"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Haa aku guys
------------------------------
Bab 32: Surat dari Masa Lalu
Lembaran kertas mikro usang bersalinan cap notaris resmi tiga puluh tahun lalu itu masih bergetar di sela-sela cengkeraman jemari Anastasia Wijaya.
Di bawah pendaran lampu koridor ruang tunggu VIP yang kelabu, setiap untaian kalimat hukum di dalam dokumen tersebut terasa laksana belati tak kasat mata yang menikam telak seluruh logika berpikirnya.
Di dalam rahasia lembaran itu, tertulis sebuah pengakuan dosa korporasi yang teramat kelam.
Devan Mahendra—pria yang selama tiga puluh tahun ini berdiri tegak di puncak tertinggi Mahendra Group sebagai putra mahkota tunggal—ternyata lahir dari rahim seorang wanita asing yang identitasnya sengaja dihapus dari manifes negara.
Dokumen adopsi ilegal itu ditandatangani oleh Hendra Mahendra mendiang ayah Devan, demi menutupi fakta bahwa istri sahnya mandul, sekaligus menjaga stabilitas harga saham perusahaan di bursa efek masa lalu dari isu kekosongan pewaris takhta.
"Nona Anastasia..."
suara Sekretaris Hendra memecah keheningan yang mencekam tersebut dengan nada yang teramat rendah, matanya melirik waspada ke arah Alta dan Arka yang masih bersandar di kursi tunggu.
"Jika dokumen silsilah darah ini sampai bocor ke telinga dewan komisaris sekunder atau komite bursa efek pagi ini, maka kedudukan hukum Tuan Devan atas seluruh sisa aset Mahendra Group akan dinyatakan batal demi hukum seumur hidupnya."
Anastasia menarik napas panjang, menahan gemuruh badai emosional yang kian mengganas di dalam rongga dadanya.
Ia menggulung kembali kertas mikro tersebut, memasukkannya ke dalam saku blazer hitamnya dengan sentakan yang tajam.
"Kunci dokumen ini di dalam peladen siber terdalam Wijaya Corps menggunakan enkripsi tingkat militer, Hendra,"
perintah Anastasia, wajah cantiknya tampak sedingin es kutub, memancarkan kembali dominasi mutlak seorang ratu bisnis yang protektif.
"Jangan biarkan ada satu lalat pun di kota ini tahu bahwa Devan bukan darah kandung Mahendra, setidaknya sampai pertempuran medis di dalam sana selesai seutuhnya."
Klik.
Belum sempat Hendra membungkuk hormat membalas instruksi, pintu ganda ruang operasi utama di depan mereka perlahan bergerak terbuka secara manual.
Tim dokter spesialis bedah saraf melangkah keluar satu per satu secara kronologis dengan langkah kaki yang tertatih-tatih akibat kelelahan fisik setelah bertarung selama tiga jam penuh di bawah lampu operasi.
Anastasia langsung melangkah maju dua langkah, sepasang netra indahnya menatap lurus ke arah wajah dokter kepala demi menuntut ketetapan takdir mantan suaminya.
Dokter kepala itu perlahan membuka masker medisnya, menampakkan seulas senyuman tipis yang sarat akan rasa syukur yang teramat luar biasa di balik peluh yang membanjiri dahinya.
"Tindakan penjahitan ulang pembuluh darah aorta Tuan Devan telah resmi selesai dilaksanakan dengan sukses, Nona Anastasia. Tubuh pasien menunjukkan tingkat vitalitas yang luar biasa kuat seolah ada dorongan batin yang besar untuk tetap bertahan hidup. Saat ini, kami telah memasangkan alat pacu jantung mekanis permanen berukuran mikro di dalam dada bidangnya untuk menjaga kestabilan nadinya seumur hidup."
Mendengar laporan medis tersebut, Anastasia memejamkan matanya sejenak, membiarkan sebaris air mata kelegaan meluncur melewati pipinya yang semula pias seutuhnya.
Beban berat di ulu hatinya perlahan mengendur.
Devan selamat.
Singa bisnis itu berhasil melewati gerbang kematian untuk yang ketiga kalinya demi menepati janji setianya kepada Alta dan Arka.
"Terima kasih, Dokter. Pindahkan dia ke ruang isolasi steril tercanggih yang kita miliki," ucap Anastasia dengan nada suara yang kembali tertata rapi penuh wibawa.
------------------------------
Tiga puluh menit kemudian, tubuh tegap Devan Mahendra telah terbaring kaku di atas ranjang perawatan ruang isolasi steril lantai teratas.
Meskipun sepasang netra elangnya masih terpejam rapat di bawah pengaruh dosis obat penenang pasca-operasi besar, helaan napasnya yang diatur oleh selang oksigen kecil kini terdengar jauh lebih teratur dan dalam.
Anastasia duduk di kursi samping ranjang, menatap lekat-lekat garis wajah tirus Devan yang dipenuhi bekas luka goresan pecahan kaca balkon.
Di sofa sudut ruangan, Alta duduk bersila sembari memeluk pundak adiknya, Arka, yang kembali tertidur pulas setelah kelelahan meneteskan air mata polosnya sejak fajar tadi.
Bzzz... Bzzz... Bzzz...
Keheningan damai di dalam ruangan medis itu mendadak terusik secara konstan. Gawai pintar milik Devan yang sejak malam penyerbuan berada di bawah pengawasan ketat Rian di depan pintu, mendadak bergetar hebat memancarkan lampu indikator merah yang berkedip cepat.
Rian melangkah masuk ke dalam ruangan dengan gerakan yang teramat pelan, raut wajah asisten pribadi paruh baya itu tampak sangat pias tanpa sepeser pun darah.
Ia melangkah mendekati Anastasia dengan tangan yang gemetar hebat, menyerahkan gawai tersebut ke depan wajah sang ratu bisnis.
"Nona Anastasia... Mohon maaf mengganggu waktu pemulihan Tuan Besar,"
bisik Rian, suaranya bergetar menahan horor tak terlihat.
"Sebuah pesan singkat dari nomor berkode rahasia militer internasional baru saja masuk ke dalam sistem satelit pribadi Tuan Devan."
Anastasia mengernyitkan dahinya, meraih gawai tersebut dengan sasa kepanikan baru yang kembali merayap di ulu hatinya.
Jemarinya menggeser layar kunci, membuka satu-satunya baris kalimat pesan teks tak dikenal yang dikirimkan tepat pada pukul enam lewat empat puluh lima menit pagi itu.
Saat sepasang netra indah Anastasia membaca baris demi baris kata yang tertera di layar, jantungnya seolah berhenti berdetak dalam satu kedipan mata yang teramat kejam.
------------------------------
“Selamat atas kemenangan kecilmu di rumah sakit, Anastasia Wijaya. Namun, kamu dan anak haram yang sedang sekarat di atas ranjang itu melupakan satu hal penting.”
“Tiga puluh tahun yang lalu, aku, Martha Mahendra, sengaja memalsukan kematian wanita jalang bernama Saraswati—ibu kandung Devan yang sesungguhnya—agar rahasia adopsi haram ini terkubur selamanya. Hari ini, aku telah keluar dari panti jompo Swiss dan berada di Jakarta bersama pemilik sah Mahendra Group yang sesungguhnya.”
“Tepat pukul sembilan pagi ini, Arthur Mahendra—putra kandung asli dari darah Hendra Mahendra yang selama tiga puluh tahun ini kusembunyikan di Eropa—akan melangkah masuk ke gedung pengadilan negeri untuk membatalkan seluruh hak waris dan dana perwalian anak kembarmu demi hukum bursa efek seumur hidup mereka.”
------------------------------
Deg!
Darah Anastasia seolah membeku seketika menembus sumsum tulang belakangnya.
Lembaran naskah masa lalu yang baru saja ia baca di dalam liontin Siska beberapa menit lalu, kini mendadak menjelma menjadi peluru serangan balik nyata yang siap menghancurkan takhta masa depan Alta dan Arka dalam hitungan jam.
Nyonya Tua Martha Mahendra—istri sah dari mendiang ayah Devan—ternyata telah kembali ke Jakarta bersama seorang
"anak kandung rahasia"
bernama Arthur Mahendra demi merebut kembali seluruh sisa kejayaan dinasti mereka.
Anastasia meremas gawai di tangannya hingga casing plastiknya menimbulkan bunyi retakan halus dalam kegelapan.
Plot twist silsilah darah ini bergerak jauh lebih cepat dan mematikan dari seluruh kalkulasi bisnis taktis yang ia susun bersama Devan subuh tadi.
Ia melirik ke arah arloji dinding yang kini telah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit pagi.
Mereka hanya memiliki waktu kurang dari dua jam sebelum Arthur Mahendra melayangkan gugatan pembatalan hak waris mutlak di pengadilan bursa efek pusat kota.
Tepat di saat kepanikan taktis itu berada di puncaknya, sepasang kelopak mata Devan Mahendra di atas ranjang mendadak bergerak-gerak kecil secara intens di balik selang oksigennya.
Garis grafik detak jantung di layar monitor kembali melonjak naik dengan irama yang tidak stabil, mengisyaratkan bahwa alam bawah sadar sang CEO es telah mendeteksi kedatangan badai konspirasi baru yang siap meruntuhkan sisa harga dirinya seumur hidup takdir mereka.
------------------------------
Bersambung...