Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7: Teror di Tengah Malam
Malam itu, awan hitam kembali menutupi seluruh langit, membuat suasana di sekitar rumah besar keluarga Ardiansyah terasa semakin gelap, sunyi, dan mencekam. Angin malam bertiup kencang, menggoyangkan dahan-dahan pohon tua di halaman hingga menimbulkan suara gesekan yang terdengar seperti bisikan orang yang sedang berbisik-bisik. Sejak kejadian orang-orang kasar yang dikirim Tuan Handoko sore tadi, rasa tidak nyaman dan rasa waspada tidak pernah hilang sedikit pun dari hati Lira.
Di dalam kamarnya yang luas, lampu hanya dinyalakan redup. Lira duduk di tepi tempat tidur, tangannya masih erat menggenggam benda kecil perak pemberian Raga. Benda itu terasa dingin di telapak tangannya, namun entah mengapa, keberadaannya itu membuat hati Lira terasa lebih hangat dan lebih berani. Setiap kali ia merasa takut atau cemas, ia hanya perlu melihat benda itu, dan ia langsung teringat bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada seseorang yang selalu menjaganya dengan sepenuh hati, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi keselamatannya.
Namun meskipun begitu, rasa cemas akan nasib Raga masih terus menghantuinya. Ia membayangkan apa yang sedang dialami pemuda itu sekarang. Apakah Ayahnya sudah tahu dia kabur dan datang ke sini? Apakah Raga sedang dipukul, dikurung, atau dihukum dengan cara yang jauh lebih kejam lagi? Setiap kali membayangkan hal itu, dada Lira terasa sesak dan nyeri seakan ditusuk benda tajam. Ia merasa sangat bersalah, seolah semua kesulitan dan penderitaan yang menimpa Raga itu adalah kesalahannya sendiri.
Ketukan pintu pelan terdengar lagi, memecah keheningan malam.
“Nona, masih belum tidur?” suara Bu Sumi terdengar lembut dari balik pintu.
“Belum, Bu. Masih belum bisa tidur,” jawab Lira pelan, lalu memberi isyarat agar wanita tua itu masuk.
Bu Sumi masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat, lalu meletakkannya di meja samping tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, namun matanya tetap waspada mengamati sekeliling ruangan, seolah takut ada bahaya yang bersembunyi di sudut mana pun.
“Minumlah susunya, Nona. Supaya badan Nona hangat dan bisa tidur nyenyak sedikit. Malam ini udaranya sangat dingin dan tidak enak,” kata Bu Sumi sambil duduk di samping Lira.
“Terima kasih, Bu. Tapi jujur saja, aku takut, Bu,” ucap Lira dengan suara rendah, matanya menatap jendela kamar yang tertutup tirai tebal. “Aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi malam ini. Perasaan itu sangat kuat, sampai-sampai aku tidak bisa tenang sedikit pun.”
Bu Sumi menghela napas panjang, lalu mengusap lembut punggung tangan Lira.
“Perasaan Nona itu bukan salah, Nona. Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak sore tadi, udara di rumah ini terasa berat dan penuh hawa jahat. Aku yakin, Tuan Handoko tidak akan diam saja setelah gagal mempermalukan Nona dan gagal mengusir Mas Raga. Beliau pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk malam ini.”
Bu Sumi lalu mencondongkan badannya mendekat, dan berbicara dengan suara berbisik yang sangat pelan.
“Dan ada satu hal lagi, Nona… Sepulang orang-orang kasar itu pergi, aku sempat melihat Pak Darto bicara diam-diam dengan seseorang di balik pagar samping rumah. Wajahnya tampak serius dan gelap. Aku yakin sekali, Pak Darto benar-benar menjadi mata-mata Tuan Handoko di rumah ini. Dia yang melaporkan semua gerak-gerik kita, semua yang kita bicarakan, dan semua yang kita lakukan kepada tuannya itu.”
Mata Lira membelalak kaget. Selama ini ia memang merasa ada yang aneh dengan sikap Pak Darto yang selalu dingin, kaku, dan terlalu patuh, namun ia tidak menyangka sampai sejauh itu. Ia mengira Pak Darto hanya orang yang kaku dan tertutup, ternyata lelaki itu adalah pengkhianat yang diam-diam bekerja untuk musuh besar mereka.
“Jadi selama ini, semua yang kita bicarakan, semua rencana kita, semuanya didengar dan dilaporkan oleh dia?” tanya Lira dengan nada tidak percaya dan sedikit marah.
“Kemungkinan besar begitu, Nona. Itulah sebabnya aku selalu berusaha bicara pelan-pelan dan hanya bicara di tempat yang tertutup dan aman, seperti di kamar ini atau di ruang kerja yang pintunya selalu dikunci rapat,” jawab Bu Sumi. “Karena itu, mulai malam ini, Nona harus lebih berhati-hati lagi. Jangan bicara hal penting di depan siapa pun, jangan percaya kata-kata manis siapa pun, dan selalu kunci semua pintu serta jendela dengan ganda. Aku sudah memeriksa dan mengunci semua pintu serta jendela di lantai bawah dan lantai atas tadi, tapi kita tetap harus waspada.”
Lira mengangguk paham, rasa marah dan kecewa bercampur menjadi satu. Di rumah yang dulunya dianggap tempat paling aman dan paling nyaman di dunia ini, ternyata ada pengkhianat yang bersembunyi di antara orang-orang yang dianggapnya keluarga sendiri. Ternyata ia benar-benar tidak bisa percaya pada siapa pun, kecuali Bu Sumi dan Raga.
“Baiklah, Bu. Aku akan ingat semuanya. Terima kasih sudah menjagaku dan memperingatkanku terus-menerus. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan kalau tidak ada Bu di sampingku,” ucap Lira dengan tulus.
Bu Sumi tersenyum haru, lalu mencium kening Lira dengan kasih sayang.
“Sudah, Nak. Sekarang cobalah istirahat. Aku akan tidur di kamar sebelah, dan aku akan tetap terjaga. Kalau ada apa-apa, suara apa pun, atau Nona merasa takut, segera panggil aku. Aku akan datang secepat kilat.”
Setelah memastikan Lira sudah berbaring dan merasa cukup aman, Bu Sumi pun pergi keluar kamar, lalu mengunci pintu kamar Lira dari luar dengan dua kali putaran kunci, sesuai kesepakatan mereka.
Suasana kembali sunyi. Hanya terdengar suara angin yang bertiup semakin kencang, dan suara ranting pohon yang beradu satu sama lain di luar sana. Lira berbaring di atas tempat tidur, matanya terpejam namun pikirannya tetap terjaga. Ia berusaha keras untuk tidur, namun rasa gelisah dan rasa takut terus mengganggunya. Setiap kali mendengar suara sedikit pun, jantungnya langsung berdebar kencang, dan ia segera membuka matanya lebar-lebar, mengawasi sekeliling ruangan yang remang-remang itu.
Waktu terus berjalan, jarum jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Malam semakin larut, semakin gelap, dan semakin sunyi.
Tiba-tiba, di tengah keheningan itu, terdengar suara kecil… suara gesekan benda keras yang bergesekan dengan kaca.
Suara itu datang dari arah jendela kamar Lira.
Darah Lira seketika membeku. Tubuhnya menegang kaku di balik selimut, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya suara ranting pohon yang tertiup angin, atau suara benda lain yang terbawa angin. Namun nalurinya berkata lain. Suara itu terdengar sengaja, terdengar seperti ada seseorang yang sedang menggesekkan benda tajam ke permukaan kaca jendela itu.
Perlahan, dengan hati-hati dan tangan yang gemetar, Lira mengangkat kepalanya sedikit, lalu mengintai ke arah jendela yang tertutup tirai tebal itu. Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih keras dan lebih jelas, disusul dengan suara ketukan pelan, teratur… ketukan tiga kali, berhenti, lalu ketukan tiga kali lagi.
Tok… tok… tok…
Tok… tok… tok…
Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuh Lira. Rasa takut yang luar biasa besar mulai merayap di tulang-tulang belakangnya. Di lantai dua, di ketinggian lebih dari lima meter dari tanah… tidak mungkin ada orang yang bisa sampai ke sana tanpa bantuan tangga atau alat panjat. Jadi, siapa yang ada di luar jendela itu?
Dengan keberanian yang dikumpulkan sekuat tenaga, Lira perlahan turun dari tempat tidur, lalu melangkah berjinjit pelan-pelan mendekati jendela. Tangan kanannya erat menggenggam benda perak pemberian Raga, sementara tangan kirinya perlahan mengangkat sedikit ujung tirai tebal itu, mengintai keluar melalui celah kecil.
Di luar sana, kegelapan menutupi segalanya, hanya diterangi sedikit oleh cahaya remang lampu taman yang jauh. Namun tepat di depan jendela kamarnya, di antara rimbunnya tanaman menjalar yang menempel di dinding rumah, Lira melihat sesuatu yang membuat nyawanya hampir melayang.
Di sana, di balik dedaunan yang bergoyang tertiup angin, terlihat sepasang mata yang bersinar redup menatap lurus ke arahnya. Mata itu tajam, dingin, dan penuh kebencian yang mengerikan. Dan di samping mata itu, terlihat ujung benda tajam yang sedang digerakkan perlahan menggores kaca jendela, meninggalkan garis-garis halus yang berbentuk seperti huruf-huruf aneh atau tanda ancaman.
Lira menahan napasnya sekuat tenaga agar tidak berteriak kaget. Kakinya gemetar hebat, ia hampir jatuh pingsan karena ketakutan. Sosok itu tersembunyi di balik kegelapan, wajahnya tidak terlihat jelas, tapi Lira bisa merasakan dengan pasti bahwa orang itu sedang mengawasinya, sedang menunggunya, dan sedang berniat jahat kepadanya.
Tiba-tiba, sosok itu mengangkat tangannya, dan melemparkan sesuatu ke arah jendela. Benda itu menghantam kaca dengan bunyi keras, lalu jatuh ke ambang jendela. Sosok itu pun segera menghilang ke dalam kegelapan, seolah lenyap begitu saja tanpa jejak.
Suara benturan itu sangat keras, memecah keheningan malam dengan tajam. Lira tersentak mundur, tubuhnya gemetar hebat. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki cepat berlari di lorong luar kamar, disusul suara kunci pintu yang diputar dengan cepat.
“Nona Lira?! Nona, kamu tidak apa-apa?!” suara Bu Sumi terdengar panik dan cemas, lalu pintu kamar terbuka lebar, dan Bu Sumi berlari masuk dengan wajah pucat, diikuti oleh Pak Darto yang juga tampak tergesa-gesa berdiri di ambang pintu dengan wajah serius.
Melihat Lira yang berdiri gemetar di dekat jendela dengan wajah pucat pasi, Bu Sumi segera berlari mendekat dan memeluk tubuh majikannya itu dengan erat.
“Ada apa, Nona? Ada apa yang terjadi? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Bu Sumi panik, memeriksa seluruh tubuh Lira dengan cemas.
“Ada… ada orang… di luar jendela…” jawab Lira dengan suara yang hampir tidak terdengar karena gemetar, jarinya menunjuk ke arah jendela yang masih tertutup tirai itu. “Ada orang yang mengawasiku, Bu… Dia menggores kaca, lalu melempar sesuatu…”
Mendengar itu, wajah Bu Sumi semakin ketakutan. Sementara itu, Pak Darto yang berdiri di pintu segera melangkah mendekati jendela dengan wajah datar dan tidak menunjukkan rasa kaget sedikit pun, seolah ia sudah menduga hal itu akan terjadi. Ia membuka tirai jendela itu lebar-lebar, lalu memeriksa ke luar serta ke ambang jendela.
Di sana, terlihat sebuah batu pipih seukuran telapak tangan, dan di atas batu itu, terikat selembar kertas kecil yang dilipat.
Pak Darto mengambil batu itu, lalu membuka lipatan kertas itu dan membacanya sekilas, sebelum wajahnya berubah menjadi serius dan sedikit cemas. Ia segera menyerahkan kertas itu kepada Lira.
“Ini yang dilemparkan orang itu, Nona,” kata Pak Darto dengan nada suara yang tetap datar dan tenang.
Dengan tangan yang masih gemetar, Lira menerima kertas itu, lalu membacanya perlahan di bawah cahaya lampu kamar yang redup. Tulisan di atas kertas itu ditulis dengan tinta merah yang tampak seperti darah, tulisan yang kasar, miring, dan mengerikan:
“Serahkan kalung itu sekarang, atau kamu akan menderita nasib yang sama dengan ibumu. Kematianmu sudah dekat, Nona Cantik. Tidak ada tempat di rumah ini yang aman untukmu.”
Kalimat itu singkat, padat, namun mengandung ancaman yang sangat jelas dan mengerikan. Itu bukan sekadar teror biasa, itu adalah peringatan nyata, bahwa orang-orang itu tidak hanya ingin mengganggunya, tapi benar-benar berniat membunuhnya, sama seperti mereka membunuh ibunya dulu.
Air mata ketakutan menetes di pipi Lira. Ia merasa begitu lemah, begitu tidak berdaya, dan begitu ketakutan. Di rumahnya sendiri, di tempat yang dulunya paling ia cintai, ia kini merasa seperti seekor burung yang terkurung di dalam sangkar, sedang diintai dan siap disambar oleh pemangsa kapan saja.
Bu Sumi melihat isi tulisan itu, lalu tubuhnya langsung lemas seketika, ia hampir jatuh terduduk jika tidak segera ditahan oleh Lira.
“Ya Tuhan… Mereka benar-benar gila… Mereka benar-benar tidak punya hati nurani…” gumam Bu Sumi dengan suara menangis. “Nona, kita harus pergi dari sini. Kita tidak boleh tinggal di rumah ini lagi. Rumah ini sudah tidak aman, tempat ini sudah menjadi sarang bahaya dan kejahatan. Kita harus pergi, mengungsi ke tempat yang jauh, tempat yang tidak diketahui oleh siapa pun.”
Namun di saat itu, suara berat Pak Darto terdengar memecah kepanikan mereka.
“Maaf saya ikut bicara, Bu Sumi, Nona Lira. Menurut saya, pergi dan mengungsi bukan solusi yang tepat. Justru jika kita pergi, itu sama saja dengan lari dan menyerah, dan mereka akan terus mengejar kita ke mana pun kita pergi. Lagipula, rumah ini adalah milik sah Nona Lira, kenapa kita harus lari kabur dari rumah sendiri hanya karena ancaman orang jahat?” kata Pak Darto dengan nada yang terdengar masuk akal dan tegas.
Lira mengangkat wajahnya menatap Pak Darto. Ia teringat peringatan Bu Sumi bahwa lelaki ini adalah mata-mata Tuan Handoko. Namun saat ini, sikap dan kata-katanya terdengar begitu wajar, begitu peduli, dan begitu melindungi. Apakah Bu Sumi salah duga? Atau Pak Darto memang pandai berpura-pura sampai sedemikian rupa?
“Lalu menurut pendapat Bapak, apa yang harus kita lakukan, Pak Darto?” tanya Lira dengan nada hati-hati, mengamati reaksi lelaki itu dengan teliti.
“Sebaiknya kita memperkuat penjagaan rumah, Nona. Saya akan memanggil beberapa orang penjaga keamanan tambahan yang bisa dipercaya untuk berjaga di sekeliling rumah siang dan malam. Saya juga akan memeriksa seluruh bagian rumah, menutup semua celah yang bisa dimasuki orang asing, dan memastikan tidak ada orang yang bisa masuk ke sini tanpa izin. Dan untuk keamanan Nona, mulai malam ini, saya akan berjaga tepat di luar pintu kamar Nona setiap malam, supaya tidak ada orang yang bisa mendekat atau mengganggu Nona lagi,” jawab Pak Darto dengan nada penuh tanggung jawab dan perhatian.
Tawaran itu terdengar sangat baik dan sangat meyakinkan. Namun di sudut hati Lira, rasa curiga itu masih tetap ada. Jika Pak Darto benar-benar bekerja untuk Tuan Handoko, maka tawaran itu hanyalah jebakan. Dengan berjaga di luar pintu kamarnya, ia bisa mengawasi setiap gerak-gerik Lira, mendengar setiap percakapan, dan bahkan memberi kesempatan pada tuannya untuk masuk dan mencelakai Lira dengan mudah.
Lira berpikir cepat, lalu menjawab dengan nada sopan namun tegas.
“Terima kasih banyak atas perhatian dan bantuan Bapak, Pak Darto. Saya sangat berterima kasih. Tapi untuk saat ini, saya merasa aman kalau Bu Sumi yang menjaga saya. Bu Sumi sudah mengasuh saya sejak kecil, saya merasa lebih tenang bersamanya. Dan untuk penjaga tambahan, biarlah Bu Sumi yang mengurusnya, dia lebih tahu orang-orang mana saja yang bisa dipercaya di sekitar sini. Jadi Bapak tidak perlu repot-repot berjaga di depan pintu kamar saya, Bapak cukup menjaga pintu depan dan gerbang rumah saja, itu sudah sangat membantu saya.”
Wajah Pak Darto sedikit berubah kaku mendengar penolakan itu, namun ia segera menyembunyikannya kembali dengan senyum sopan yang kaku.
“Baiklah, Nona. Terserah keinginan Nona saja. Yang terpenting keselamatan Nona terjamin. Saya akan segera memeriksa seluruh bagian luar rumah sekarang, mencari tahu siapa orang yang berani masuk ke sini dan mengganggu Nona. Dan saya akan memperketat penjagaan di gerbang depan mulai sekarang.”
Setelah berkata demikian, Pak Darto menunduk hormat, lalu berbalik badan dan keluar dari kamar, menutup pintu kembali dengan rapi.
Begitu pintu tertutup, wajah Bu Sumi segera berubah menjadi lega dan cemas bercampur. Ia segera memegang kedua bahu Lira dengan erat.
“Kamu hebat menolak tawaran itu dengan halus, Nona. Itu pasti jebakan! Kalau dia berjaga di depan pintu kamarmu, berarti dia bisa mengawasi semua yang kamu lakukan, dan dia bisa dengan mudah membiarkan orang jahat masuk kapan saja. Kamu benar-benar cerdas dan berhati-hati,” bisik Bu Sumi cepat.
“Aku juga curiga begitu, Bu. Sikapnya terlalu baik, terlalu peduli, padahal selama ini dia selalu dingin dan tidak terlalu mempedulikan aku. Dan apalagi, kebetulan sekali dia datang begitu cepat tepat setelah ada keributan,” jawab Lira pelan, lalu kembali menatap kertas ancaman itu dengan pandangan dingin. “Mereka sangat menginginkan kalung itu, Bu. Mereka rela mengancam, mengerjai, bahkan ingin membunuhku hanya demi benda itu. Artinya, isi di dalam kalung itu memang sangat berharga dan sangat berbahaya bagi mereka. Itu berarti, kalung itu adalah senjata terkuat kita untuk menjatuhkan mereka.”
“Benar, Nona. Itulah sebabnya kita harus menemukannya secepat mungkin, dan menyimpannya di tempat yang jauh lebih aman lagi,” kata Bu Sumi. “Tapi di mana? Kalung itu sudah hilang lima tahun yang lalu, kita sudah mencari ke seluruh penjuru rumah berkali-kali, tapi tidak pernah ketemu.”
Tiba-tiba, mata Lira berbinar seolah teringat sesuatu. Ia teringat kata-kata terakhir ayahnya, teringat kata-kata Raga, dan teringat sesuatu yang pernah dikatakan ibunya dulu, saat ia masih kecil.
“Bu Sumi… Aku ingat sesuatu,” ucap Lira dengan suara cepat dan bersemangat. “Dulu, saat aku masih berumur sepuluh tahun, Ibu pernah mengajakku ke ruang rahasia di gudang belakang rumah. Di sana ada sebuah kotak besi tua yang terkunci. Ibu bilang, di situ disimpan benda yang paling berharga dan paling penting bagi keluarga kita, dan hanya bisa dibuka oleh keturunan keluarga Ardiansyah. Waktu itu aku masih kecil, aku tidak mengerti maksudnya, dan lama-kelamaan aku sampai lupa sama sekali. Mungkinkah… mungkinkah kalung itu tidak dibawa pergi oleh orang jahat itu? Mungkinkah Ibu sudah menyembunyikannya di sana jauh-jauh hari, sebelum dia meninggal?”
Mata Bu Sumi terbelalak kaget, lalu wajahnya perlahan berubah menjadi penuh harapan.
“Ya Tuhan… Aku juga baru ingat sekarang! Benar, Nona! Dulu Bu Ratih memang sering pergi ke gudang belakang sendirian, dan selalu melarang siapa pun masuk ke sana. Aku kira beliau hanya menyimpan barang lama saja, ternyata beliau menyimpan benda berharga di sana! Bagaimana kita bisa lupa tempat itu selama ini?”
“Karena gudang itu sudah lama tertutup, Bu. Sejak Ibu meninggal, Ayah menyuruh mengunci gudang itu dan tidak pernah membukanya lagi, karena beliau terlalu sedih teringat kenangan bersama Ibu di sana,” kata Lira cepat. “Bu, besok pagi-pagi sekali, sebelum orang-orang bangun dan sebelum Pak Darto mulai mengawasi gerak-gerik kita, mari kita pergi ke sana. Kita periksa ruang rahasia itu. Siapa tahu… siapa tahu kalung itu masih ada di sana, tersembunyi dan aman selama bertahun-tahun.”
Bu Sumi mengangguk mantap, wajahnya penuh semangat dan harapan baru yang besar.
“Baiklah, Nona! Kita akan pergi ke sana besok pagi. Kalau benar kalung itu ada di sana, berarti kita sudah memegang kunci kemenangan di tangan kita. Kita bisa menghentikan semua kejahatan ini, kita bisa membuktikan semua kebenaran, dan kita bisa hidup tenang lagi.”
Namun saat itu, suara getaran halus terdengar dari tangan Lira. Itu adalah benda perak pemberian Raga yang tadi digenggamnya erat. Benda itu bergetar pelan, menandakan ada pesan atau panggilan masuk dari sana.
Jantung Lira berdebar kencang. Ia segera mengangkat benda itu, lalu menempelkannya ke telinganya.
Suara Raga terdengar pelan, parau, dan penuh rasa cemas dari sana.
“Lira… Lira, apakah kamu mendengarku? Apakah kamu baik-baik saja? Aku baru saja mendengar kabar dari orang dalam di rumah Ayahku… Ayahku mengirim orang masuk ke rumahmu malam ini untuk mengancammu. Dia sangat marah besar, dia tidak main-main, Lira… Kamu harus segera pergi dari kamar itu! Kamar itu sudah tidak aman lagi! Ada jebakan di sana, ada bahaya besar yang mengancam nyawamu sekarang juga!”
Suara Raga terdengar tergesa-gesa dan panik, membuat darah Lira seketika mengalir dingin lagi. Ia menatap sekeliling kamarnya dengan pandangan ketakutan. Di mana bahayanya? Di mana jebakan yang dimaksud Raga?
“Raga… Aku mendengarmu! Ada apa? Apa yang terjadi? Bahaya apa yang ada di sini?” tanya Lira cepat dengan suara gemetar.
“Di lantai kamar mandi kamarmu, di bawah ubin dekat bak mandi… Ayahku sudah memasang bahan peledak kecil di sana! Dia berniat meledakkan kamar itu malam ini, supaya terlihat seperti kecelakaan pipa gas yang bocor! Lira, cepatlah keluar dari sana! Sekarang juga! Jangan buang waktu sedetik pun!” teriak Raga dengan suara panik di ujung sana.
Kalimat itu membuat kaki Lira lemas seketika. Di kamarnya sendiri, di tempat yang dianggapnya paling aman, ternyata sudah dipasang bom yang siap meledak kapan saja. Tuan Handoko benar-benar sudah gila, benar-benar sudah tidak punya rasa manusiawi lagi. Ia rela menghancurkan seluruh rumah besar itu, rela membunuh orang tidak bersalah, hanya demi membunuh satu orang: dirinya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Lira segera meraih tangan Bu Sumi yang sudah pucat pasi karena kaget mendengar suara Raga itu, lalu menariknya dengan sekuat tenaga.
“Bu Sumi! Cepat! Kita harus keluar dari sini sekarang juga! Ada bom di kamar mandi! Rumah ini akan meledak!” teriak Lira panik.
Bu Sumi tidak bertanya apa pun lagi. Ia langsung berlari diikuti oleh Lira, membuka pintu kamar dengan cepat, lalu keduanya berlari secepat kilat menyusuri lorong menuju tangga, berusaha keluar dari kamar itu secepat mungkin sebelum bahaya itu datang.
Di belakang mereka, di dalam kamar mandi yang gelap itu, bunyi detak pelan mulai terdengar teratur… tanda bahwa waktu mereka sudah semakin habis, dan kematian sedang menghampiri mereka dengan cepat.
(Bersambung ke Episode 8)