Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Pukul tujuh malam, suasana alun-alun kota sudah sangat ramai. Dari kejauhan, lampu-lampu neon berwarna-warni dari wahana permainan tampak menghiasi langit malam yang cerah. Suara musik dangdut dari komidi putar bersahut-sahutan dengan riuh rendah suara pengunjung dan teriakan para pedagang.
"Ramai banget ya!" seru Anya agak keras. agar suaranya terdengar di antara kebisingan.
"Kalo malam minggu emang selalu gini, Nya! Apalagi kalo ada pasar malam tahunan," sahut Tari sambil menggandeng lengan Anya agar mereka tidak terpisah di tengah kerumunan.
Tujuan pertama mereka adalah deretan stan kuliner. Dinda memimpin di depan, matanya berbinar melihat kepulan asap dari panggangan sosis, dan aroma harum martabak manis. Mereka akhirnya berhenti di sebuah stan telur gulung yang antreannya cukup panjang.
Sambil menunggu antrean, mereka mengobrol banyak hal. Anya menceritakan bagaimana rasanya pertama kali merantau dan berpisah dari keluarganya.
"Awalnya berat banget," akui Anya jujur. "Waktu malam pertama di kos, rasanya sepi banget sampai susah tidur."
Dinda menepuk bahu Anya pelan. "Tenang...Nya? Kita semua di sini juga ngerasain hal yang sama di awal. Aku dulu pas tahun pertama kuliah malah nangis hampir tiap malam karena kangen rumah di seberang pulau. Tapi untungnya ada Bu Mimi yang keibuan banget, dan ada Tari juga sama tio."
Tari mengangguk setuju. "Betul, Nya. Anggap aja kita keluarga barumu di sini. Jadi kalau kamu kesepian atau butuh teman curhat, ketuk aja pintu kamar kita. Jangan sungkan."
Mereka akhirnya berhenti di sebuah stan telur gulung yang antreannya cukup panjang. Tio, sebagai satu-satunya laki-laki di kelompok itu, dengan sukarela berdiri di barisan antrean paling depan. Setelah dipaksa oleh Wulan dan Tari
Sambil menunggu giliran, Tio, Tari. Wulan berdiri mengitari sebuah meja kayu kecil di dekat stan. Di sela-sela obrolan, Anya menceritakan bagaimana rasanya pertama kali merantau dan berpisah dari keluarganya
"Waktu malam pertama di kosan, rasanya sepi sampai susah tidur. Karna terbiasa dengar suara berisik kakak-kakakku di rumah."
Wulan menepuk bahu Anya pelan. "Tenang, Nya. Kita semua di sini juga ngerasain hal yang sama di awal. Aku dulu pas tahun pertama kuliah malah nangis hampir tiap malam karena kangen rumah di seberang pulau. Tapi untungnya ada Bu Mimi yang keibuan banget, terus ada Tari sama Tio juga."
Tari mengangguk setuju. "Betul, Nya. Anggap aja kita keluarga barumu di sini. Jadi kalau kamu kesepian atau butuh teman curhat, ketuk aja pintu kamar kita. Jangan sungkan."
"Iya, Nya! Kalau Tio macam-macam atau ada keran kamarmu yang bocor, bilang aku atau Wulan, nanti kita suruh Tio benerin!" canda Tari yang langsung disambut tawa kompak mereka bertiga
Tak lama kemudian. Tio datang membawa dua piring besar berisi puluhan tusuk telur gulung hangat yang langsung dilumuri saus sambal. "Nih, pesanannya udah siap. Jangan lupa di sisain buat yang ngantre ya," gerutu Tio dengan muka lempengnya, walau matanya menyiratkan senyuman ramah.
Setelah puas mengisi perut dengan telur gulung dan es tebu, Dinda menunjuk ke arah wahana bianglala raksasa yang berputar lambat di sudut alun-alun. "Yuk, naik itu! Kita liat pemandangan kota dari atas!"
"Ide bagus! Mumpung cuaca lagi cerah. anginnya juga nggak terlalu kencang," sahut Wulan sambil mengelap sisa saus di jarinya dengan tisu.
Tari langsung menyenggol lengan Tio yang masih sibuk mengunyah tusuk telur gulung terakhirnya. "Yo, ayo naik! Kamu yang bayarin tiketnya ya, sekalian pajak jasa servis keran bocor masa depan!" seloroh Tari, memancing tawa tertahan dari Anya dan Wulan.
Tio hanya bisa mendengus pasrah, meski tangannya sudah bergerak merogoh dompet di saku celananya. "Iya...iya? Untung malam ini dompetku lagi ramah lingkungan," balas Tio lempeng, membuat suasana makin ramai.
Mereka berempat kemudian berjalan beriringan membelah keramaian alun-alun menuju loket bianglala. Antrean malam itu cukup panjang, penuh dengan pasangan muda-mudi dan keluarga kecil yang ingin menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Sambil menunggu giliran, obrolan ringan dan candaan terus mengalir, membuat waktu tunggu yang lama jadi tidak terasa.
Ketika giliran mereka tiba, sang petugas mengarahkan mereka untuk naik ke salah satu gerbong kayu yang berwarna-warni. Keempatnya masuk dan duduk saling berhadapan. Begitu pintu gerbong dikunci dari luar. bianglala mulai bergerak naik perlahan, perlahan-lahan keriuhan alun-alun di bawah sana mulai meredup, digantikan oleh hamparan lampu kota yang membentang indah bak taburan permata.
"Wah, gila...!bagus banget dari sini," gumam Tari. wajahnya menempel dekat kaca jendela gerbong yang sedikit terbuka, menikmati angin malam yang menerpa wajahnya.
Wulan mengangguk setuju. pandangannya terkunci pada kerlip lampu jalanan yang membentuk garis-garis emas di kejauhan. "Bener. Kalo dari bawah keliatan penuh dan sumpek, tapi begitu di atas sini, semuanya keliatan tenang banget ya."
Anya yang duduk di sebelah Dinda hanya tersenyum simpul, sementara Tio yang duduk bersebelahan dengan Tari tampak melipat tangan di dada. Matanya tidak melihat ke luar jendela, melainkan memperhatikan gerbong kayu yang mereka naiki. Sesekali berderit pelan setiap kali bergeser naik.
"Yo....kamu kenapa? Tegang amat, jangan-jangan takut ketinggian ya?" goda Wulan yang menyadari gelagat cowok itu.
Tari langsung menoleh dan ikut menyenggol bahu Tio. "Lah, iya! Mukanya kok jadi makin lempeng kayak tripleks gitu? Jangan bilang pawang keran bocor kita ini ciut sama bianglala?"
Tio menghela napas panjang, berusaha mempertahankan ekspresi datarnya meski sudut bibirnya sedikit berkedut. "Bukan takut ketinggian," sanggah Tio pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh derit mesin bianglala. "Aku cuma lagi ngitung. Ini baut gerbongnya terakhir kali diganti tahun berapa. Kok bunyinya kayak sendi kakek-kakek encok."
Sontak ucapan Tio membuat ketiga perempuan di depannya tertegun sesaat. Sebelum akhirnya tawa mereka pecah bersamaan, membuat gerbong kecil itu sedikit bergoyang dan sukses membuat Tio langsung mencengkeram pegangan besi di sampingnya dengan erat.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?