Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.
Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.
"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Benang-Benang yang Menegang
Dinding beton sel isolasi bawah tanah Mansion Utama terasa begitu dingin menusuk kulit. Di dalam ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter yang hanya diterangi oleh seberkas cahaya temaram dari celah jeruji besi atas, Alana duduk dengan tenang di atas dipan semen tanpa alas. Tidak ada air mata, tidak ada jeritan ketakutan, dan tidak ada kepanikan yang biasanya ditunjukkan oleh Alana yang asli.
Bagi jiwa baru di dalam tubuh gadis itu, kurungan ini justru menjadi tempat istirahat yang ideal setelah berhari-hari menyusun strategi tanpa henti. Alana menyandarkan kepalanya ke dinding, menatap memar di jemarinya dengan ekspresi datar. Dia sengaja membiarkan dirinya ditangkap tanpa perlawanan berarti oleh pengawal Eleanor. Alana tahu betul, hilangnya dia dari paviliun belakang akan langsung memicu alarm di kepala dua mitra rahasianya. Penahanannya adalah katalisator yang akan memaksa Xavier dan Julian bergerak lebih cepat daripada yang mereka rencanakan.
Di sudut lain kompleks kediaman Garrick, tepatnya di ruang kendali bawah tanah Mansion Kedua, suasana tampak sibuk. Jemari seorang pemuda bergerak dengan kecepatan tidak manusiawi di atas tiga papan ketik mekanik yang terhubung ke barisan monitor berukuran besar. Adrian Garrick—putra kedua dari Nyonya Valerie sekaligus adik kandung Julian—menyesap minuman berenerginya sebelum matanya yang dibingkai lingkaran hitam menegang.
"Kak Julian, kita punya masalah," ucap Adrian, suaranya yang serak memecah keheningan ruangan penuh kabel itu. "Kamera pengawas utilitas yang baru saja kuretas menunjukkan pergerakan sepuluh pengawal elite faksi pertama. Mereka baru saja menyeret Alana masuk ke sel isolasi bawah tanah Mansion Utama sepuluh menit yang lalu."
Julian yang sedang berdiri di dekat jendela sambil memegang sebuah bidak catur hitam, seketika menghentikan gerakannya. Matanya di balik kacamata berbingkai perak menyipit tajam. Otak strateginya langsung berputar cepat. Jika Alana disiksa atau dipaksa bungkam oleh Eleanor, maka seluruh rencana sabotase dokumen pernikahan yang sedang dia jalankan bisa bocor. Lebih dari itu, Julian tidak ingin kehilangan "informan berharga" yang menjanjikan data kelemahan kasino Xavier.
"Adrian, tetap pantau jalur komunikasi faksi pertama. Pastikan tidak ada pesan yang keluar ke luar negeri," perintah Julian dingin. "Malam ini ada makan malam formal keluarga. Aku akan mengurus Eleanor di sana."
Sementara itu, di Mansion Tengah, Xavier Garrick baru saja membanting laporan audit keuangannya ke atas meja mahoni setelah menerima laporan serupa dari mata-matanya. Wajah tampannya yang biasa dipenuhi senyuman flamboyan kini tampak mengeras, menyiratkan kemarahan yang pekat.
'Berani-beraninya Eleanor menyentuh mitra judiku,' batin Xavier geram. Rasa kepemilikan dan obsesi gila yang dipicu oleh Alana semalam membuat pria itu merasa harga dirinya diinjak-injak. Xavier tidak rela jika gadis cerdas yang memegang kunci keamanan kerajaannya dihancurkan begitu saja oleh faksi pertama. Dia menyambar jas hitamnya, bersiap untuk memberikan tekanan finansial yang lebih brutal malam ini.
Pukul delapan malam, meja makan panjang di ruang perjamuan utama Mansion Utama tampak begitu megah sekaligus mencekam. Di bawah pendar lampu kristal yang mewah, hidangan kelas atas disajikan, namun tidak ada satu pun orang yang menyentuh garpu mereka.
Karena Bos Besar Victor Garrick dan putra pertamanya, Dominic Garrick—si calon penerus utama yang selalu mendampingi ayahnya—sedang berada di luar negeri, maka Eleanor Rossi duduk di kepala meja, memimpin jalannya makan malam sebagai Permaisuri tertinggi.
Di sisi kanannya, duduk Cedric Garrick dengan wajah masam dan gelisah. Efek dari "racun" manipulasi Alana siang tadi masih bekerja di dalam kepalanya, membuat pria bertato ular itu sesekali melirik ibunya sendiri dengan tatapan penuh kecurigaan yang terselubung.
Di sisi kiri meja, duduk Julian Garrick dengan ekspresi tenang dan wajah pucatnya yang tak terbaca. Sementara di sisi depan, Xavier Garrick duduk menyandarkan punggungnya dengan gaya narsistik, namun sepasang mata hazelnya memancarkan aura dingin yang menusuk langsung ke arah Eleanor. Kursi di ujung bawah meja—yang seharusnya menjadi tempat Alana jika dia diakui—tampak kosong melompong, menjadi simbol bisu dari ketegangan malam itu.
"Suasana malam ini terasa sangat sunyi tanpa kehadiran Ayah dan Kak Dominic, bukan begitu, Nyonya Eleanor?" Xavier membuka suara terlebih dahulu, nada baritonnya terdengar renyah namun sarat akan sindiran tajam. Dia memutar-mutar gelas anggurnya perlahan. "Atau mungkin... suasana di Mansion Utama ini menjadi terlalu sibuk karena ada 'tamu' baru yang sedang menginap di ruang bawah tanah Anda?"
Eleanor yang sedang memotong daging steaknya perlahan, menghentikan gerakannya sesaat. Dia menatap Xavier dengan senyuman anggun yang dingin. "Urusan di Mansion Utama adalah otoritas mutlakku selama suamiku tidak ada, Xavier. Kamu sebaiknya fokus pada urusan kasinomu yang katanya sedang mengalami 'masalah audit' hingga berani menahan dana militer milik saudaramu sendiri."
Cedric mendengus keras, ikut menatap Xavier dengan tajam. "Benar, Xavier! Gara-gara audit sialanmu itu, pasokan senjata gelombang keduaku tertahan! Jangan gunakan alasan bodoh untuk menyabotase kekuatanku!"
Sebelum Xavier sempat membalas, Julian menyela dengan suara yang teramat tenang dan monoton, membetulkan letak kacamatanya dengan jari tengah. "Kak Cedric, saya rasa Xavier melakukan hal yang benar. Sebagai bendahara organisasi, dia wajib berhati-hati. Apalagi... saya baru saja mendengar kabar dari jaringan informasi luar negeri bahwa ada cacat administrasi yang sangat fatal pada dokumen kerja sama politik kita dengan Eropa Selatan. Sangat tidak bijaksana menggelontorkan dana militer besar-besaran untuk aliansi yang bahkan berkas hukumnya ditolak oleh otoritas setempat."
Deg.
Eleanor seketika menegang di tempat duduknya. Matanya yang tajam beralih menatap Julian dengan kilatan amarah. Bagaimana bisa Julian mengetahui tentang penolakan dokumen Eropa Selatan yang baru dia terima siangnya? Informasi itu seharusnya sangat rahasia! Eleanor melirik ke arah pengawalnya di sudut ruangan dengan tatapan membunuh, menduga ada kebocoran internal.
Mendengar ucapan Julian, Cedric langsung tersentak. Dia menatap ibunya dengan mata membelalak, mengingat kata-kata Alana siang tadi tentang kontrak yang akan dipegang penuh oleh Eleanor.
"Ibu... apakah benar dokumen itu ditolak?" tanya Cedric, suaranya terdengar bergetar oleh perpaduan antara amarah dan kecurigaan yang mendalam. "Kenapa Ibu tidak memberi tahu aku? Bukankah aliansi itu untuk pasokan militerku?!"
"Cedric, diam!" bentak Eleanor keras, tidak mampu lagi menahan riak emosinya yang mulai goyah akibat serangan bertubi-tubi dari dua faksi di depannya. Eleanor menarik napas dalam-dalam, berusaha menegakkan kembali mahkotanya yang mulai retak. "Kalian berdua... Xavier, Julian... jangan mengira kalian bisa mendikteku di meja makan ini. Apa pun yang terjadi di dalam mansion ini, adalah demi kebaikan masa depan keluarga Garrick."
Xavier terkekeh rendah, sebuah tawa dingin yang sarat akan ancaman finansial yang mutlak. Dia meletakkan gelas anggurnya dengan ketukan keras di atas meja. "Tentu saja, Nyonya Besar. Tetapi jika 'kebaikan' yang Anda maksud justru merusak aset penting dan memicu kerugian finansial di Monaco akibat langkah impulsif Anda... jangan salahkan aku jika besok pagi seluruh aliran dana untuk faksi pertama benar-benar membeku total."
Julian ikut tersenyum tipis, sebuah senyuman manipulatif yang sangat pekat. "Dan dari sisi legalitas, saya pastikan tidak akan ada satu pun dokumen pernikahan yang bisa keluar dari mansion ini tanpa persetujuan revisi dari faksi kedua."
Meja makan malam itu mendadak menjelma menjadi arena perang dingin yang sangat mencekam. Tiga faksi terkuat saling melempar tatapan membunuh, mengunci satu sama lain dalam ketegangan yang menegang demi memperebutkan kendali atas nasib satu gadis yang sedang dikurung di kegelapan bawah tanah.
Di dalam sel isolasinya, Alana yang mendengar gema samar dari ketegangan mansion di atasnya, hanya menyunggingkan senyum tipis yang teramat dingin. Benang-benang perang saudara telah ditariknya dengan sempurna, dan mansion megah keluarga Garrick kini tinggal menunggu waktu untuk hancur dari dalam.