NovelToon NovelToon
The Mafia'S Only Weakness

The Mafia'S Only Weakness

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mel R.

Dominic Enzo Salvatore terus mencari kekasih nya yang menghilang sudah 6 tahun lebih ini. Akibat salah paham dimana waktu itu kekasihnya Isabella Laurent.

Halo semua nya...ini adalah karya pertama yang yang saya buat. Saya sangat berharap kalian para readers suka dengan cerita yang saya buat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mel R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

Suasana di ruang tamu itu benar-benar mendidih, berada di ujung tanduk antara hidup dan mati.

Victoria tidak pernah menyangka, seumur hidupnya yang dipenuhi kepatuhan mutlak dari orang-orang di sekitarnya, ia akan disudutkan hingga sehancur ini di bawah atap putranya sendiri. Harga dirinya sebagai matriark klan Salvatore seolah diinjak-injak sampai lumat oleh gertakan Dominic dan racun verbal dari bocah berusia lima tahun itu.

Wajahnya yang semula memerah padam kini berganti menjadi pias, diselimuti amarah yang sudah mencapai puncaknya.

"Hitungan tiga, Dominic?!" Victoria tertawa melengking, suara tawanya terdengar hambar dan bergetar menahan histeria. "Kau mengusir ibu kandungmu sendiri demi jalang kelaparan yang menjual rahimnya ini?! Kau sudah buta karena wanita sialan ini!"

Plak!

Suara nyaring itu bukan tamparan, melainkan Dominic yang menghantamkan kepalan tangannya ke atas permukaan meja marmer di samping sofa hingga retakan tipis menjalar di atasnya. Dentuman itu begitu keras, mengguncang ruangan dan membuat Isabella terlonjak kaget di dalam dekapan Dominic.

"Jaga mulutmu, Victoria!" bentak Dominic. Suara baritonnya tidak lagi dingin, melainkan menggelegar layaknya guntur, sarat akan kemarahan iblis yang selama ini ia tekan. Napasnya memburu, matanya memerah menatap ibunya sendiri dengan kilat membunuh yang begitu pekat. "Satu kata hinaan lagi keluar dari bibirmu untuk istriku, aku tidak akan peduli lagi darah siapa yang mengalir di nadiku. Aku akan menghancurkan seluruh asetmu di Eropa dalam waktu dua puluh empat jam!"

Di tengah badai amarah Dominic, Damian justru melangkah satu sentimeter lebih maju. Bocah lima tahun itu sama sekali tidak bergeming saat meja marmer di dekatnya retak. Kalimat-kalimat yang keluar dari bibir kecilnya kini berubah menjadi pisau yang teramat sangat tajam, siap menguliti silsilah dan mental Victoria tanpa ampun.

"Menjerit histeris dan membawa-bawa masalah rahim saat kalah berargumen," cemooh Damian, sepasang mata elangnya menatap Victoria dengan pandangan paling merendahkan yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. "Tingkah lakumu semakin membuktikan kemunduran fungsi kognitif yang parah, Nyonya tua. Kau menyebut Mommy-ku kelaparan dan menjual rahim? Secara finansial, Daddy memegang kendali penuh atas likuiditas klan ini. Jika Daddy menutup akses tokomu di Paris besok pagi, maka kaulah yang akan mengemis di jalanan dengan gaun maharmu itu."

"Kau... anak haram sialan!" pekik Victoria, benar-benar kehilangan kendali diri. Ia mengangkat tas hermes mahalnya, berniat melangkah maju untuk memukul Damian.

Namun, sebelum langkah kaki Victoria mendarat, moncong senjata api hitam pekat sudah mengarah lurus tepat di antara kedua mata Victoria.

Klik.

Suara kokangan pistol itu terdengar begitu renyah sekaligus mematikan di dalam ruangan yang mendadak hening seketika. Dominic telah menarik glock dari balik jas rumahnya dengan kecepatan yang tak kasat mata. Tangannya yang memegang senjata begitu stabil, tanpa ada setitik pun keraguan bahwa ia siap menarik pelatuk itu, bahkan kepada ibunya sendiri.

"Maju satu senti lagi, Mom," desis Dominic, suaranya merendah hingga ke titik paling intimidatif, "dan aku akan memastikan peluru ini menembus otakmu sebelum tas itu menyentuh anakku."

"Dominic! Kau gila!" teriak Victoria dengan suara melengking yang kini dipenuhi rasa takut yang nyata. Seluruh tubuhnya gemetar hebat melihat tatapan kosong dan dingin dari sepasang mata elang putranya.

Suasana di ruang tamu itu benar-benar mendidih, berada di ujung tanduk antara hidup dan mati. Bentakan guntur Dominic, moncong pistol yang siap merenggut nyawa, hingga rentetan kalimat Damian yang luar biasa kejam dan menusuk batin benar-benar membuat atmosfer ruangan menjadi begitu pekat, mencekam, dan kekurangan oksigen.

Isabella yang berada di tengah-tengah lingkaran setan itu tidak sanggup lagi bertahan. Kepalanya mendadak berputar hebat. Penglihatan di sekitarnya mengabur seiring dengan rasa sesak yang menghantam dadanya. Drama keluarga mafia yang begitu ekstrem ini benar-benar menghancurkan pertahanan mentalnya dalam sekejap.

"Dominic... k-kupohon..." bisik Isabella parau, suaranya nyaris tak terdengar.

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, kesadaran Isabella tumbang sepenuhnya. Tubuhnya mendadak lemas dan limbung, ambruk ke arah lantai marmer.

"Isabella!"

Dominic yang merasakan perubahan drastis pada tubuh istrinya langsung menurunkan senjatanya dengan panik. Mengabaikan Victoria yang berada di depannya, insting protektif dan rasa khawatir Dominic meledak ke titik tertinggi. Dengan gerakan kilat, lengan kokohnya langsung menyambar dan menangkap tubuh pias Isabella sebelum menyentuh lantai, mendekapnya erat ke dalam pelukan dengan napas yang memburu panik.

"Bawa wanita ini keluar! Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa mendekati gerbang rumah ini lagi!" bentak Dominic, suaranya menggelegar penuh amarah yang tertahan sembari matanya menatap tajam ke arah dua pengawal yang langsung merangsek masuk ke dalam ruangan.

​Victoria yang masih syok dan gemetar karena todongan pistol tadi, tidak mampu lagi bersuara. Dengan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur, ia hanya bisa pasrah saat kedua lengan kekar anak buah Dominic mencengkeramnya dengan tegas dan menyeretnya keluar dari kediaman Salvatore.

​Begitu pintu ganda tertutup, Dominic langsung beralih sepenuhnya pada tubuh pias Isabella yang tak sadarkan diri di dekapannya. Rasa panik yang belum pernah ia rasakan seumur hidup kini merayap cepat di dadanya.

​"Elana! Panggil dokter pribadi sekarang juga! Suruh dia datang dalam waktu lima menit atau aku sendiri yang akan menghancurkan kliniknya!" raung Dominic pada Elana melalui ponselnya dengan nada yang teramat khawatir dan frustrasi.

​"Baik, Tuan! Saya hubungi sekarang juga!" sahut Elana cepat dari seberang telepon dengan nada yang tak kalah panik mendengar ket ketegangan suara tuannya.

​Dominic segera mengangkat tubuh ringan Isabella dengan kedua tangannya, membawanya dengan hati-hati menuju sofa panjang yang lebih luas. Ia berlutut di samping sofa, menepuk-nepuk pipi Isabella yang terasa dingin dengan tangan yang sedikit bergetar. "Angel, bangun... kupohon, bangunlah. Maafkan aku," bisiknya berulang kali, menyatukan keningnya pada kening Isabella dengan rasa bersalah yang teramat pekat.

​Di samping sofa, Damian berdiri tegak dengan kacamata hitam kecil yang sudah ia turunkan ke pangkal hidung. Sepasang mata elang kecilnya menatap lekat wajah pucat Isabella. Untuk pertama kalinya, tidak ada nada bosan atau smirk sinis di wajah bocah lima tahun itu. Ekspresinya mengeras, memancarkan kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik pundak kecilnya yang tegap.

​"Daddy, denyut nadinya lemah tapi stabil. Berhenti berteriak seperti orang bodoh dan buat sirkulasi udara di sekitar Mommy menjadi lebih baik," ucap Damian, suaranya ketat dan tajam, namun kali ini ada getaran khawatir yang samar di dalamnya.

​Dominic tidak membalas ucapan putranya. Ia segera melonggarkan kerah pakaian Isabella dan mengusap telapak tangan istrinya, mencoba menyalurkan kehangatan.

​Kurang dari sepuluh menit, berkat Elena yang bergerak secepat kilat, pintu ruang tamu terbuka tergesa-gesa. Dokter keluarga Salvatore, dr. Evans, masuk dengan napas terengah-engah sembari membawa tas medisnya. Tanpa membuang waktu karena melihat tatapan membunuh dari Dominic, dr. Evans langsung berlutut di samping sofa dan memeriksa kondisi Isabella.

​Suasana ruangan mendadak hening mencekam. Dominic dan Damian sama-sama mengunci pergerakan sang dokter dengan tatapan mata elang mereka yang super intens, membuat dr. Evans harus menelan ludah berkali-kali karena merasa tertekan.

​Setelah memeriksa denyut nadi, pupil mata, dan melakukan beberapa pemeriksaan cepat, raut wajah dr. Evans yang semula tegang perlahan-lahan mengendur. Sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang mulai berkerut.

1
meliana
kalian semua jangan lupa mampir yah, di jamin seru dengan cerita cerita author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!