.

"Malam ini adalah Masquerade

Grand Gala Bijoux di Musée Des Arts Décoratifs. Seluruh elite Eropa akan hadir mengenakan topeng terbaik mereka untuk melihat koleksimu, Emma."

​Emma mengusap liontin berlian di lehernya dan tersenyum tipis tanpa kehangatan.

"Malam pesta topeng adalah panggung yang sempurna, Xavier. Di balik kemewahan samar ini, mereka tidak hanya berburu berlian, tetapi juga memburu bayangan Emma Ellis."

"Dan kamu siap memberikan bayangan itu kepada mereka?" tanya Xavier sembari menyodorkan sarung tangan sutra hitam panjang untuk Emma.

​"Aku siap," jawab Emma mantap.

Ia mengenakan sarung tangan itu dengan gerakan yang sangat anggun.

"Dan Leon sama Leah ikut kan, Mama?" celetuk Leah riang sambil berlari kecil menghampiri Emma lalu memeluk pinggang ibunya dengan manja.

"Leah mau lihat lampu-lampu kristal yang banyak dan orang-orang bertopeng!"

"Tentu saja, Putri Kecil," sahut Emma sembari membelai lembut rambut Leah.

Tatapannya kemudian beralih pada Leon yang berdiri tenang di samping Xavier sembari memegang tablet khusus berenkripsi militer di tangan kecilnya.

"Leon, pastikan kamu tidak lepas dari jangkauan Paman Xavier atau Paman Kevin nanti."

​"Tenang saja, Mama," sahut Leon datar.

"Sistem pemantauan di pameran sudah tersambung ke tablet milikku tidak akan ada yang bisa mendekati Mama tanpa izinku."

​Tiba-tiba Kevin yang juga sudah siap dengan setelan resmi dan topeng hitam simpel melangkah cepat mendekati pintu ruangan dengan ponsel terenkripsi di tangannya.

​"Tuan Xavier, Nyonya Emma," panggil Kevin dengan tenang.

"Laporan dari tim pemantau di Bandara Le Bourget menyebutkan jet pribadi Alfie Kincaid baru saja mendarat dan seperti yang sudah kita perkirakan melalui koneksi diplomatiknya, Alfie berhasil mengamankan kartu undangan VIP untuk Masquerade Grand Gala Bijoux malam ini."

​Emma sama sekali tidak terkejut. Senyuman dingin nan anggun justru terukir semakin jelas di bibir merah tuanya. Ia membetulkan letak sarung tangan sutra hitamnya tanpa sedikit pun keraguan di raut wajahnya.

​"Sesuai dugaan," bisik Emma.

Suaranya sarat akan keangkuhan seorang ratu.

"Alfie tidak akan pernah membiarkan egonya terinjak tanpa mencoba membalas. Pesta topeng ini justru menguntungkan kita. Biarkan dia berputar-putar di antara kerumunan tamu bertopeng dan mencari bayangan tanpa pernah menyadari siapa yang berdiri di depannya."

​Xavier menatap Emma dengan binar kagum, lalu beralih merangkul bahu kecil Leon dan menggandeng tangan Leah.

"Dia datang untuk memburumu, tapi dia tidak tahu bahwa dialah yang sedang berjalan masuk ke dalam sarang jebakan kita. Aku dengar dari Kevin semua reservasi hotelnya semuanya dibatalkan secara misterius, bahkan hal itu tidak menghalanginya untuk hadir di Masquerade Grand Gala Bijoux malam ini."

"Seperti gangguan kelistrikan di gedung Kincaid. Itu cukup aneh dan seperti ada seseorang yang sengaja melakukannya."

"Mama jangan takut, ya," bisik Leah mendongak, matanya yang bulat berbinar penuh rasa percaya.

"Kalau pria jahat itu macam-macam, Leon bisa bikin komputernya mati lagi!"

Emma menghentikan jemarinya yang sedang merapikan gaun renda Leah. Kalimat polos yang baru saja meluncur bebas dari bibir mungil putrinya seketika menghantam kesadaran Emma bagaikan petir di siang bolong.

​Ia membeku dan matanya melebar dari balik topeng platinum yang dikenakannya.

​"Mati lagi?" ulang Emma dengan suara bergetar, menatap Leah dan Leon bergantian.

"Leah, apa maksudmu dengan mati lagi ?"

​Leah seketika membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan kecilnya. Mata bulatnya berkedip-kedip panik, menyadari ia baru saja membocorkan rahasia besar kakak kembarannya. Ia melirik pelan ke arah Leon yang berdiri di samping Xavier.

Leon menarik napas pendek dari balik topeng peraknya. Anak itu tetap bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa, meskipun raut mukanya sedikit mengencang.

​Emma berdiri perlahan dan menatap putra kecilnya yang baru berusia empat tahun itu dengan pandangan tak percaya. Berbagai potongan teka-teki mendadak tersusun rapi di kepalanya mulai dari gangguan kelistrikan di gedung Kincaid London hingga pembatalan massal reservasi hotel Alfie di Paris secara misterius.

​"Leon," bisik Emma.

Suaranya dipenuhi campuran antara syok, cemas, dan rasa takjub yang luar biasa.

"Lampu gedung Kincaid dan reservasi hotel Alfie, kamu yang melakukan semua itu?"

​​Xavier yang berdiri tak jauh dari mereka, menaikkan sebelah alisnya. Sebuah senyuman tipis nan penuh arti terukir di wajah pria itu saat ia menatap Leon yang menyadari betapa jauhnya kejeniusan siber keponakan kecilnya itu telah berkembang.

​Leon mendongak dan menatap mata ibunya.

​"Aku cuma memberi pelajaran kecil untuk pria yang membuat Mama menangis," sahut Leon datar tanpa penyesalan sedikit pun. "Dia tidak boleh menyakiti Mama lagi."

Emma terpaku dan memegangi dadanya yang bergetar. Rasa haru dan keterkejutan bercampur menjadi satu dan menyadari kedua anak kembar yang dilahirkannya di tengah badai salju itu telah tumbuh menjadi benteng pelindung paling tangguh dalam hidupnya. Ia memeluk kedua anaknya, lalu berdiri menghadap cermin.

Emma menarik napas dalam-dalam dan menatap pantulan dirinya dan kedua anaknya di dalam cermin.

"Malam ini di balik kemegahan pesta topeng paling bergengsi di Paris, Alfie Kincaid akan menyusuri kegelapan yang diciptakannya sendiri."

1
tia
lanjut thor
sunaryati jarum
Lega Flossie dan kedua bayine selamat dan sehat
sunaryati jarum
Semoga berhasil dalam.karir dan membesarkan dua anakmu Flossie
sunaryati jarum
Jangan kesuksesan kamu terbuka Emma
sunaryati jarum
Dendammu jangan sampai.membuatmu jadi monster tapi jadi wanita tangguh yang berkualitas
sunaryati jarum
Pembalasan baru dimulai dengan.penolaksn pembelian desain
sunaryati jarum
Good job ternyata kamu punya.keahlian desain perhiasan Flossie semoga sukses dengan bimbingan Xavier
sunaryati jarum
Penyesalan kamu makin dalam.Alfie apalagi jika kebenaran tentang teh herbal dan foto
sunaryati jarum
Flossie semangat demi kedua janin di rahimmu dan membalas perlakuan Madam Willa dan Alfie
sunaryati jarum
Berarti.foto- foto editan perselingkuhan Flossie itu kerjasama Wiila dan Nadia
sunaryati jarum
Xavier mafia dan musuh Kincaid
sunaryati jarum
Kau cari sepanjang sungai sampai muara laut tidak akan ketemu,Alfie
sunaryati jarum
Ada maksud lain Xavier menolong kamu
sunaryati jarum
Setelah tidak terlihat menyesal
sunaryati jarum
Semoga bayimu kuat seperti kamu Flossie
sunaryati jarum
Akhirnya dapat pertolongan
sunaryati jarum
Kuat dan jadi orang hebat Flossie
sunaryati jarum
Kuat dan tabah semoga kau menemukan kesuksesan bersama anak yang kau kandung Flossi
sunaryati jarum
Baru mampir
Miarosa: makasih sdh mau mampir 😍
total 1 replies
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
ditunggu lanjutannya kk 💪
Miarosa: sudah lanjut ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!