Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 2
Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah. Pernikahan yang tak pernah di inginkan keduanya. Apalagi bagi Mahesa yang masih sangat berharap kembali kepada mantan istrinya.
Inara menarik napas panjang, menelan kembali harga dirinya yang sudah hancur berserakan di lantai marmer kantor. Dia tidak membalas pesan itu. Jemarinya hanya bergerak lincah di atas layar, menghapus notifikasi tersebut seolah dengan begitu dia bisa menghapus luka yang ditorehkannya. Lagi pula pesan yang di kirimkan suaminya tak mewajibkan dia membalasnya.
Pukul tujuh malam, rumah itu berubah. Lampu kristal yang biasanya redup kini berpijar hangat. Harum diffuser mahal menyamarkan aroma sisa sup ayam yang tadi pagi dibuang Inara ke lubang wastafel.
Di dapur, Inara bergerak seperti robot. Dia telah mengganti blazer kantornya dengan terusan satin berwarna sampanye yang elegan. Wajahnya yang sembab telah tertutup sempurna oleh riasan bold. Dia sedang menata appetizer saat mendengar suara tawa Mahesa dari ruang tamu. Tawa yang renyah, hangat, dan palsu.
"Ah, ini dia istriku," suara Mahesa terdengar mendekat.
Inara berbalik dan detik itu juga, lengan Mahesa melingkar posesif di pinggangnya. Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menyakitkan, namun Inara tetap tersenyum.
"Selamat malam, Pak Hadi, Bu Sarah," sapa Inara dengan nada suara yang begitu manis hingga dia sendiri ingin muntah.
"Mahesa benar-benar beruntung," puji Pak Hadi, rekan bisnis paling berpengaruh bagi Mahesa.
"Sudah hebat di kantor, pintar mengurus rumah pula. Jarang ada wanita karier yang masih mau turun ke dapur."
"Inara memang selalu memberikan yang terbaik untuk saya, Pak," sahut Mahesa sambil mengecup pelipis Inara sekilas.
Ciuman itu dingin, tanpa rasa, hanya sebuah formalitas demi sebuah kesepakatan bisnis bernilai miliaran yang akan di dapatkan oleh Mahesa setelahnya.
Setelah tamu pulang, kehangatan itu menguap dalam hitungan detik. Mahesa segera melepaskan rangkulannya seolah-olah Inara adalah benda beracun. Dia melonggarkan dasinya, wajahnya kembali datar dan tajam.
"Akting yang bagus," puji Mahesa ketus sambil menuang air minum.
"Pak Hadi terkesan. Proyek itu aman di tangan kita."
Inara tidak bergerak dari posisinya di dekat meja makan. Dia a menatap punggung Mahesa yang tegap, yang tadi siang mempermalukannya di depan seluruh staf.
"Apakah itu semua yang kau butuhkan dariku, Mas? Hanya untuk 'mengamankan' proyekmu?"
Mahesa berbalik, menatapnya dengan tatapan merendahkan.
"Lalu kau berharap apa? Aku tiba-tiba jatuh cinta padamu karena kau tersenyum pada kolegaku? Karena sudah membuat mereka terkesan dan pada akhirnya menyetujui kerjasama kami? Sudah kukatakan, jangan naif."
"Aku lelah, Mas," suara Inara kali ini tidak gemetar. Suaranya datar, kosong.
"Aku lelah menjadi istrimu di rumah ini, menjadi bawahanmu di kantor, dan menjadi aktrismu di depan orang lain. Aku merasa, aku tidak ada."
Mahesa berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Inara hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Dia menunduk, berbisik tepat di telinga Inara dengan nada yang sangat realistis namun mematikan.
"Kalau kau merasa tidak ada, maka pergilah. Tapi kita berdua tahu kau tidak akan sanggup melakukannya, Inara. Kau terlalu mencintaiku, dan kau terlalu takut mengecewakan orang tuamu. Jadi, berhenti mengeluh dan cuci piring-piring itu. Besok ada rapat jam delapan pagi. Jangan terlambat."
Mahesa melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Inara di tengah kemewahan rumah yang terasa seperti penjara kaca. Di bawah cahaya lampu yang indah, Inara melihat pantulan dirinya di pintu kaca. Dia cantik, sukses, tapi di mata pria suaminya, dia hanyalah sebuah alat yang berfungsi dengan baik. Dan sialnya ucapan Mahendra benar. Dia mencintai suaminya itu. Pria baji-ngan yang bahkan setiap hari selalu melukai hatinya.
Dia tidak menangis lagi. Kali ini, dia hanya mengambil gelas bekas minum Mahesa, lalu melepaskannya begitu saja hingga hancur berkeping-keping di lantai. Bunyi pecahannya nyaring, tapi Mahesa bahkan tidak menoleh untuk melihat apakah ia terluka.
Pecahan gelas itu berkilau di bawah lampu kristal, mencerminkan wajah Inara yang hancur. Dia tidak memungutnya. Biarlah. Biar kaki Mahesa terluka besok pagi jika dia lupa bahwa ada sesuatu yang pecah di rumah ini.
Keesokan paginya, suasana di kantor terasa berbeda. Ketegangan sisa rapat kemarin masih menggantung, namun ada desas-desus baru yang lebih panas. Inara melangkah masuk dengan setelan power suit berwarna merah menyala. Sebuah pernyataan bisu bahwa ia tidak akan hancur meski telah diinjak berkali-kali.
Saat melewati lobi, dia melihat Mahesa berdiri di sana. Namun, suaminya tidak sendirian. Seorang wanita cantik dengan penampilan yang sangat elegan di sana. Sosok yang sangat Inara kenali dari foto lama di laci terkunci Mahesa, sedang tertawa bersamanya.
Clarissa. Mantan kekasih Mahesa yang pergi ke luar negeri tepat sebelum perjodohan mereka terjadi.
"Inara, perkenalkan," suara Mahesa terdengar jauh lebih hidup dari biasanya.
"Clarissa akan bergabung dengan tim kita sebagai konsultan strategi baru. Dia akan bekerja langsung di bawah pengawasan saya."
Clarissa mengulurkan tangan, senyumnya tampak tulus namun terasa seperti sembilu bagi Inara.
"Hai, Inara. Mahesa banyak bercerita tentang kinerjamu yang luar biasa."
Mahesa bahkan tidak menyebut Inara sebagai istrinya di depan Clarissa. Di kantor ini, Inara kembali diturunkan derajatnya menjadi sekadar 'karyawan berprestasi'.
Keadaan semakin memanas saat jam makan siang. Mahesa, yang selama satu tahun ini selalu menolak makan siang bersama Inara dengan alasan sibuk, kini terlihat duduk di kafe seberang kantor bersama Clarissa.
Sialnya, rekan-rekan kantor Inara mulai berbisik di meja sebelah.
"Lihat itu, Pak Mahesa cocok sekali ya sama Clarissa? Serasi banget. Beda kalau sama Bu Inara, auranya selalu tegang," bisik salah satu staf administrasi.
Inara mencengkeram garpunya kuat-kuat. Dia merasa seperti sedang menonton film tentang hidupnya sendiri, di mana dia adalah tokoh antagonis yang tak diinginkan. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ibu mertuanya, ibunya Mahesa.
"Inara sayang, besok ulang tahun pernikahan kalian yang pertama, kan? Mama sudah siapkan reservasi di hotel bintang lima. Ingat, Mama ingin segera dengar kabar baik soal cucu."
Inara ingin tertawa histeris. Cucu? Mahesa bahkan enggan berada di satu ruangan dengannya jika tidak ada orang lain yang melihat.
Sore harinya, Inara masuk ke ruangan Mahesa tanpa mengetuk. Dia melihat Mahesa dan Clarissa sedang membungkuk di atas satu dokumen yang sama, posisi mereka begitu dekat hingga napas mereka seolah bersatu.
"Apa anda bisa keluar sebentar Bu Clarissa. Ada hal profesional yang harus saya bicarakan dengan Pak Direktur," ujar Inara dingin.
Setelah Clarissa pergi dengan lirikan penuh kemenangan, Mahesa berdiri dengan wajah merah padam.
"Apa-apaan kamu, Inara? Tidak punya sopan santun?"
"Sopan santun?" Inara melemparkan ponselnya ke meja kerja Mahesa, memperlihatkan pesan dari ibunya.
"Ibumu meminta cucu, Mahesa! Sementara kau sibuk bermain asmara di kantor dengan mantanmu. Berapa lama lagi aku harus menelan sampah ini?"
Mahesa tertawa getir.
"Cucu? Kau mau aku menyentuhmu? Setelah semua drama yang kau buat?" Dia berjalan mendekat, menyudutkan Inara ke dinding ruangan yang kedap suara itu.
"Dengar, Inara. Clarissa kembali karena aku yang memintanya. Dia adalah masa depan yang seharusnya aku miliki jika keluargamu tidak menjebakku dengan utang-utang ayahmu melalui pernikahan ini."
Inara terkesiap.
"Utang? Apa maksudmu?"
"Ayahmu menju-almu padaku, Inara! Dia memohon pada keluargaku agar menikahimu supaya perusahaan ayahmu tidak pailit!" Mahesa berteriak tepat di depan wajahnya.
"Kau bukan korban di sini. Kau adalah barang yang dibeli. Jadi jangan harap ada cinta, karena aku tidak pernah membeli hatimu."
Dunia Inara serasa runtuh. Selama satu tahun ini dia mengira dia adalah pejuang cinta, ternyata dia hanyalah jaminan utang yang tak berharga.
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka sedikit. Clarissa berdiri di sana, memegang kopi dengan ekspresi yang sulit diartikan namun Inara yakin jika dia mendengar semuanya. Inara merasa tidak punya tempat lagi untuk lari. Harga dirinya tidak hanya dipatahkan, tapi kini digiling hingga menjadi debu.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭