Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.
Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.
Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.
Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.
Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.
Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.
Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
009
Atmosfer di dalam kamar pengantin yang seharusnya dipenuhi oleh kehangatan dan gairah asmara malam pertama kini telah bermutasi total menjadi medan perang yang mencekam.
Kilat amarah di mata Killian Vale-Knight beradu dengan ketakutan yang perlahan bertransformasi menjadi kilatan bertahan di dalam manik mata Michaela.
Killian melangkah maju, merenggut kerah kemejanya sendiri hingga dua kancing teratasnya terlepas, menampilkan urat-urat lehernya yang menegang menahan gejolak emosi yang membakar dada.
Dia menatap Michaela dengan pandangan merendahkan, seolah wanita di hadapannya tidak lebih dari seonggok barang yang siap dia hancurkan.
"Buka bajumu," perintah Killian, suaranya rendah namun bergetar oleh tekanan emosi yang masif.
Michaela tersentak, dia refleks menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mencengkeram kain gaun pengantin putihnya yang mewah.
"Apa yang kau lakukan, Killian?!"
"Apa yang kulakukan?" Killian mendengus gila, melangkah hingga ujung sepatunya membentur pinggiran ranjang.
Dia membungkuk, mencengkeram kedua pergelangan tangan Michaela dengan satu tangan besarnya, menguncinya di atas kepala wanita itu dengan kekuatan yang mutlak.
"Bagaimana sebuah pernikahan elite bisa berjalan dengan lancar dan tampak sempurna di mata dunia kalau kita tidak menjalani malam pertama, hm? Bukankah kelompokmu sangat ahli dalam hal ini? Menjual tubuh dan pesona mawar kalian demi menguras isi dompet para pria?"
Wajah Killian hanya berjarak beberapa senti dari wajah Michaela, embusan napasnya yang memburu terasa panas di kulit pipi Michaela.
"Sudah kukatakan padamu, Cecilia... hidupmu di rumah ini akan kubuat seperti neraka yang berjalan. Aku akan menyiksamu perlahan, menguliti semua kesombonganmu, sampai kau memohon ampun di kakiku. Baru setelah aku puas melihatmu hancur tak bersisa, aku sendiri yang akan menyeretmu dan mengembalikanmu ke hadapan Madam-mu dalam keadaan cacat."
Mendengar rentetan kalimat keji itu, sesuatu di dalam diri Michaela mendadak putus.
Rasa takut yang sempat melumpuhkannya beberapa menit lalu menguap, digantikan oleh gelombang adrenalin yang familier.
Jiwa jalanan Michaela Hokked—jiwa seorang gadis yang tumbuh di bawah tendangan dan makian ayahnya, seorang pejuang yang harus mencakar dan menggigit demi sepotong roti di San Francisco—akhirnya bangkit sepenuhnya.
Topeng kelembutan, suara halus, dan gestur anggun milik Cecilia Lynch yang selama ini dia tiru dengan susah payah, dilepaskannya begitu saja.
Michaela mengeluarkan taringnya. Dia tidak lagi berpura-pura menjadi wanita lemah yang akan menangis memohon belas kasihan.
Dengan satu sentakan kaki yang terarah, Michaela menghantamkan lututnya ke arah perut Killian.
Serangan mendadak itu membuat Killian terkejut dan refleks melonggarkan cengkeraman tangannya untuk mundur satu langkah.
Michaela langsung melompat turun dari ranjang, berdiri dengan napas terengah-engah, menatap pria terkaya di Los Angeles itu dengan tatapan mata yang tajam, dingin, dan penuh dengan untaian dendam yang membara.
"Menyingkir dariku, Brengsek!" desis Michaela, suaranya tidak lagi lembut melainkan serak dan penuh penekanan yang berbahaya.
"Kalau kau memang ingin mengirimku ke neraka, lakukan dengan caramu yang lain! Tapi jangan pernah coba-coba menyentuh kulitku dengan tangan kotormu itu!"
Killian berdiri tegak kembali setelah rasa terkejutnya hilang.
Bukannya marah karena diserang, pria itu justru menatap Michaela dengan binar mata yang semakin menyala, seolah dia baru saja menemukan fakta baru yang menarik dari mainannya.
"Wah... lihat ini," Killian bertepuk tangan pelan, langkahnya kembali bergerak perlahan memutari Michaela seperti seekor serigala yang mengitari mangsanya.
"Kau akhirnya mengeluarkan taringmu yang asli, Cecilia. Aku benar-benar takjub dengan hasil didikan kelompok kalian. Jadi ini dirimu yang sebenarnya? Kasar, bermulut kotor, dan agresif? Luar biasa. Sepertinya aku benar-benar harus mendatangi Madam-mu secara langsung, hanya untuk mengucapkan terima kasih karena telah menampung dan melatih wanita murahan sepertimu hingga bisa menipuku dengan begitu rapi selama berbulan-bulan."
Killian berucap demikian demi menutupi luka yang menganga lebar di dalam hatinya.
Demi Tuhan, Killian Vale-Knight tidak sedang mengemis atau sakit hati karena nominal uang jutaan ribu dolar yang telah dia habiskan untuk membiayai wanita ini.
Harta keluarganya tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena ditipu dalam jumlah segitu.
Namun, yang membuat jiwanya hancur dan dipenuhi dendam sekutu adalah rasa cinta.
Rasa cinta yang begitu tulus, murni, dan pertama kali dia berikan pada seorang wanita setelah bertahun-tahun menutup diri, ternyata dikhianati dengan cara yang paling menjijikkan.
Dia merasa seperti orang tolol, seperti sampah yang jatuh cinta sendirian pada sebuah fatamorgana yang diciptakan oleh sindikat kriminal.
Menikahi wanita ini hanya untuk mengurungnya, menghukumnya setiap hari, bahkan menyiksanya jika perlu, itu semua belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit hati yang mencabik-cabik dada Killian saat ini.
"Buka," perintah Killian lagi, suaranya kembali datar namun penuh otoritas mutlak yang tak terbantahkan. "Kubilang buka gaunmu sekarang juga, Cecilia. Jangan membuatku kehilangan kesabaran dan merobeknya dari tubuhmu."
Killian melangkah maju satu kali lagi, tangannya terulur untuk mencengkeram bahu gaun Michaela.
Namun, Michaela bergerak lebih cepat.
Jiwa jalanannya tahu bagaimana cara memanfaatkan keadaan di dalam ruang sempit.
Dia melangkah mundur dengan tangkas, meraih sebuah guci keramik antik bermerek Gucci yang berdiri di atas meja nakas di samping tempat tidur.
Guci berbobot cukup berat dengan aksen emas itu dia angkat tinggi-high dengan kedua tangannya, mengarahkannya tepat ke arah kepala Killian.
"Sentuh aku sekali lagi, Brengsek," desis Michaela, matanya melebar dengan kilatan nekat yang luar biasa nyata.
Napasnya naik turun dengan cepat, memotong keheningan di antara mereka.
"Kupastikan guci Gucci ini melubangi kepalamu malam ini juga!"
Killian menghentikan langkahnya seketika. Tubuhnya membeku.
Pria itu terdiam bukan karena dia takut dengan sebuah guci keramik di tangan seorang wanita.
Dia terdiam karena dia melihat sesuatu yang salah di dalam sepasang mata Cecilia.
Selama penyelidikan yang dilakukan oleh saudara kembarnya, Millian, berkas tentang Cecilia Lynch menyebutkan bahwa wanita itu adalah seorang sosiopat yang elegan—seorang penipu yang menggunakan manipulasi psikologis, tangisan palsu, dan rayuan maut untuk melarikan diri dari situasi sulit.
Cecilia Lynch tidak pernah menggunakan kekerasan fisik yang mentah.
Dia tidak akan pernah berteriak kasar seperti seorang preman jalanan, dan dia pasti tidak akan memiliki keberanian nekat untuk mengancam akan memecahkan kepala seorang Vale-Knight dengan guci berat.
Tatapan mata Cecilia saat ini adalah tatapan mata seseorang yang sudah terbiasa berhadapan dengan kematian.
Seseorang yang tahu bagaimana rasanya memukul dan dipukul hingga berdarah.
Itu adalah tatapan mata yang liar, gelap, dan penuh dengan insting bertahan hidup yang sangat primitif.
"Kau..." Killian menyipitkan matanya, menatap lurus ke dalam manik mata Michaela, mencoba mencari sisa-sisa kebohongan atau taktik manipulasi yang biasa digunakan oleh anggota Madam's Roses.
Namun, dia tidak menemukan apa-apa selain nekat yang murni.
Pria itu tertegun dalam keheningan yang mencekam, merasakan ada sesuatu yang janggal yang belum bisa dia jelaskan dengan logika.
Michaela tidak menurunkan gucinya sedikit pun. Dia tetap berdiri kokoh dengan posisi siap menghantam, meskipun lengannya yang lemah akibat koma mulai terasa pegal dan bergetar halus.
"Aku tidak peduli siapa yang kau maksud dengan Cecilia atau Madam-mu itu," ucap Michaela dari sela giginya yang merapat, memberikan gertakan yang membuat atmosfer kamar semakin mendingin.
"Tapi jika kau berpikir kau bisa memperlakukanku seperti pelacur murahan yang bisa kau sentuh sesukamu hanya karena selembar kertas pernikahan ini... kau salah besar, Tuan Vale-Knight yang terhormat. Aku lebih baik mati sambil menyeretmu ke liang kubur daripada membiarkanmu menjamahku!"
Keheningan kembali merayap, tebal dan mengintimidasi.
Killian tetap berdiri di tempatnya, menatap lekat-lekat pada wanita yang kini resmi menyandang status sebagai istrinya, menyadari bahwa permainan kucing dan tikus di antara mereka ternyata jauh lebih rumit dan berbahaya dari apa yang tertulis di atas kertas laporan saudaranya.
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨