Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Festival Bintang dan Pertemuan yang Terlambat
Langit kerajaan Elarion tampak lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya. Awan tipis bergerak perlahan membiarkan sinar matahari menyinari jalanan kota yang telah dihiasi ribuan pita dan lentera kristal berwarna biru keperakan.
Hari yang dinanti akhirnya tiba—Festival Bintang. Festival yang hanya diadakan satu kali dalam setahun untuk menghormati para penyihir kuno yang dipercaya telah menciptakan sihir pertama di dunia.
Sejak pagi, seluruh kota kini dipenuhi penduduk yang sudah mengenakan pakaian terbaik mereka. Para musisi memainkan harpa kristal di sudut jalan, anak-anak berlarian dengan membawa balon cahaya, serta ada juga pedagang yang menawarkan makanan dan benda sihir kecil yang berkilauan.
Suasana disana benar-benar terlihat sangat hidup, tapi berbeda jauh dengan kediaman keluarga Arvendis saat ini. Pagi itu, mereka justru dipenuhi oleh kesibukan mempersiapkan sesuatu untuk keberangkatan Aurelia ke Akademi Aetherion.
Di depan cermin yang berada dalam kamarnya, Aurelia sedang merapikan gaun sederhana berwarna putih gading yang dipadukan dengan mantel tipis berwarna biru muda, kemudian Selena berdiri dibelakangnya seraya menyelipkan bunga lavender kecil di sela rambut panjang Aurelia.
“Anak ibu sudah cantik.” Aurelia tersipu mendengar pujian dari ibunya.
“Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena memang begitu.” Selena tersenyum lembut. Ia memandangi gadis yang telah dibesarkan olehnya selamat empat belas tahun dengan mata yang penuh kasih.
Tanpa sadar, waktu berlalu begitu cepat, dan gadis kecil yang dulu menangis ketakutan dipelukannya, kini telah tumbuh menjadi gadis yang anggun.
“Ayo.” Selena menggandeng tangan Aurelia. “Kalau kita terlambat, Rowan pasti akan mengoceh.” Ucap Selena lagi dan membuat Aurelia tertawa kecil. Benar saja, saat keduanya tiba di aula utama, Rowan sudah terlihat mondar-mandir layaknya setrika belum panas.
“Kenapa kalian lama sekali.” Protesnya dan Lucien yang sedang membaca buku di sofa hanya menggeleng pelan.
“Baru lima menit.” Pungkas Selena menanggapi komplainan putra bungsunya.
“Itu lama.”
Kael yang saat itu tengah berdiri di dekat pintu hanya melirik sekilas, namun tatapannya berhenti sesaat ketika melihat Aurelia. Sudah lama bersama, tapi baru kali ini ia menyadari bahwa gadis yang selama ini dianggap adik olehnya telah berubah menjadi wanita dewasa.
“Berangkat.” Satu kata itu cukup membuat Rowan kembali bersemangat.
Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu hampir tiga puluh menit menggunakan kereta sihir keluarga Arvendis. Sepanjang perjalanan, Aurelia tak henti-hentinya melihat keluar jendela, matanya berbinar melihat berbagai dekorasi yang menghiasi kota.
“Lihat!” Aurelia menunjuk ke arah langit. Ada ratusan burung cahaya berterbangan membentuk pola konstelasi, Lucien tersenyum melihatnya.
“Itu sihir ilusi tingkat tinggi.” Lucien memberitahu.
“Indah sekali.” Sahut Aurelia yang masih merasa takjub dengan pemandangan yang tengah ia saksikan saat ini.
“Nanti aku juga bisa buat begitu.” Sambar Rowan seraya membusungkan dada.
“Terakhir kali kau mencoba, bukannya malah menjadi ayam?” Sahut Kael dengan wajah yang datar. Mendengar hal itu membuat Lucien menahan tawanya, dan Rowan? Tentu saja langsung melayangkan sebuah protes pada kakak sulungnya itu.
“Itu kecelakaan tahu.” Jawab Rowan.
Mendengar pernyataan Kael dan jawaban dari Rowan membuat Aurelia ikut tertawa hingga matanya menyipit. Suara tawanya membuat suasana kereta menjadi hangat. Armand dan Selena saling berpandangan serta saling melemparkan senyuman satu sama lain.
Kini mereka telah tiba di alun-alun utama, keramaian langsung menyambut mereka. Aurelia benar-benar terpukau melihat apa yang ada dihadapannya saat ini, terdapat pohon raksasa dengan daun-daun bercahaya seperti bintang berdiri dengan kokoh di tengah kota.
Pohon Astra, begitulah orang-orang disana menyebutnya. Konon, pohon itu sudah hidup sejak ribuan tahun lalu, dan setiap festival bintang berlangsung, para penyihir akan menggantungkan harapan mereka di ranting-ranting pohon tersebut.
Aurelia memandang pohon itu tanpa berkedip. Entah kenapa, hatinya terasa hangat, seolah pohon itu tengah memanggilnya.
“Relia.” Suara Rowan berhasil menyadarkan Aurelia dari lamunannya. “Ayo kita beli manisan.” Belum sempat Aurelia menjawab, Rowan sudah menyeretnya menuju deretan pedagang yang berada disana.
Kael dan Lucien mengikuti adiknya dari belakang. Di sebuah kios kecil, Rowan membeli tiga tusuk apel karamel, kemudian ia memberikan satu kepada Aurelia.
“Terima kasih.” Aurelia menggigitnya pelan.
“Enak?” Tanya Rowan dan Aurelia mengangguk cepat. Jawaban itu sungguh membuat Rowan merasa sangat puas. Namun senyumnya perlahan memudar ketika melihat beberapa pemuda disana mulai melirik Aurelia, beberapa dari mereka bahkan berbisik seraya menunjuk ke arah mereka.
“Gadis itu cantik sekali.”
“Dia dari keluarga mana, ya?”
“Belum pernah lihat.”
Merasa tidak tahan dengan bisikan-bisikan yang terdengar di telinga Rowan, Rowan langsung mengambil langkah seribu untuk melindungi saudari perempuannya. Rowan mengambil posisi dengan berdiri dihadapan Aurelia dengan niat menghalangi pandangan para pemuda itu pada Aurelia.
“Jangan lihat-lihat.” Kalimat Rowan itu membuat Aurelia yang tengah menikmati apel karamelnya berkedip bingung. Sedangkan Kael yang melihat tingkah adiknya itu hanya menghela napas pelan.
“Berlebihan.”
“Aku cuma mau menjaga Aurelia.” Kael tidak menjawabnya lagi. Namun tanpa sadar ia juga melangkah sedikit lebih dekat ke arah Aurelia, dan Lucien hanya bisa tersenyum kecil melihat kedua saudaranya.
Menjelang sore, perlombaan sihir dimulai. Para penyihir muda sudah berkumpul di tengah alun-alun untuk menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Mulai dari api, es, angin, petir dan berbagai elemen saling bertabrakan di udara membentuk pertunjukkan yang memukau.
Pertunjukkan itu membuat Aurelia berdecak kagum. Ia tidak menyadari bahwa liontin dilehernya mulai bersinar pelan, dan semakin lama semakin terang. Sampai akhirnya, seekor kupu-kupu bercahaya hinggap di bahunya dan hal itu berhasil membuat Aurelia menoleh.
“Kupu-kupu?” Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh kupu-kupu tersebut. Namun, belum sempat ia menyentuhnya, kupu-kupu itu justru terbang perlahan. Bukan pergi, kupu-kupu tersebut melayang menuju pohon astra, dan tanpa sadar Aurelia mengikutinya.
“Relia?” Suara Lucien terdengar dari belakang, namun Aurelia sama sekali tidak mendengarnya, karena kakinya terus membawanya melangkah mengikuti kupu-kupu tersebut.
Langkah kaki Aurelia pun membawanya semakin dekat dengan pohon Astra dan kini ia telah berdiri tepat dibawah pohon raksasa itu. Daun-daunnya mulai berguguran, setiap helai yang jatuh berubah menjadi cahaya kecil dan seluruh alun-alun mendadak sunyi.
Semua mata kini teralihkan pada pohon Astra. Perlahan, seluruh ranting pohon itu memancarkan cahaya putih keperakan. Tidak pernah ada yang melihat fenomena seperti itu sebelumnya, dan hal tersebut membuat seorang tetua penyihir membelalakkan kedua matanya.
“Itu…” Ucapannya terhenti sebentar. “… tidak mungkin.” Sambungnya lagi saat melihat apa yang terjadi dihadapannya.
Cahaya putih yang berasal dari ranting pohon itu berubah menjadi ribuan bintang kecil yang berputar mengelilingi Aurelia. Gaun putih yang dikenakannya pun berkibar tertiup angin, rambut hitamnya ikut melayang dan Aurelia berdiri ditengah cahaya layaknya seorang putri yang turun dari langit.
Kejadian itu membuat semua orang terpaku. Selena menutup mulutnya khawatir, Armand langsung berdiri, Kael mulai mengepalkan tangannya, Lucien pun terlihat panik, sedangkan Rowan langsung berlari menuju Aurelia.
“Relia.” Panggil Rowan.
Saat Rowan menyentuh bahu Aurelia, seluruh cahaya itu mendadak hilang, kemudian keduanya pun sama-sama terjatuh. Suasana kembali normal, daun-daun berhenti bersinar, langit pun kembali seperti semula, dan orang-orang disana saling pandang dengan wajah bingung.
“Tadi itu apa? Ilusi? Tapi rasanya tidak mungkin.”
Tetua penyihir yang melihat kejadian itu secara langsung pun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Aurelia. Tatapannya benar-benar dipenuhi dengan keterkejutan. Namun, sebelum ia sempat mendekat, Armand segera membawa keluarganya pergi dari kerumunan disana.
Di kejauhan, tepatnya di atas menara tua yang menghadap seluruh kota, seorang pemuda berjubah hitam disana tengah berdiri seorang diri. Angin menerbangkan rambut hitamnya, mata abu-abunya menatap sosok Aurelia yang semakin menjauh bersama keluarga Arvendis, sedangkan sudut bibirnya terukir sebuah senyum tipis.
“Akhirnya…” Kemudian ia mengeluarkan sebuah pita biru lusuh dari dalam sakunya, pita yang telah disimpan selama bertahun-tahun, lalu tatapannya pun berubah menjadi tatapan yang sangat hangat. “Kau masih memakai liontin itu.” Gumamnya pelan.
“Tuan Orion.” Tiba-tiba saja dibelakangnya muncul seorang pria tua berjanggut putih. “Kita harus segera kembali ke Akademi.” Orion tidak langsung menjawab, ia masih memandangi kereta keluarga Arvendis yang perlahan menghilang di kejauhan. Setelah itu, ia pun mengangguk pelan.
“Kali ini, aku tidak akan kehilangan jejaknya lagi.” Ucapnya pelan.
Langit perlahan berubah menjadi jingga, festival pun masih berlangsung, orang-orang kembali tertawa dan menari tanpa mengetahui bahwa sebuah pertanda besar baru saja muncul dihadapan mereka.
Sementara didalam kereta yang melaju, Aurelia memandang telapak tangannya sendiri, disana masih ada sisa cahaya kecil yang berkelip di ujung jarinya dan untuk pertama kalinya, Aurelia mulai takut pada takdir yang sedang menunggunya didepan sana.