NovelToon NovelToon
BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

BOSKU MENGINGINKAN TUBUHKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ku Pikir Selama Ini Kau Wanita Baik-baik

Sesuai janjinya, hari ini Kinara memberanikan diri mengantarkan lamaran kerja ke sebuah club malam. Keputusan itu bukan hal mudah, bahkan sempat ia timbang berulang kali semalam.

Namun demi melunasi hutang-hutangnya, ia harus berani mengambil langkah, meski sadar risiko yang menunggu di balik pintu dunia malam.

Tidak seperti kebanyakan pengunjung club yang tampil mencolok dengan pakaian terbuka, Kinara memilih sweater longgar dan celana panjang. Pakaian itu sederhana, tapi justru menegaskan niatnya datang bukan untuk bersenang-senang.

Untuk pertama kalinya ia menapakkan kaki di tempat seperti ini. Suara musik berdentum samar dari dalam, cahaya lampu berwarna-warni menembus kaca gelap, dan orang-orang lalu-lalang dengan tawa riang.

Semua terasa asing baginya, seolah ia melangkah ke dunia yang berbeda dari kesehariannya.

Kinara berdiri sejenak di depan pintu, memandang papan bertuliskan Club Harmos. Jantungnya berdegup cepat. CV yang ia genggam sedikit bergetar di tangannya. Dengan menghela napas dalam, ia memberanikan diri mendekat ke arah penjaga yang berdiri tegap di depan.

Kedua penjaga itu menatapnya heran. Bukan hal biasa ada seseorang yang ingin masuk club dengan pakaian seperti Kinara kenakan. Tatapan mereka membuat gadis itu semakin gugup.

“Ada yang bisa dibantu?” Tanya salah satu penjaga, suaranya datar namun sopan.

Kinara buru-buru mengangkat CV-nya, berusaha menyembunyikan rasa canggung. “Saya kemarin sudah menelpon manajer di sini. Saya ingin mengantarkan lamaran.”

“Oh, baiklah. Silakan ikut saya.” Sahut penjaga kedua setelah saling pandang sebentar.

Kinara mengangguk pelan lalu mengikuti langkahnya. Koridor club terasa redup dengan lampu hias, aroma parfum bercampur asap rokok samar tercium. Penjaga itu membawanya menuju sebuah pintu yang sedikit terbuka dengan bertuliskan Manager Office.

“Pak, ini ada salah satu pelamar.” Ucap penjaga.

“Ok, kau boleh pergi.” Jawab pria di dalam ruangan—Reza, manajer Club Harmos.

Penjaga itu undur diri setelah mendapat isyarat dari atasannya.

Setelah memberi isyarat untuk duduk pada Kinara yang kini sudah masuk, Reza pun bersuara. “Boleh saya lihat CV-mu?” Tanyanya ramah.

Dengan hati-hati, Kinara menyerahkan berkas yang ia bawa. Reza membaca lembaran itu cukup lama. Sesekali ia melirik wajah gadis di depannya.

“Kinara...” ucapnya akhirnya, “dengan latar belakang pendidikanmu, apa tujuanmu melamar di Club Harmos?” Nada suaranya tenang, tapi sorot matanya penuh tanya.

Kinara menelan ludah, lalu menjawab jujur, “Saya ingin menambah penghasilan, Pak.”

“Menambah penghasilan? Jadi, selain di sini kamu sudah bekerja di tempat lain?”

“Iya. Saya karyawan di perusahaan Merta Dirga.” Jawabnya jujur.

Reza mengangkat alis, terkejut. “Merta Dirga? Itu perusahaan besar, gajinya pun termasuk tinggi. Apa gajinya tidak mencukupi kebutuhanmu?” Tanyanya lebih intens.

Kinara terdiam sesaat. Ia tak mungkin menjelaskan semuanya. Ada hal-hal yang terlalu pribadi untuk diutarakan pada orang yang baru ditemuinya.

Melihat keraguannya, Reza menghela napas. “Baiklah, itu urusan pribadimu. Tapi kamu sadar ini club malam, kan? Dunia di sini berbeda. Tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Apa kamu yakin tetap ingin bekerja di sini?”

Kinara menatapnya mantap. “Iya, saya yakin, Pak.”

Reza mengangguk kecil. “Kalau begitu, saya hanya bisa berpesan: pandai-pandailah menjaga diri. Untuk pakaian, nanti setiap pelayan akan diberi seragam masing-masing. Kamu bisa mulai bekerja besok malam.”

Dalam hatinya, Reza sedikit menyayangkan keputusan Kinara. Wajah secantik itu, sikap yang sopan, rasanya terlalu berharga untuk berada di dunia malam penuh risiko. Namun ia menahan pikirannya. “Ah, apa yang kupikirkan.” Batinnya, menepuk pelan meja kerjanya.

Sementara itu, Kinara kini sudah merasa sedikit lega. Rasa canggung yang tadi menekan dadanya perlahan berganti dengan semangat. Ia mengucapkan terima kasih tulus, lalu pamit meninggalkan ruangan dengan langkah ringan.

•••

Di tempat lain, Bayu tengah diliputi rasa kesal. Sejak makan malam beberapa hari lalu, Diana terus dan masih mengabaikan teleponnya. Hari ini, ia pun memutuskan untuk datang langsung ke rumah Diana.

Baru saja melangkah ke luar rumah, suara Mamanya menghentikan langkahnya. “Bayu, mau ke mana?” Tanya Sana, melihat anak keduanya berjalan sedikit terburu-buru.

“Ke rumah Diana, Ma.” Jawab Bayu singkat.

Sana mendekat, menatap putranya dengan serius. “Bayu, kamu yakin mau menikah dengan Diana?” Tanyanya kembali hati-hati.

Pandangan Bayu sempat goyah. Ia memang tahu sejak awal Mamanya tidak menyetujui keinginannya untuk menikahi Diana. “Karena itu aku mau kesana, Ma. Aku juga mau tanya kenapa dia menghindar beberapa hari ini.”

Sana hanya bisa mengangguk. “Ya sudah, kamu hati-hati, ya.”

“Iya, Ma. Aku pergi dulu.”

Sana hanya mengangguk singkat. Meski ia tidak menyukai Diana maupun keluarganya, namun karena putranya terus memaksa untuk menikahi wanita itu, ia tak lagi bisa berkata apa-apa. Entah apa yang membuat Bayu begitu kukuh, padahal baik dirinya maupun sang suami jelas-jelas tidak merestui.

Selama ini Bayu dikenal sebagai anak yang penurut. Jika Mama dan Papanya melarang sesuatu, biasanya putranya itu akan langsung menuruti. Sana pun sempat bertanya dalam hati: apa yang sebenarnya terjadi dengan putranya itu?

Lima belas menit perjalanan terasa begitu panjang bagi Bayu. Begitu sampai di depan rumah Diana, ia segera menekan bel berulang kali. Namun, sunyi. Tak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam rumah, membuat kesabarannya perlahan terkikis.

Di dalam, Diana menghela napas kesal mendengar bunyi bel yang terus-menerus. “Pada ke mana sih orang-orang? Nggak ada yang denger apa?” Gumamnya geram.

Dengan malas ia melangkah ke pintu, lalu membukanya tepat saat Bayu hendak menekan bel sekali lagi.

“Ah, akhirnya keluar juga kamu.” Ujar Bayu, nada suaranya menahan amarah.

Diana memutar bola matanya. “Kalau tahu dia yang datang, lebih baik tadi nggak kubuka.” Batinnya jengkel.

“Kenapa nggak jawab telfon aku?” Tanya Bayu sambil menahan pintu yang hendak ditutup Diana.

Menyadari tenaganya tak sebanding dengan Bayu, Diana mengurungkan niatnya. “Aku lagi pusing banyak tugas. Kamu nelpon terus, jadi aku nggak sempat.” Jawabnya, jelas berbohong.

Bayu menatapnya bingung. Sikap Diana benar-benar berubah. Padahal dulu wanita itu yang paling keras menuntut Bayu bertanggung jawab, tapi sekarang justru seperti menghindar. “Jadi gimana? Kamu masih mau lanjut pertunangan ini atau tidak?” Desaknya pada akhirnya menginginkan kepastian.

Jika Diana ingin membatalkan, tidak masalah baginya. Justru hal ini yang ia inginkan, karena dengan begitu ia tidak perlu lagi terikat dengannya.

Diana terdiam sejenak, lalu menjawab ketus, “Ya, lanjutlah. Emang kamu mau kabur dari tanggung jawab?”

Dalam hati, Diana menyimpan rencana lain. Untuk sekarang dirinya tidak bisa begitu saja melepas Bayu. Namun jika nanti dirinya berhasil mendapatkan Renald, barulah ia akan menyingkirkan Bayu dari hidupnya.

“Yaudah kalau gitu. Lain kali kalau aku telfon, angkat. Nanti aku bawa keluargaku lagi ke sini untuk ngomongin rencana dekor dan juga hantarannya.” Tegas Bayu.

Enggan berdebat lebih lama, Diana akhirnya hanya mengangguk. Ia ingin percakapan cepat selesai.

Bayu yang merasa Diana tak ingin berlama-lama dengannya, memilih pergi. Ia melangkah meninggalkan Diana dengan hati penuh tanda tanya apa yang terjadi dengan wanita itu. Sementara Diana menutup pintu dengan rasa kesal yang tak bisa ia sembunyikan.

Sepulang dari rumah Diana, Bayu memutuskan untuk mengendarai mobilnya menyusuri jalanan kota. Club malam menjadi pelariannya setiap kali pikiran kusut. Dentuman musik, minuman, dan keramaian mampu membuatnya melupakan masalah sejenak.

Namun sesaat setelah ia berhenti di depan Club Harmos, pandangannya tertuju pada sosok perempuan yang baru saja keluar dari sana. Mata Bayu membelalak. “Kinara…” Lirihnya, nyaris tak percaya.

Tanpa pikir panjang, ia keluar dari mobil dan menghampiri gadis itu. “Kupikir selama ini kamu wanita baik-baik.” Ucapnya dingin, menghentikan langkah Kinara.

“Apa maksudmu?” Langkah Kinara terhenti saat ada pria yang berdiri di depannya. Dahinya sedikit berkerut tak menyangka jika akan bertemu dengan Bayu disana.

“Menurutmu wanita seperti apa yang keluar dari club malam. Coba kamu pikir. Atau jangan-jangan… kamu cari tambahan uang disini dengan menjual tubuhmu karena uang dari Renald tidak cukup ya?” Sindir Bayu dengan senyum mengejek.

Kinara enggan menanggapi. Ia melanjutkan langkah, malas berdebat dengan pria itu.

Bayu yang kesal langsung mencekal lengannya. Saat itu juga ia teringat akan sesuatu. "Sekarang aku baru ingat. Apa kamu dekat dengan Renald karena dia mau memberikan uang sepuluh miliar yang pernah kamu coba pinjam dari aku? Jujur saja apa yang sudah kamu berikan ke dia hingga, dia mau memberikan uang sebanyak itu dengan mudah?” Tanyanya tajam, wajahnya mendekat.

Kinara terperanjat mendengar ucapan itu. Ia segera menarik lengannya, meski sempat terdiam sepersekian detik. “Itu bukan urusanmu!” Jawabnya tegas, menatap Bayu dingin.

“Kinara… dulu sama aku kamu sok polos. Tapi sekarang setelah kita berpisah, ternyata aku menemukan kamu di club malam.” Ujar Bayu kembali jelas tengah merendahkan.

Tanpa peduli lagi, Kinara memilih pergi. Biarlah Bayu dengan pikirannya sendiri. Ia tak punya waktu untuk meladeni asumsi pria itu.

Bayu menatap punggung Kinara yang menjauh. Senyum sinis muncul di wajahnya. Ia ingat jelas ekspresi gadis itu saat mendengar tentang uang sepuluh miliar. Ada sesuatu yang disembunyikan.

“Aku harus menyelidikinya.” Gumamnya pelan sebelum berbalik masuk ke club.

1
Siti Naimah
busett...bener2 keluarga toxic
semoga kelakuan Rani segera terbongkar...lewat Danu yg merupakan ayah biologis Diana..
geregetan banget kok Kinara yg dijadiin sapi perah
sandi sanda
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!