Tak pernah terbayangkan olehku usaha bapakku bangkrut,sehingga semua yang kami miliki habis dalam sekejap. Bapak terpukul membuat beliau terpuruk dalam keputusasaan,sementara ibu sibuk mengejar ambisinya untuk bisa menjadi seperti dulu lagi.
Aku Raya Anggraini...sebagai anak paling besar,mau tidak mau aku harus mengambil alih tanggungjawab bapak untuk mencari nafkah demi masa depan adik-adikku.
Sementara tunanganku yang kujadikan tempat bersandar justru mengkhianatiku.
Sedangkan ibuku selalu saja menyalahkanku atas putusnya pertunanganku itu,lalu mencoba mencarikan jodoh dari kalangan orang-orang kaya demi melancarkan ambisinya.
Aku merasa dijual oleh ibuku,aku merasa seperti barang dagangan yang ditawarkan kepada pria-pria yang memang sudah mapan secara finansial.
Sanggupkah aku menjalani semua ini?
Kuatkah aku menghadapi tekanan-tekanan dari ibuku?
Dan siapakah akhirnya yang akan menjadi jodohku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Aku diam tak bisa berkata-kata lagi karna semua yang dikatakan Raka benar adanya. Aku pindah dari asrama ke tempat kos ku yang sekarang dengan segala sesuatu yang serba mendadak. Uang dari sales yang selama ini aku tabungan,hanya cukup untuk membayar uang kos saja. Lagi pula bagiku,lemari dan kasur apalagi tempat make up,nggak penting bagiku. Tujuanku hanya satu,bekerja untuk memberi masa depan yang lebih baik untuk adik-adikku.
"Kok diam...ayo kita belanja..." ucapan Raka membuyarkan lamunanku.
"Tunggu...dari siapa kamu tau isi kamarku?"
"Sudahlah...itu semua nggak penting,yang penting sekarang waktunya kita ngehabisin duit bonus ini. Kita beli perabotan kamarmu,lalu kita cari perlengkapan sekolah buat adik-adikmu. Sebentar lagi tahun ajaran baru kan?"
"Tapi...aku ingin tau dulu,siapa yang ngasih tau kamu tentang isi kamarku?"
"Tidak ada...aku sudah liat sendiri semuanya. Sudah...jangan di pikirkan,nanti sehabis belanja aku ceritakan semuanya."
Raka menarik tanganku untuk kembali berjalan melanjutkan tujuan kami jalan-jalan dan belanja.
Hari ini kami belanja gila-gilaan,kami sampai pulang menggunakan taksi online. Uang bonus yang diterima Raka pun habis dalam semalam hanya untukku dan keluargaku.
Sesampai di kosan,anak-anak belum pulang kerja,Mbak Susan dan Mbak Anna yang jadwalnya pulang sore pun sepertinya juga sedang keluar. Kami pun buru-buru memasukkan belanjaan kami ke kamarku,menata semuanya hingga kamarku terlihat rapi dan bersih.
"Raka,minummu aku taruh diruang tamu ya...karna semua sudah beres,sebaiknya kita ngobrol di ruang tamu saja" ucapku.
"Iya...aku cuci tangan dulu..."
Aku menunggu Raka di ruang tamu,aku merasa nggak enak jika ada orang yang datang dan tidak melihat kami atau salah satu dari kami,takutnya akan menimbulkan fitnah.
"Raka...trimakasih ya...Tapi maaf,uangmu malah habis buat aku dan keluargaku" ucapku ketika Raka sudah duduk di hadapanku.
"Jangan bicara begitu,ini adalah sebagian dari tanggungjawabku. Bukankah aku sudah berjanji akan membantumu mencukupi kebutuhanmu dan adik-adikmu...Tolong jangan kau jadikan beban pikiranmu,karna semua ini aku lakukan dengan tulus dan ikhlas."
Tak lama berselang,satu per satu teman-temanku pulang dari bekerja. Ada yang pulang barengan,ada pula yang di antar oleh pacar mereka.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." jawab kami.
"Eh,libur-libur kok di rumah aja...ini tadi nggak pada keluar?" tanya Septi.
"Baru aja sampai,tadi kami keluar sebentar..." jawabku.
Tiba-tiba dari kamarku terdengar Mbak Kris teriak heboh.
"Waaahhh...kamarku kok jadi bersih dan rapi nih...Banyak barang baru lagi...Raya habis borong ya Ray?"
"Mana-mana...Wah keren...kamar Raya sama Mbak Kris jadi bagus..." ucap Nina polos.
"Wah,habis menang lotre ya Ray...bisa borong banyak barang gitu?" tanya Septi sedikit ketus.
"Eh kok nanyanya gitu...Nggak boleh gitu dong dik" ucap Mas Ungki mengingatkan pacarnya.
"Emm...bukan aku yang beli kok,Raka yang beliin. Dia Alhamdulillah dapet bonus yang lumayan dari tempat kerjanya lalu di belanjakan semua untukku dan adik-adikku" jawabku jujur.
Raka sebenarnya sudah memberiku kode untuk tidak menanggapi pertanyaan Septi dengan serius tapi aku memang sengaja mengatakan begitu,agar dia tau bahwa nggak cuma yang punya pacar baik.
"Tuh mas dengerin,jadi cowok tuh yang peka kaya Raka...tau apa yang dibutuhin ceweknya" ucap Septi kesal.
"Lho selama ini aku kan juga selalu membelikan apa yang kamu mau dan kamu butuhkan dik..."
"Iya...tapi kan harus di minta,kalo nggak diminta ya diam saja...kurang inisiatif. Udah pulang aja sana...aku mau tidur."
"Lho katanya mau cari makan dulu..."
"Nggak...nggak jadi,mendadak kenyang gara-gara kesel sama kamu" ucapnya sambil ngeloyor masuk ke kamarnya,meninggalkan Mas Ungki yang masih terbengong-bengong melihat tingkah pacarnya.
"Wah,kok malah jadi bertengkar karna saya...Maaf lho mas" ucap Raka nggak enak ati.
"Saya juga minta maaf ya mas,bukan maksud manas-manasin tapi saya hanya sekedar menjawab pertanyaan dia apa adanya" kataku.
"Alah santai aja Ray - Ka...Septi memang begitu,kaya yang lagi kenal sekarang aja...Kalo gitu aku duluan ya..." pamit Mas Ungki
"Eh iya mas...sekali lagi kami minta maaf ya..."
"Santai saja...yok...Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam..." jawab kami berdua.
"Masih jam setengah 10,kita keluar sebentar cari makan yuk...aku kok lapar..." ucap Raka.
"Aku pamit Mbak Kris dulu ya..."
"Iya...sekalian tanya Mbak Kris mau titip apa,dia juga sering bawain kamu makanan kan kalo lagi keluar sama pacarnya..."
Aku mengangguk dan segera berlalu dan ketika aku melewati kamar Septi,terdengar dia sedang curhat dengan Nina teman satu kamarnya sambil masih marah-marah nggak jelas.
Hmmm...kasian Nina,pulang kerja harusnya istirahat tapi malah di curhati nggak jelas.
Setelah selesai berganti baju dan pamit sama Mbak Kris,aku pun segera kembali ke ruang tamu.
"Ayok kita berangkat..."
"Mbak Kris pesan apa?"
"Nggak pesan apa-apa,dia cuma bilang jangan malam-malam. Jam 11 harus dah sampai rumah...udan cuma gitu doang"
"Oke...kita makan di deket sini aja..."
"Ada warung lesehan di pengkolan jalan situ,katanya enak...kita kesana aja ya..."
Karna jarak tempat yang kami tuju cuma 50 meter dari kosan,kami pun akhirnya berjalan kaki menuju warung lesehan itu.
"Raya...besok lagi kamu jangan ngomong seperti tadi...kasian Mas Ungki dan Septi jadi bertengkar" ucap Raka ketika kami sedang menunggu pesanan datang.
"Dia bertanya...aku menjawab...apa yang salah? Jawabanku pun juga sesuai dengan kenyataan,nggak ada yang di tambahin dan nggak ada juga yang aku kurangin. Terus salahku dimana coba..." kataku sambil cemberut kesal.
"Iya...tapi kan sebenarnya hal seperti itu tidak perlu diutarakan secara gamblang gitu,Septi kan jadi merasa di pameri. Aku cuma kasian sama Mas Ungki,dia benar-benar seperti tengah dipermalukan di depan kita"
"Huh...yang pacarmu itu Septi apa aku? Kok malah jagain perasaan dia. Kamu nggak tau sih,gimana nyebelinnya Septi kalo habis di beliin atau habis beli sesuatu kepadaku. Kalo cuma pamer sih aku bodo amat,tapi kalo udah mulai ngatain...itu yang nyakitin..."
Mataku sudah mulai panas karna emosi,aku jadi teringat kembali tingkah Septi yang selalu pamer di depanku. Dan anehnya yang di pameri cuma aku,tidak dengan yang lain. Apa mungkin karna dia tau kalau aku tidak pernah punya uang biar pun pas tanggal 1 habis gajian. Bukan iri tapi sebel dan sedih karna sangat nyakitin ati.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
g lebay...sesuai realita di masyarakat
buat lanjutannya ya Kaka
kita tunggu lho..
semangat terus thor trus berkarya ya ❤❤❤
aku suka critanya😊
lanjut dong thor😢😢
mampir juga yuk di Mr. mafia or Mr. Psychopath?
Salam semangat
saya nyimak terus