Zoya tak sengaja menyelamatkan seorang pria yang kemudian ia kenal bernama Bram, sosok misterius yang membawa bahaya ke dalam hidupnya. Ia tak tahu, pria itu bukan korban biasa, melainkan seseorang yang tengah diburu oleh dunia bawah.
Di balik kepolosan Zoya yang tanpa sengaja menolong musuh para penjahat, perlahan tumbuh ikatan tak terduga antara dua jiwa dari dunia yang sama sekali berbeda — gadis SMA penuh kehidupan dan pria berdarah dingin yang terbiasa menatap kematian.
Namun kebaikan yang lahir dari ketidaktahuan bisa jadi awal dari segalanya. Karena siapa sangka… satu keputusan kecil menolong orang asing dapat menyeret Zoya ke dalam malam tanpa akhir.
Seperti apa akhir kisah dua dunia yang berbeda ini? Akankah takdir akan mempermainkan mereka lebih jauh? Antara akhir menyakitkan atau akhir yang bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zawara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis di Ambang Pintu
Keheningan yang mencekam itu menggantung di udara, berat dan menyesakkan, namun hanya bertahan seumur jagung.
David, yang semula gemetar menyaksikan kedatangan Bram, seketika mengubah raut wajahnya dengan kecepatan yang mengerikan. Ketakutan yang sempat bertahta di matanya lenyap tanpa bekas, tergantikan oleh binar kelegaan yang dipalsukan dengan sempurna seolah sosok mengerikan di hadapannya adalah malaikat penyelamat yang telah lama dinanti.
Roda-roda kelicikan di dalam benak David berputar cepat. Ia sadar, menantang Bram secara fisik adalah tindakan bunuh diri. Namun, menghadapi para pembunuh misterius itu seorang diri pun sama artinya dengan mengantar nyawa. Dalam situasi hidup dan mati ini, naluri bertahan hidupnya mengambil alih; satu-satunya jalan keluar adalah dengan memanipulasi sang monster yang kini berdiri angkuh di atas kap mobilnya.
"Bram!" teriak David. Tak ada lagi nada angkuh dalam suaranya; yang terdengar hanyalah jeritan seorang adik yang panik dan diselimuti keputusasaan.
Tanpa memedulikan harga dirinya, David menghambur mendekati mobil yang dipijak Bram, mengabaikan Viktor yang masih terpaku memegangi rahangnya yang patah.
"Syukurlah kau datang!" seru David dengan napas memburu yang sengaja ia buat terdengar dramatis. Telunjuknya yang gemetar terarah pada lima sosok berjubah hitam di hadapan mereka. "Mereka... orang-orang gila ini tiba-tiba menyerang kami!"
Dari atas kap mobil, Bram menunduk. Sepasang mata merahnya menukik tajam, menatap David dengan sorot dingin penuh kecurigaan. Sebelah alisnya terangkat. "David?"
"Aku datang mencarimu!" sahut David cepat, memoles wajahnya dengan ekspresi memelas yang meyakinkan. "Aku mendapat informasi kau bersembunyi di rumah ini. Sumpah, niatku hanya ingin menjemput dan membawamu pulang!"
David merentangkan kedua tangannya, gestur dramatis yang menunjuk pada mayat-mayat pasukannya para Cleaners yang berserakan tak bernyawa.
"Baru saja kakiku memijak tempat ini, bajingan-bajingan bertopeng itu muncul entah dari mana!" Suara David meninggi, sarat akan emosi palsu yang meledak-ledak.
"Mereka membantai pengawalku tanpa ampun! Lihat, Bram! Mereka membawa bensin. Mereka berniat membumihanguskan rumah ini! Aku dan anak buahku berusaha menahan mereka mati-matian, tapi..." Kalimatnya tercekat, seolah terlalu berat baginya untuk mengakui kekalahan. "...mereka terlalu kuat."
Viktor, yang menjadi saksi bisu sandiwara tuannya, hanya bisa membelalak kaget. Namun, akal sehatnya segera bekerja; ia buru-buru mengatupkan mulut dan turut memasang wajah menahan sakit, mendukung narasi palsu yang dibangun David.
Kini, David berdiri tepat di samping ban mobil, mendongak menatap Bram dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.
"Tolong kami, Bram," pinta David lirih, suaranya bergetar. "Aku mungkin tak sebaik itu, tapi aku tidak akan membiarkan tempatmu memulihkan diri dihancurkan oleh orang asing. Mereka monster, Bram. Habisi mereka."
Bram bergeming. Tatapan merahnya yang menyala berpindah perlahan, menelusuri wajah memelas David, beralih pada jerigen-jerigen bensin yang terguling, lalu berhenti pada lima sosok hitam yang masih berdiri mematung.
Dalam kekacauan itu, narasi David terdengar logis. Ada bau bensin yang menyengat. Ada mayat yang bergelimpangan. Dan ada sekelompok orang asing yang jelas memancarkan aura permusuhan.
"Kau membawa Cleaners," ujar Bram datar, namun penuh intimidasi. "Logikanya, jika kau membawa unit pembersih, kaulah yang berniat meratakan rumah ini, bukan menjemputku."
"I-itu... sebenarnya..." gagap David, keringat dingin mulai menetes.
"Diamlah." Bram memotong tajam. Ia tak butuh alasan David saat ini.
Kepercayaan Bram pada David saat ini memang tipis, namun prioritasnya telah bergeser. Fokus utamanya kini adalah "siapa yang mengusik ketenangannya" dan "siapa yang membawa bensin". Di mata Bram, ancaman terbesar bukanlah si licik David, melainkan lima sosok asing yang memasang kuda-kuda tempur itu.
Dengan dengusan kasar, Bram melompat turun. Tubuh kekarnya mendarat mulus tepat di depan David, menimbulkan dentuman kecil.
Refleks, David mundur selangkah, ngeri membayangkan sebuah pukulan akan melayang ke wajahnya. Namun, pukulan itu tak pernah datang. Sebaliknya, Bram berdiri membelakangi David, menjadikan punggung lebarnya sebagai tembok pemisah yang kokoh antara David dan pasukan hitam itu.
"Kau berhutang penjelasan padaku nanti," geram Bram tanpa menoleh, suaranya rendah menggetarkan dada. "Tapi untuk sekarang... tutup mulutmu. Suaramu mengganggu telingaku."
Di balik punggung raksasa itu, seulas senyum tipis terukir di bibir David. Senyum kemenangan yang samar dan penuh tipu daya. Ia berhasil. Ia baru saja mengubah calon eksekutornya menjadi anjing penjaga yang setia.
Bram menatap lurus ke arah pemimpin pasukan hitam itu. Jemarinya meregang, menciptakan bunyi gemeretak yang ngilu.
"Kalian dengar si bawel di belakangku ini?" tanya Bram datar, tatapannya menusuk lurus ke arah musuh. "Dia bilang kalian ingin membakar rumah ini. Dan yang lebih parah... kalian membuat keributan di wilayahku."
Bram mengambil satu langkah maju. Seketika, aura membunuh yang pekat meledak dari tubuhnya, membuat udara di sekitar mereka terasa berat dan menyesakkan.
"Siapa yang ingin mati lebih dulu? Atau haruskah ku remukkan kalian sekaligus agar tidak membuang waktuku?"
...***...
Belum sempat satu serangan pun terlontar, jeritan engsel pintu utama yang berkarat membelah ketegangan, terdengar begitu nyaring dan menyayat di tengah keheningan malam. Bunyi itu seketika membekukan waktu.
Bram, yang sepersekian detik lalu siap menerjang bak badai, membeku seketika. Hawa membunuh yang pekat di sekelilingnya lenyap tanpa sisa, tergantikan oleh gelombang kepanikan murni yang jarang sekali singgah di wajah kerasnya. Sepasang mata merahnya membulat, terpaku pada satu titik, pada sosok mungil yang berdiri terhuyung di ambang pintu rumah.
Zoya.
Gadis itu berdiri di sana, rambutnya kusut masai membingkai wajah yang memucat seputih kertas, menyisakan jejak mimpi buruk yang belum pudar. Ia tampak begitu rapuh, seolah satu hembusan angin malam saja sanggup meremukkannya. Ingatan Bram berputar cepat, menghadirkan kembali memori kelam yang baru saja menimpa gadis itu, bagaimana nyawa seseorang terenggut tepat di depan matanya, meninggalkan luka trauma yang masih basah.
Jantung Bram serasa dihantam palu. Jika sepasang mata polos itu menyaksikan pemandangan di halaman ini, mayat-mayat Cleaners yang terbantai, darah yang menggenang, dan wajah-wajah bertopeng itu jiwanya yang sudah retak mungkin akan hancur sepenuhnya.
"Zoya..." desis Bram, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tanpa memedulikan David, Viktor, ataupun kelima malaikat pencabut nyawa yang mengincarnya, Bram membatalkan kuda-kudanya. Ia berbalik dan menghambur menerjang jarak. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk melindungi. Gerakannya dipenuhi kepanikan yang janggal, jauh dari citra pembunuh dingin yang beberapa detik lalu siap meremukkan tulang lawan.
"Jangan keluar!" seru Bram tertahan, nadanya terdengar seperti permohonan putus asa.
Dengan langkah lebarnya, Bram tiba di hadapan Zoya tepat sebelum gadis itu sempat menapakkan kaki keluar dari beranda. Tubuh raksasa Bram segera mengisi penuh bingkai pandangan Zoya, menjadi tembok hidup yang kokoh, memblokir total akses matanya ke arah halaman yang penuh kematian.
Zoya mengerjap pelan, matanya yang sayu dan berkabut berusaha beradaptasi dengan kegelapan.
"Pak..." gumamnya lirih, suaranya terdengar lemah dan serak.
Meski tubuhnya tak bertenaga, rasa penasaran mendorong Zoya untuk memiringkan kepala, mencoba mengintip ke balik punggung lebar Bram demi mencari tahu apa yang terjadi di luar sana.
"Tidak ada apa-apa," potong Bram cepat. Kedua telapak tangannya yang besar mencengkeram bahu Zoya, lembut namun tegas, menahan gadis itu agar tidak bergerak maju satu inci pun. "Cuma... cuma kucing bertengkar. Kembali tidur."
Kegelapan dini hari seolah bersekongkol dengan Bram malam itu. Kabut tipis dan minimnya cahaya teras bekerja sama menyembunyikan dosa-dosa yang berserakan di halaman. Dari sudut pandang Zoya, yang terhalang tubuh raksasa Bram, hamparan mayat di belakang sana hanyalah gundukan bayang-bayang hitam tak berbentuk yang menyatu dengan malam.
Bram menghela napas panjang tanpa suara, sementara sebutir keringat dingin bergulir di pelipisnya. Ia berhasil. Untuk saat ini, Zoya selamat dari mimpi buruk yang baru.
Dalam hati, amarah Bram kembali tersulut, kali ini lebih panas.
"Akan kuberi mereka pelajaran... Gara-gara mereka, bocah ini jadi terbangun."
Ironisnya, Bram melupakan satu fakta krusial: ia tak menghitung dirinya sendiri sebagai sumber kebisingan. Padahal, aksi dramatisnya saat menghantam jendela dan teriakan ganasnya tadilah yang menjadi Sumbu utama yang menarik Zoya dari tidurnya.