"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Jiplakan Sempurna di Balik Pohon Bambu
BAB 33: Jiplakan Sempurna di Balik Pohon Bambu
Langkah kaki Adrian yang lebar dan bertenaga menyeret tubuh mungil Kiara tanpa sedikit pun celah untuk memberontak. Cengkeraman tangan kekar sang CEO di pergelangan tangan Kiara begitu kukuh, mengabaikan fakta bahwa beberapa karyawan rumah makan sempat menatap mereka dengan pandangan ngeri. Namun, tidak ada satu pun orang udik di sana yang berani menghentikan langkah Adrian saat beberapa bodyguard berjas hitam langsung membuat barikade menutup jalan, mengisolasi area belakang restoran menjadi wilayah privat sang penguasa korporat.
Adrian menghempaskan tubuh Kiara ke dinding anyaman bambu di koridor belakang yang sepi, dekat dengan rimbunnya rumpun bambu yang bergesek pelan tertiup angin sore. Bunyi gemercik saluran air alami di bawah lantai panggung kayu itu menjadi latar suara dari deru napas mereka yang saling memburu kasar.
"Lepaskan saya, Pak Adrian! Tindakan Anda ini bisa saya laporkan atas tuduhan pelecehan!" pekik Kiara, suaranya bergetar hebat. Kedua tangan mungilnya bertumpu pada dada bidang Adrian yang dilapisi jas mewah abu-abu arang, mencoba menciptakan jarak yang mustahil ia dapatkan. Sifat tangguhnya dipaksa bangkit demi menutupi kepanikan gila yang kini merajai benaknya.
"Laporkan saja, Kiara. Laporkan ke polisi setempat dan kita lihat siapa yang akan berakhir di balik jeruji besi atas kasus penipuan dan penggelapan kontrak!" desis Adrian kejam.
Pria itu memajukan tubuh tegapnya, mengunci pergerakan Kiara sepenuhnya dengan kedua lengan kekarnya yang bertumpu di sisi kanan dan kiri kepala Kiara. Jarak yang teramat mengikis udara itu membuat Adrian bisa mencium dengan sangat jelas aroma tubuh Kiara—aroma keringat tipis bercampur sabun mandi murah yang entah mengapa justru memicu kembali letupan birahi purba yang selama empat tahun ini ia pasung mati-matian di dalam kegelapan hatinya.
Adrian menunduk, menatap lekat-lekat bibir ranum Kiara yang sedikit gemetar, lalu beralih ke mata cokelat gadis itu yang kini mulai digenangi air mata. "Empat tahun, Kiara... Empat tahun aku hidup seperti orang gila karena memikirkan bagaimana bisa seorang mahasiswi yang begitu kuturuti birahi dan keinginannya, tega menjual surat kontrak kami pada ibuku hanya demi tumpukan uang milaran rupiah!"
Adrian mencengkeram rahang lembut Kiara dengan satu tangannya, tidak keras namun penuh penekanan posesif yang menuntut. "Dan sekarang aku menemukanmu di sini. Menjadi pelayan dengan kebaya lurik lusuh, melayani pria-pria asing dengan senyumanmu. Di mana uang itu, Kiara?! Apa kamu sudah menggunakannya untuk bersenang-senang dengan pria lain, hm?!"
"Cukup, Adrian!" Air mata Kiara akhirnya luruh melewati sela jari-jari tangan Adrian yang mencengkeram rahangnya. Rasa sakit karena dituduh sebagai wanita murahan begitu menyayat batinnya. "Kamu tidak tahu apa-apa! Kamu tidak pernah tahu apa yang kulalui!"
"Maka katakan padaku!" bentak Adrian parau, suara baritonnya pecah menampilkan luka batin yang teramat dalam yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng CEO yang kejam. "Katakan padaku apa alasanmu mencampakkan aku malam itu, Kiara!"
"Bunda...?"
Sebuah suara cempreng, lembut, namun bernada datar yang teramat asing di telinga Adrian tiba-tiba memotong ketegangan yang hampir meledak itu.
Adrian seketika membeku. Seluruh otot di tubuh tegapnya menegang kaku. Cengkeraman tangannya di rahang Kiara perlahan terlepas. Pria itu memutar kepalanya perlahan, menatap ke arah ujung koridor belakang yang berbatasan dengan jalan setapak menuju dapur.
Di sana, berdiri seorang anak laki-laki kecil berusia tiga tahun. Anak itu mengenakan kaos oblong putih yang sudah mulai kekecilan dan celana kain sederhana, tangan mungilnya memeluk erat sebuah robot plastik murahan yang warnanya sudah pudar.
Namun, bukan pakaian atau mainan itu yang membuat pasokan oksigen di paru-paru Adrian Alkatiri seolah ditarik paksa hingga habis.
Adrian menatap wajah anak kecil itu dengan sepasang mata elang yang melebar sempurna karena syok yang luar biasa ekstrem. Jantungnya berdentum begitu kencang hingga menimbulkan rasa linu di dadanya. Anak laki-laki di depannya memiliki sepasang mata elang yang tajam, bentuk alis yang tebal memanjang, garis rahang yang tegas, bahkan cara anak itu menatap tegak ke arahnya tanpa rasa takut adalah jiplakan sempurna, cetakan mutlak dari foto masa kecil Adrian Alkatiri sendiri yang disimpan di dalam mansion utama.
Anak itu... bagai pinang dibelah dua dengan dirinya sendiri.
"Arka! Masuk ke dalam, Nak!" pekik Kiara histeris. Seluruh ketangguhan batin yang ia pertahankan selama empat tahun runtuh tak berbekas dalam satu detik. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini menjelma menjadi kenyataan.
Kiara dengan panik mendorong tubuh Adrian, berlari kecil menghampiri Arka dan langsung berlutut memeluk tubuh mungil putranya dengan sangat erat, menyembunyikan wajah Arka di ceruk lehernya yang terbalut kebaya lurik. Tubuh Kiara bergetar hebat, ia menangis ketakutan di balik punggung anaknya.
Adrian melangkah maju dengan sangat lambat, seolah-olah setiap langkah kakinya sedang menginjak duri yang tajam. Sepasang mata elangnya tidak berkedip sedikit pun, terus mengunci sosok Arka kecil yang kini menatapnya dengan pandangan dingin yang teramat familiar—pandangan dingin khas keluarga Alkatiri.
Adrian berhenti tepat di depan Kiara yang sedang mendekap erat anaknya di atas lantai kayu panggung. Pria itu berlutut perlahan, menurunkan ego setinggi langitnya demi menatap wajah anak kecil yang kini juga sedang menatapnya balik dengan binar mata yang sekeras batu granit.
"Kiara..." suara Adrian terdengar sangat lirih, serak, parau, dan dipenuhi oleh guncangan emosi yang luar biasa dahsyat. Pria itu mengulurkan tangannya yang gemetar—tangan yang biasanya begitu tegas menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah—mencoba menyentuh pipi gembil Arka kecil.
"Jangan sentuh anakku, Adrian!" jerit Kiara histeris, menggeser tubuhnya menjauh untuk melindungi putranya dari jangkauan tangan Adrian.
Adrian menarik kembali tangannya, tatapan mata elangnya mendadak menggelap, memancarkan kilat kegilaan, birahi kepemilikan, dan tuntutan kebenaran yang teramat pekat. Ia bangkit berdiri, menatap Kiara dari ketinggian tubuh tegapnya dengan napas yang memburu kasar bak badai yang siap meruntuhkan seluruh pinggiran kota itu.
"Siapa anak ini, Kiara?!" geram Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah namun bergetar hebat menahan ledakan emosi di dalam dadanya. "Jawab aku dengan jujur, Mahasiswaku... Siapa ayah dari anak yang memiliki wajah yang sama persis dengan wajahku ini?!"