Tio Yong Ing menghabiskan seluruh hidupnya untuk keluarga.
Ia bekerja tanpa henti, menelan setiap hinaan, dan menyerahkan setiap rupiah yang ia punya — semua demi anak-anaknya. Hasilnya? Di usia 70 tahun, ia terbaring sendirian di panti jompo. Suaminya sudah tiada. Keenam anaknya tak pernah menjenguk. Keponakannya bunuh diri karena tak ada yang melindunginya.
Lalu Yong Ing meninggal.
Dan terbangun lagi — di usia 50 tahun, dengan semua ingatan tentang masa depan yang belum terjadi.
Kali ini, ia tahu siapa yang akan berkhianat. Siapa yang akan menderita. Dan kapan semuanya akan runtuh.
Kali ini, Ibu tidak akan mengalah lagi.
Langkah pertama? Merampas kembali seluruh keuangan keluarga. Langkah kedua? Menyelamatkan menantunya yang sedang sekarat melahirkan — karena di kehidupan sebelumnya, ia terlambat. Langkah ketiga? Membongkar pengkhianatan suami saudara iparnya sebelum terlambat.
Dan itu baru tiga hari pertama.
Di keluarga besar Tionghoa-Indonesia di Semarang, di mana nama keluarga adalah segalanya dan rahasia bisa membunuh — Yong Ing akan membangun kembali segalanya dari nol. Dengan sandal jepit di tangan kanan dan buku tabungan di tangan kiri, ia akan mengubah keluarganya dari pedagang kecil di Pecinan menjadi nama yang disegani di seluruh kota.
Tapi mengubah nasib enam anak yang sudah dewasa ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Terutama ketika mereka semua mulai curiga: *sejak kapan Mama jadi setajam ini?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019: Sophie Mulai Pulih
"Siapa nama mereka?"
Bella menunduk lama sebelum menyebut tiga nama.
Margaret tidak langsung marah di depan semua orang. Ia mengambil kertas bekas daftar belanja, menuliskan nama-nama itu, lalu melipatnya dan memasukkannya ke saku.
"Besok Mama urus."
Bella mengangkat mata. "Mama jangan datang ke sekolah dulu."
"Kenapa?"
"Kalau Mama langsung datang, mereka akan bilang aku mengadu."
Margaret menatap anak bungsunya. Di rumah, Bella paling jarang meminta apa-apa. Kalau anak seperti itu sampai menarik lengan ibunya, berarti masalahnya sudah lama ia telan.
"Baik," kata Margaret akhirnya. "Mama tidak datang besok. Tapi kamu tidak boleh diam kalau mereka menyentuh badanmu."
Bella mengangguk.
Malam itu, setelah rumah sunyi, Margaret melihat Sophie duduk di ruang tengah.
Anak itu tidak lagi mengurung diri sepanjang hari seperti pertama datang. Beberapa minggu lalu, Sophie bahkan sulit duduk dekat jendela. Suara motor lewat saja bisa membuat bahunya terangkat. Sekarang ia duduk di dekat keranjang kacang panjang, mematahkan ujungnya satu per satu dengan gerakan pelan.
Elisa duduk di sampingnya, berbicara tentang hal kecil.
"Kalau pasar pagi, yang jual daun bawang dekat pintu utara lebih murah. Tapi kalau mau tahu gimbal enak, harus lewat gang samping."
Sophie tidak menjawab banyak.
Namun ia mendengarkan.
Bagi orang lain, itu mungkin tidak berarti apa-apa. Bagi Margaret, itu seperti melihat tunas keluar dari tanah yang pernah diinjak.
Keesokan paginya, Elisa membawa keranjang belanja.
"Mama, aku ajak Sophie ke pasar sebentar, ya?"
Sophie berdiri di belakangnya, tangan memegang ujung lengan baju sendiri. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak mundur.
Margaret menahan keinginan untuk langsung menolak.
"Jalan pelan. Jangan lewat jalan besar. Kalau Sophie mau pulang, pulang."
Elisa mengangguk serius. "Iya, Mama."
Sophie menatap Margaret sebentar.
"Ci Margaret," suaranya hampir tidak terdengar, "aku coba."
Dua kata itu membuat dada Margaret panas.
Ia hanya mengangguk. "Coba saja. Tidak perlu berhasil hari ini."
Pasar dekat Perumahan Bukit Indah tidak besar, tetapi pagi hari selalu penuh suara. Pedagang sayur memanggil pembeli, ikan di ember memercik, becak lewat pelan, dan bau bawang goreng bercampur asap minyak.
Sophie berjalan menempel di samping Elisa. Beberapa kali bahunya tegang ketika ada orang terlalu dekat. Elisa tidak menariknya, hanya memperlambat langkah.
"Kita beli kangkung dulu," kata Elisa. "Setelah itu langsung pulang."
Sophie mengangguk.
Di dekat gang samping, seorang gadis muda berdiri di balik gerobak tahu gimbal. Rambutnya diikat tinggi, pipinya merah karena panas minyak, dan suaranya cerah sekali sampai terdengar seperti lonceng kecil.
"Ci, tahu gimbal panas! Baru goreng!"
Elisa berhenti. "Clara, hari ini jualan sendiri?"
Gadis itu tersenyum lebar. "Iya. Tanteku sakit perut. Kalau aku tidak jualan, tahu bisa nangis di rumah."
Elisa tertawa.
Sophie menunduk, tetapi sudut matanya bergerak sedikit.
Clara melihatnya, lalu tidak menatap terlalu lama. Ia hanya mengambil satu piring kecil, menaruh potongan tahu, lontong, tauge, telur, lalu menyiram bumbu kacang.
"Ini untuk temanmu. Gratis."
Elisa cepat berkata, "Jangan, nanti Mama marah kalau kami makan tanpa bayar."
"Kalau gratis pertama kali, namanya perkenalan, bukan utang." Clara mendorong piring itu ke arah Sophie. "Aku Clara. Orang pasar panggil aku Clara. Kamu boleh panggil begitu kalau mau. Kalau tidak mau, juga tidak apa-apa."
Sophie menatap piring itu.
Tidak ada pertanyaan di mata Clara. Tidak ada rasa ingin tahu yang menusuk. Tidak ada bisik-bisik tentang Ungaran, tentang Polsek, tentang luka yang tidak terlihat.
Hanya sepiring tahu gimbal yang masih panas.
Sophie mengambil sendok plastik.
"Terima kasih," bisiknya.
Clara langsung tersenyum seperti baru menang lotre. "Nah, bisa bicara. Suaramu bagus. Jangan disimpan terus, nanti berkarat."
Elisa menahan napas, takut Sophie tersinggung.
Sophie justru menunduk lebih dalam.
Lalu, sangat pelan, sudut bibirnya naik sedikit.
Sedikit saja.
Tetapi Elisa melihatnya.
Saat pulang, Elisa hampir berlari masuk rumah.
"Mama," bisiknya di dapur, "Sophie tersenyum."
Margaret yang sedang mengupas bawang berhenti.
Di belakang Elisa, Sophie masuk dengan keranjang kecil. Wajahnya masih pucat. Langkahnya masih hati-hati. Tapi ada remah bumbu kacang di sudut bibirnya.
Margaret pura-pura tidak melihat.
"Kangkungnya bagus?"
Sophie mengangguk. Setelah beberapa detik, ia menjawab, "Bagus."
Satu kata lagi.
Margaret menunduk memotong bawang supaya tidak ada yang melihat matanya panas.
Malam itu, telepon rumah berdering ketika semua orang hampir selesai makan.
Daniel mengangkatnya lebih dulu. Wajahnya berubah, lalu ia menutup gagang dengan telapak tangan.
"Maggie. Dari Ungaran."
Margaret mengambil telepon.
Suara Susan langsung meledak dari seberang.
"Kamu penculik! Kamu sembunyikan anakku! Sophie itu anakku, bukan anakmu! Besok aku datang ke Semarang, aku bawa orang, aku ambil dia!"
Di ruang tengah, tubuh Sophie membeku.
Margaret melihatnya.
Lalu suaranya turun menjadi dingin.
"Datang saja."
Susan masih berteriak.
Margaret memotong, "Aku tunggu."
Ia menutup telepon.
Rumah Lim sunyi.
Margaret meletakkan gagang, lalu menatap Jason yang kebetulan sedang mengunyah ayam sisa.
"Besok kita ke Ungaran."