Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Patroli Pertama
Cahaya misterius sesekali masih terlihat terlebih saat generator pos kembali mati beberapa detik, cahaya itu terlihat jauh lebih terang.
Baskara masih memperhatikan dengan saksama.
"Komandan, mohon petunjuk! Tim Bravo berjaga di luar pos, mereka siap mengejar dengan satu kali perintah langsung dari Anda," ucap Kopral Jagra.
Baskara mengamati. Ia berpikir, menimbang, dan mengukur segala kemungkinan. Ia pun menoleh menatap Kopral Jagra.
"Kita lihat esok pagi," ucap Baskara tegas.
Kopral Jagra merasa terkejut dengan keputusan Baskara. Baginya, bisa saja musuh mendadak menyerang mereka jika jaraknya terlalu dekat, seperti saat ini.
"Komandan?"
Tak berselang lama, cahaya itu menghilang.
Baskara menoleh, menatap Kopral Jagra dan beberapa prajurit yang bertugas jaga di pos itu.
"Tidak ada patroli malam," ucap Baskara tegas.
Kopral Jagra menatap nanar. "Kenapa?"
Wajahnya tampak sangat kecewa.
Baskara membuang napas kasar. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan pandangan masih mengamati ke tempat asal cahaya yang terlihat tadi.
"Kita akan patroli esok pagi."
"Ndan, musuh di depan mata! Kita bisa kejar sekarang!"
Baskara menggeleng tegas.
"Terlalu beresiko! Kita bisa mengejar mereka malam ini, tapi saya tidak bisa menjamin mereka yang mengejar akan kembali esok hari!"
Ia pun meninggalkan pos penjagaan dan kembali ke barak. Sementara Kopral Jagra menatap kepergiannya dengan sorot mata jengah. Baginya, ini adalah kesempatan mengejar musuh. Ia bahkan sangat yakin akan bisa menjangkau musuh malam ini, tapi keputusannya tidak sesuai dengan yang diharapkan Kopral Jagra.
Ia membuang napas kasar. Membuang rasa penat dan kesal di dada. Salah satu anggota yang berjaga di pos pun bertanya, "Tim Bravo melaporkan siap jalan, Pak," ucapnya.
Jika sebelumnya, Kopral Jagra diberi tanggung jawab pemimpin operasi lapangan oleh komandan pos karena kemampuannya dan pengenalan medan yang lebih baik dari orang lain. Ia dapat dengan mudah mengambil keputusan langsung. Terlebih hanya memeriksa soalan seperti ini.
"Hah! Sampaikan saja, tidak ada patroli malam. Kau dengar sendiri tadi perintah komandan itu," ucap Kopral Jagra malas.
Radio berderik. Salah satu anggota tim Bravo melakukan sambungan komunikasi.
"Pak Jagra, kami siap jalan. Menunggu perintah."
Kopral Jagra mengambil alih alat komunikasi radio itu. Ia menatap lurus ke arah cahaya yang kini sudah tidak lagi terlihat. Ia pun kembali membuang napas kasar.
"Perintah komandan tidak ada patroli malam."
***
Baskara duduk di ruang makan. Ia baru saja menyeduh mie instan dalam cup sembari membentangkan peta Pegunungan Maros di atas meja. Baskara mulai mempelajari letak lokasi dan menghitung jarak tempuh berdasarkan skala pada peta tersebut.
Baskara juga mulai membagi jadwal jaga pos dan jadwal patroli prajuritnya. Baskara mendongak saat salah seorang prajurit mengenakan apron berdiri di hadapannya sembari membawa nampan.
"Izin, Komandan, ini makan malam kami. Tadi saya tidak lihat komandan saat waktu makan. Jadi, saya bawakan makan malam Anda," ucapnya ramah.
Baskara mengangguk. Satu menu sederhana terangkai di atas meja. Satu piring nasi, sayur gulai daun singkong, telur dadar gulung dua potong. Tidak ketinggalan satu gelas teh panas.
"Terima kasih, Prada Fahmi."
Baskara kembali memfokuskan pandangan pada peta dan pekerjaannya sebelum menyantap makan malamnya yang sudah dingin.
Baskara terkejut manakala ia melihat Kapten Aga sudah berdiri di hadapannya dengan membawa secangkir kopi panas. Kapten Aga duduk di hadapan Baskara seraya menatap pekerjaan anak buahnya itu.
"Duduk, Bas. Santai saja."
Baskara duduk usai memberi hormat.
"Izin, ada petunjuk, Kapten?"
Kapten Aga menatap Baskara dengan saksama. Ia mengambil napas dalam sebelum membuangnya seraya meniup perlahan kopi yang masih mengepul itu.
"Baru saja aku dapat laporan dari Kopral Jagra, katanya ada cahaya di seberang gunung."
Baskara diam.
"Siap, benar," jawabnya singkat. "... tapi saya tidak perintahkan mereka untuk memeriksa," lanjut Baskara.
Kapten Aga menatap anak buahnya, lalu mengangguk paham.
"Izin, jika keputusan saya salah, saya bersedia di hukum, Komandan."
Kapten Aga tertawa pelan. Ia menggeleng beberapa kali.
"Saya sudah pernah sampaikan padamu, kamu harus siap dengan segala konsekuensi dan resiko dari setiap keputusan yang kamu ambil. Saya tidak menyalahkanmu karena saya tahu, kamu pasti sudah mempertimbangkan langkah terbaik.
"Saya ingat, waktu saya tertembak sniper di Kepulauan Kumbaya empat tahun lalu. Kamu adalah satu-satunya orang yang menyeret saya kembali. Kamu mempertaruhkan nyawamu demi membawa saya pulang. Saya paham, kenapa kamu mengambil keputusan ini sekarang. Namun, perlu saya ingatkan sekali lagi, ini medan perang, Bas. Apapun bisa terjadi dan jika hal paling buruk itu benar-benar terjadi, semua diluar kendalimu."
Baskara menatap Kapten Aga. Sejenak ia menahan napasnya. Ingatannya segera beralih pada kejadian empat tahun yang lalu.
"Istirahatlah. Besok patroli pertamamu," ucap Kapten Aga sebelum melangkah pergi.
Baskara membereskan barang- barangnya dan membawa nampan berisi piring kosong itu ke dapur. Baskara pun kembali ke kamarnya. Horas sudah terlelap. Baskara melepas pakaian lorengnya dan merebahkan diri di atas ranjang. Ia menyentuh gelangnya seraya menatap langit-langit barak.
Esok patroli pertamaku, Aira. Maaf sampai saat ini aku belum bisa menghubungimu, batin Baskara.
***
Terompet sangkakala berbunyi tepat pukul 04.00. Udara dingin menyelimuti. Rasa-rasanya satu selimut tidak cukup untuk menghalau tubuh dari udara dingin ini. Baskara bangkit dari tidurnya. Ia membasuh wajah dengan air yang seketika membuat kantuknya hilang karena dinginnya air seperti es.
Baskara mengenakan seragam lorengnya. Ia mempersiapkan barang-barangnya dengan ransel tempurnya. Ia melemparkan bantal pada Horas yang masih terlelap.
Horas mendengus, kesal. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi ia tidak mengeluh dan membuang waktu. Pria itu bangun, membasuh wajah dengan air, lalu bergabung dengan Baskara membereskan ransel tempurnya.
Apel pagi pun dilakukan di lapangan sederhana. Kapten Aga memimpin apel dan menyampaikan agenda kegiatan hari ini.
Patroli pertama.
Ia juga menyebutkan prajurit yang mengikuti patroli pertama ini. Selebihnya, daftar nama itu sudah tertempel di papan pengumuman dekat barak prajurit.
Baskara mengumpulkan prajurit yang bertugas patroli hari ini, termasuk Kopral Jagra. Baskara memberikan kesempatan pada Kopral Jagra untuk menjelaskan lokasi dan rute patroli.
"Pertama-tama, kita akan mengunjungi Kampung Akei dan Yakome, lalu ambil jalur barat untuk mengecek lokasi keberadaan cahaya semalam. Bagaimana, Komandan?" tanya Kopral Jagra meminta pertimbangan.
Baskara mengangguk. "Sekalian ke Kampung Lore."
Kopral Jagra mengangguk paham. Patroli pun di mulai. Prajurit berjumlah tujuh orang dengan satu dokter militer yang ikut serta memulai perjalanan mereka. Sengaja tidak menunggu matahari terbit dan waktu sarapan pagi agar saat kembali nanti, hari belum terlalu gelap.
"Kita akan beristirahat di Kampung Akei," ucap Baskara tegas yang segera disambut kata siap oleh seluruh tim.
Jaraknya delapan kilometer dari pos. Mereka berjalan pelan, menyusuri jalan setapak, masuk ke hutan. Perlahan-lahan cahaya matahari mulai menyusup di antara semak-semak. Kabut mulai samar dan jalanan mulai terlihat semakin jelas. Baskara tersenyum, keindahan alam dan pemandangan di tempat ini tidak akan ia dapatkan di kota-kota besar.
Baskara mengepalkan tangan. Memberi kode pada pasukan agar berhenti sejenak. Kopral Jagra maju, mempertanyakan kondisi di depan.
"Ada masalah, Komandan?"
Baskara berjongkok. Ia menunjukkan sebuah jejak kaki dari sepatu boots yang bukan sepatu militer. Kopral Jagra ikut berjongkok menatap jejak kaki itu dan mengamatinya dengan saksama.
"Ini bukan sepatu boot tentara,kan?" tanya Baskara.
Kopral Jagra mengangguk. "Memang bukan."
Baskara menatap Kopral Jagra, ia mengerutkan dahi. "Lantas?"
Kopral Jagra berdiri.
"Perlu Anda ketahui, Komandan, warga lokal tidak akan berjalan dengan alas kaki," ucapnya yang seketika membuat Baskara memahami satu hal. Kemungkinan musuh mereka dekat.
Baskara memindai lokasi. Ia kembali memerintahkan anggotanya untuk berjalan.
"Tetap waspada!" ucap Baskara seraya berjalan.
Moncong senjatanya memang tidak langsung menghunus ke depan, tapi mereka tetap siaga.
Kopral Jagra memicingkan mata saat melihat beberapa ranting pohon yang seperti baru ditebang asal, beberapa ilalang ambruk seperti habis terinjak-injak. Kopral Jagra menyentuh pundak Baskara.
"Izin memeriksa, Ndan," ucapnya.
Baskara mengangguk. Ia menatap Kopral Jagra yang berlari lincah keluar dari jalur patroli yang sudah ditetapkan. Baskara ingin melarang, tapi ia tahu Kopral Jagra melakukan itu bukan karena tanpa alasan. Ia pun mengikuti.
Kopral Jagra berhenti saat menemukan bekas abu dari kayu-kayu kering.
"Masih hangat. Sepertinya baru saja padam, Komandan," ujar Kopral Jagra.
Baskara sedikit terkejut.
Baskara pun mengamati saat Kopral Jagra mulai menatap sekeliling hingga pandangannya beralih ke sebelah kiri. Napasnya tertahan sejenak saat dari tempat itu, ia bisa melihat dengan jelas pos penjagaan Pegunungan Maros berada di seberang.
"Ada apa, Kopral?" tanya Baskara.
Kopral Jagra menatap Baskara sedikit kesal.
"Mereka ada di sini semalam. Mereka diam-diam mengawasi kita. Dan Anda memutuskan tidak memeriksa! Mereka tidak pernah sedekat ini sebelumnya, Komandan! Mereka hanya berjarak lima kilometer dari kita, Komandan!" ucap Kopral Jagra tegas.
Baskara diam.
"Saya tahu."
"Lalu, kenapa Anda melarang kami memeriksa?" tanya Kopral Jagra tidak terima.
Baskara membuang napas kasar. "Seperti yang saya katakan semalam, kalian bisa saja memeriksa atau mengejar pengintai itu, tapi saya tidak bisa menjamin esok pagi kalian akan pulang! Saya tidak mau mengambil resiko, Kopral. Belum saatnya kita bergerak!"
Baskara melangkah kembali pada rute patroli.
Hening.
Tidak ada satu orang pun yang berbicara. Yang terdengar hanya hembusan angin yang menerpa dedaunan dan suara kicau burung di atas pohon.
Hingga akhirnya langkahnya berhenti. Mereka sampai di Kampung Akei. Sebuah kampung kecil yang penduduknya tidak lebih dari dua puluh orang. Kehadiran prajurit disambut ramah oleh para penduduk. Anak-anak segera berlari menghampiri Kopral Jagra yang membuka kantong bodyvestnya, lalu mengeluarkan permen.
Dokter militer juga segera disambut hangat oleh ibu-ibu yang membawa balitanya serta beberapa orang bapak.
Semua interaksi itu tidak lepas dari pandangan Baskara. Ia pun duduk di sebuah pelataran untuk beristirahat. Seorang ibu datang dengan membawa dua piring makanan berupa ubi rebus dan nanas, yang segera disambut hangat oleh para prajurit.
"Selalu bawa permen jika ke sini?"
Kopral Jagra mengangguk. "Jika kita hanya bawa peluru mereka pasti akan takut."
"Permisi, bapak, kami mau tukar singkong dengan beras," ucap salah seorang ibu yang datang menghampiri Kopral Jagra seraya membawa satu ikat singkong berukuran besar.
"Langsung saja ke pos, Ibu. Minta tukar dengan beras, telur, dan sarden di sana," jawab Kopral Jagra ramah.
Interaksi Kopral Jagra itu tidak luput dari perhatian Baskara.
"Mereka selalu datang ke pos seminggu sekali untuk barter. Kehidupan di sini tidak terlalu baik secara ekonomi. Kalau harus menjual hasil kebun ke kota, jaraknya sangat jauh, hasilnya juga tidak bisa cukup untuk membeli beras.
"Jika tidak ada satgas ini, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan mereka. Bisa saja dunia tidak akan pernah tahu jika ada kehidupan di pegunungan ini."
Baskara mengangguk paham. Ia diam. Matanya menerawang jauh ke depan. Ia sadar ada hal lain selain anggota tim satgas yang harus ia jaga. Masyarakat lokal sekitar Pegunungan Maros, mereka punya hak yang sama sebagai warga negara. Hak untuk mendapat perlindungan.
"Soal semalam ...."
Kopral Jagra menoleh, ia menaikkan alis kirinya dan menatap heran. "Soal apa, Komandan?"
"Maaf karena semalam saya terdengar mengabaikan pendapat Anda, tapi sebagai komandan, saya harus memilih keputusan yang paling aman untuk seluruh tim," ucap Baskara.
Kopral Jagra menatap Baskara sejenak, lalu tersenyum.
"Jika saja semalam komandan memberi perintah. Kita bisa berhadapan dengan mereka."
Baskara mengangguk tegas.
"Namun, masalahnya, saya juga tidak mau mempertaruhkan nyawa orang untuk sesuatu yang belum pasti."
Kopral Jagra tertawa pelan. "Izin, Komandan, saya paham tugas komandan berat, tapi perlu Anda ingat, kami yang bertugas dan berada di sini sudah siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Ini medan perang, Komandan. Pilihannya hanya bertahan hidup dengan menembak atau mati ditembak. Apapun itu, kami sudah siap."
Baskara diam. Ia menahan napas sejenak seraya mengusap gelang yang ia kenakan. Jarinya meraba tulisan di balik gelang itu dan seketika bayangan wajah Aira hinggap dalam pikirannya.
Sepertinya aku masih jauh dari tujuan, Aira.
__________________