Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Rania mengajak keduanya untuk makan siang bersama, dia ingin mentraktir mereka karena dia yakin semua ini berhasil dan tanpa drama karena mereka.
"Selamat yah Ran, akhirnya kamu bebas dari keluarga parasit itu".
Tania melebarkan senyumnya seakan mendapatkan lotre yang sangat besar.
Suaminya yang berada disampingnya hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan melihat istrinya begitu senang.
"Iya Tan, makasih yah, aku senang dan lega akhirnya lepas dari semua ini, ini sungguh sangat menyiksa".
Rania tersenyum senang karena ikut bahagia bisa merasakan kebebasan ini.
"Sama-sama Ran, untung saja lelaki tidka tahu diri itu bisa sadar dan tidak banyak tingkah, ternyata dia takut jika pekerjaan nya hilang daripada rumah tangganya, dasar menyebalkan". Sungut Tania kesal.
"Benarkan sayang". Ucapnya kembali melihat suaminya yang hanya bisa tersenyum tipis melihatnya.
Melihat tingkah Tania, Rania menepuk jidatnya karena sudah menduga jika semua ini ada kaitannya dengan perbuatan sahabatnya ini, walau seperti itu dia sangat berterima kasih.
"Jadi semua ini ulah kalian?". Tanyanya memastikan.
"Iyaps, aku sengaja mengancamnya menggunakan otoritasku sebagai pemilik saham diperusahaan suamiku untuk memberinya pelajaran dan tentu saja suamiku ini tidak punya pilihan lain selain mengancamnya". Ucapnya dengan bangga.
Dia memang sengaja melakukan itu agar Ardi tahu diri dan mundur dengan cuma-cuma.
"Dia mendapatkan pembully an ditempat kerja karena perbuatan kamu sayang". Tegur sang suami dengan pelan.
Keduanya langsung menoleh begitu suami Tania itu menyelesaikan kalimatnya.
Lelaki itu menghela nafas kasar, dia sungguh tidak suka cara istrinya, walaupun kenyataannya begitu tapi sikap Nepotisme dan mementingkan kedudukan dan menindas orang itu tidak pantas dibenarkan.
"pembullyan?". Kompak keduanya dengan mata melebar sempurna.
Dia mengangguk pelan, ". Perkataan kamu waktu menghina Ardi dikantor itu didengar semua karyawan dan ternyata sikap Ardi yang dulu seenaknya akhirnya dapat balasan dan kini dia ditindas oleh teman-temannya seperti dulu dia tindas".
"Mereka menuntut balas atas semua sikap sombong Ardi karena selama ini dia selalu merasa paling hebat karena selalu lebih unggul dalam bekerja".
Rania menggelengkan kepalanya tidak menyangka sedangkan Tania langsung mendengus sinis.
"Makanya jangan sok belagu, sekarang dapat karmanya, emang enak". Dengusnya pelan.
Rania nyaris tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu, selama mengenal Tania dia sudah paham dan mengerti watak sahabatnya yang memang ceplas-ceplos jika terjadi sesuatu dan paling jengkel dengan orang yang sok berkuasa dan menindas orang seolah dia tidak seperti itu.
Sedangkan suaminya hanya melirik Rania dengan pasrah seakan memberi kode.
"Istriku memang ajaib".
"Ya sudah, kita harus rayakan keberhasilan ini, nanti aku Carikan lelaki tampan dan kaya kalau perlu yang paling tampan". Girang Tania dengan bersemangat.
Rahang keduanya nyaris jatuh mendengar perkataan Tania yang begitu menyeleneh itu.
"Astaga Tan, kamu ini, aku baru cerai malah mau cari laki-laki untukku, kamu tidak takut di sebelahku berubah jadi macan yah". Goda Rania melihat kearah suaminya Tania yang berada disampingnya.
Tania menoleh kearah suaminya dengan cengengesan, dia langsung menggoyangkan tangan suaminya dengan manja karena takut suaminya marah.
"Jangan marah suamiku yang paling tampan, aku hanya mencari lelaki tampan untuk Rania kok, kamu adalah lelaki tampan ku saja seorang". Bujuknya dengan manja.
Rania mendengus geli melihat tingkah laku Tania yang seakan tidak umur itu sedangkan suami Tania hanya tertawa geli dan malu karena Rania meledeknya karena ucapan istrinya itu
"Adudu, kalian ini hargai yang jomblo dong". Sungutnya berpura-pura kesal.
Mereka langsung tertawa bersama tanpa menghiraukan orang-orang yang memperhatikan mereka.
Ardi yang kini pergi menyendiri kini hanya bisa duduk termenung menyesali segala yang terjadi, dia sangat sadar apa yang dikatakan bosnya benar adanya.
Selama ini ibu dan adiknya selalu ikut campur masalah pernikahannya dengan Rania apalagi semenjak mereka tinggal bersama dirinya dan juga Rania, dia tentu saja selalu mendapatkan laporan yang tidak-tidak dari keduanya tentang Rania padahal istrinya tidak pernah melakukan itu.
"Aku sungguh menyesal akan semua ini Ran, maafkan aku".
Sedangkan dirumah keluarga Ardi, kedua perempuan yang begitu disayanginya ini mendengus jengkel dan mengomel sepanjang jalan.
Brak..
Suara benda yang diletakkan sembarangan terkesan seperti dilempar membuat Santoso terkejut setengah mati.
"Dasar anak tidak tahu diri, menyebalkan sekali". Sungutnya dengan kesal.
Santoso mengalihkan pandangannya kepada keduanya dengan jengkel karena membuatnya terkejut.
"Kenapa kalian?". Ketusnya kemudian melihat mereka dengan mata menyipit tidak suka.
"Tidak usah banyak tanya, kamu diam saja, aku ini sedang kesal setengah mati.
Santoso mengangkat alisnya melihat tingkah keduanya kemudian menggelengkan kepalanya.
"Ada apa sih?, kok kalian datang-datang malah mengomel tidak jelas begitu bukannya beri salam saat masuk kedalam rumah". Sungut Santoso dengan kesal.
Hari ini dia cuti karena dia sakit dan harus beristirahat dirumah selama tiga hari, kepalanya tambah pusing mendengar keduanya mengomel.
Keduanya mendengus kesal dan duduk disebelah kepala keluarga itu dengan emosi dan duduk dengan tidak santai nyaris sengaja menjatuhkan diri seakan hari berat baru saja mereka lalui
"Ini tadi yah, Ardi meninggalkan kami di pengadilan sendiri, kami terpaksa pulang sendiri padahal tadi kami bersamanya". Sungut sang istri dengan kesal
"Iya yah, mana lagi bosnya itu malah menghina kita, aku jengkel sekali, sumpah". Sungut Adel Tidka terima.
Santoso mengerutkan keningnya tidak mengerti, dia masih pusing dan malas berpikir tapi keduanya malah berbicara seperti itu.
"Kalau begitu sudahlah, berhenti mengomel karena kepalaku sangat pusing mendengar Omelan kalian itu, aku masuk kamar saja, jangan berisik!!". Ucapnya berjalan menuju kamarnya.
Dia tidak mau mendengar lagi Omelan tidak bermutu dari keduanya membuat kepalanya tambah sakit.
"Ih, ayah tidak asyik banget, orang lagi cerita malah ditinggal begitu saja, menyebalkan". Sungut Adel melihat kepergian ayahnya itu
Sedangkan sang ibu hanya melihat suaminya tanpa mau berkata apapun, dia masih kesal dan jengkel setengah mati pada anak lelakinya itu.
Dia memijit pelipisnya karena Kepalanya berdenyut hebat saat persidangan tadi, bagaimana tidak, tambang emasnya selama ini akhirnya lepas dari tangan mana orang yang anaknya tawarkan belum sama sekali mereka dapatkan".
"Awas saja anak itu kalau pulang, aku marahi dia habis-habisan". Sungutnya kesal
"Benar tuh Bu, kak Ardi harus ibu beri pelajaran karena dia diam saja saat mereka menghina kita".
"Kamu secepatnya pertemukan kakakmu dengan perempuan itu agar mereka cepat menikah dan kita bisa menikmati uang berlebih lagi, ibu pusing mengatur uang yang pas-pasan".
Mata Adel berbinar mendengar perkataan ibunya itu, rencananya akan langsung dia laksanakan.
"Bagus Bu, besok aku akan coba cari tahu untuk bisa mempertemukan mereka".