Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.
Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.
Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Jam Hitam Menuju Podium
Grand Ballroom Hotel Shangri-La Toronto malam itu bertransformasi menjadi pusat gravitasi bagi seluruh lapisan elit Kanada. Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantulkan pendaran cahaya mewah di atas karpet beludru tebal. Ratusan tamu undangan—mulai dari politisi, taipan minyak, hingga selebritas papan atas—bergerak elegan dengan gelas-gelas sampanye di tangan mereka, menciptakan dengung obrolan kelas atas yang dipenuhi tawa formalitas.
Namun, di balik kepulan aroma parfum mahal dan senyuman para sosialita, atmosfer di barisan kursi terdepan terasa mencekam.
Alexander Noir duduk tegak di sofa VIP, melingkarkan jemarinya pada tongkat berkepala perak miliknya. Di sampingnya, kepala keluarga Winston tampak beberapa kali memeriksa jam tangan emasnya dengan raut wajah yang tidak sabar.
"Di mana anakmu, Alexander? Acara akan dimulai sepuluh menit lagi," bisik Winston senior dengan nada menekan, menahan kekesalannya agar tidak tertangkap oleh sorot kamera jurnalis di sayap kiri ruangan.
Alexander tidak menjawab. Manik matanya yang menua namun tetap tajam bergerak ke arah pintu masuk utama ballroom.
Tepat pada saat itu, pintu ganda setinggi empat meter tersebut terbuka lebar oleh petugas keamanan. Seluruh atensi di dalam ruangan seketika tersedot ke satu titik.
Cassian Noir melangkah masuk.
Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam custom-tailored berpotongan tegas yang membungkus sempurna postur tubuh jangkungnya yang setinggi 193 cm. Kemeja putih kaku di balik rompinya dikunci dengan dasi kupu-kupu hitam yang sempurna, sementara saputangan sutra putih tersembul rapi dari saku dadanya. Rambut hitamnya yang biasa sedikit berantakan di pagi hari kini telah tertata klimis dan rapi, membingkai garis rahangnya yang tegas dan sepasang mata elang yang memancarkan aura dominasi mutlak.
Dia berjalan tanpa ekspresi, membelah kerumunan tamu yang refleks memberikan jalan baginya dengan tatapan kagum sekaligus segan. Di belakangnya, Kevin mengekor dengan langkah konstan, memeluk erat tablet enkripsi yang layarnya terus berkedip samar.
Rebecca Winston yang berdiri tidak jauh dari podium utama langsung menahan napasnya. Sambil mencengkeram tas genggamnya, ia memperhatikan setiap jengkal pergerakan Cassian. Pria yang seharusnya menjadi calon suaminya itu terlihat begitu tak tersentuh—dan begitulah Cassian yang sesungguhnya; dingin, penuh kalkulasi, dan mematikan.
"Kau terlambat, Cassian," tegur Alexander dingin begitu putranya berhenti tepat di hadapannya.
Cassian hanya menundukkan kepalanya sekilas, sebuah gestur formalitas yang sangat tipis sebelum ia menegakkan tubuhnya kembali, membuat sang ayah harus mendongak untuk menatap matanya. "Lalu lintas di pusat kota sedikit padat, Ayah. Tapi aku datang tepat waktu untuk menyaksikan... pertunjukan utamanya."
Rebecca maju selangkah, memaksakan sebuah senyuman manis khas sosialita di wajahnya yang sebenarnya sudah mulai memucat. "Kulihat kau datang sendirian, Cassian. Kupikir kau akan membawa 'kejutan' kecil yang viral di internet kemarin sore itu ke sini."
Cassian menoleh perlahan, menatap Rebecca dengan pandangan menilai yang teramat dingin—tatapan yang seketika membuat bulu kuduk Rebecca meremajang di balik gaun malam marunnya.
"Dia berada di tempat yang jauh lebih aman daripada ruangan yang penuh dengan kepalsuan ini, Rebecca," sahut Cassian datar, suaranya yang berat bergema dengan nada sarkasme yang halus.
Sebelum Rebecca sempat membalas, pembawa acara di atas panggung utama sudah mulai mengetuk mikrofon, memanggil dewan direksi Noir Enterprises dan keluarga Winston untuk segera mengambil posisi di atas podium untuk pengumuman merger terbesar dekade ini.
Cassian melirik Kevin, memberikan sebuah kode lirik mata yang teramat samar. Kevin mengangguk pasti, jemarinya bergerak di atas layar tablet, bersiap mengirimkan sinyal perintah final ke ruang kendali teknis.
Permainan dimulai, batin Cassian sinis. Di bawah lampu sorot yang mulai mengarah kepadanya, ia melangkah mantap menuju tangga podium, siap meledakkan bom hukum yang akan meremukkan seluruh ilusi kekuasaan ayahnya dan dinasti Winston dalam hitungan menit.
Sementara Cassian melangkah dengan ketenangan seorang predator menuju undakan podium, di sudut tersembunyi lantai bawah tanah hotel, ketegangan justru berada di titik didih.
Julian Vance berdiri di dalam ruang kendali teknis yang temaram, dikelilingi oleh dinding yang dipenuhi layar monitor pemantau dan server setinggi langit-langit. Di sampingnya, dua peretas sewaan yang ia bawa diam-diam sedang mengetik di atas papan ketik dengan kecepatan tinggi, mencoba menembus dinding pertahanan digital Noir Enterprises.
"Sial, Tuan Vance! Enkripsi ini tidak bisa ditembus dari luar," seru salah satu teknisi dengan peluh yang mulai bercucuran di pelipisnya. "Ini menggunakan protokol keamanan multi-layer. Setiap kali kami mencoba memblokir antrean interupsi visual, sistemnya langsung merestrukturisasi kode baru."
Julian mengepalkan tinjunya hingga urat-urat di lengannya menegang. Sisi kompetitifnya bergejolak hebat. Ia menolak untuk kalah lagi dari Cassian malam ini.
"Gunakan jalur fisik!" perintah Julian dengan suara rendah yang ditekan. "Cabut kabel adaptor utama jembatan server jika perlu! Aku tidak peduli bagaimana caranya, jangan biarkan dokumen apa pun muncul di layar utama ballroom atas!"
"Kami sedang mencobanya, tapi—"
Bzzzt!
Tiba-tiba, seluruh layar monitor di ruang kendali tersebut berkedip serentak. Barisan kode hijau yang tadinya memenuhi layar seketika lenyap, digantikan oleh sebuah logo hitam berlambang elang khas Noir Enterprises yang berputar statis, mengunci seluruh sistem kendali hotel.
"Sistem kita terisolasi total, Tuan! Seseorang telah mengambil alih kendali penuh dari atas!"
Julian mundur selangkah dengan napas memburu, menyadari dengan instingnya yang tajam bahwa mereka telah kalah cepat. Cassian tidak pernah menyusun rencana tanpa benteng pertahanan yang absolut.
Di atas podium utama Grand Ballroom, lampu sorot putih yang sangat terang kini mengunci sosok Alexander Noir, Winston senior, dan Rebecca yang berdiri tegak. Di hadapan ratusan pasang mata yang memandang takjub dan puluhan kilatan lampu lensa kamera jurnalis, Winston senior mulai berbicara di depan mikrofon, suaranya menggema penuh wibawa melintasi aula.
"Malam ini, di hadapan rekan-rekan sekalian, Dinasti Winston dan Noir Enterprises dengan bangga mengumumkan aliansi strategis mutlak melalui garis keturunan..."
Rebecca tersenyum anggun ke arah kamera, menoleh sedikit ke arah Cassian yang berdiri beberapa langkah di sisi kiri, terpisah jarak formal yang kaku. Namun, senyuman Rebecca seketika membeku saat melihat Cassian sama sekali tidak menatap ke arah panggung.
Pria jangkung berstelan tuksedo mahal itu justru sedang menatap layar ponsel di genggamannya. Ibu jari Cassian bergerak dengan gerakan yang teramat tenang, menekan satu tombol eksekusi final di atas layarnya.
KLIK.
BZZZZT!
Layar proyeksi raksasa setinggi sepuluh meter yang berada di belakang podium—yang seharusnya menampilkan logo grafis megah merger kedua perusahaan—seketika berkedip hitam selama satu detik penuh. Dengung statis yang nyaring terdengar dari pengeras suara, memotong kalimat Winston senior yang seketika terhenti karena terkejut.
Sedetik kemudian, layar raksasa itu menyala kembali dengan kontras yang teramat tajam, menampilkan pindaian dokumen resmi berskala besar dengan stempel holografik legalitas tinggi dari Registrar General of Ontario.
"CERTIFICATE OF MARRIAGE"
Nama yang tertera di sana tertulis dengan huruf kapital yang sangat jelas, merebak luas ke seluruh sudut ruangan:
HUSBAND: CASSIAN ALEXANDER NOIR
WIFE: AISYA MANIK SULAYMAN
Di bawahnya, lampiran surat mualaf resmi dan pengesahan hak veto warisan dari hukum sipil negara bagian langsung terintegrasi, mengunci keabsahan bahwa Cassian Noir telah memenuhi syarat mutlak wasiat tunggal untuk memegang kendali penuh atas 51% saham Noir Enterprises secara mandiri—tanpa memerlukan aliansi pernikahan dengan keluarga Winston.
"Apa-apaan ini?!" Alexander Noir berseru murka, wajah tuanya seketika memerah pekat saat menatap layar raksasa tersebut. Tongkat peraknya bergetar hebat saat ia berbalik menatap putranya.
Seluruh isi ballroom seketika riuh dengan bisikan yang bergaung hebat. Kilatan lampu kamera jurnalis yang tadinya terarah pada Rebecca kini berbalik secara brutal menembaki dokumen tersebut, menciptakan badai eksposur yang tak terkendali. Rebecca Winston berdiri mematung, dadanya naik-turun menahan kehancuran harga dirinya yang dihempaskan secara publik dalam satu detik.
Cassian Noir melangkah maju ke depan podium dengan ekspresi yang sedingin es batu. Ia tidak memedulikan kemarahan ayahnya atau tatapan hancur keluarga Winston. Pria itu mengambil alih mikrofon utama dengan gerakan yang teramat elegan.
"Aliansi ini batal secara hukum korporasi," ujar Cassian, suara baritonnya yang berat dan mutlak bergema memenuhi seluruh penjuru aula, seketika membungkam keriuhan para tamu. "Hak veto atas seluruh aset utama Noir Enterprises kini berada sepenuhnya di bawah kendali saya, terhitung sejak dokumen pernikahan sipil ini disahkan."
Cassian menurunkan mikrofon, menatap Alexander dan Rebecca dengan senyuman sinis yang teramat tipis—senyuman seorang pemenang mutlak yang baru saja meratakan musuh-musuhnya. Tanpa menunggu kepanikan korporat itu mereda, Cassian berbalik dan melangkah turun dari podium, membelah kerumunan media yang mulai merangsek maju dengan liar.
Kevin dengan sigap membuka barikade keamanan di depan. Skenario podium telah meledak sempurna sesuai kalkulasi mereka. Kini, badai terbesar di Toronto telah resmi dimulai, dan nama seorang gadis suburban yang sedang duduk manis dengan kacamata bulatnya di mansion terpencil, baru saja menjadi nama yang paling dicari di seluruh negeri.
semangat jg buat author nya 😍
di tunggu kelanjutannya Thor 😍
tegas dan bertanggung jawab
lanjut thor😍