Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kolam Pembaptisan Dewa
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang menegangkan di Akademi Empat Jagat. Meski atmosfer di luar tampak tenang, Aula Dewan Tertinggi terus bergejolak hebat. Utusan dari Klan Naga Kegelapan dan faksi Gagak Hitam telah tiba di perbatasan akademi, membawa armada kapal perang magis untuk menekan
Kepala Akademi agar menyerahkan Lin Huang. Namun, dengan perlindungan mutlak dari Penatua Jiu, semua tekanan itu tertahan di luar gerbang gunung.
Kini, hari yang dinantikan telah tiba.
Aula Pembaptisan Dewa Kuno terletak di bawah struktur melayang paling inti dari akademi. Ruangan raksasa ini dibangun dari batu giok putih purba dan dikelilingi oleh ribuan formasi pertahanan tingkat tinggi.
Di tengah aula, terdapat sebuah kolam raksasa berdiameter seratus meter yang berisi cairan perak kental yang memancarkan aroma obat spiritual yang teramat pekat: Kolam Pembaptisan Dewa Kuno. Cairan perak tersebut adalah esensi energi bumi murni berbalut sisa-sisa darah makhluk suci zaman dahulu, yang dikumpulkan oleh para pendiri akademi selama ribuan tahun.
Di sekeliling kolam, di atas tribun yang melayang di udara, ratusan tetua inti akademi duduk dengan wajah serius. Di barisan paling depan, tampak beberapa tetua agung dari faksi yang beraliansi dengan Ras Iblis menatap ke bawah dengan pandangan dingin dan penuh kedengkian. Mereka sedang menunggu celah untuk menjatuhkan Huang jika pemuda itu gagal dalam proses pembaptisan.
TAP... TAP... TAP...
Tiga sosok berjalan masuk ke dalam aula secara bersamaan. Mereka adalah tiga besar Murid Dalam akademi yang berhak menerima pembaptisan tahun ini.
Di posisi pertama dan kedua adalah dua jenius senior yang telah lama menguasai peringkat akademi. Namun, seluruh mata para tetua dan murid yang hadir langsung tertuju pada sosok ketiga yang berjalan di paling belakang: Lin Huang.
Huang mengenakan jubah abu-abu polos tanpa zirah. Langkah kakinya begitu ringan, namun setiap kali kakinya menapak, riak energi tak kasat mata menyebar di lantai giok putih. Basis kultivasi Formasi Inti Lingkaran Sempurnanya bergetar stabil, beresonansi kuat dengan Sumsum Tulang Asura Sejati yang kini telah memproduksi darah ungu keemasan ke seluruh tubuhnya.
Lingkaran emas di pupil matanya berkilat samar, memancarkan ketenangan yang mutlak di hadapan ratusan pasang mata yang menatapnya dengan penuh intimidasi. Di sudut tribun atas, Penatua Jiu duduk santai sambil memegang sebuah kendi arak baru, memberikan anggukan kecil penuh keyakinan kepada muridnya.
"Waktu pembaptisan telah tiba. Masuklah ke dalam kolam, hancurkan inti fana kalian, dan sambut Jiwa Nascent!" suara Kepala Akademi yang berat dan berwibawa bergema dari takhta tertinggi aula. Tanpa membuang waktu, ketiga murid elit itu melompat masuk ke dalam kolam perak secara bersamaan.
BYURRR!
Begitu tubuh Huang tenggelam ke dalam cairan perak kental tersebut, energi obat spiritual yang luar biasa masif langsung menerobos masuk melalui pori-pori kulitnya bagai air bah yang menjebol bendungan. Cairan perak itu mulai merebus kulit, daging, dan meridiannya, memaksa kotoran terdalam di dalam tubuh fana untuk terbakar habis.
Dua murid senior di sampingnya segera mengerang tertahan, wajah mereka memucat menahan rasa sakit luar biasa dari proses pembersihan sumsum tubuh tersebut.
Namun, bagi Huang, rasa sakit ini tidak sebanding dengan proses penyatuan sumsum tulang Asura di Lembah Dewa Jatuh.
Kulit perunggunya justru berpendar terang, menyerap energi perak dengan kecepatan sepuluh kali lipat lebih cepat daripada dua rekannya. Cairan di sekitar tubuh Huang berputar membentuk pusaran air raksasa, mengisap seluruh esensi obat ke dalam tubuhnya secara rakus.
"Fisik macam apa itu?! Dia menyerap esensi kolam dewa seperti spons kering!" salah satu tetua inti berseru kaget dari tribun atas.
Melihat energi di dalam tubuhnya telah mencapai titik jenuh yang ekstrem, Huang memejamkan matanya. Di dalam Dantiannya, inti jiwanya yang sewarna abu-abu keemasan berputar dengan kecepatan menggila.
'Sudah waktunya... HANCURLAH!' raung Huang di dalam hati.
BOOM!
Sebuah ledakan spiritual terjadi di dalam Dantian Huang. Atas kendali kesadarannya sendiri, inti Formasi Inti Lingkaran Sempurnanya sengaja dihancurkan hingga pecah menjadi jutaan serpihan energi. Proses menghancurkan inti sendiri adalah tahap paling berbahaya dalam menembus Ranah Jiwa Nascent; satu kesalahan kecil bisa membuat kultivator kehilangan seluruh kultivasinya atau bahkan tewas seketika.
Melihat retakan energi yang liar mulai mengoyak Dantian Huang, beberapa tetua agung dari faksi Gagak Hitam di tribun atas menyeringai kejam. "Bocah bodoh, dia terlalu terburu-buru menghancurkan intinya tanpa menstabilkan energi obat! Dia akan meledak!"
Namun, seringai mereka membeku pada detik berikutnya.
Dari balik serpihan inti yang hancur di dalam Dantian Huang, seberkas darah ungu keemasan murni melesat keluar dari Sumsum Tulang Asura Sejati. Darah purba itu mengunci seluruh serpihan energi yang liar, lalu mulai merekonstruksi dan memadatkan mereka kembali ke pusat Dantian dengan kecepatan kosmik.
(WENG!)
Di tengah kawah energi Dantiannya, serpihan-serpihan itu menyatu kembali, membentuk sesosok bayi kecil berukuran beberapa inci yang penampilannya sangat mirip dengan wajah Lin Huang. Namun, berbeda dengan Jiwa Nascent biasa yang berwarna emas atau putih murni, Jiwa Nascent milik Lin Huang berwarna ungu gelap dengan sepasang tato tiga sayap hitam yang terukir jelas di punggung kecilnya.
Sebuah Jiwa Nascent Asura Kuno yang sesungguhnya telah resmi terbentuk!
GELEDEK! BOOMMMM!
Bersamaan dengan lahirnya Jiwa Nascent tersebut, langit di atas Aula Pembaptisan yang semula cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita dalam sekejap. Awan petir berwarna hitam keunguan bergulung-gulung memenuhi radius puluhan mil di atas akademi, memancarkan tekanan surgawi yang begitu mengerikan hingga membuat seluruh formasi pelindung akademi bergetar hebat.
Ini bukan sekadar kesengsaraan petir biasa; ini adalah Kesengsaraan Petir Sembilan Kesunyian (Nine Tribulations of Desolation), bencana alam tingkat tertinggi yang hanya muncul ketika sebuah entitas terlarang yang ditakuti oleh hukum langit terlahir ke dunia!
BZZZT!
Di dalam aula, pilar cahaya ungu raksasa meledak dari tubuh Lin Huang, merobek atap giok putih Aula Pembaptisan hingga hancur berantakan dan membubung langsung menembus awan badai di langit. Tato tiga sayap hitam muncul dengan keagungan mutlak di dahi Huang, dan sepasang matanya terbuka lebar, memancarkan warna ungu menyala yang sedingin es dan dipenuhi dominasi kasta tertinggi dewa iblis purba.
Huang melayang bangkit dari kolam perak, berdiri tegak di udara hampa sembari menatap langit malam yang dipenuhi petir ungu-hitam.
Di Ranah Jiwa Nascent Tingkat Awal yang baru saja dia pijak, dengan sumsum tulang dan jiwa Asura murni yang menyatu sempurna di dalam tubuhnya, tekanan aura Lin Huang saat ini bahkan sanggup membuat beberapa tetua inti di tribun atas langsung berlutut ke lantai karena penindasan hierarki ras yang absolut.
Lin Huang mengepalkan tangannya, membiarkan petir kesengsaraan surgawi pertama menyambar turun menghantam tubuhnya tanpa rasa takut sedikit pun. Aliansi faksi Iblis, Klan Naga Kegelapan, dan seluruh penguasa benua boleh saja mengirimkan pasukan terbaik mereka ke luar gerbang gunung.
Namun hari ini, sang badai pembalasan telah resmi membuka sayapnya, siap menjungkirbalikkan seluruh tatanan dunia dengan darah musuh-musuhnya.