PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — PERNIKAHAN
BAB 6 — PERNIKAHAN
Dua hari berlalu.
Terasa cepat. Terlalu cepat.
Pagi itu, seluruh kediaman keluarga Axlarta tampak lebih sibuk dari biasanya.
Sejak subuh, beberapa mobil van hitam sudah terparkir di halaman depan.
Pintu belakangnya terbuka, dan para pelayan hilir mudik membawa kotak-kotak besar berbalut pita emas.
Eiri yang baru turun dari kamarnya di lantai dua langsung berhenti di anak tangga terakhir.
Ia memeluk dirinya sendiri, bingung.
"Permisi... ada apa ya?" tanyanya pelan pada seorang pelayan yang lewat sambil membawa gaun dalam gantungan plastik besar.
Pelayan itu berhenti dan tersenyum ramah. "Pagi, Nona. Hari ini Nona akan mencoba gaun pernikahan."
Dunia Eiri seperti berhenti berputar selama beberapa detik.
"Gaun... pernikahan?" suaranya tercekat. "Hari ini?"
"Iya, Nona. Tuan sudah memerintahkan semuanya harus selesai sore ini. Akadnya besok pagi."
Eiri menggigit bibirnya pelan. Jantungnya berdebar tidak karuan.
Ia hampir lupa. Dua hari lalu ia menandatangani kontrak itu. 2 Miliar. 2 Tahun.
Tapi kenapa, semakin dekat harinya, dadanya justru semakin sesak?
Ini pernikahan. Tapi bukan karena cinta.
Lalu kenapa rasanya seperti ia akan kehilangan sesuatu yang sangat berharga?
Di ruang kerja lantai 3.
Mahendra duduk di balik meja kayu jati besar. Jas hitamnya rapi. Dahi sedikit berkerut saat menandatangani tumpukan dokumen.
Tok.
Asisten 01 masuk, membawa map biru. "Tuan. Undangan sudah selesai dicetak. 50 eksemplar. Hanya keluarga dan rekan bisnis terdekat."
"Bagus." Jawab Mahendra tanpa menoleh.
"Media juga sudah menerima pemberitahuan. Tapi sesuai perintah, tidak ada liputan."
Mahendra akhirnya berhenti menulis. Pulpennya ia letakkan perlahan.
"Jangan terlalu banyak wartawan. Aku tidak mau Eiri menjadi bahan gosip."
"Baik, Tuan."
Asisten itu membalikkan badan hendak keluar.
"Tunggu."
Asisten 01 menoleh. "Tuan?"
Mahendra mengangkat wajahnya. Mata hitamnya dingin, tapi ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Sesuatu yang disebut... takut.
"Tidak ada seorang pun boleh menyakiti Eiri. Mengerti?"
"Iya, Tuan."
"Jika ada yang mencoba mengganggunya..." Mahendra mengepalkan tangannya di atas meja. "Pastikan mereka menyesal pernah dilahirkan."
Asisten 01 menelan ludah. "Asisten mengerti."
Di lantai dua, kamar tamu.
Tiga orang penata rias sudah menunggu. Di tengah ruangan tergantung gaun putih sederhana. Tidak terlalu mewah, tapi anggun. Renda di bagian lengan dan punggungnya membuat gaun itu terlihat seperti mimpi.
"Nona, silakan," ujar salah satu penata.
Eiri berjalan masuk ke balik tirai. 10 menit kemudian, saat resleting di punggungnya selesai dinaikkan, ia melangkah keluar.
Semua orang di ruangan itu terdiam.
Gaun itu pas di badannya. Pinggangnya terlihat ramping. Rambutnya digerai sebagian, sebagian dikuncir ke belakang dengan jepit mutiara.
"Nona sangat cantik," puji penata rias.
Eiri berjalan ke depan cermin besar.
Ia menatap pantulan dirinya.
Putih. Bersih. Seperti pengantin sungguhan.
"Aku..." bisiknya. Air mata tanpa sadar menggenang. "Benarkah akan menikah?"
Cantik. Ya. Tapi untuk siapa?
Untuk pria yang membelinya dengan kontrak?
Atau untuk pria yang 10 tahun lalu memberinya lolipop di ayunan?
Tok. Tok.
Pintu diketuk pelan.
"Masuk."
Pintu terbuka. Seorang wanita berambut cokelat panjang sebahu masuk. Ia memakai dress biru muda dan senyum yang sangat hangat.
"Eiri?"
Eiri buru-buru membungkuk. "Iya... salam kenal."
Wanita itu tertawa kecil. "Astaga, tidak usah begitu. Aku Melveri. Kakaknya Mahendra."
"Eh? Kakak?" Eiri terkejut. Selama ini ia tidak pernah mendengar Mahendra punya saudara.
"Iya. Aku baru pulang dari luar negeri seminggu lalu. Pas dengar adikku mau nikah, aku langsung terbang." Melveri berjalan memutari Eiri, mengamati. "Cantik sekali. Cocok dengan adikku yang dingin itu."
Eiri tersipu. "Terima kasih, Kak."
Melveri berhenti di depan Eiri. Ia menatap mata Eiri cukup lama. Lama sekali.
Alisnya sedikit berkerut.
"Aneh..." gumamnya.
"Eiri, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Jantung Eiri berdegup. "Sepertinya... belum, Kak."
Melveri ikut mengangguk. "Mungkin hanya perasaanku. Tapi matamu... rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat."
Ia menggeleng, tersenyum lagi. "Sudahlah. Yang penting kamu bahagia ya."
Sementara itu, di halaman depan.
Sebuah mobil sport merah berhenti. Pintu terbuka dan Marchel turun dengan kemeja putih dan senyum lebar.
"Halo!" Ia melambaikan tangan ke arah Mahendra yang berdiri di teras. "Persiapanmu benar-benar cepat, Es Batu!"
Mahendra hanya mengangguk singkat. "Kau datang."
"Tentu saja. Aku tidak mungkin melewatkan pernikahan sahabatku. Apalagi dengan gadis yang bikin kau tidak tidur 2 hari ini." Marchel menepuk bahu Mahendra.
Mereka berjalan masuk. Saat melewati koridor lantai 2, langkah Marchel terhenti.
Di depan kamar Eiri, Melveri sedang tertawa kecil sambil merapikan poni Eiri.
Melveri juga menoleh.
Mata mereka bertemu.
"Kau baru datang?" sapa Melveri.
"Iya. Sudah lama tidak bertemu, Mel." Marchel tersenyum.
Mereka berbincang santai seperti teman lama.
Tidak ada satupun dari mereka yang tahu... bahwa mereka adalah kakak dan adik kandung yang terpisah sejak kecil karena perceraian orang tua.
Menjelang sore.
Langit mulai berwarna jingga.
Mahendra berdiri sendirian di balkon kamar. Tangannya di saku jas.
Dari saku, ia mengeluarkan sebatang lolipop rasa stroberi. Plastiknya sudah sedikit lecek.
Ia tersenyum kecil. Senyum yang tidak pernah dilihat siapapun.
"Dulu..." bisiknya. "Setiap kali gugup ujian, kamu selalu minta ini. 'Mahen, beli lolipop dong. Biar berani.'"
Ia memutar lolipop itu di antara jarinya.
"Semoga... kali ini aku tidak kehilanganmu lagi, Eiri."
"Mahen?"
Suara itu membuatnya menoleh.
Eiri berdiri di ambang pintu balkon. Masih memakai gaun putihnya. Wajahnya sedikit gugup.
Mahendra cepat-cepat memasukkan lolipop itu ke saku. Ekspresi dinginnya kembali.
"Ada apa?"
Eiri melangkah maju. "Saya... saya hanya ingin bertanya."
"Silakan."
"Kenapa..." Eiri menatap mata Mahendra. "Dari sekian banyak orang di dunia ini... kenapa Anda memilih saya?"
Hening. Hanya suara angin sore.
Mahendra terdiam cukup lama. Rahangnya mengeras. Lalu ia tersenyum. Tipis. Hampir tidak terlihat.
"Karena..."
Ia mendekat selangkah. Aromanya menguar. Dingin dan mahal.
"Aku sudah mencarimu sangat lama, Eiri."
Dug.
Jantung Eiri serasa berhenti.
"Mencariku...?"
Mahendra tidak menjawab. Ia berjalan melewati Eiri, menyenggol bahunya pelan, dan masuk ke dalam.
Meninggalkan Eiri dengan ribuan pertanyaan dan pipi yang tiba-tiba panas.
Sementara itu, dari balik pagar besi hitam yang tinggi...
Seseorang berdiri dalam bayangan.
Tatapannya tajam mengarah ke balkon.
Di tangannya, sebuah foto tua yang sudah menguning.
Di foto itu, tiga anak kecil sedang tertawa di ayunan. Seorang anak laki-laki, dua anak perempuan.
Wajah mereka sudah mulai pudar. Tapi satu hal yang jelas: lolipop stroberi di tangan anak laki-laki itu.
"Jadi... pernikahan itu benar-benar akan terjadi."
Suara orang itu serak. "Bagus. Permainan baru saja dimulai."