maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah
pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..
perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3
saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.
ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu
apa yang akan dia lakuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Melihat Cade yang keras kepala seperti batu kali dan Frederick yang terjebak di tengah dilema, Maizy memutuskan untuk mengeluarkan senjata pamungkasnya. Ini adalah trik rahasia tingkat tinggi yang biasanya dia pakai di tahun 2026 ke Paman Michael—trik maut yang membuat pamannya yang sekaku masinis kereta cepat langsung luluh total dalam hitungan detik.
Maaf ya, Tuan-Tuan Komandan, kalian memaksa gue mengeluarkan jurus terlarang, batin Maizy penuh tekad.
Maizy mendadak terdiam. Dia melepaskan cengkeramannya dari jubah Frederick, lalu mundur satu langkah dengan bahu yang sengaja didepankan agar terlihat ringkih. Lensa kacamatanya sedikit melorot ke ujung hidung, sengaja memperlihatkan sepasang matanya yang bulat secara utuh.
Dia mendongak, lalu memasang ekspresi puppy eyes paling murni, paling menyedihkan, dan paling menggemaskan di seluruh Kekaisaran Winterhall. Bibir bawahnya dimajukan sedikit hingga mengerucut manja, sementara matanya yang berkaca-kaca berkedip pelan dengan tatapan memohon yang sanggup meruntuhkan benteng pertahanan militer tercanggih sekalipun.
"Tapi anak kecil itu benar-benar ada, Frederick... Cade..." bisik Maizy dengan suara yang sengaja dibuat serak, bergetar, dan teramat pelan seolah hatinya baru saja hancur berkeping-keping karena tidak dipercaya. "Kalau kalian tidak mau mengantarku... setidaknya jangan kurung aku di sini seperti tahanan. Aku... aku hanya tidak ingin anak itu mati karena kecerobohanku..."
DEG.
Jantung sang Komandan Kavaleri Hitam itu rasanya seperti dihantam palu godam. Melihat Maizy menatapnya dengan puppy eyes yang begitu rapuh dan manja, seluruh kewarasan militer Frederick menguap ke udara. Wajah tan skin nya yang tampan mendadak memerah sempurna sampai ke leher. Dia kelimpungan setengah mati, tangannya bergerak kaku di udara, ingin menyentuh Maizy tapi terlalu gugup.
"M-Maizy... jangan menangis, aku mohon," ucap Frederick panik, suara baritonnya yang tegas berubah menjadi super lembut dan cemas. Dia langsung menoleh ke arah Cade dengan tatapan abu-abunya yang tajam menuntut. "Cade! Kurasa tidak ada salahnya kita memeriksa hutan itu sekali lagi secara spesifik! Bagaimana jika pasukanmu memang melewatkan anak itu?!"
Sementara itu, si kaku nan egois Cade Reinart mendadak membeku di tempatnya. Senyum miring bin menyebalkan di wajah pucatnya langsung lenyap. Sepasang mata cokelat kemerahannya membelalak kecil, menatap lekat-lekat ke arah wajah imut Maizy yang sedang merajuk luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Cade merasa tenggorokannya mendadak kering dan jantungnya berdegup tidak keruan hanya karena tatapan seorang gadis.
Cade refleks mengalihkan pandangannya ke samping, berdeham sangat keras demi menutupi rasa salah tingkah dan gengsinya yang setinggi langit. Urat di pelipisnya berdenyut kaku.
"Uh... hmph! K-Kau..." Cade mengusap tengkuknya, mencoba mengembalikan suara ketusnya walaupun gagal total karena nadanya mendadak terdengar gugup. "D-Dengar, Nona. Aku... aku tidak bilang aku tidak mempercayaimu. Hanya saja... ah, sialan."
Cade menggeram pelan, kalah telak oleh kekuatan puppy eyes Maizy yang tidak logis itu. Dia melirik Maizy lagi dari sudut matanya, lalu mengembuskan napas menyerah dengan wajah yang tampak memerah samar di bagian pipi.
"Baiklah! Kita akan pergi ke hutan itu sekarang!" putus Cade ketus, berbalik badan dengan cepat agar Maizy tidak melihat wajahnya yang salah tingkah. "Tapi kau harus berada di bawah pengawasanku dan Aldrich seutuhnya! Jangan harap bisa kabur!"
Di balik wajah melas dan puppy eyes-nya yang masih bertahan, Maizy bersorak kegirangan setengah mati di dalam hati. YES! Berhasil! Hahaha, emang gak ada cowok yang bisa tahan sama jurus pamungkas Paman Michael ini! Rasakan itu, para komandan Winterhall! langsung merayakan kemenangan mutlak ini. Portal hutan terlarang, Maizy datang!
Rombongan kecil itu akhirnya tiba di jantung hutan terlarang. Suasana hutan terasa begitu sunyi, menyisakan deru angin yang menggoyahkan dedaunan lebat dan aroma tanah basah yang menusuk hidung.
Maizy berdiri di tengah-atengah semak belukar, tempat persis di mana dia pertama kali terbangun di dunia ini. Di sisi kanan dan kirinya, Frederick dan Cade berdiri siaga penuh dengan tangan yang tak lepas dari gagang senjata masing-masing, sementara beberapa pasukan elit menjaga perimeter luar.
"Di sini?" tanya Cade, suara baritonnya memecah keheningan. Mata cokelat kemerahannya menyisir area sekitar dengan sangat jeli dan skeptis.
Maizy tidak menjawab. Otak cerdasnya sedang sibuk mengingat-ingat. Dia melangkah maju beberapa tindak, mendekati sebatang pohon ek tua yang besar yang dia yakini sebagai "titik portal" tersebut. Dengan jantung yang berdebar kencang penuh harapan, Maizy sengaja memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu melompat kecil dan menyentuh batang pohon itu—berharap ada kilatan cahaya, vertigo mendadak, atau keajaiban yang akan melempar jiwanya kembali ke Berlin tahun 2026 ke pelukan Paman Michael.
Satu detik... lima detik... sepuluh detik...
Maizy membuka matanya perlahan.
Nihil. Gak ada apa-apa.
Hutan itu tetap menjadi hutan kuno abad ke-19 yang sunyi. Tidak ada portal sihir, tidak ada perubahan ruang dan waktu, dan tubuhnya masih terbalut gaun sutra biru dongker Kekaisaran Winterhall. Kenyataan pahit itu menghantam dada Maizy dengan sangat keras, membuat sifat ENFJ-nya yang penuh harapan mendadak merasa lemas dan kecewa luar biasa.
Ternyata... portalnya gak aktif? Atau emang gak ada? batin Maizy, menatap tangannya yang gemetar di batang pohon dengan perasaan hancur yang mulai menjalar kembali.
Frederick yang sedari tadi memperhatikan setiap gerak-gerik Maizy langsung melangkah mendekat. Manik mata abu-abunya dipenuhi rasa iba saat melihat bahu Maizy yang mendadak merosot lemas. Pria tegap itu menunduk sedikit, menyamakan tingginya dengan Maizy yang tampak sangat terpukul.
"Maizy..." bisik Frederick teramat lembut, meletakkan tangan kekarnya yang hangat di atas pundak gadis itu. "Kami sudah memeriksa semak-semak, balik batu besar, hingga radius terjauh... tapi di sini benar-benar tidak ada apa-apa. Tidak ada jejak kaki anak kecil, tidak ada pakaian yang tertinggal, tidak ada apa pun."
Cade ikut berjalan mendekat, bot bajunya menginjak ranting kering hingga patah. Dia bersedekap dada, menatap Maizy dengan pandangan yang sulit diartikan. Sifat ketusnya melunak sedikit melihat ekspresi Maizy yang tampak kehilangan arah seolah seluruh dunianya baru saja runtuh.
"Sudah kubilang sejak awal, Nona Menjengkelkan," ucap Cade rendah, mencoba menahan diri agar suaranya tidak terdengar terlalu menjengkelkan kali ini. "Pasukanku tidak akan melewatkan detail sekecil itu di hutan ini. Anak kecil yang kau cari... mungkin memang hanya bagian dari ilusi mimpi burukmu saat pingsan kemarin."
Maizy hanya bisa menunduk dalam-dalam, membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari yang dingin sembari menyembunyikan mata berkaca-kakanya. Di dalam hatinya, dia tahu anak kecil itu memang fiksi buatannya, tapi hilangnya harapan untuk pulang ke tahun 2026 lewat hutan ini adalah fakta menyakitkan yang nyata. Sekarang, dia benar-benar terjebak di Kekaisaran Winterhall.
Melihat portal yang diharapkannya ternyata tidak ada, Maizy akhirnya menyerah dengan bahu merosot lesu. "Ya sudah... ayo balik saja," gumamnya pelan.
Mendengar kepatuhan Maizy yang tidak biasa, Frederick dan Cade sempat saling lirik. Demi menghibur sang Nona Muda yang tampak patah hati, Frederick mengusulkan untuk pulang melewati jalur pasar pusat kerajaan—sekaligus membiarkan Maizy menghirup udara segar. Mereka bertiga memutuskan berjalan kaki, meninggalkan pasukan elit dan kuda-kuda mereka untuk mengawal dari jarak aman di belakang.
Pasar Kekaisaran Winterhall abad ke-19 ternyata luar biasa hidup dan ramai. Aroma roti panggang, rempah-rempah, dan suara riuh para pedagang yang menjajakan kain sutra serta perhiasan perak memenuhi udara.
Melihat sekeliling, sifat ENFJ Maizy perlahan bangkit kembali. Naluri "mau bersenang-senang menikmati fasilitas dunia ilusi" yang sempat padam kini sedikit terobati. Dia berjalan di tengah, diapit oleh dua komandan berzirah megah yang otomatis membuat kerumunan warga pasar langsung membelah memberi jalan dengan penuh hormat.
Cade berjalan dengan gaya angkuh seperti biasa, sesekali melirik sinis pada pedagang yang terlalu berani menatap mereka. Sementara Frederick berjalan sangat mepet di sisi Maizy, memastikan tubuh tegap nya menjadi tameng agar Maizy tidak tersenggol oleh hiruk-pikuk warga pasar. Manik mata abu-abunya sesekali melirik Maizy dengan tatapan lembut, memastikan gadis itu baik-baik saja.
Saat mereka sedang melewati area persimpangan dekat stasiun kereta uap kuno kekaisaran, langkah kaki Maizy mendadak berhenti total.
Deg.
Jantung Maizy rasanya seperti berhenti berdetak seketika. Lensa kacamatanya sampai hampir melorot karena matanya terbelalak lebar, mengunci pandangannya pada sesosok pria yang membelakangi mereka di depan sebuah kedai kopi tua.
Pria itu mengenakan kemeja linen kasar dengan rompi wol cokelat yang agak pudar. Postur tubuhnya yang tegap namun agak membungkuk lelah, cara dia meletakkan kedua tangannya di pinggang, hingga potongan rambut belakangnya yang agak berantakan...
P-Paman Michael?! pekik Maizy histeris di dalam hatinya.
Kemiripannya dari arah belakang benar-benar mencapai 100%! Gestur tubuh pria itu saat sedang mengobrol dengan kusir kereta sama persis dengan kebiasaan Paman Michael di tahun 2026 kalau lagi santai di depo kereta cepat Berlin.
"Maizy? Ada apa?" Frederick langsung ikut menghentikan langkahnya, menunduk cemas melihat wajah Maizy yang mendadak pucat pasi dengan tatapan mata yang tak lepas dari kerumunan.
Cade ikut berhenti, mendengus pelan sambil berkacak pinggang dengan zirah peraknya yang berdenting. "Jangan bilang kau melihat anak kecil gaib itu lagi di tengah pasar, Nona?" sindir Cade kaku, walau mata cokelat kemerahannya diam-diam ikut menyisir arah pandang Maizy dengan waspada.
Tanpa memedulikan ucapan kedua komandannya, Maizy mulai melangkah maju dengan terburu-buru, membelah kerumunan pasar dengan napas memburu demi mengejar sosok pria yang sangat mirip dengan pamannya tersebut.