Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Awal dari Selamanya
Serpihan-serpihan kertas putih yang hancur itu kini berserakan di atas lantai marmer hitam ruang kerja Renard, berkilau samar di bawah pendar lampu meja yang temaram.
Lembaran yang dulunya merupakan belenggu hukum berkekuatan hukum miliaran rupiah, malam ini telah kehilangan taringnya sepenuhnya. Kertas itu tidak lagi memiliki arti, karena kekuatan terbesar yang mengikat mereka kini tak lagi memerlukan tinta di atas kertas bermeterai.
Renard masih mendekap Arumi dengan teramat erat. Detak jantung pria itu berdegup konstan di bawah kain kemeja hitamnya yang halus, mengalun bagaikan melodi penenang bagi seluruh badai yang selama beberapa bulan ini berkecamuk di dalam dada Arumi.
Perlahan, Renard melonggarkan pelukannya. Ia menundukkan kepalanya, menatap wajah Arumi yang masih dihiasi sisa-sisa air mata haru.
Jemari tangannya yang besar dan hangat bergerak lembut, menangkup kedua sisi wajah istrinya, memaksa Arumi untuk menatap langsung ke dalam kedalaman manik mata elangnya yang kini telah melunak sepenuhnya.
"Kertas-kertas di bawah sana tidak akan pernah bisa mendikte apa yang kurasakan padamu lagi, Arumi," bisik Renard, suaranya terdengar parau namun sarat akan ketegasan mutlak seorang pria yang telah menyerahkan seluruh jiwanya.
"Mulai detik ini, kamu bebas. Bebas untuk pergi jika kamu mau, atau bebas untuk tinggal di sini bersamaku karena kamu memang menginginkannya."
Arumi menatap mata suaminya, mencari sisa-sisa keraguan atau kepalsuan di sana, namun yang ia temukan hanyalah hamparan ketulusan yang menentramkan. Ia tersenyum di sela tangis kecilnya, lalu menggelengkan kepala perlahan.
"Aku tidak akan pergi ke mana pun, Renard," balas Arumi lirih, suaranya bergetar penuh dengan emosi yang membuncah.
"Rumahku... sudah berada di sini, bersamamu."
Mendengar pengakuan jujur tersebut, seulas senyuman tulus yang luar biasa menawan terbit di bibir tegas Renard.
Tanpa mampu menahan desakan rasa yang selama ini terkunci rapat di balik dinding egonya, Renard memiringkan wajahnya, memangkas sisa jarak di antara mereka, dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Arumi.
Sebuah kecupan yang teramat lembut, dalam, dan penuh dengan untaian janji bisu yang tak terucap. Ini bukan lagi ciuman formalitas yang mereka lakukan di depan kamera demi meyakinkan publik, melainkan sebuah penyatuan dua hati yang akhirnya berhasil menemukan jalan pulang setelah tersesat di dalam labirin sandiwara panjang.
Arumi memejamkan matanya, meremas pelan kain kemeja di dada Renard, membiarkan dirinya tenggelam sepenuhnya dalam kehangatan yang meruntuhkan seluruh sisa ketakutannya akan masa depan.
Keesokan harinya adalah hari Sabtu. Sinar matahari pagi yang cerah menyusup masuk melalui celah gorden kamar utama Arumi, memancarkan pendar keemasan yang hangat di atas tempat tidur rajutnya.
Arumi membuka kelopak matanya perlahan, menghirup udara pagi dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.
Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya—perasaan bersalah sebagai anak dari keluarga Baskoro yang bangkrut, serta ketakutan akan status pernikahan kontraknya—kini telah menguap tak berbekas, berganti dengan rasa aman yang luar biasa nyata.
Ia beranjak dari tempat tidur, mengenakan pakaian rumah berupa sweater rajut longgar berwarna krem dan celana panjang kasual, lalu berjalan menuruni tangga pualam menuju lantai bawah.
Suasana di ruang makan utama pagi ini terasa begitu rileks. Aroma harum kopi arabika dan roti panggang mentega menyeruak, memenuhi seluruh penjuru ruangan.
Mama Sofia sudah duduk manis di kursinya, tampak sedang sibuk mengobrol santai dengan Bi Sumi sembari sesekali memberikan potongan kecil sosis kepada si Oyen yang setia menunggu di bawah meja.
"Selamat pagi, Mama. Pagi, Bi Sumi," sapa Arumi dengan senyuman manis yang merekah alami sejak ia melangkah masuk.
"Selamat pagi, Menantu kesayangan Mama!" sahut Mama Sofia dengan nada suara yang luar biasa ceria. Beliau menatap Arumi lekat-lekat, dan sebagai seorang ibu, beliau langsung bisa menangkap perubahan aura yang terpancar dari wajah Arumi.
Tidak ada lagi gurat kecemasan yang tersembunyi. Wajah perempuan muda itu kini tampak begitu cerah dan bahagia. "Wah, sepertinya kencan semalam sukses besar ya? Lihat, wajahmu sampai kelihatan bercahaya begitu."
Arumi hanya bisa tersipu malu, mengambil posisi duduk di sebelah kursi utama yang biasanya ditempati oleh Renard. "Mama bisa saja. Semalam tempatnya memang sangat indah."
Tak lama kemudian, sosok yang sedang dibicarakan muncul dari arah lorong ruang kerja. Pria itu tidak mengenakan setelan jas formal atau kemeja kaku seperti hari kerja biasanya.
Karena ini akhir pekan, Renard tampil sangat kasual dengan kaus polo berwarna hitam polos yang pas di tubuh atletisnya, menampilkan kesan santai namun tetap memancarkan karisma yang kuat.
Renard melangkah mendekat, dan hal pertama yang ia lakukan adalah menatap Arumi. Sepasang mata elangnya melembut dalam sekejap, memberikan sebuah tatapan penuh arti yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
Sebelum mengambil tempat duduknya, Renard membungkuk sedikit dan mengecup puncak kepala Arumi dengan sangat alami di hadapan sang ibu.
"Pagi, Arumi. Pagi, Mama," sapa Renard dengan suara baritonnya yang hangat.
Mama Sofia hampir saja tersedak teh hangatnya menyaksikan pemandangan tersebut. Beliau melirik Bi Sumi yang berdiri di sudut ruangan, dan kedua wanita senior itu langsung saling bertukar pandang dengan senyuman lebar yang tertahan di bibir masing-masing.
"Astaga, Renard... Mama tidak salah lihat, kan? Kamu sekarang sudah pintar mencium istri di depan Mama tanpa disuruh?" goda Mama Sofia, tidak bisa menahan hasratnya untuk meledek sang putra yang biasanya sedingin es batu tersebut.
Renard berdeham kaku, dan seperti biasa, rona merah tipis langsung menjalar di kedua ujung telinganya yang mendadak terasa panas.
Ia buru-buru meraih cangkir kopi hitam yang baru saja dituangkan oleh Bi Sumi, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa. "Mama, tolong jangan mulai lagi di jam sarapan."
Arumi hanya bisa menahan tawa renyahnya melihat tingkah laku menggemaskan dari suaminya tersebut, sementara kehangatan sejati kini telah sepenuhnya memenuhi ruang makan Wijaya.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang penuh dengan tawa dan godaan manja dari Mama Sofia, Renard mengajak Arumi untuk berjalan-jalan di taman belakang mansion. Udara pagi yang sejuk dan aroma rumput basah sisa hujan semalam menciptakan atmosfer yang sangat tenang untuk mengobrol.
Mereka berjalan beriringan di sepanjang jalan setapak yang terbuat dari susunan batu alam, dengan jemari tangan yang saling bertautan erat.
"Arumi," panggil Renard pelan, menghentikan langkah kakinya tepat di bawah naungan pohon kamboja besar yang bunganya sedang bermekaran.
Ia berbalik menghadap Arumi, menatap istrinya dengan pandangan yang sangat serius namun lembut. "Sekarang setelah semua urusan yudisiummu selesai, aku ingin menanyakan satu hal padamu. Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?"
Arumi tertegun sejenak, menatap Renard dengan dahi berkerut samar. "Maksudmu... tentang masa depanku?"
"Benar. Tentang impianmu, tentang kariermu, atau tentang apa pun yang ingin kamu capai," jelas Renard, jemari tangannya meremas pelan tangan Arumi, menyalurkan dukungan emosional yang luar biasa besar.
"Dulu, pernikahan kontrak ini membatasimu. Kamu harus selalu bersembunyi di balik peranku sebagai tameng. Tapi sekarang, statusmu adalah istri sahku yang sesungguhnya. Aku tidak ingin keberadaanmu di rumah ini justru mematikan potensi dan impian yang kamu miliki. Aku ingin menjadi orang pertama yang mendukung dan memfasilitasi semua mimpimu, Arumi."
Mendengar ketulusan dan kelonggaran hati yang ditunjukkan oleh Renard, Arumi merasa matanya kembali berkaca-kaca oleh rasa haru.
Pria di hadapannya ini tidak hanya mencintainya sebagai seorang wanita, melainkan juga menghormati eksistensi dan cita-citanya sebagai seorang individu yang mandiri.
"Aku... aku ingin melanjutkan apa yang sempat tertunda, Renard," jawab Arumi dengan tatapan mata yang kini berbinar penuh tekad.
"Aku ingin mengembangkan bisnis kecilku, dan aku juga ingin membuktikan bahwa nama Baskoro tidak akan selalu diidentikkan dengan kehancuran. Aku ingin membangun jalanku sendiri, tentu saja... dengan kamu yang selalu ada di sampingku."
Renard tersenyum lebar—sebuah senyuman penuh kebanggaan yang membuat ketampanannya memancar sempurna. Ia menarik Arumi ke dalam dekapannya, mengecup pelipis wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Tentu saja. Aku akan selalu ada di sana, menjadi perisai dan pendukung setiamu, Nyonya Wijaya," bisik Renard dengan suara parau yang menenangkan.
"Dan satu hal lagi... dalam waktu dekat, aku ingin kita menggelar sebuah acara resepsi pernikahan yang sesungguhnya. Bukan untuk konsumsi media, bukan untuk kepentingan bisnis Wijaya Group, melainkan sebuah perayaan sakral di mana dunia harus tahu bahwa kamu adalah wanita yang kupilih dengan seluruh cintaku."
Arumi mengangguk bahagia di dalam pelukan Renard, membiarkan kedamaian pagi itu meresap ke dalam seluruh jiwanya.
Di bawah langit biru yang bersih, mereka berdua tahu bahwa lembaran kontrak usang telah sepenuhnya berakhir, dan kini... babak baru dari sebuah kisah cinta yang sejati dan abadi baru saja dimulai.