Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Setelah sarapan yang hampir tanpa kata, Drake meletakkan cangkir kopinya dengan gerakan lambat. Matanya yang gelap menatap Nathalie yang masih duduk di kursi meja makan, tubuhnya dibalut hanya kaos oversized yang menutupi paha mulusnya.
“Waktunya kamu membayarnya, Nathalie,” ucap Drake dengan suara rendah yang penuh otoritas. Ia berdiri, tinggi dan tegap, bayangannya jatuh menutupi tubuh perempuan itu. “Di dunia ini tidak ada yang gratis. Aku sudah beri kamu tempat aman, obat luka, makan, dan perlindungan dari ibu sialanmu. Sekarang giliran kamu melayaniku.”
Nathalie menunduk, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini akan datang. Dulu ia pernah melakukannya dengan Drake, tapi kali ini terasa berbeda, lebih berat, lebih dalam, karena ia benar-benar tak punya pilihan lain. Tubuhnya masih memar, jiwanya masih trauma, tapi ia bangkit pelan dan mengikuti Drake masuk ke kamar tamu.
Kamar itu luas, dengan ranjang king size berseprai sutra hitam yang terasa dingin saat kulitnya menyentuhnya. Drake menutup pintu di belakang mereka dengan pelan.
Klik...
Suara pintu terkunci.
Drake melepas kemejanya satu per satu, memperlihatkan dada bidang berotot dan perut rata yang terpahat sempurna. Nathalie duduk di pinggir ranjang dengan tangan gemetar.
“Jangan buat aku menunggu,” bisik Drake sambil mendekat. Ia menarik Nathalie agar berdiri, lalu menciumnya dengan kuat, penuh tuntutan. Bukan ciuman lembut, melainkan ciuman yang menguasainya. Lidahnya menjelajah, tangannya merayap ke bawah kaos, menyentuh kulit perut Nathalie yang mulus.
"Ahhh....."
Desahan pertama keluar dari bibir Nathalie saat Drake mendorongnya lembut ke atas ranjang. Tubuh pria itu menindihnya, berat tapi terkendali.
Tangan Drake yang terampil melepas kaos dari tubuh Nathalie, memperlihatkan kulitnya yang penuh memar samar di pipi, pergelangan tangan, dan beberapa bagian dada. Drake berhenti sejenak, matanya menyipit melihat bekas luka itu, lalu ia menunduk dan mencium setiap memar tersebut dengan pelan, seolah sedang menandai wilayahnya.
“Ahh...” desahan kecil keluar dari mulut Nathalie saat bibir Drake menyentuh puncak dada kirinya. Sensasi panas dan dingin bercampur, membuat tubuhnya menggeliat tanpa sadar.
Drake tersenyum di atas kulitnya, tangannya yang besar meremas pinggul Nathalie, menariknya lebih dekat hingga ia bisa merasakan kejantanan pria itu yang sudah mengeras menekan paha dalamnya.
“Bagus... keluarkan suaramu,” gumam Drake serak. Ia melepas sisa pakaiannya sendiri dengan cepat, tubuh telanjangnya yang atletis terpapar di bawah cahaya pagi yang menyusup dari tirai. Dengan gerakan ahli, ia membuka kaki Nathalie lebar-lebar, jarinya menyentuh titik sensitif perempuan itu, menggoda hingga tubuh Nathalie melengkung.
“Nnnghh... tuan..” desahan Nathalie semakin keras, suaranya parau bercampur rasa malu dan kenikmatan yang mulai bangkit. Trauma kemarin masih menghantui, tapi sentuhan Drake yang terampil membuat otaknya kabur. Pria itu masuk ke dalamnya dengan satu dorongan kuat, penuh, dan dalam.
“Ahh! Ahhh...” jerit kecil Nathalie keluar, tubuhnya menegang sesaat sebelum mulai beradaptasi.
Drake mulai bergerak, ritme yang lambat tapi kuat, setiap hentakan membuat kepala ranjang berderit pelan. Desahan mereka saling bersahut-sahutan memenuhi kamar mewah itu.
“Lebih keras... ya, seperti itu,” desis Drake di telinga Nathalie sambil mempercepat gerakannya. Tangan satu menekan pinggul Nathalie agar tetap di posisi, tangan satunya meremas dada perempuan itu dengan kasar tapi nikmat. Keringat mulai membasahi tubuh mereka berdua. Suara kulit bertemu kulit, desahan basah, dan napas tersengal memenuhi ruangan.
Nathalie mencengkeram seprai dengan kuat, tubuhnya bergoyang mengikuti irama Drake. “Tuan... ahh... pelan... aku... masih sakit...” keluhnya di sela desahan, tapi pinggulnya justru terangkat lebih tinggi, menyambut setiap hantaman.
Drake tertawa rendah, suaranya penuh kepuasan.
“Ini bayarannya, Sayang. Kamu milikku sekarang.” Ia membalik tubuh Nathalie dengan mudah, membuat perempuan itu berlutut di atas ranjang.
Dari belakang, Drake masuk lagi dengan lebih dalam, satu tangannya menarik rambut Nathalie pelan hingga lehernya melengkung, sementara tangan satunya meraih ke depan, meremas titik sensitifnya.
Desahan Nathalie semakin liar. “Aahh! Yes..ahhh!” Suaranya pecah, campuran antara kenikmatan dan air mata yang kembali mengalir. Tubuhnya gemetar hebat saat gelombang orgasme pertama menghantamnya, otot-otot dalamnya mengejang di sekitar kejantanan Drake.
Drake tidak berhenti. Ia terus menghantam dengan ritme kuat, keringat menetes dari dada bidangnya ke punggung Nathalie. "Milikmu sangat sempit, padahal aku sudah pernah memasukimu” erangnya.
Beberapa menit kemudian, dengan desahan panjang yang dalam, Drake mencapai puncaknya di dalam tubuh Nathalie, tubuhnya menegang kuat sebelum akhirnya ambruk di samping perempuan itu.
Kamar kembali sunyi, hanya terdengar napas mereka yang tersengal-sengal. Nathalie berbaring telentang, tubuhnya lemas, cairan campuran mereka menetes pelan di pahanya. Matanya menatap langit-langit kamar, pikirannya kosong. Ada rasa puas fisik, tapi juga rasa hampa yang dalam. Ia merasa seperti barang lagi, tapi kali ini, barang yang dijaga, bukan dibuang.
Drake menarik tubuh Nathalie ke dalam pelukannya, tangannya mengusap punggung perempuan itu dengan lembut, kontras dengan kekerasan tadi. Ia mencium kening Nathalie yang basah oleh keringat.
“Bagus. Ini baru permulaan,” bisiknya. “Kamu akan tinggal di sini. Aku akan urus segalanya, pekerjaan, uang. Tapi ingat, setiap malam... kamu harus melayaniku seperti tadi. Mengerti?”
Nathalie hanya mengangguk lemah, suaranya hilang. Ia menempelkan wajahnya di dada Drake, mendengar detak jantung pria itu yang masih cepat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu jam setelah percintaan mereka yang penuh nafsu dan tuntutan. Drake bangkit dari atas ranjang, tubuhnya masih berkilau oleh keringat. Ia masuk kedalam kamar mandi, dan membersihkan tubuhnya cepat. Usai itu dia berdandan rapi dengan kemeja putih dan jas dokter yang mahal. Hari ini ia punya jadwal operasi penting di rumah sakit swasta miliknya.
Nathalie masih berbaring lemas di atas seprai yang sudah kusut akibat ulah dua dan Drake, tubuhnya pegal dan penuh tanda merah.
Drake mendekat, mengecup keningnya sekilas sebelum berbalik ke pintu."Uangnya sudah aku transfer ke rekeningmu. Nominalnya cukup untuk bulan ini. Kalau butuh lebih, katakan saja padaku." ucap Drake dengan nada datar, seolah sedang menyelesaikan transaksi bisnis.
Ceklek...
Pintu kamar tertutup kembali, tubuh Drake hilang di balik pintu tersebut.
Nathalie terdiam beberapa saat, lalu tertawa miris. Tawanya pahit, hampa, dan penuh kesedihan. Air mata menggenang di sudut matanya. Ternyata ia tidak lebih dari seorang wanita panggilan kelas tinggi. Diberi tempat tinggal mewah, diobati lukanya, dan dibayar dengan uang transfer, semua sebagai imbalan atas tubuhnya yang melayani Drake kapan pun pria itu mau.
Ia memeluk bantal erat, merasakan dinginnya seprai yang kini terasa sangat sepi. "Apa bedanya denga jal*ng." gumamnya parau. Di luar, kota terus berdenyut, sementara hatinya semakin hancur.